Sudah 2 minggu lamanya Gisya belum juga membuka matanya. Semua orang sangat khawatir dengan kondisi Gisya. Tak terkecuali Zayn dan Santi, diam-diam mereka sering melihat kondisi Gisya. Penyesalan menghantui Zayn setiap harinya. Bahkan kedua orangtuanya tidak mau menemuinya.
Flashback On
Saat itu Ajeng mendapat kabar dari Lia bahwa Gisya mengalami kecelakaan. Malam itu juga Ajeng dan Deni bergegas menuju ke Rumah Sakit. Namun, belum sempat mereka menemui Gisya dan Ibunya. Rini dan Lia sudah mengusir mereka dan menceritakan semua kejadiannya.
"Sebaiknya kalian pergi, urus putra kalian yang kurang ajar itu!" geram Rini pada Ajeng.
"Apa maksud kamu Mbak Rini? Sebenarnya ada apa? Kami benar-benar tidak tau apa-apa!" tutur Ajeng sambil menahan tangisnya.
"Kalian harus tau! Zayn penyebab kecelakaan Gisya!" ketus Lia membuat Deni membelalakan matanya.
"Zayn selingkuh dengan perempuan lain, Gisya melihatnya! Bahkan mereka sudah menjalin hubungan selama 2 tahun! 2 tahun Deni!" teriak Rini.
"Apa?! Gak, ini gak mungkin! Selama ini Zayn sangat menyayangi Gisya!" elak Deni tak terima.
"Tanyakan saja pada anak kesayanganmu itu! Untuk saat ini jangan pernah berani kalian menemui Syifa atau Gisya!" tegas Rini sambil menunjuk kearah Zayn yang berdiri diujung koridor.
Deni dan Ajeng menoleh, dilihatnya Zayn bersama seorang gadis yang menggenggam erat tangannya. Ajeng dengan penuh emosi menghampiri Zayn.
Pllaaaakkkkkkk!!
Satu tamparan melayang dipipi Zayn, membuat Santi berteriak karena terkejut.
"Belajar dari siapa kamu menjadi laki-laki brengsek?!" geram Ajeng.
"Ma-maafin aku Ma, maaf sudah membuat Mama dan Papa kecewa. Aku mencintai gadis ini, Ma. Aku tidak bisa melepaskannya," tutur Zayn.
"Kalo kamu mencintai oranglain, kenapa kamu menerima untuk menikahi Gisya?! Kenapa kamu gak ngomong baik-baik sama Papa?" amarah Deni sudah berada diujung tanduk.
"Maaf Pa, maafin Zayn. Tolong kendalikan diri Papa, Zayn gak mau Papa sakit," mohon Zayn berlutut didepan kedua orangtuanya.
"Mama kecewa sama kamu Zayn! Caca itu wanita baik-baik, dia selalu menjaga hatinya untuk kamu! Asal kamu tau, selama ini Caca selalu meminta Mama untuk menutupi kesalahan kamu sama Ibunya! Caca selalu bilang kalo dia yang menginginkan pernikahan kalian ditunda! Mama malu punya anak brengsek seperti kamu Zayn!" teriak Ajeng frustasi.
"Jangan harap kamu bisa pulang, sebelum kondisi Gisya membaik!! Papa kecewa sama kamu!!" ucap Deni meninggalkan Zayn yang masih berlutut.
Ada sesal didalam dadanya, apalagi setelah mendengarkan ucapan kedua orangtuanya. Dia mengakui bahwa selama ini dia sangat egois. Dia tidak ingin melepaskan Gisya tapi dia juga ingin bersama Santi. Zayn menjambak rambutnya frustasi.
"By, jangan gini. Aku tau hubungan kita ini ga bener, tapi itu diluar kendali kita. Aku juga merasa bersalah terhadap dia," ucap Santi sambil mengusap bahu Zayn.
"Aku takut Ay, aku takut dia kenapa-kenapa. Dia memang gadis yang sangat baik. Aku bersalah sudah memperlakukannya seperti ini," sesal Zayn.
"Jadi kamu menyesal memilih aku, By?" tanya Santi yang kesal dengan ucapan Zayn.
"Bukan gitu, Ay! Sudahlah aku ga mau debat sama kamu," jawab Zayn yang masih kacau.
"Dia udah tau hubungan kita! Aku pernah mengirimkan dia pesan supaya dia melepaskan kamu dari perjodohan konyol itu!" tutur Santi membuat amarah Zayn memuncak.
"Apa?! Kenapa kamu melakukan itu?! Sudah aku bilang bersabarlah! Semuanya semakin kacau karena kamu!!" geram Zayn pada Santi.
"Kamu yang membuatnya kacau!" sela Uwak Yusuf.
"Uwak, maafkan saya. Saya tidak berniat mencelakai Gisya , itu diluar kendali saya. Gisya berlari karena kecewa, saya tidak menyangka dia akan tertabrak." sesal Zayn berlutut dihadapan Uwak Yusuf.
"Bangunlah! Sudah dari awal niatmu tidak baik, berkali-kali kamu menunda-nunda pernikahan! Apa kamu pernah memikirkan bagaimana perasaan Gisya? Sepertinya tidak!" ucap Uwak Yusuf yang membuat Zayn semakin merasa bersalah.
"Dan kamu! Bukankah kamu perempuan juga? Bagaimana jika posisimu ada pada Gisya? Saya berterimakasih atas pesan yang kamu kirimkan pada Gisya! Akhirnya saya tau seberapa bajingannya dia!" teriak Uwak Ais pada Santi.
"Sudah Ummi, Ayo kita liat kondisi Caca." ajak Uwak Yusuf. Tapi sebelum pergi, Uwak Ais mengucapkan hal yang membuat mereka menyesali perbuatan mereka selama ini.
"Kalian memang cocok! Bukankah jodoh itu cerminan diri? Berkacalah seperti apa diri kalian! Membuang berlian hanya demi kerikil," ketus Uwak Ais.
Zayn kembali terbayang saat dirinya bersama dengan Gisya. Tutur bahasa Gisya, sikapnya yang lembut dan senyumnya yang meneduhkan. Zayn merasa sakit dalam dadanya. Begitupun dengan Santi, dia kembali mengingat masa-masa sekolahnya bersama Fahri. Janjinya terhadap Fahri, semua seolah berputar dalam memorinya.
Flashback Off
Zayn terpaksa tinggal di Kost milik sahabatnya, setiap hari dia memantau perkembangan Gisya. Zayn berharap suatu saat Gisya akan memaafkannya. Dia juga berpikir akan menikah dengan Gisya saja. Tapi mungkin, Gisya tidak akan menerima begitu saja setelah kejadian ini. Siang itu, Yuliana dan Febri sedang ke kantin untuk makan siang. Karena tidak ada siapapun di Ruang Rawat Gisya, Zayn memberanikan diri untuk masuk dan melihat kondisi Gisya.
"Neng, maafin Aa. Bangunlah Neng, kamu boleh hukum Aa apa saja. Jangan seperti ini Neng," sesal Zayn.
Dia menangis terisak menggenggam tangan Gisya.
"Aa merasa berdosa Neng, katakan Aa harus bagaimana? Aa menyesal neng, Aa egois. Aa mencintai Santi, tapi Aa juga tidak bisa melepaskan kamu." tutur Zayn mengungkapkan isi hatinya.
"Aa pamit ya Neng. Cepet bangun, kasian Bunda. Mama juga sangat mengkhawatirkanmu. Aa selalu berdo'a untukmu, Neng."
Zayn segera meninggalkan ruangan Gisya karena takut bertemu dengan Yuliana dan Febri. Tanpa dia sadari, Yuliana dan Febri memasang CCTV khusus untuk memantau Gisya yang tersambung pada ponselnya.
Santi juga saat ini sudah kembali ke Jakarta. Seharian ini dia mengurung diri didalam kamar. Dia terus merasa bersalah terhadap Gisya dan Fahri. Dia membayangkan, bagaimana jika dia yang berada diposisi Gisya. Santi tambah merasa bersalah ketika melihat berita di TV yang mengabarkan penyerangan di Papua. Saat mendengar nama Fahri disebut dalam salah satu korban gugur dan terluka, tubuh Santi melemah.
"Astaga! Fahri, maafkan aku." gumam Santi dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga kamu baik-baik saja, Ri. Maafkan aku Fahri, aku salah. Tolong bertahanlah untuk baik-baik saja!" isak Santi yang membuat kedua orangtuanya khawatir.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu Santi.
"Fahri, Bu. Dia jadi korban penyerangan di Papua." lirih Santi memeluk ibunya.
"Ya Tuhan! Sudah jangan menangis, semoga dia baik-baik saja. Kamu harusnya bersyukur tidak jadi dengan dia! Bagaimana nantinya nasib kamu?" Ketus ibu Santi.
Santi merasa dadanya semakin sesak, selama 7 tahun hubungannya dengan Fahri. Tapi Santi sudah beberapakali berganti kekasih. Hingga puncaknya saat dia bertemu dengan Zayn. Rasa sesal menyelimuti hatinya, membayangkan Fahri sudah tidak ada didunia ini membuat Santi menangis tersedu-sedu.
Seminggu sudah berlalu. Kondisi Andi sudah mulai membaik. Namun saat ini, Fahri masih dinyatakan koma. Kedua orangtua Fahri sudah menyusul ke Papua untuk melihat kondisi putranya.
"Bang, bangun sayang. Mama dan Papa disini, kami merindukanmu Bang." Lirih Risma disamping putranya yang masih terbaring dengan berbagai alat.
"Papa tidak akan memaafkanmu, Bang. Kalo kamu gak bangun, Papa akan hukum kamu!" ucap Hari berharap putranya akan segera membuka mata.
Sementara itu dalam tidurnya, Fahri mendengar ucapan kedua orangtuanya. Tiba-tiba dia melihat sosok Ayah dan Ibunya tersenyum. Fahri berhambur memeluk Ibu dan Ayahnya.
"Ibu, Fahri rindu Ibu. Jangan tinggalkan Fahri lagi bu," pinta Fahri pada Ibunya.
"Nak, belum saatnya kamu pergi bersama kami. Pulanglah, Mama dan Papamu masih membutuhkanmu." ucap Ayah membelai rambut Fahri.
"Tapi aku merindukan kalian Ayah, Ibu." isak Fahri.
"Titipkan rindumu dalam do'a, kamu masih harus berjuang Nak. Lihatlah, dia masih membutuhkanmu." tunjuk Ayah pada sosok gadis yang memakai Jilbab. Namun wajahnya tidak terlihat, yang Fahri dengar hanya kata 'Tolong, tolong, tolong aku!'
"Pulanglah, mereka membutuhkanmu," ucap Ibu sambil mendorong Fahri menuju Cahaya Putih.
Ttuuuttt!! Ttuuutttt!! Ttuuuttt!!
Tiba-tiba alat monitor berbunyi nyaring, Risma dan Hari merasa panik. Bahkan Risma terus berteriak memanggil nama Fahri.
"Fahri!! Bangun Nak, jangan tinggalkan Mama!! Fahriii!!" teriak Risma membuat dokter dan suster berdatangan.
"Ibu dan bapak tolong tunggu diluar," pinta Dokter.
Andi yang berada di ruangannya pun mendengar suara teriakkan itu. Karena memang ruangan mereka tidak begitu jauh, Andi meminta Rizal untuk mengantarkannya ke ruangan Fahri menggunakan kursi roda.
"Ada apa ini, Bu? Fahri kenapa?!" tanya Andi khawatir dengan kondisi Fahri.
Belum Risma menjawab, dokter sudah keluar dari ruangan dengan wajah sumringah.
"Bapak dan Ibu jangan khawatir, Fahri sudah melewati masa kritisnya. Sebentar lagi dia akan siuman, kalian boleh menemaninya. Tapi bergantian ya," jelas dokter.
"Alhamdulillah!!" ucap mereka bersamaan.
"Terimakasih dokter," lirih Risma.
Mereka masuk kedalam ruangan, Fahri mulai menggerakan tangannya dan mengerjapkan matanya. Tubuhnya masih sangat lemah, dia bisa melihat kedua orangtuanya yang menangis sambil berpelukan. Dan Andi yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Reader : Author kok sedih-sedih terus sih?!
Author : Tenang! Akan ada pelangi setelah hujan! Stay terus yaa!
Reader : Ok Thorr!!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Maulana ya_Rohman
penuh perjuangan... 😭😭😭😭
2024-02-07
0
Irat Tok
setuju Thor!!!!!!
2023-02-25
0
Alvika cahyawati
knp setiap bab y aku baca banyak mengandung bawang jd bikin mewek 😭 😭 😭
2023-02-20
1