Setelah puas bermain air di Curug, mereka memutuskan kembali kerumah Uwak Ais untuk berganti baju dan melaksanakan Sholat Dzuhur bersama-sama. Selesai sholat mereka makan siang bersama karena perut mereka sudah sangat keroncongan.
"Masakan Uwak Ais emang the best banget!" ucap Yuliana yang baru saja menyelesaikan makannya setelah 3x tambah.
"Bukan laper kamu mah Lil, tapi doyan!" celetuk Febri.
"Hehehe, mumpung disini kan. Aku mau telpon Mama Rini dulu ya!" ucap Yuliana dan bergegas pergi ke kamar.
"Tuh kan kebiasaan si Ulil mah! Kabur, gak mau beberes kalo udah makan," omel Gisya sambil membereskan piring bekas makan mereka.
"Emang! Yaudah aku juga ke kamar dulu ya, belum ngabarin Kang Mas tercinta" ucap Febri yang langsung pergi menyusul Yuliana.
"Sama aja! Kebiasaan punya sahabat gini amat, gimana kalo udah punya suami coba. Masa udah makan main ngacir aja gak beberes dulu." gerutu Gisya.
"Jangan ngedumel Neng, nanti gak jadi pahala! Assalamualaikum," ucap Uwak Ais yang baru saja datang bersama Uwak Yusuf.
"Walaikumsalam! Uwak mah bikin Caca jantungan deh. Uwak apa kabar?" tanya Gisya yang langsung menghambur ke pelukan Uwak Yusuf.
Uwak Yusuf merupakan sosok pengganti Ayah bagi Gisya, seperti sekarang ini Gisya sangat manja pada Uwaknya.
"Eh, anak gadis Uwak udah gede masih aja nemplok kayak cicak," ucap Uwak Yusuf sambil membelai kepala Gisya yang terbalut hijab.
"Gisya kangen sama Uwak," lirih Gisya masih sambil memeluk erat Uwak nya itu seakan menyalurkan rasa rindu terhadap sang Ayah.
"Udah, udah pelukannya nanti lagi. Sekarang Caca istirahat, nanti malam kita bakar-bakaran Jagung didekat Kolam Ikan!" Ujar Uwak Ais.
"Asyiiikk! Caca ke kamar dulu ya, Uwak." ucap Gisya lalu menuju kamar untuk beristirahat.
Kedua sahabatnya sudah terlebih dahulu terlelap di kasur mereka masing-masing. Gisya mencoba memejamkan matanya, namun terasa sangat sulit padahal tubuhnya merasa sangat lelah. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
+628198093****
Kalo kamu seorang perempuan, kamu akan mengerti kalo Zayn itu tidak mengharapkan kehadiran kamu. Tolong lepaskan dia dari perjodohan konyol itu. Ayah kamu meminta Zayn menjaga kamu semata-mata itu sebagai balasan karena Ayah kamu sudah menyelamatkan Ayahnya Zayn dari kecelakaan!
Deg!
Pesan itu membuat hati Gisya semakin sakit, airmata Gisya sudah tidak bisa terbendung lagi. Gisya menangis sejadi-jadinya, membuat kedua sahabatnya terbangun.
"Ca, kamu kenapa Ca?" tanya Febri panik.
"Ca! Cerita kamu kenapa? Jangan nangis kayak gini, cerita cerita sama kita ada apa?" ucap Yuliana sambil membawa Gisya kepelukannya.
Gisya tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa memberikan ponselnya pada Febri. Betapa kagetnya Febri dan Yuliana membaca pesan dari nomor tidak dikenalnya itu. Mereka berpelukan untuk saling menguatkan, tapi ternyata tangisan mereka sudah terdengar oleh Uwak Ais.
"Astaghfirulloh, ada apa ini? Kenapa kalian nangis berpelukan gini?" tanya Uwak Ais yang panik melihat mereka menangis.
"Ummi ada apa teriak-teriak," ucap Uwak Yusuf yang juga masuk kedalam kamar keponakannya.
"Ummi juga gak tau Abi, Ummi kesini karena kaget denger tangisan mereka." Ujar Uwak Ais.
"Sekarang kalian tenang, bilang sama Uwak ada apa?" tanya Uwak Yusuf.
Febri memberikan ponsel Gisya kepada Uwak Ais dan betapa terkejutnya Uwak Ais membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal itu.
"Astaghfirulloh Abi," ucap Uwak Ais sambil memberikan ponsel Gisya pada suaminya dan berhambur memeluk Gisya yang masih menangis tersedu-sedu.
"Sudah jangan menangis, nanti malam Uwak akan ceritakan kejadian yang sebenarnya." ucap Uwak Yusuf dan diangguki oleh mereka.
Karena lelah menangis mereka tertidur lelap, hingga tepat pukul 4 sore Gisya terbangun karena merasa sakit dikepalanya.
"Astaghfirulloh aku belum Sholat Ashar," Gisya bergegas menuju kamar mandi untuk wudhu dan membangunkan kedua sahabatnya.
"Ulil, Ebiw bangun! Sholat Ashar dulu, keburu waktunya habis." ucap Gisya.
"Iyaa Ca," jawab Febri dan Yuliana bersamaan.
Setelah selesai Sholat, Febri dan Yuliana keluar kamar untuk membantu Uwak Ais memasak. Berbeda dengan Gisya yang masih berdzikir untuk menenangkan hatinya.
"Yaa Allah, kuatkan hatiku dan kuatkan hati bundaku. Berikan kesabaran dan ketabahan untuk hamba, jangan biarkan ada rasa dendam dalam hati hamba Yaa Allah. Hilangkan rasa benci dalam hati hamba, berikan jalan yang terbaik untuk hamba Yaa Rabb. Hamba yakin skenario kehidupan yang Engkau berikan untuk hamba itu adalah yang terbaik, ampuni segala dosa-dosa hamba Yaa Allah," ucap Gisya dalam do'anya.
Ternyata didalam kamar sudah ada Uwak Yusuf yang mendengar semua do'a yang Gisya panjatkan.
"Uwak percaya kamu anak yang kuat Ca," ucap Uwak Yusuf mengagetkan Gisya.
"Astaghfirulloh Uwak! Caca kaget," ketus Gisya sambil memegangi dadanya.
"Sini duduk disamping Uwak, sudah waktunya kamu tau kejadian yang sebenarnya." ujar Uwak Yusuf.
"Apa Bunda dan Uqi juga tidak tau kejadian yang sebenarnya?" tanya Gisya sambil menyandarkan kepalanya dibahu Uwaknya.
"Bunda mu sudah tau kejadian yang sebenarnya, makanya Bundamu menyetujui perjodohan kalian. Bunda Caca menganggap semuanya sebagai balas budi dari keluarga Deni." ucap Uwak Yusuf sambil mulai bercerita.
Flashback On
Pagi itu Ayah Gisya yang bernama Wahyu sedang berada disalah satu Restaurant di Dago bersama dengan Uwak Yusuf dan Deni sahabat Wahyu. Mereka baru saja menyelesaikan kontrak kerjasama dengan salah satu perusahaan minuman teh kemasan.
"Alhamdulillah A, akhirnya kita bisa mencapai kontrak ini." Tutur Wahyu pada Yusuf.
"Iya berkat Deni kita bisa dapat kontrak besar seperti ini, makasih banyak ya, Den." ucap Yusuf sambil merangkul Deni yang merupakan Ayah dari Zayn.
"Kalian ini! Semuanya karena Teh dari kebun kalian sangat berkualitas. Aku hanya bagian mempromosikan saja," ucap Deni dengan senyuman.
"Gimana kalo setelah ini kita mampir ke Toko istriku, aku ingin memberinya kejutan ini." Ajak Wahyu.
"Aku setuju, kebetulan aku juga mau beli kue dan macaron untuk Ajeng, Zayn dan Zahra." ucap Deni.
Saat keluar Restaurant dan akan menyebrang jalan menuju parkiran mobil, Wahyu melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara Deni masih asyik menatap ponselnya.
"Den, awass!!" teriak Wahyu lalu mendorong Deni hingga kepalanya terbentur.
Braaaakkkkk!!!
Truk tersebut menabrak tubuh Wahyu hingga terpental, Yusuf yang baru saja akan membuka pintu mobil sangat terkejut dan berteriak menghampiri adiknya.
"Wahyuuuuuu!!!" teriak Yusuf.
"Yuu bangun Yuu, tolong bantu saya bawa adik saya ke mobil!!" ucap Yusuf pada orang-orang yang melihat kejadian itu. Tak lupa Yusuf juga membawa Deni, dia meminta tolong kepada salah satu saksi untuk menyetir mobil dan membawanya ke Rumah Sakit. Sementara sang Sopir truk sudah di amankan oleh warga sekitar.
Sesampainya di Rumah Sakit, Wahyu segera dilarikan ke Ruang Operasi karena terdapat pendarahan dikepalanya. Sementara Deni berada di Unit Gawat Darurat, setelah itu Wahyu menghubungi istrinya yang sedang bersama istri adiknya. Tak lama kemudian datanglah Syifa bersama Ais.
"Aa gimana ini bisa terjadi A? Gimana keadaan A Wahyu?" tanya Syifa sambil menangis.
"Tenang Neng, Wahyu sedang di Operasi didalam. Sekarang kita hanya bisa berdo'a semoga Allah melindungi Wahyu." ucap Yusuf sambil menenangkan istri adiknya itu.
Ajeng juga sudah sampai disana bersama Zayn dan Zahra, setelah mendengar cerita dari suaminya Ajeng memutuskan untuk menemui Syifa.
"Mbak Syifa, maafkan kami. Karena menolong Mas Deni, Mas Wahyu celaka seperti ini." ucap Ajeng dengan penuh penyesalan.
Tak ada jawaban dari Syifa, karena saat ini yang dipikirkannya hanya suaminya yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Kemudian dokter menghampiri mereka dan mengatakan bahwa kondisi Wahyu sangat kritis dan ingin bertemu dengan Deni. Akhirnya dokter mengizinkan Deni untuk masuk kedalam didampingi oleh Zayn yang mendorong kursi roda Ayahnya.
"Yuu, bangun Yuu. Ini aku Deni, maafkan aku Yu, kalau saja aku tidak fokus pada ponselku. Mungkin kamu tidak akan seperti ini." ucap Deni dengan penuh penyesalan.
"De-deni, to-tolong ja-jaga pu-putriku," ucap Wahyu terbata-bata.
"Aku pasti akan menjaga Caca seperti putriku sendiri, kamu harus sembuh Yu. Biar kita bisa menikahkan anak kita Yu!" Tutur Deni membuat Zayn membelalakan matanya. Tapi Zayn tidak bisa apa-apa, karena Wahyu sudah menyelamatkan nyawa Ayahnya.
"Ja-jaga pu-putriku Zayn, a-aku titipkan dia padamu." ucap Wahyu dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Iya Om Wahyu, Zayn akan menjaga putri Om. Om harus sembuh agar bisa menikahkan kami." ucap Zayn sambil mengelus tangan Wahyu.
Selesai Deni dan Zayn, masuklah Syifa bersama Ais dan Yusuf. Hati Syifa begitu teriris melihat kondisi suaminya yang terbaring tidak berdaya.
"Aa, ini aku a. Aa harus kuat demi aku dan anak-anak," ucap Syifa sambil mengecup tangan sang Suami.
"Ja-jangan menangis, kamu harus kuat. Ja-jaga anak-anak kita dengan baik, ikhlas ja-jalani semua ini. Ja-jangan membenci siapapun, ini sudah jalan Aa." ucap Wahyu dengan nafas yang semakin tersenggal-senggal.
"Aa jangan ngomong gitu! Aku harus apa tanpa Aa, aku bisa apa tanpa Aa." ucap Syifa semakin memeluk dan mencium erat tangan suaminya.
"Ti-titip keluargaku A Yusuf, nikahkan Caca dengan Zayn. Tapi jika Caca menolak, ja-jangan dipaksakan. A-aku hanya ingin ada yang menjaga putriku." ucap Wahyu pada Yusuf.
Bukannya menjawab, tapi Yusuf pergi keluar ruangan dan meminta Gisya untuk datang ke Rumah Sakit. Karena ia tau, waktu adiknya sudah tidak lama lagi.
Lama Yusuf menangis tersedu-sedu di Ruang Tunggu, karena ia tidak ingin memberatkan adiknya. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan Zayn dengan seseorang di telepon.
"Aku mencintai kamu, meskipun aku hanya yang kedua. Tapi aku juga tidak bisa menolak keinginan Ayahku, orang itu sudah menyelamatkan nyawa Ayahku. Aku terpaksa menerima semuanya, tapi kamu jangan khawatir. Kita masih bisa berhubungan seperti sekarang, hanya saja status kita sama. Sama-sama yang kedua." ucap Zayn pada seseorang diujung telpon.
Yusuf mengepalkan tangannya, dia tidak ingin ponakannya jatuh ke tangan yang salah. Tapi karena Gisya sudah menerima keinginan Ayahnya maka ia akan mengikuti apapun yang diinginkan oleh adiknya. Setelah meninggalnya Wahyu, Yusuf menjaga Gisya dari jauh. Dia meminta beberapa orang kepercayaannya untuk memantau Gisya dari jauh.
Flashback Off
Gisya menangis tersedu-sedu mendengar cerita dari Uwaknya, begitupun dengan Uwak Ais, Febri dan Yuliana yang mendengarkan dibalik pintu. Hati Gisya sangat teriris, selama ini dia mencoba untuk membuka hatinya untuk Zayn yang sudah berniat menduakannya. Keputusan Gisya semakin bulat untuk membatalkan semua perjodohan yang tidak diinginkan itu.
"Uwak, Caca ingin semuanya dibatalkan!" Ujar Gisya menggebu-gebu.
"InshaAllah Uwak akan batalkan semuanya, sekarang hiduplah dengan bahagia. Temukan Imam sendiri untuk keluarga Caca, Uwak yakin akan ada hikmah dibalik ini semua." ucap Uwak Yusuf sambil mengusap kepala Gisya.
"Terimakasih Uwak, Caca sayang Uwak." ucap Gisya.
"Udah nangisnya, sekarang siap-siap kita Sholat Maghrib di Mushola." ucap Uwak Yusuf sambil menghapus airmata dipipi Gisya.
Gisya menganggukkan kepalanya, setelah Uwak Yusuf keluar dari kamar Gisya mengambil foto Sang Ayah dan memeluknya.
"Maafin Caca Yah, Zayn bukan yang terbaik buat Caca. Caca harap Ayah tidak kecewa dengan keputusan Caca." ucap Caca dalam hati sambil mengelus dan memeluk foto Ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Mely Ana
Ceritanya bikin bingung😇 hampir semua pelaku anak gadisnya pakai gelar panggilan, cobak sebutannya pakai nama sendiri, biar ceritanya nyambung😕
2022-10-01
3
Veronica Maria
biarin aja zain nyesel nantinya
2022-06-25
0
Daffodil Koltim
yg tabah neng gisya🙏🏻🙏🏻🙏🏻😢😢😢😢
2022-06-18
2