Pagi ini Fahri melakukan rutinitasnya seperti biasa. Selesai melaksanakan sholat subuh berjama'ah di Mesjid, Fahri mulai membereskan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, dan mencuci baju. Saat Fahri sedang menjemur baju, beberapa rekannya meledek.
"Enaknya punya istri, baju ada yang nyuciin, makan ada yang masakin, bobok ada yang ngelonin. Gak tertarik kamu, Ri?" tanya Lettu Dzikri senior Fahri.
"Jangan ngeledek lah Bang, do'ain aturan biar kami cepat punya istri." Keluh Fahri.
"Maafin Abang ya, Om Fahri. Dia mah emang gitu, kaya gak inget aja dia sebelum nikah gimana," ucap Andina istri seniornya.
"Gak apa-apa bu, dimaklumi kok!" jawab Fahri.
"Om ai, nda ai padi?" tanya bocah cadel yang baru berusia 3 tahun itu.
"Sebentar lagi Om mau lari pagi, Rian mau ikut Om?" tanya Fahri.
"No! Om ai na mpet-mpet," ucap Rian sambil manyun.
"Kan Om memang harus cepet larinya, biar Om makin kuat," ucap Fahri sambil membelai kepala Rian.
"Iya bener Kak, biar Om Fahri kuat lari dari kenyataan," ledek Dzikri yang langsung berlari kedalam Rumah.
"Awas kau Bang!" kesal Fahri.
Selesai menjemur baju, Fahri berlari disekitaran Batalyon. Karena belum sarapan, dia memutuskan untuk berlari kearah luar Batalyon.
"Nyari sarapan Om?" tanya Komandan Kompi yang berpapasan saat sedang jalan-jalan pagi bersama istrinya yang sedang mengandung.
"Siap! Iya Danki, sekalian lari pagi untuk persiapan tugas." jawab Fahri.
"Berikutnya tugas kemana, Om?" tanya Bu Danki.
"Siap! InshaAllah ke Lebanon, Bu Danki." jawab Fahri.
"Berarti berangkat bersama bapak ya, Pak. Semoga lancar ya segalanya, Om. Gak niat nikah dulu, Om?" Goda Bu Danki.
"Siap! Baru rencana Bu Danki. Semoga segera terlaksana." ucap Fahri.
"Mending dihalalkan dulu, biar ada kepastian. Biar ada juga yang ngurusin Rumah," ucap Danki.
"Sudah ah, Pak. Godain terus Tentara ganteng pagi-pagi! Kami tunggu undangannya ya, Om. Kami duluan," pamit Bu Danki.
"Siap! Hati-hati Bu, Pak." ucap Fahri.
Fahri meneruskan lari paginya, sambil mencari makanan yang enak untuk sarapan paginya. Fahri menjadi pusat perhatian, karena tubuhnya yang Atletis. Ditambah dengan wajahnya yang cukup tampan dan hitam manis.
"Larii pagi, Om." sapa gadis-gadis yang juga sedang lari pagi disekitaran situ.
"Mau ditemenin gak, Om?" tanya salah satu gadis.
Fahri tidak menggubris ucapan gadis itu, mereka terus mengikuti Fahri. Sampai akhirnya dia melihat Gisya yang sedang membeli sarapan pagi juga. Fahri yang risih dikejar-kejar para gadis itu, segera menghampiri Gisya.
"Sayang, disini ternyata beli sarapannya. Abang keliling-keliling tau nyariin kamu," ucap Fahri pada Gisya.
Gisya tersentak kaget, kedatangan Fahri dan ucapannya membuat jantung Gisya berdegup kencang. Tapi saat melihat rombongan gadis-gadis dibelakang Fahri, Gisya mengerti apa yang harus dilakukannya.
"Hehe, maaf sayang. Aku pengen makan lontong kari disini, Enak banget rasanya." tutur Gisya yang membuat Fahri menyunggingkan senyumnya.
"Yasudah, Ayo kita makan sayang!" ajak Fahri.
Gadis-gadis disana merasakan patah hati ketika melihat Fahri bersama Gisya. Mereka tidak lagi mengikuti Fahri.
"Pengantin baru ya, Bang. Romantis banget sih!" ucap salahsatu pembeli.
Gisya dan Fahri hanya bisa memaksakan senyumnya.
"Abang hutang banyak sama aku," bisik Gisya.
"Kalo nolongin jangan pamrih, Dek." jawab Fahri.
"Idih sejak kapan Abang panggil aku Adek? Emangnya kita adik kakak apa," kesal Gisya.
"Hm, jadi maunya dipanggil apa? Panggil sayang mau?" goda Fahri pada Gisya.
"Abang ih!" kesal Gisya.
"Apa sayang?" Tanya Fahri.
"Ngapain Abang panggil sayang?"
"Kan emang sayang," jawab Fahri.
Saat Fahri dan Gisya sedang berdebat mengenai panggilan, turunlah Danki dan istrinya dari motor untuk membeli sarapan juga.
"Wah ternyata ini ya calonnya, Om. Cantik!" ucap Bu Danki membuat Gisya dan Fahri kaget.
"Siap! Ibu dan Bapak mau sarapan juga?" tanya Fahri.
"Enggak Om, mau pacaran." ledek sang Komandan.
"Silahkan duduk Pak, Bu." ucap Gisya.
"Bicara non formal ajalah, Ri. Kasian calonmu belum terbiasa." ucap Gilang sang Komandan kompi.
"Siap Bang!" jawab Fahri.
"Nama kamu siapa dek?" tanya Fatimah.
"Nama saya Gisya, bu."
"Panggil Mbak aja, kayaknya usia kita juga gak jauh-jauh banget. Suka berasa tua aku tuh," ucap Fatimah.
Satu piring lontong kari sudah tersedia dihadapan mereka masing-masing. Mereka memulai sarapan pagi mereka bersama-sama. Gisya yang berniat membungkus sarapan, terpaksa makan bersama Fahri dan atasannya disana.
"Jadi kapan rencananya, Ri?" tanya Gilang.
"Do'akan saja di waktu yang terbaik, Bang." jawab Fahri.
"Memang sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Fatimah yang membuat Gisya tersedak.
"Uhuuukk!! Uhuuukk!! "
"Hati-hati makannya, nih minum dulu." ucap Fahri sambil memberikan segelas airputih.
"Kami tidak pacaran Mbak. InshaAllah jika berjodoh saya akan langsung pengajuan," jelas Fahri.
"Hebat kamu, Ri! Langsung pengajuan saja, apalagi tugas kita nanti lama. Biar ada semangat untuk pulang," tutur Gilang.
Gisya mulai mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Rasanya ingin Gisya menanyakan maksud Fahri. Tapi karena ada atasan Fahri, dia mengurungkan niatnya.
"Kalo Mbak berapa lama dulu pacarannya?" tanya Gisya.
"Hampir 8 tahun, kami baru menikah setahun yang lalu. Alhamdulillah baru sekarang diberi kepercayaan oleh Allah." jawab Fatimah.
"MashaAllah lama sekali ya, Mbak." tutur Gisya.
"Makanya Mbak bangga banget sama kalian, gak ada kata pacaran langsung nikah," puji Fatimah.
"Menurut saya, lebih baik kalian pengajuan saja dulu. Apalagi nanti Fahri akan bertugas jauh, biar ada kepastian dalam hubungan kalian," tambah Gilang.
"Kalau kami berjodoh, InshaAllah akan diberikan jalan yang terbaik Bang." ucap Fahri.
Gisya tidak mengatakan apa-apa hingga Fatimah dan Gilang pamit pulang. Ternyata Febri dan Andi juga berada disana bersama Yuliana dan Jafran. Mereka tidak sengaja bertemu saat pulang berolahraga.
"Itu bukannya si Fahri sama si Caca, ya?" tunjuk Jafran kearah Fahri dan Gisya.
"Iya bener itu mereka, wah gila si Fahri sarapan bareng Danki." Ucap Andi saat melihat mantan Danki nya yang baru saja pergi.
"Danki itu diatas Mas kan jabatannya?" tanya Febri.
"Iya kalo Bang Gilang itu Komandan Kompi, kalo Mas Komandan Pleton biasa dipanggil Danton, dulu dia atasan Mas juga." jelas Andi.
"Samperin yukk!! Gatel pengen godain Pak Tentara pagi-pagi." celetuk Yuliana.
"Mau aku garukin gak yank?" tanya Jafran dengan mata melotot.
"Maksud aku Pak Tentaranya itu Bang Fahrii, kamu mah suka negatif thingking deh!" kesal Yuliana.
"Gak nethink gimana si Apan, orang kamu nunjuknya ke gerombolan Tentara di sebelah meja si Fahri." ucap Febri sambil menahan tawanya.
"Ish dasar tangan nakal! Salah tunjuk!" elak Yuliana.
"Heleh, kalo aku gak ada palingan kamu gitu juga" kesal Jafran lalu berjalan menghampiri Gisya dan Fahri.
"Sarapan pagi berduaan aja, gak ajak-ajak nih!" ucap Jafran sambil menepuk pundak Fahri.
"Yaa Allah! Kaget aku Jafran! Salam kalo dateng tuh," kesal Fahri.
"Tumben Ayank nya ditinggalin," ucap Gisya.
"Bodo amat, dia mau godain Tentara ganteng katanya." kesal Jafran.
"Cih! Sok-sokan bodo amat, si Ulil diembat orang aja baru tau rasa! Tolongin tuh!" Ledek Febri sambil menunjuk kearah Yuliana yang menjadi perhatian orang-orang karena terjatuh.
"Allahu Yaa Rabb!! Ulet bulukuu," teriak Jafran menghampiri Yuliana.
Mereka tertawa melihat kelakuan dua sejoli itu.
"Sana-sana istri saya baik-baik aja kok!" usir Jafran kepada segerombolan tentara.
"Jangan ditinggal Mas istrinya, kasian nyuksruk begitu."ucap salah satu Tentara lalu pergi.
"Ngapain manyun gitu bibirnya? Minta dicium?" Celetuk Jafran.
"Dih! Bantuin bukan malah ninggalin!" kesal Yuliana.
"Lagian ada calon imam, matanya masih jelalatan aja."
"Hehehe, maaf yaa calon imamku," bujuk Yuliana.
"Udah hayuk! Nanti gak kebagian buat ngeledek si Caca sama si Fahri." Ucap Jafran.
Saat mereka sampai sana, Fahri dan Gisya berpamitan.
"Lah, lah. Kita dateng, ente malah pada bubar!" kesal Jafran.
"Sorry bro! Aku ada apel pagi," ucap Fahri.
"Lah kok kamu ikutan bubar, Ca?" tanya Yuliana.
"Mau nganterin Bang Fahri, males kalo disini nanti jadi bahan gosip!" ucap Gisya melengos.
"Cieeee, nganterin Abang.. Cieee," ledek Febri.
Gisya berjalan menuju motornya, lalu memberikan helm dan kunci motonya kepada Fahri.
"Abang yang bawa lah, masa iya aku yang bawa!" ucap Gisya sambil manyun.
"Jangan manyun gitu Dek, nanti Abang khilaf!" celetuk Fahri lalu mendapatkan cubitan di pinggangnya.
"Awww! Sakit Dek, cubit lagi dong!" Goda Fahri.
"Ish! Jalan gak, kalo enggak sana lari lagi pulangnya." kesal Gisya. Tanpa disadari, dia tersenyum.
Sesampainya di gerbang masuk Batalyon, Fahri bergegas masuk karena takut kesiangan apel pagi.
"Sayang, makasih ya!" ucap Fahri.
"Jangan bikin anak orang baper Bang!" kesal Gisya.
"Ciee yang baper! Tunggu Abang lamar ya, Dek. Gak lama kok! Langsung pengajuan yaa," teriak Fahri sambil masuk kedalam Batalyon sambil berlari.
"Bang! Helm Caca! Bang Fahriii!!" teriak Gisya karena helmnya masih dipakai Fahri.
Fahri terus berlari menuju Rumah Dinasnya terburu-buru. Gilang yang sedang berpamitan kepada istrinya malah tertawa terbahak-bahak melihat Fahri yang berlari memakai helm.
"Memang Cinta itu bisa bikin orang jadi gak waras ya, Dek. Helm dikepala pun gak berasa," celetuk Gilang.
Gimana nih ceritanya menurut para Reader?
Mohon maaf apabila ada kesalahan ya! Baik itu dalam penulisan kata ataupun yang lainnya.
Dukung terus karya pertama Author ❤
Like, Komen dan Favorite!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Cut Ainun
keren thor 😍😍😍🥰🥰
2024-11-12
0
Nurr Amirr🥰💞
wkwkwk bang Fahri ohhhhh bang Fahri🤣🤣🤣🤣....
2024-07-19
0
WA ODE JUFLIANTI
bagus banget si kak ceritanya 🥰
2024-05-28
0