Malam ini, mereka berkumpul di Ruang Keluarga. Gisya sudah siuman, dia meminta Syauqi untuk menggendongnya ke Ruang Baca yang berdampingan dengan Ruang Keluarga. Saat Fahri akan meminta izin untuk pulang, Bunda Syifa melarangnya.
"Pokonya Bunda gak mau tau, kamu harus makan malam disini," paksa Bunda Syifa.
"Udah mending nurut aja Bang, daripada denger Bunda kultum." celetuk Syauqi. Belum Syifa membuka mulutnya, Yuliana sudah berbicara lebih dulu.
"Dasar anak nakal!" ledek Yuliana.
"Tuhkan! Teh Ulil aja udah hatam sama semua kultum nya Bunda," tambah Syauqi dan mendapatkakan jeweran ditelinganya.
"Aww, Aww, sakit ih Bunda! Gimana kalo kuping Uqi jadi lebar kayak kuping Gajah?!" kesal Syauqi.
"Bunda jadiin cemilan kalo kuping kamu jadi kuping Gajah! Fahri, kamu makan malam disini ya. Bunda udah masak banyak banget. Kalo bisa mah nginep aja disini." pinta Bunda Syifa memelas.
"Fahri nurut aja deh, Bunda. Tapi kalo menginap, mohon maaf Bun. Fahri tidak bisa," ucap Fahri.
"Yee si Bunda, Bang Fahri kan mesti pulang ke Rumah Dinasnya! Gak bisa seenak jidat nginap nginep," Syauqi kembali berbicara dan mendapatkan cubitan dipipinya. Syauqi yang menghindari Sang Bunda, berlindung dibelakang tubuh Fahri.
Gisya yang berada tak jauh darisana terlihat menahan tawanya. Yuliana yang melihat Gisya mulai bisa tertawa, menyenggol lengan Febri. Namun, Febri yang sedang asyik berbalas pesan malah emosi.
"Kamu apaan sih, Lil! Maen senggol-senggolan!" kesal Febri yang membuat Yuliana menepuk bahunya.
"Noh liat! Gak seneng apa bisa liat dia kayak begitu lagi?!" ucap Yuliana sambil menunjuk kearah Gisya.
Semuanya menengok kearah Gisya, dilihatnya Gisya yang menahan tawa sambil memegang sebuah buku.
Mata mereka mulai berkaca-kaca, rasa bahagia dalam hati mereka. Setidaknya bisa melihat sedikit senyuman diwajah Gisya.
"Teh, kita makan malam dulu yuk!" ajak Syauqi menghampiri Gisya sambil bersiap untuk menggendong Gisya.
"Jangan gendong Teteh, tolong ambilkan tongkat. Teteh mau coba buat jalan sendiri ke meja makan." pinta Gisya.
Semua yang disana terlihat sangat khawatir, pasalnya setelah kegiatan tadi sore mereka tau jika kaki Gisya terasa sakit kembali. Fahri dan Syauqi berjalan dibelakang Gisya karena takut jika dia terjatuh.
Makan malam kali ini berbeda, suasana hangat dirasakan oleh Bunda Syifa. Sesekali mereka saling melemparkan candaan. Selesai makan, Fahri berpamitan pulang. Febri dan Yuliana pun pulang kerumah mereka masing-masing.
Gisya kembali kekamarnya digendong oleh Syauqi.
"Uqi gak cape terus-terusan gendong Teteh kemana-mana?" tanya Gisya dalam gendongan Syauqi.
"Enggak, sampe kapanpun Uqi gak akan pernah cape. Semua ini sudah tugas Uqi untuk menjaga Teh Caca," jawab Uqi.
"Uqi sayang gak sama Teh Caca?" tanya Gisya kembali saat Syauqi sudah menurunkannya diatas ranjang.
Syauqi berlutut didepan Gisya dan memegang erat tangannya.
"Dengerin Uqi baik-baik ya, Teh Caca dan Bunda adalah kekuatan Uqi. Kalian itu hidup Uqi, jadi jangan Teteh tanyakan hal seperti itu lagi. Sudah pasti Uqi sangat menyayangi Teteh." tutur Syauqi.
"Iya percaya kok, Uqi mau gak melakukan sesuatu untuk Teteh?"
"Apapun yang Teteh mau, selama Uqi bisa melakukannya pasti Uqi kabulkan. Emang apa yang Teteh inginkan sekarang?" tanya Syauqi.
"Teteh mau kamu nemuin Om Deni dan Keluarganya. Jangan ada dendam diantara kita, Qi. Hidup Teteh saat ini terasa berat, apalagi dengan kondisi Teteh seperti sekarang. Teteh cuman ingin hidup dalam rasa damai, Teteh sudah memaafkan A Zayn. Temui Om Deni, saat ini dia sedang terbaring lemah. Kita tidak tau kapan ajal akan menjemput, bicaralah pada mereka. Ikhlaskan semuanya, InshaAllah Teteh juga sudah ikhlas Uqi." tutur Gisya membuat Syauqi mengepalkan tangannya.
Beberapa hari yang lalu, Mama Ajeng menelepon Gisya. Dia meminta Gisya untuk menemui suaminya yang sudah 2 minggu dirawat karena serangan Jantung. Gisya datang kesana ditemani oleh Bundanya, UwakYusuf dan Uwak Ais tanpa sepengetahuan Syauqi.
Di Ruangan itu, ada Zayn dan Santi juga. Gisya memasuki ruangan tanpa menoleh kearah Zayn. Sementara Zayn dan Santi hanya menundukkan wajahnya. Gisya menghampiri Deni menggunakan kursi rodanya, dilihatnya tubuh Deni yang jauh lebih kurus. Mata Deni mulai memanas karena airmata yang tak tertahankan.
"Gisya, maafkan Papa." lirih Deni.
"Om harus sehat, harus kuat. Masih ada Tante dan Zahra yang membutuhkan Om. InshaAllah Caca sudah ikhlas dengan semuanya." tutur Gisya sambil memegang erat tangan Deni.
Hati Deni dan Ajeng meringis mendengar panggilan Gisya yang berbeda.
"Terimakasih Nak. Kamu tetap anak Papa, meskipun kamu dan Zayn tidak berjodoh. Tapi Papa masih berat, karena Uqi belum bisa memaafkan Papa." ucap Deni.
"Caca rasa hubungan kita tidak bisa lebih jauh dari itu Om. Lebih baik, mulai saat ini Om dan Tante merestui hubungan mereka. Terlebih lagi mereka akan segera punya anak. Soal Uqi, InshaAllah nanti dia akan menemui Om." ucap Gisya membuat semua orang disana terkejut.
"Caca sudah tau semuanya, hari ini Caca membawa Uwak Yusuf dan Uwak Ais kemari sebagai wali Caca untuk membatalkan perjodohan itu secara resmi," tambah Gisya.
Deni dan Ajeng saling menguatkan hati mereka. Mereka merasa sangat bersalah terhadap Gisya.
"Saya kemari selaku wali dari Gisya, saya memutuskan untuk mengakhiri perjodohan ini. Awal niat kita baik dan kami ingin mengakhiri semuanya baik-baik juga. InshaAllah kami sudah ikhlas dengan semuanya, dan kami juga berharap hubungan keluarga kita akan baik-baik seperti dulu. Zayn saya minta kamu melepaskan Gisya secara resmi." tutur Uwak Yusuf.
Zayn menghampiri Gisya yang terduduk di kursi rodanya, dia bersujud didepan Gisya.
"Maafkan Aa, Aa berdosa terhadap kamu. Jujur saja, Aa mencintai kamu. Tapi Aa tidak bisa melepaskan Santi, karena Aa sudah lama mencintainya sebelum mengenal kamu. Maafkan Aa, Neng." tutur Zayn.
"Bangun A, InshaAllah Caca sudah ikhlas. Sekarang kalian berdua harus menikah. Kasian bayi dalam kandungan Santi." ucap Gisya.
"Terimakasih sudah memaafkan Aa. Aa berharap, Caca akan menemukan laki-laki yang terbaik untuk Caca. Bismillah, saya Zayn Fadillah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan saya dengan Gisya Kayla Nursalsabila." ucap Zayn sambil terisak. Hatinya terasa sangat perih, dia akui jika Gisya gadis yang sempurna.
"Gisya, terimakasih. Maafkan kesalahanku," ucap Santi yang ikut bersujud didepan Gisya.
Gisya mohon pamit kepada Deni dan Ajeng. Setelah keluar darisana Gisya merasa bebannya sedikit berkurang. Tinggal membujuk sang Adik untuk mau menemui Deni.
Setelah semalam mendengar permintaan Gisya, Syauqi mencoba untuk mengabulkan keinginan Gisya. Dia termenung, kini dia sedang berada di Parkiran Rumah Sakit tempat Deni dirawat. Sebenarnya hatinya belum bisa menerima maaf dari keluarga itu. Tapi, demi Gisya dia akan melakukannya. Kedatangan Syauqi disambut haru oleh Deni dan Ajeng.
"Uqi, kamu datang Nak." ucap Deni.
"Saya datang kesini karena Teteh. Sebelum Om meminta maaf, saya sudah memaafkan Om. Cepat sembuh Om." ucap Syauqi.
"Terimakasih Uqi, terimakasih banyak. Maafkan segala salah dan dosa keluarga kami terhadap keluarga kalian. Om berharap kita tetap menjaga tali silaturahmi kita." ucap Deni.
"Kalo gitu saya pamit dulu, Assalamualaikum." ucap Syauqi meninggalkan ruangan Deni.
Syauqi yang terlihat gagah memakai seragam Polisi menjadi pusat perhatian para perawat dan dokter disana. Karena merasa risih dengan pandangan itu, Syauqi mempercepat langkahnya. Hingga dia tidak sengaja menabrak seorang gadis.
"Aduh, kalo jalan pake mata dong pak!" kesal gadis tersebut.
"Eh, eh dimana-mana kalo jalan tuh pake kaki!" jawab Syauqi lalu pergi meninggalkan gadis itu.
"Dasar polisi sinting!!" teriak gadis itu.
Gadis itu bernama Syaina, dia sedang menunggu Ayahnya yang sedang dirawat disana. Ayahnya menjadi salah satu korban tabrak lari.
Gisya saat ini sedang berada di Toko Kue miliknya, kini dia ingin mulai membiasakan diri untuk membuat Kue lagi. Meskipun hanya duduk di kursi roda. Rani dan Farida selalu mendampingi Gisya.
"Farida saya minta tolong, antarkan pesanan ke rumah Ibu Ayunda ya. Soalnya Rama lagi nganterin pesanan Bu Ida sama Ebi." pinta Gisya.
"Siap Teh, mau Farida belikan makan siang?" tanya Farida.
"Gak usah, aku sudah bawa makan siang untuk Gisya." ucap Fahri yang tiba-tiba datang ke dapur.
Gisya tersentak kaget melihat Fahri, begitupun dengan Farida.
"Teh, aku jalan sekarang ya. Assalamu'alaikum,"
"Walaikumsalam," jawab Fahri dan Gisya bersamaan.
Fahri dan Gisya sejenak saling terdiam. Tiba-tiba Yuliana masuk dan menegur kami yang malah terlihat salah tingkah.
"Loh kok malah diem-diem bae! Duduk Bang Fahri, si Caca mah ada tamu bawa makan siang bukannya disuruh duduk malah dianggurin!" cerocos Yuliana.
"Eh, duduk Bang. Kok repot-repot bawain makan siang, Abang gak sibuk?" tanya Gisya.
"Kebetulan jadwal Abang belum terlalu sibuk, sekalian mau beli kue untuk dikirim ke Mama di Palembang." jawab Fahri.
"Kalo Mas Andi sekarang dinas dimana? Kok tumben kalian berpisah," tanya Yuliana.
"Andi dinas di Magelang, namanya juga Tentara. Ya harus siap mau ditempatkan dimanapun dan dengan siapapun," jawab Fahri.
"Udah, makan dulu. Dilanjut nanti lagi ngobrolnya," sela Gisya sambil menyodorkan makanan kepada Fahri.
"Fahri aja nih yang di ambilin? Akunya enggak," rajuk Yuliana.
"Dih, manja! Nih, makan yang banyak. Biar pas calon kamu pulang, badan kamu gemukan!" Ledek Yuliana.
"Nih, kamu juga harus makan yang banyak!" tutur Fahri sambil memberikan lauk pauk miliknya pada Gisya.
"Loh, kok malah dikasihin ke si Caca?" heran Yuliana.
"Pura-pura bahagia itu butuh tenaga," ucap Fahri santai.
Gisya hanya menunduk dengan wajah yang sudah memerah. Fahri hanya tersenyum saat melihat wajah Gisya.
Sepertinya mulai akan ada benih-benih cintaa nih!
Menurut kalian, apa mereka akan bisa langsung menerima satu sama lain?
Eittss,, pantengin terus yaa!!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Nurr Amirr🥰💞
Thorrrr kok bila udah mula baca, payah mahu brentinya.... Mahu tahu terus gimana lanjutnya..
2024-07-15
0
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
heleh pret
2024-02-15
0
Ita Retno
harus bisa🤭🤣❤️#maksa.....💪💪semangat thor
2022-07-01
0