"Kamu baik-baik aja kan Ca?" tanya Febri pada Gisya. Sepanjang perjalanan pulang, Gisya hanya terdiam dan memandang kearah luar jendela mobil.
"Kalo aku gak menuhin amanat Ayah, apa Ayah akan kecewa yaa Biw?" tanya Gisya dengan tatapan kosong.
"Gini Ca, aku bukan orang yang paham tentang hal itu. Gimana kalo besok kita tanya ke Uwak Yusuf? Sekalian jalan-jalan gitu," ajak Febri dengan semangat.
"Bener Biw! Aku juga udah kangen banget sama Uwak, besok toko kita tutup ya. Aku izin dulu sama Bunda," ucap Gisya dengan antusias.
"Aku harap kamu terus tersenyum ceria seperti itu Ca," batin Febri bahagia melihat senyuman sahabatnya.
Karena hari ini weekend, jalanan sangat macet. Hingga mereka baru sampai malam hari di Rumah Gisya.
"Assalamualaikum, Bunda." ucap Febri dan Gisya bersamaan sambil mencium tangan Bunda Syifa.
"Walaikumsalam," jawab Bunda Syifa.
Febri turun hanya untuk menyapa Bunda dan memutuskan untuk berpamitan.
"Bun, Ebiw langsung pulang ya! Udah malem takut di omelin Mama Rini." pamit Febri pada Bunda Syifa.
"Eh,eh kok pulang! Pokoknya bunda gak mau tau, Ebi harus nginep disini! Sudah malam, biar Bunda telpon Mama Rini," ucap Bunda Syifa sedikit memaksa.
"Oke deh Bunda, Ebi mah manut aja," jawab Febri dengan lesu.
"Nah gitu dong, anak gadis Bunda harus pada nurut. Udah sana istirahat dikamar, si Ulil udah nunggu dari tadi Maghrib. Bunda siapin dulu makan malam buat kalian, ya." ucap Bunda Syifa.
Raut wajah Gisya dan Febri berubah panik, mereka yakin si biang kerok itu sudah menceritakan semuanya pada Bunda Syifa.
"Bunda," panggil Gisya dengan lirih.
"Bunda gak apa-apa, sekarang kamu istirahat ke kamar. Bunda siapin dulu makan malam, setelah makan malam kita bicarakan semuanya." ucap Bunda Syifa sambil menahan airmatanya dan berjalan menuju dapur.
Sementara Gisya bergegas menuju kamar, dilihatnya sang sahabat yang sudah tertidur pulas diatas karpet. Febri berniat untuk membangunkan dan memarahi Yuliana. Tapi Gisya melarangnya, karena ia yakin Yuliana hanya tidak ingin melihat Gisya tersakiti.
Didapur Bunda Syifa masih melamun dan membayangkan bagaimana kehidupan putri kesayangannya nanti.
"Maafkan Bunda Nak," lirih Bunda Syifa.
"Bunda masak apa?" tanya Febri yang baru saja masuk dapur. Niatnya ingin mengambil air minum di urungkan, karena melihat Bunda Syifa sedang menangis.
"Eh, Bunda masak udang asam manis nih. Favorit kalian!" jawab Bunda Syifa gugup.
"Makasih ya Bunda, terbaik deh emang Bunda Syifa mah!" Ujar Febri sambil memeluk Bunda Syifa.
Sesaat mereka terdiam berpelukan, larut dalam pikirannya masing-masing.
"Jangan khawatir Bunda, kami akan selalu ada disamping Caca. Kami akan menemani Caca dimasa sulitnya, dan kami berharap Caca kami yang dulu akan kembali." ucap Febri sambil terus memeluk Bunda Syifa.
"Kalian anak-anak Bunda yang terbaik, terimakasih Ebi, Ulil," lirih Bunda Syifa menitikan airmatanya.
"Jangan menangis Bun, hayuk kita makan malam. Ebiw udah laper!"
Setelah makan malam sudah siap disajikan, mereka makan malam bersama. Tidak ada percakapan diantara mereka, karena Bunda memang melarang mereka berbicara ketika sedang makan.
"Maafin aku ya Ca," cetus Yuliana tiba-tiba setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.
"Gak apa-apa Ulil ku sayang, aku tau kamu tidak ingin melihat aku bersedih." jawab Gisya sambil memeluk Yuliana.
"Kami ke kamar duluan ya Bunda, ngantuk!" ujar Febri mengajak Yuliana agar Ibu dan Anak itu dapat dengan leluasa mengobrol.
Keheningan diantara Ibu dan Anak itu, seakan lidah mereka kelu untuk berucap.
"Nak, apa Caca kecewa dengan Zayn?" tanya Bunda Syifa sambil mengangkat dagu sang anak yang menunduk.
"Nggak bunda," jawab Gisya semakin menunduk.
"Kamu boleh bohongin oranglain, tapi tidak dengan Bunda. Lihat Bunda, Nak."
Gisya menoleh menatap Bundanya, airmata yang sejak tadi tertahan sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Maafin Caca bun, sampe sekarang Caca belum bisa menuhin amanat dari Ayah." ucap Gisya terisak, mengingat keinginan Sang Ayah.
"Sayang, jangan dijadikan beban Nak. Jika Zayn memang jodohmu maka Allah akan dekatkan, tapi jika Zayn bukan jodohmu maka Allah akan jauhkan. Ada atau tidaknya amanat yang diberikan Ayahmu Nak," ujar Bunda Syifa sambil membelai rambut putri kesayangannya.
Gisya hanya mampu menangis dipelukan Bundanya. Hatinya terasa sangat lega mendengarkan ucapan dari wanita yang paling dicintainya itu.
"Bunda, izinkan Caca besok menemui Uwak Yusuf. Caca ingin lebih memantapkan hati, untuk menentukan langkah Caca kedepannya."
"Bunda izinkan Nak, menginaplah semalam. Biar gak capek di perjalanan! Toko gak usah tutup, biar Bunda sama Umma Nadia yang jaga besok." ucap Bunda Syifa.
"Terimakasih Bunda, Ayo kita tidur Bun. Caca malam ini mau bobok bareng Bunda." manja Gisya pada Bundanya.
Gisya membaringkan tubuhnya disamping Bunda Syifa hingga terlelap. Memeluk Bundanya adalah hal yang Gisya butuhkan saat ini. Karena Bunda Syifa adalah kekuatan terbesar dalam hidup Gisya saat ini.
Tepat pukul 3 pagi Gisya terbangun dari tidurnya.
"Alhamdulillahiladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa illaihin nushur,"
Gisya bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat Tahajud serta Sholat Istikharah. Selesai mengucapkan salam, Gisya berdzikir lalu menengadahkan tangannya memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa.
"Yaa Allah, ampunilah segala dosa-dosa hamba. Ampunilah dosa kedua orangtua hamba, tempatkanlah Ayah ditempat terbaikmu Yaa Rabb. Kuatkanlah hati Bundaku, hamba tau Bunda sangat rapuh tanpa Ayah. Hamba hanya ingin melihat Bunda bahagia Yaa Allah. Berikanlah hamba jalan terbaik, jika engkau Ridhoi hamba dalam memenuhi amanat Ayah maka lancarkanlah segalanya Yaa Rabb. Jika Zayn Fadillah jodohku, maka mudahkanlah segala urusan kami. Tapi jika Zayn bukan jodohku, maka hamba mohon gantikan dengan yang terbaik darimu. Lepaskan hamba dari beban dalam dada ini Yaa Allah, tunjukanlah yang terbaik. Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk Hamba Yaa Allah" Gisya berdo'a dengan khusyuk dan menitikan airmata hingga tidak menyadari bahwa Bunda Syifa mendengarkan semua do'a-do'anya.
Karena sedang halangan, Bunda Syifa memilih berpura-pura tidur dan mendengarkan putrinya mengaji.
Selesai sholat, Gisya membaca Al-Qur'an sambil menunggu adzan subuh berkumandang.
Sementara itu di Rumah Dinas, Andi terbangun karena mendengar suara teriakan dari kamar Fahri.
"Astaghfirulloh," teriak Fahri yang terbangun dari tidurnya dengan bercucuran keringat karena dia bermimpi buruk.
"Ada apa, Ri?" Andi bergegas menghampiri Fahri dan memberikan segelas air putih.
"Aku mimpi itu lagi, Ndi." tutur Fahri tubuh yang lemas.
Sudah beberapa bulan Fahri selalu bermimpi buruk, dalam mimpinya Fahri selalu melihat bayangan seorang gadis yang meminta tolong pada Fahri.
"Sudah jangan dipikirkan, Ayo siap-siap Sholat subuh. Kita ke mesjid," ajak Andi.
"Iya aku siap-siap dulu, Ndi."
Selesai melakukan sholat subuh berjama'ah di mesjid, Andi dan Fahri memutuskan untuk lari pagi sekalian mencari sarapan pagi. Andi sengaja melewati "Caca Bakery" karena ingin menemui Sang Pujaan hati. Namun, bukan Febri yang terlihat melainkan ibu-ibu yang sedang asyik menata kue di Etalase.
"Ada yang bisa dibantu, Nak?" tanya Umma Nadia yang melihat Andi celingak celinguk.
"Saya mau tanya bu, bukannya ini toko kue milik Caca?" tanya Andi keheranan.
"Iya betul, kebetulan anak-anak nakal itu sedang ke Lembang menemui Uwaknya. Kalian temannya Caca?" tanya Umma Nadia pada Andi dan Fahri.
"Saya kenalnya dengan Febri bu," ucap Andi gugup.
"Oh, ini yang lagi dekat dengan anak gadis Bunda." tutur Bunda Syifa yang tiba-tiba datang sambil membawa pisau karena baru selesai memotong kue untuk disimpan di etalase.
Seketika wajah Andi terlihat pucat, karena dia berfikir mungkin Bunda Syifa itu ibunya Febri. Fahri hanya menahan tawanya ketika melihat ekspresi wajah Andi.
"Hey anak muda! Jangan snewen begitu, dia Bunda nya Caca. Tenang saja Calon Mertua kamu tidak ada disini." ucap Umma Nadia sambil tertawa keras.
"Sstt! Nama kamu siapa Nak?" tanya Bunda Syifa.
"Saya Andi bu," ucap Andi gugup.
"Saya Fahri Bu," ucap Fahri mencium tangan Bunda Syifa.
"Sudah kalian sarapan dulu, tuh disana! Umma kenalkan pada putra Umma, namanya Jafran. Dia pilot baru pulang bertugas setelah 10 bulan gak pulang-pulang kayak Bang Toyib. Dia tunangannya Ulil anak gadis Umma yang paling ceriwis." ujar Umma Nadia panjang lebar.
"Loh bukannya Bang Toyib gak pulangnya 3x puasa 3x lebaran ya bu!" canda Fahri.
"Hahahaha, itu kan perumpamaan ganteng!" colek Bunda Syifa di dagu Fahri.
Akhirnya Jafran berkenalan dengan Andi dan Fahri. Mungkin karena seumuran, mereka langsung terlihat sangat akrab dan tidak canggung.
"Jadi kamu pacarnya si Udang cilik?" tanya Jafran pada Andi.
"Udang cilik?" Fahri terheran dengan ucapan Jafran.
"Iya si Febri alias Ebi alias Udang cilik, hahahaha." ujar Jafran membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
"Terus kalo Ulil sama Caca itu apa?" tanya Andi penasaran.
"Kalo Yuliana manisku itu Ulil alias ulet tapi gak bunyi pucuk..pucuk.. gitu loh ya!" Celetuk Jafran.
"Hahahahahaha," mereka tertawa semakin kencang.
"Kalo si Caca itu spesial, dulu dia paling mungil, mukanya bulet, terus dia manis persis banget kayak coklat yang merk nya Chacha. Tambah spesial lagi sampe ada lagunya, Chacha Maricha HeyHey, Chacha Maricha HeyHey!" Ujar Jafran dengan nada lagu.
"Wah parah, Kambing dong Caca kalo lagunya itu," ucap Fahri yang sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Hayoh! Gibahin anak cantik Bunda, ya." Cetus Bunda Syifa yang baru saja lewat didepan mereka.
Fahri, Andi dan Jafran terdiam karena kaget.
"Perkenalan Bunda, biar mereka gak kaget nantinya. Anak-anak Bunda kan ajaib semua" celetuk Jafran.
"Iya termasuk kamu!" jawab Bunda Syifa sambil melengos pergi.
"Bunda jangan marah-marah, nanti Bunda lekas tua. Liat aja Umma Apan, keriputnya segede gaban." ujar Jafran bersenandung membuat semuanya semakin tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kamu tuh paling pinter banget bikin orang ketawa. Kayaknya kalian udah lama sahabatan ya?" tanya Andi pada Jafran.
"Dari orok! Kan emak-emak itu noh, mereka sahabatan berlima. Tapi yang satu katanya lost kontak setelah menikah. Umma ku yang duluan melendung, lalu terbit didirku, lalu terbitlah Ulil,Ebi,lalu Caca" tutur Jafran menjelaskan.
"Emang matahari kok terbit," ucap Fahri sambil menahan tawanya.
"Wah berarti tau dong, adindaku dulunya seperti apa?" tanya Andi senyum-senyum.
"Dih pake senyam-senyum! Lain kali aku cerita, sekarang aku capek mau pulang! Udah rindu kasur. Minta kontak kalian aja, biar nanti kita bisa Ngopi bareng lagi. Mumpung liburan" ucap Jafran.
Akhirnya mereka bertukar nomor ponsel dan sengaja membuat percakapan grup. Fahri dan Andi pun berpamitan kepada Bunda Syifa dan Umma Nadia.
"Bu, kami permisi dulu ya! Terimakasih sarapan pagi gratisnya." ucap Fahri karena Bunda Syifa tidak menerima uang yang Fahri berikan untuk membayar sarapan mereka.
"Sama-sama Nak, selamat beraktifitas."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Mmh Alfatih
mantap ceritanya nih bikin ketawa lucu
2025-03-25
0
WA ODE JUFLIANTI
wahhh maa syaa Allah 😍.... bagus banget si ceritanya.
2024-05-27
0
Anna Susiana
alangkah indahnya sebuah persahabatan yg terjalin trs sedari muda hingga usia tua, tetap langgeng tidak goyah walaupun ada rintangan
2022-06-22
1