2 tahun yang lalu Ayah Gisya mengalami kecelakaan, sebelum meninggal Sang Ayah mengatakan jika Gisya sudah dijodohkan dengan Zayn anak dari sahabat Ayahnya sejak Sekolah Dasar.
Flashback On.
Pagi itu Gisya sedang membuat Kue Ulang Tahun untuk Sang Adik, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda panggilan dari Uwaknya.
"Hallo, Assalamualaikum Uwak," ucap Gisya.
"Walaikumsalam Neng, bisa Uwak minta tolong?" tanya Uwak Yusuf.
"Minta tolong apa wak? Caca baru selesai bikin kue buat Uqi," Jawab Gisya.
"Tolong segera datang ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, jangan lupa bawa Uqi. Uwak tunggu sekarang!" ucap Uwak Yusuf.
Belum sempat Gisya menanyakan, Uwaknya sudah menutup telepon. Gisya bergegas menuju Sekolah Uqi. Setelah izin kepada Guru, Gisya dan Uqi menuju ke Rumah Sakit. Sesampainya disana Gisya melihat Sang Bunda yang sedang menangis dipelukan Uwak Ais.
"Assalamualaikum!" ucap Gisya dan Uqi.
"Walaikumsalam, sini kalian ikut Uwak kedalam." ajak Uwak Yusuf pada mereka.
"Sebentar wak, ada apa ini? Kenapa Bunda nangis gitu Wak?" tanya Uqi panik.
"Kalian masuk saja dulu, nanti Uwak jelaskan didalam. Tapi sebelum itu, Uwak minta kalian ikhlas menerima semuanya." Ucap Uwak Yusuf yang membuat mereka semakin resah dan khawatir.
Perasaan Gisya semakin tidak karuan, melihat Bundanya menangis dan mendengar ucapan Uwaknya, Gisya semakin yakin ada sesuatu yang terjadi. Dengan langkah gontai, Gisya masuk beriringan dengan Uqi. Dilihatnya Sang Ayah yang terbaring lemah dengan berbagai macam peralatan yang menempel ditubuhnya.
"Astaghfirulloh Ayah!" teriak Gisya berhambur memeluk Sang Ayah.
"Ayah! Kenapa begini yah? Apa yang sebenarnya terjadi yah?" Uqi menangis histeris melihat kondisi Ayahnya.
"Ayah kalian tertabrak mobil saat baru selesai meeting," ucap Uwak Yusuf sambil mengelus kedua punggung keponakannya.
"Innalillahi, Yaa Allah Ayah! Gisya sayang Ayah, yang kuat ya Ayah!" ucap Gisya dengan berderai airmata. Hatinya semakin teriris melihat cinta pertamanya terbaring tak berdaya.
"Teteh! Ayah pasti kuat, besok hari Ulang Tahun Uqi. Ayah udah janji mau ngajakin Uqi ke Peternakan Om Deni, Ayah mau beliin Uqi Kuda teh!" ucap Uqi yang tidak rela mendengar ucapan sang Kakak.
"Sudah, jangan menangis! Uwak sudah bilang tadi apa? Jangan beratkan Ayah kalian," ucap Uwak Yusuf.
Uqi dan Gisya menangis saling berpelukan, tiba-tiba terdengar suara rintihan Sang Ayah.
"Ca-caca, U-uqi," panggil Ayah terbata-bata.
"Ayah! Kami disini yah," ucap Gisya memeluk erat tangan Sang Ayah.
"Waktu Ayah tidak lama, Ayah minta jaga Bundamu ya Nak. Caca anak Ayah yang paling cantik, Caca kebanggaan Ayah. Menikahlah dengan Zayn, dia akan menjagamu Nak." suara parau yang dikeluarkan Ayahnya membuat Gisya semakin terisak.
"Kalo Ayah mau Caca menikah, Ayah harus sembuh. Siapa yang akan menjadi Wali pernikahan Caca,Yah?" ucap Gisya dengan linangan airmata dipipinya.
"Uwak Yusuf akan menjadi Wali Caca nanti, dan U-uqi Ayah minta teruskanlah cita-citamu menjadi Polisi yang hebat. Ayah yakin Uqi akan mampu menggantikan Ayah menjaga Teh Caca dan Bunda, Uqi paham?" tanya Ayah dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Uqi paham Yah, Uqi anak laki-laki dan Uqi akan menjaga keluarga kita. Tapi Uqi ingin Ayah mendampingi Uqi," ucap Uqi dengan penuh harapan terhadap sang Ayah.
Nafas Ayahnya semakin tersenggal, membuat Gisya dan Uqi semakin histeris. Masuklah Bunda Syifa didampingi oleh Uwak Ais. Bunda Syifa menghampiri suaminya, di usapnya kening Sang Suami dan Bunda Syifa berbisik pada telinga Ayah.
"Ayah, Bunda ikhlas melepas kepergian Ayah. Bunda akan merawat dan mendidik anak-anak kita, bunda akan mewujudkan semua impian Ayah. Bunda sangat mencintai Ayah, pergilah Suamiku. Kami ikhlas," ucap Bunda di telinga Ayah.
Uqi dan Gisya hanya menangis sambil berpelukan, mereka harus rela melepaskan kepergian Ayah yang paling mereka cintai.
"Laa-illaha-illallah," ucap Ayah tersenggal-senggal hingga terdengar bunyi monitor.
Tiiiiiitttt...
"Innalillahi wa innaillahi rojiun," ucap mereka serempak.
"Ayah, selamat jalan Ayah, InshaAllah caca akan memenuhi semua amanat Ayah," ucap Gisya dalam hati.
Sejak hari itu, Gisya mulai menerima kehadiran Zayn dalam hidupnya. Meskipun sampai saat ini Gisya belum bisa mencintai Zayn.
Flashback Off
Selesai makan siang, Gisya bergegas ke Toko karena Zayn mengirim pesan bahwa dia sudah berada disana. Dilihatnya Zayn sudah duduk disalah satu kursi pengunjung yang berada dipojok ruangan.
"Assalamualaikum A, maaf menunggu lama." ucap Gisya lalu duduk dihadapan Zayn.
"Walaikumsalam Neng, Aa baru sampe kok! Sudah makan siangnya?" tanya Zayn.
"Sudah A, Aa sudah makan? Mau dibuatkan kopi?" tawar Gisya. Memang Gisya belum mencintai Zayn, tapi dia selalu menghargai dan mencoba menerima kehadiran Zayn dalam hidupnya.
"Gak usah Neng, Aa sudah makan tadi. Aa kesini mau bicara hal yang penting," ucap Zayn dengan nada yang serius.
"Kalo gitu bicara dirumah saja A, biar lebih leluasa." ucap Gisya seolah mengerti apa yang akan dibicarakan Calon Suaminya itu.
"Disini aja Neng, Aa cuman mau minta maaf sama Neng. Sampai saat ini Aa belum siap untuk menikah, tolong Neng bilang sama Mama dan Papa ya!" ucap Zayn dengan wajah yang lesu.
Deg!
Hatinya sedikit berdenyut nyeri. Meski sudah kesekian kalinya Zayn meminta hal tersebut kepada Gisya. Tapi Gisya tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena memang Gisya pun belum bisa mencintai Zayn.
"Baik A, nanti Caca akan bicara sama Mama dan Papa," ucap Gisya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya karena Gisya tidak pernah mau terlihat lemah dihadapan oranglain.
"Neng gak marah kan sama Aa?" tanya Zayn dengan tatapan sendu.
"InshaAllah Caca gak pernah marah A, karena Caca juga tidak ingin memaksakan sebuah pernikahan," ucap Gisya masih dengan senyuman diwajahnya.
Zayn hanya bisa tertegun melihat senyuman manis di wajah Gisya.
"Maafkan aku Gisya, aku tidak bisa menikah dengan kamu. Aku mencintai oranglain, meskipun tak bisa dipungkiri aku juga ingin bersamamu," batin Zayn.
"Apa masih ada yang ingin Aa katakan?" tanya Gisya membuyarkan lamunan Zayn.
"Aa mau melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta selama sebulan, mungkin Aa akan jarang menghubungi Neng. Aa sekalian pamit ya Neng!" ucap Zayn.
"Hati-hati dijalan ya A, semoga segala usaha Aa di Ridhoi oleh Allah." tutur Gisya dengan tulus membuat Zayn semakin merasa resah karena rasa bersalah.
"Aamiin, Aa pamit ya Neng. Assalamu'alaikum!" pamit Zayn.
"Walaikumsalam," jawab Gisya.
Gisya melihat keresahan dalam mata Zayn ketika dia menatapnya. Sebelum Zayn benar-benar keluar, Gisya memanggilnya dan Zayn menoleh.
"A Zayn, jika kita berjodoh sejauh apapun kita akan disatukan dalam ikatan suci. Tapi jika kita tidak berjodoh, sedekat apapun itu kita tidak akan pernah bersama. Jangan dijadikan sebuah beban, Istikharah lah A." ucap Gisya dengan senyuman manisnya.
Zayn tertegun mendengar penuturan Gisya, dia hanya bisa membalasnya dengan senyuman kemudian meninggalkan Gisya yang masih berdiri mematung.
"Yah, maafin Caca. Sepertinya Caca belum bisa memenuhi amanat Ayah." ucap Gisya dalam hati.
Sudah 3x Zayn meminta nya untuk menunda pernikahan yang sudah ditentukan oleh orangtua mereka. Hati Gisya sedikit meringis mendengar permintaan Zayn itu. Tapi Gisya juga menyadari, jika sebuah pernikahan itu ikatan yang suci. Dan ia juga hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya.
"Anak gadis malah ngelamun disini, kesambet baru tau rasa!" ucap Yuliana membuyarkan lamunan Gisya.
"Kebiasaan bikin kaget!" kesal Gisya.
"Kemana Zayn? Bukannya tadi disini?" tanya Febri yang tidak melihat keberadaan Zayn.
"Udah pulang, cuman mau pamitan ke Jakarta. Biw bisa anter kerumah Mama gak pake mobil?" tanya Gisya pada Febri.
"Kalo si Zayn udah kesini terus kamu minta kerumahnya, pasti ada sesuatu ca! Mau cerita apa kita cari tau sendiri nih?" kesal Yuliana yang membuat Gisya terdiam menunduk.
"Dia minta itu lagi kan?" tanya Febri. Gisya menganggukkan kepalanya lemah, dadanya terasa sesak bukan karena dia mencintai Zayn tapi karena amanat Ayahnya yang sangat ia jaga.
"Kampret! Minta dihajar kayaknya tuh orang! Ini ketiga kalinya Caca Marica HeyHey! Kamu udah gak bisa tinggal diam," geram Yuliana.
"Istighfar!" ucap Febri.
"Astaghfirullohaladzim, kayaknya si Zayn kudu di Ruqyah deh! Sohib gue tuh cantik, pinter, mandiri! Kurang apalagi coba!" dengan penuh emosi Yuliana mengungkapkan isi hatinya.
"Udah diem Lil! Hayuk Ca, keburu macet nanti." ajak Febri pada Gisya.
"Aku gak diajakin?" tanya Yuliana memelas.
"Jaga toko! Takut Rani sama si Rama pacaran," ketus Febri.
"Nasib jadi CCTV," ucap Yuliana.
Febri dan Gisya sudah melajukan mobilnya menuju ke kediaman orangtua Zayn, meskipun bukan pertama kalinya tapi Gisya selalu merasa sungkan untuk mengatakannya. Butuh waktu 45 menit untuk sampai Rumah Zayn. Gisya masih termenung didalam mobil, padahal mereka sudah sampai di Rumah orangtua Zayn.
"Kamu siap Ca?" tanya Febri. Gisya tidak menjawab, dia hanya tersenyum untuk menutupi kegugupannya. Gisya dan Febri turun dari mobil. Setelah memencet bel, munculah Mama Ajeng membukakan pintu.
"Assalamualaikum, Ma." ucap Gisya sambil mencium tangan Calon Ibu Mertuanya.
"Walaikumsalam sayang, Mama kangen. Ayo masuk!" ucap Mama Ajeng sambil menggandeng tangan Gisya.
Mereka duduk saling berdampingan, Mama Ajeng memang sudah menganggap Gisya sebagai anaknya sendiri. Hingga tak sungkan untuk memeluk bahkan mencium pipi Gisya.
"Udah lama banget Caca gak nengokin Mama, kangen tau!" ucap Mama Ajeng.
"Caca juga kangen sama Mama, maaf ya mah Caca sibuk banyak pesanan di Toko. Ini Caca bawain kue kesukaan Mama sama Papa," ucap Gisya.
"Alhamdulillah toko kamu rame sayang! Oh ya, persiapan pernikahan kalian udah 70% sayang. Mama udah gak sabar pengen cepet-cepet kamu jadi mantu Mama. Febri kapan nyusul?" ucap Mama Ajeng dengan antusias.
"Do'ain aja yang terbaik ya Ma," jawab Febri.
Dengan memberanikan diri, Gisya mulai membicarakan tujuannya datang kesana.
"Papa mana Ma? Ada hal yang mau Caca bicarain sama Mama dan Papa." ucap Gisya sambil meremat kedua tangannya karena gugup.
"Ada apa Ca? Papa masih di Kantor kalo jam segini. Ada apa sayang? Apa ada hal yang penting?" tanya Mama Ajeng dengan raut wajah khawatir.
"Maaf ma," ucap Gisya menahan airmata yang sudah berada dipelupuk matanya.
"Kenapa minta maaf sayang? Ada apa Nak?" tanya Mama Ajeng yang semakin gusar.
"Zayn tadi datang ke toko, Ma. Zayn meminta Caca menunda lagi rencana pernikahan mereka Ma." ucap Febri yang mengerti bahwa Gisya tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Astaghfirullohaladzim, Zayn!" ucap Mama Ajeng menggebu-gebu, hatinya terasa remuk dengan keputusan sepihak putra kesayangannya. Buru-buru Gisya memegang kedua tangan Calon Mertuanya itu.
"Mama jangan marah sama A Zayn, Caca ngerti Ma. Semuanya gak mudah, Caca juga ingin menikah sekali seumur hidup, Ma. Caca akan tunggu sampai A Zayn siap Ma," ucap Gisya yang terus memegang kedua tangan Calon Mertuanya agar lebih tenang.
"Maafin anak Mama ya Ca, nanti Mama akan bicara baik-baik dengan Papa dan Zayn." ucap Mama Ajeng sambil memeluk Gisya seakan tak mau melepaskan.
Gisya sudah merasa tidak kuat lagi untuk berada disana. Akhirnya Gisya dan Febri memutuskan untuk berpamitan.
"Kalo gitu Caca pamit ya Ma, tolong jangan bilang Bunda ini permintaan A Zayn. Bilang saja Caca yang belum siap Ma," mohon Gisya pada Mama Ajeng. Gisya tidak ingin Bundanya merasa terluka karena penundaan pernikahan untuk kesekian kalinya.
"Yaa Allah sayang! Terbuat dari apa hati kamu, Nak. Maafkan Zayn ya sayang!" ucap Mama Ajeng semakin erat memeluk Gisya.
"Kami pamit ya Ma, Assalamualaikum!" ucap Febri.
"Walaikumsalam, titip Caca ya Bi" ucap Mama Ajeng dengan isakan.
Febri hanya menganggukkan kepalanya dan menuntun Gisya untuk berjalan menuju mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Ceisya Mahiyah
dasar laki² durjana
2024-11-16
0
Wulan Nur Aswa
Thor minta visual ny donk biar makin seru gtu baca nya 😁
2023-02-10
0
Yandri Rahman
tioe2 cowok serakah mas zayn nih....ntar malah zonk gak dpat kedua2nya
2022-12-04
0