Fahri dan Andi baru saja sampai tepat pukul 12 malam, mereka mulai beristirahat karena besok pagi mereka akan berangkat menuju Papua. Fahri berbaring menatap langit-langit kamarnya, lamunannya buyar karena ponsel Fahri berbunyi. Panggilan Video dari Ibunya membuat Fahri terkesiap, ia menarik nafasnya lalu menggeser tombol hijau pada ponselnya.
In Call
"Assalamualaikum, Ma" salam Fahri sambil melambaikan tangannya didepan ponsel.
"Walaikumsalam, anak Mama udah mulai lupa jalan pulang nih! Lupa nomor hp Mama apa gimana nih?" kesal Mama Risma.
"Mama kamu marah tuh, Bang. Papa aja daritadi dimanyunin. Kapan pulang ke Palembang?" cetus Papa Hari yang berada disamping istrinya.
"Mamaku yang cantik jangan marah-marah, nanti gak cantik lagi," ledek Fahri.
"Mau kualat kamu Bang ledekin mama! Jawab tuh, kapan pulang? Mama kangen banget sama anak Mama," tutur Mama Risma dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sabar Ma, baru besok Abang mau berangkat ke Papua." ucap Fahri membuat Mama Risma semakin berkaca-kaca dan mulai terisak.
"Apa?! Kamu mau tugas tapi gak ngehubungin Mama, parah kamu lupanya sama Mama!" ketus Mama Risma.
"Eh, gak gitu Ma. Maafin Abang ya, jangan nangis dong! Ini juga kan Abang bilang sama Mama, nanti selesai tugas Abang usahakan akan pulang ke Palembang, Ma" tutur Fahri menenangkan sang Ibu.
"Kamu jadi mau ngelamar Santi Bang?" tanya Papa Hari tiba-tiba dan membuat wajah Fahri memucat.
"Kenapa Nak? Kamu baik-baik aja kan Bang?" tanya Mama Risma khawatir.
"Abang sama Santi udahan Ma, Pa. Santi sudah memiliki kekasih lain Ma. Tadi abang lihat dengan mata kepala abang sendiri, tapi yang lebih miris kekasihnya itu sudah punya calon istri. Sekarang perempuan itu sedang kritis karena tertabrak mobil. Dia shock waktu tau calon suaminya sudah berhubungan dengan Santi selama 2 tahun." Jelas Fahri pada kedua orangtuanya.
"Astagfirulloh!" ucap orangtua Fahri bersamaan.
"Yaa Allah, anak Mama. Yang sabar ya sayang, Mama yakin suatu saat nanti jodoh itu akan datang tanpa kamu minta Bang. Ingat Nak, skenario Allah jauh lebih indah dari skenario manusia."
"Kamu harus ingat satu hal Bang. Hidupmu untuk membela Negaramu, Istrimu nanti hanyalah yang kedua. Karena prioritas pertama adalah Senjata dan Negara. Jadi, kamu harus mencari orang yang benar-benar bisa menerima statusmu, yang mau mendukungmu, yang mau setia menunggumu, dan yang paling penting orang yang siap kamu tinggalkan bertugas. Fokuslah pada tujuanmu saat ini, Jodoh akan bertemu disaat yang tepat." nasehat Papa Hari.
"Iya Pa, Ma. Abang mengerti, InshaAllah abang sudah ikhlas. Abang pasrahkan semua sama Allah," ucap Fahri membuat kedua orangtuanya tersenyum.
"Yasudah abang istirahat, besok kalo sempat kabari Mama dan Papa," ujar Papa Hari.
"Jangan lupa pulang! Mama Rindu 2 jagoan Mama, kalian sibuk semua! Mama kesepian," tutur Mama Risma pasalnya adik Fahri saat ini sedang bersekolah di Akademi Militer mengikuti jejak Kakak dan Ayahnya.
"Iya Ma, Abang istirahat dulu ya! Mama sama Papa jaga kesehatan. Abang sayang kalian, Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam,"
End Call
Setelah mengakhiri panggilannya, Fahri terlelap tidur. Saat Adzan Subuh berkumandang Fahri terbangun, dia melakukan sholat subuh berjama'ah dimesjid bersama Andi. Lalu berkumpul di Lapangan Batalyon untuk bersiap berangkat menuju Papua. Dilihatnya Ibu-ibu Persit dan keluarganya yang mengantar kepergian suaminya untuk bertugas. Begitu juga Andi yang saat ini sedang memeluk Febri sebagai tanda perpisahan.
"Apakah suatu saat nanti akan ada yang mengantarkan aku untuk pergi bertugas." Batin Fahri.
Fahri dan Andi baru saja mendarat di Papua bersama pasukan. Suasana saat itu sedang mencekam, karena ada penyerangan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Fahri dan Andi langsung melakukan Patroli disekitar kejadian. Sebelumnya sudah ada 4 anggota TNI yang gugur karena penyerangan itu.
Sudah hampir 2 minggu Fahri dan Andi berada disana, mereka fokus untuk meringkus beberapa Oknum KKB. Sudah 2 minggu pula Andi tidak mengirim kabar pada kekasihnya, Febri sangat khawatir dengan kondisi Andi. Terlebih ketika berita tentang penyerangan itu berseliweran di TV.
"InshaAllah Andi baik-baik saja," ucap Mami Lia yang mengerti kondisi hati putri sahabatnya itu.
"Iya kamu tenang aja, do'a terus buat Kang Mas kamu. Biar nanti pas pulang, lamaran deh!" celetuk Yuliana.
"Mudah-mudahan aja Mas Andi baik-baik aja, Caca kapan sadarnya sih? Udah 2 minggu ini," ucap Febri dengan mata berkaca-kaca.
Saat itu Gisya dinyatakan koma oleh dokter, saat ini mereka semua sedang berada dirumah sakit menjaga Gisya. Bergantian dengan orangtua mereka. Zayn dan Santi pun sering datang kesana karena rasa bersalah. Tapi mereka tidak berani untuk masuk kedalam ruangan, hanya memantau dari jauh.
Fahri dan Andi saat ini sedang melakukan misi untuk menciduk salah satu Oknum KKB.
"Target berada diarah jam 2, Sertu Beni berhati-hati," ucap Fahri pada bawahannya.
"Siap Lettu!" jawab Sertu Beni.
Fahri bersembunyi diatas pohon, sementara Andi maju perlahan dan bersiap melakukan penyergapan.
Sayangnya keberadaan mereka diketahui oleh anggota KKB yang lain. Hingga kejadian saling tembak menembak pun tak terelakan.
Doooorrrrrrrr!!
"Lettuu!!" teriak Sertu Beni saat melihat dada Fahri tertembak.
"Fahrii!!" Andi pun ikut berteriak.
Andi terus melayangkan tembakan kearah musuh. Beberapa oknum sudah mulai tertangkap, Andi menghampiri Fahri yang terduduk dibawah pohon dengan dada yang terus mengeluarkan darah. Andi mencoba untuk memapah Fahri. Tapi ternyata masih ada beberapa oknum yang belum teringkus.
Dooooorrrr!! Doorrrrrr!!
Bunyi tembakan 2 kali kembali terdengar, ternyata Andi tertembak diperut dan bahunya. Sertu Beni terus melayangkan tembakan kearah Oknum tersebut. Setelah dirasa kondisi mulai aman Sertu Beni beserta pasukannya mengevakuasi Fahri, Andi dan beberapa perwira yang terluka.
Disisi lain, Febri tiba-tiba saja merasa dadanya sakit. Dia tiba-tiba teringat Andi.
"Yaa Allah, lindungilah Mas Andi. Dimanapun dia berada, kuatkanlah hatiku Yaa Allah." do'a Febri.
Andi dan Fahri saat ini sedang berada di Ruang Operasi, kondisi mereka cukup parah karena kehilangan banyak darah. Berita pun mulai berseliweran mengabarkan bahwa ada beberapa yang terluka dan gugur disana. Febri saat itu sedang berada di Rumah Makan Padang Uda Kris untuk makan siang bersama Yuliana. Karena mereka sedang bertugas menjaga Toko. Saat melihat berita, Febri merasa seluruh tubuhnya lemas. Terlebih saat wartawan mengatakan nama-nama korban yang terluka dan gugur.
"Biw, kamu gak apa-apa kan?" tanya Yuliana menghampiri Febri.
"Mas Andi, Lil. Mas Andi baik-baik aja kan, Lil? Dia akan pulang menemui aku kan Lil?" tanya Febri yang sudah tidak kuasa menahan airmatanya.
"Udaa matikan TV nya!!" teriak Yuliana yang diangguki oleh Uda Kris.
"Ini kasih dia minum," tutur Uda Kris sambil memberikan segelas air putih.
Febri mulai merasa kepalanya berputar dan pandangannya gelap. Febri pingsan! Yuliana yang panik segera menelpon Bunda Syifa. Karena Mama Rini sedang berada diluar kota. Febri dilarikan ke klinik terdekat.
"Kenapa bisa gini sih sayang?" tanya Bunda Syifa pada Yuliana.
"Tadi diberitakan beberapa TNI yang terluka dan gugur Bunda, salah satunya ada nama Mas Andi dan Bang Fahri. Febri shock Bunda terus nangis dan pingsan," jelas Yuliana.
"Yaa Allah, Nak. InshaAllah Andi dan Fahri akan baik-baik saja, kita kan belum tau mereka gugur atau terluka. Semoga saja mereka hanya terluka," tutur Bunda Syifa sambil mengelus kening Febri.
Hal yang sama dirasakan oleh kedua orangtua Fahri. Risma menangis tersedu-sedu dipelukan suaminya. Sambil menunggu kabar dari Kesatuan yang menaungi Fahri.
"Pa, gimana keadaan anak kita?" tanya Mama Risma yang terus menangis.
"Fahri terkena luka tembak, Ma. InshaAllah dia akan baik-baik saja! Kamu harus terus berdo'a, Ma! Jangan menangis," ucap Papa Hari.
"Gimana Mama gak nangis Pa! Anak Mama tertembak itu, lukanya gimana? Mama gak mau kehilangan anak mama!" teriak Mama Risma histeris.
"Ssttt..! Istighfar, anak kita akan baik-baik saja Ma. Papa terus memantau kondisinya dari sini," tegas Papa Hari.
Mama Risma mulai merasa tenang mendengar ucapan suaminya. Dia terus berdo'a agar kondisi putranya baik-baik saja.
Operasi Andi sudah selesai, kini Andi sudah dipindahkan ke Ruang Perawatan biasa. Kondisinya juga sudah mulai stabil. Sementara Operasi Fahri belum selesai, karena peluru menembus dadanya. Untung saja peluru itu tidak mengenai jantung Fahri. Setelah 8 jam Operasi Fahri baru selesai. Fahri ditempatkan di ICU karena kondisinya masih kritis. Andi yang sudah siuman menanyakan keberadaan Fahri pada Serda Rizal.
"Bagaimana kondisi Fahri?" tanya Andi dengan kondisi yang masih lemah.
"Siap! Lettu Fahri masih dalam kondisi kritis, saat ini sudah berada di Ruang ICU." ucap Rizal.
"Yaa Allah Fahri," gumam Andi dengan mata berkaca-kaca. Kemudian dia ingat Febri, pasti berita diluar sana sudah menyebar.
"Zal, tolong kabari keluargaku dan calon istriku. Katakan bahwa aku baik-baik saja," pinta Andi.
"Siap! Laksanakan Lettu!" jawab Rizal lalu keluar ruangan untuk menghubungi keluarga Andi.
Di Klinik, Febri sudah sadar dari pingsannya. Tapi dia tidak henti-hentinya menangis. Bunda Syifa memutuskan untuk membawa Febri pulang ke Toko. Disana ada kamar yang biasa digunakan untuk mereka beristirahat.
"Teh Ebi, minum dulu Air angetnya biar lebih tenang," ucap Farida salah satu pegawai Toko.
Namun Febri masih saja terus menangis, hingga dia melihat ada panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Febri pun mulai mengangkat telponnya sambil terisak.
"Hallo, s-siapa ini?" tanya Febri sambil mengelap airmatanya.
"Siap! Saya Serda Rizal, saya hanya diminta mengabarkan bahwa Lettu Andi baik-baik saja. Dia sedang mendapatkan perawatan." lapor Rizal.
"Alhamdulillah, terimakasih Om Rizal. Lalu bagaimana dengan Fahri?" tanya Febri yang mulai tenang.
"Siap! Lettu Fahri masih dalam kondisi kritis, laporan sudah saya sampaikan. Saya mohon undur diri," ucap Rizal.
"Yaa Allah, terimakasih Serda Rizal." ucap Febri.
Bunda Syifa yang mendengar kabar itu tiba-tiba menitikan airmatanya.
"Yaa Allah, nasib kalian kenapa seperti ini? Kalian sama-sama dikhianati, dan kalian sama-sama dalam kondisi yang tidak baik. Yaa Allah lindungi anak-anakku dimanapun mereka berada," ucap Bunda Syifa dalam hati.
Sedih ya, Gisya dan Fahri sama-sama dalam kondisi yang menyedihkan.
Kapan Gisya dan Fahri bersatu Author?
Sabar Yaa!! Terus pantengin BAB selanjutnya ✌✌
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Nurr Amirr🥰💞
Makin asyik bacanya thorrr🥰🥰🥰🥰
2024-07-15
0
Irat Tok
sedih banget thor
mewek Mulu gw baca
kasihan gisya
2023-02-25
0
Alvika cahyawati
aku kok jd sedih sich baca nya pdhl ini udah yg ke 2x nya aku baca
2023-02-20
1