Syauqi terus mondar-mandir didepan IGD. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Gisya, tapi dia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Bundanya. Febri dan Yuliana terduduk lesu didepan Ruang ICU. Kondisi Gisya kembali kritis, mungkin saat ini mereka hanya bisa pasrah. Seperti apa yang dikatakan oleh dokter.
"Kondisi Gisya kembali kritis, saat ini kita pasrahkan saja semua pada Allah." tutur Dokter.
Bunda Syifa harus dirawat karena mengalami shock dan sakit lambungnya kambuh. Mungkin karena sebulan terakhir ini pikirannya hanya terfokus pada Gisya. Sehingga untuk makan pun tidak dipikirkannya.
Syauqi terlihat sangat frustasi, dia meminta Febri dan Yuliana untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Kini mereka sedang duduk di Kantin Rumah Sakit, karena seharian ini mereka belum memakan apapun.
"Bisa jelaskan semuanya Teh? Serinci-rincinya, jangan ada yang terlewatkan satupun." tegas Syauqi.
Febri dan Yuliana mulai menceritakan semuanya. Mulai dari Zayn yang meminta Gisya menunda pernikahannya lagi, wanita yang mengirim pesan pada Gisya, hingga Gisya melihat dan mendengar sendiri bahwa Zayn mencintai wanita lain tapi tidak bisa melepaskan Gisya. Syauqi mengepalkan tangannya dibawah meja, amarahnya kini sudah berada di ubun-ubun. Dari pertama Zayn menunda pernikahannya, Syauqi sudah merasa kesal. Tapi ia tetap menjaga emosinya, karena tidak ingin memperkeruh suasana. Tapi saat ini, bagi Syauqi kesalahan Zayn sudah tidak bisa di tolerir lagi.
Febri terus berusaha untuk menenangkan Syauqi. Dia tau jika Syauqi sudah marah akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Syauqi merupakan pemegang sabuk hitam Taekwondo. Febri khawatir jika Syauqi akan berbuat hal-hal yang akan merugikannya.
"Sabar ya, Uqi. Teteh tau semuanya gak mudah dimaafkan, tapi Teteh mohon sama Uqi. Kontrol emosi kamu, yang terpenting saat ini adalah kondisi Bunda dan Caca. Uqi paham kan maksud Teh Ebi?" tanya Febri sambil mengelus pundak Syauqi.
"Iya Qiw, kita harus berpikir jernih sekarang. Meskipun jujur ya, Teh Ulil juga pengen ngasih pelajaran sama laki-laki itu. Tapi prioritas pertama Teh Ulil sekarang adalah Caca." tutur Yuliana yang ikut menenangkan.
Syauqi tidak mengatakan apa-apa, dia hanya terdiam. Memang benar untuk saat ini prioritas utamanya adalah kesehatan Sang Bunda dan Kakaknya.
Malam harinya, Syauqi izin pulang kerumah untuk mengganti pakaian. Sebelum kembali ke Rumah Sakit, ia mampir ke Restoran Sunda untuk membeli makanan. Namun, Syauqi tercengang melihat pemandangan yang membuat emosinya semakin mendidih. Dia melihat Zayn yang sedang makan malam bersama seorang gadis, bahkan kedua orangtua Zayn pun ada disana. Dengan amarah yang menggebu-gebu Syauqi berjalan menuju kearah meja yang ditempati Zayn.
Buugghhh!! Buggghhhh!! Buggghhhhh!!
Syauqi memukuli Zayn hingga babak belur. Mereka yang disana berteriak histeris, hingga akhirnya security pun datang untuk menahan Syauqi.
"Zayn!!" teriak mereka bersamaan.
"Kalian bisa enak-enak makan disini! Sementara kakakku terbaring lemah di Rumah Sakit, sebulan koma! Tapi kalian masih bisa dengan enak menelan makanan itu!" teriak Syauqi melemparkan satu piring yang berisi nasi kehadapan Deni.
"Uqi, kamu salah paham! Om bisa jelaskan, kamu tenang dulu Uqi!" lerai Deni pada Syauqi.
"Tenang Om bilang? Dengar Deni Rahmansyah yang terhormat, anak Anda seorang Bajingan ini sudah menyelingkuhi kakak saya! Dan sekarang kakak saya di ICU belum sadarkan diri selama satu bulan! Dan kalian menyuruh saya tenang?! Dimana nurani kalian?!" teriak Syauqi semakin memuncak amarahnya.
"Zayn memang tidak mencintai Gisya! Apa salahnya kami saling mencintai?" teriak Santi yang tak terima dengan ucapan Syauqi.
Plaaaaakkkkkkkk!!
Satu tamparan mendarat dipipi Santi dan yang menamparnya adalah Mama Ajeng.
"Kalian memang salah!! Jika kalian saling mencintai, kenapa kamu tidak melepaskan Gisya? Dan kamu tidak melepaskan kekasihmu?" tutur Mama Ajeng yang emosi.
"Kalian benar-benar menyedihkan! Ternyata memang benar, kalian cocok! Sama-sama bajingan! Jangan menampakkan lagi batang hidung kalian didepan keluargaku! Atau kalian akan tau akibatnya!!" geram Syauqi meninggalkan mereka.
Zayn meneteskan airmatanya, bukan sakit karena pukulan. Tapi sakit ketika mengingat keadaan Gisya.
Sebenarnya malam ini Zayn berniat untuk meminta maaf kepada kedua orangtuanya. Zayn juga ingin mengutarakan maksudnya untuk menikahi Santi. Karena ternyata saat ini Santi sedang mengandung buah hatinya. Tapi niatnya di urungkan, kedatangan Syauqi membuat hatinya kembali teriris. Ditambah kedua orangtuanya yang langsung meninggalkan Zayn disana.
Syauqi mengambil pesanan makannya, setelah itu dia masuk kedalam mobil. Syauqi menangis sejadi-jadinya, dia memukul stir mobil untuk melepaskan rasa sakit dalam dadanya.
"Ayah, maafkan Uqi. Ternyata Uqi tidak bisa menjaga Teh Caca dan Bunda dengan baik. Maafkan Uqi, Yah." Syauqi menangis tersedu-sedu.
Deni mengetok jendela mobil Syauqi. Ketika melihat orang yang mengetok jendelanya, dengan sigap Syauqi menyalakan mesin mobilnya. Namun Deni menghalanginya, dia kembali emosi lalu membuka jendela mobilnya.
"Apalagi yang kalian inginkan?" geram Syauqi.
"Om minta maaf Uqi, tolong jangan perlakukan kami seperti ini Uqi. Ini kecelakaan, kami juga tidak tau semuanya akan seperti ini," sesal Deni.
"Dulu Om yang membuat Ayah saya meninggal, sekarang anak Om yang membuat Kakak saya koma. Apa kalian masih berani menampakkan diri kalian dihadapan kami?" ucap Syauqi penuh emosi.
Degg!!
Hati Deni terasa sakit, dia sungguh merasa sangat berdosa dengan apa yang terjadi pada Wahyu dan Gisya saat ini. Tapi semua itu diluar kendalinya, Deni merasa malu dihadapan Syauqi. Dia mulai menggeser tubuhnya, membiarkan mobil Syauqi berlalu dari hadapannya.
"Maafkan Uqi, Om. Sudah cukup kalian membuat kami terluka," lirih Syauqi dalam hati.
Syauqi saat ini sudah berada di Ruang ICU, dia ingin melihat kondisi Kakaknya. Syauqi berjalan mendekati Gisya. Dia menangis tersedu-sedu disana, hatinya begitu teramat sakit.
"Teh, maafkan Uqi tidak bisa menjaga Teteh dengan baik. Uqi sayang Teh Caca, Uqi butuh Teh Caca. Siapa yang akan membuatkan Kue Ulang Tahun untuk Uqi? Siapa yang akan berebut Bunda dengan Uqi? Uqi kangen Teh, Uqi kangen senyuman Teh Caca. Bangunlah, Uqi ingin membanggakan Teteh. Ayah, tolong Uqi. Uqi masih membutuhkan Teh Caca." lirih Syauqi ditelinga Gisya.
Dibawah alam sadarnya, dia mendengar semua ucapan Syauqi. Ingin rasanya dia membuka matanya, tapi semuanya terasa sulit. Dia melihat Seorang laki-laki mengulurkan tangannya. Gisya meraih tangan itu, dan...
"U-uqi," lirih Gisya.
Syauqi yang sedang memeluk Sang Kakak terperanjat kaget. Dia melihat Gisya yang mengerjapkan matanya, jari-jari tangan Gisya mulai bergerak.
"Dokter! Suster! Kakak saya bangun!" teriak Syauqi.
Dokter dan suster datang untuk memeriksa Gisya. Syauqi pun menunggu diluar Ruangan, selang berapa lama dokter keluar dari Ruang ICU.
"Alhamdulillah, pasien sudah kembali dari komanya. Kami akan observasi dulu, jika sudah stabil akan kami pindahkan ke Ruang Inap biasa," tutur Dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah Yaa Allah! Terimakasih dokter!" ucap Syauqi bahagia.
Syauqi bergegas menuju Ruangan Bundanya dirawat. Febri, Yuliana, Uwak Ais dan Umma Nadia yang sedang makan terperanjat kaget karena Syauqi membuka pintu dengan keras. Bunda Syifa yang sudah tidur pun terbangun karena kaget.
"Yaa Alloh, Yaa Rabbi si Malik," kesal Umma Nadia.
"Untung ini paha Ayam gak Teteh telen bulet-bulet! Bisa gak sih pelan-pelan aja buka pintunya!" ucap Yuliana sambil memegang dadanya.
"Liat tuh! Bunda kamu jadi bangun, dia masih butuh istirahat! Kamu kayak orang dikejar setan aja," tambah Febri yang bersiap melemparkan Ayam Goreng.
Syauqi menghela nafasnya, mendengar wanita disana mengoceh membuat telinganya sakit.
"Maaf, saking buru-burunya Uqi gak sadar kalo Bunda juga disini untuk dirawat," sesal Syauqi.
"Emang ada apa sih, Nak? Uwak kaget loh ini," tambah Uwak Ais.
"Teh Caca udah sadar dari koma nya!" antusias Syauqi.
"Ooh, Caca udah sadar," ucap Febri dan Yuliana berbarengan. Sedetik kemudian mereka sadar dengan ucapannya, begitupun ketiga orangtua itu.
"Apaaa??!!" teriak mereka bersamaan.
Mereka berlari menuju Ruang ICU, bahkan mereka tidak sadar meninggalkan Bunda Syifa sendirian dikamar Rawat Inapnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar Nak," lirih Bunda Syifa.
Didepan Ruang ICU mereka sudah ribut ingin menemui Gisya. Sayangnya, Gisya belum diperbolehkan dikunjungi siapapun sebelum kondisinya stabil. Semua orang menatap aneh pada ke Empat orang wanita yang berada didepan ICU. Bagaimana tidak dilihat aneh. Febri berlari tanpa menggunakan sendal, rambutnya dicepol keatas berantakan. Yuliana juga tak kalah aneh, kedua tangannya memegang dua paha Ayam Goreng dengan mulut yang penuh minyak. Sementara Uwak Ais memegang satu bungkus nasi dan Umma Nadia membawa piring. Saat sadar, mereka malah saling menyalahkan.
"Ah aku malu, sendal aku ketinggalan," lirih Febri.
"Apalagi aku, berasa rakus banget bawa Ayam dua potong," tutur Yuliana.
"Kalian sih!" kesal Umma dan Uwak.
"Idih pake nyalahin, Umma sama Uwak juga kan panik. Noh sepaket piring sama nasi! Nih Ulil tambahin Ayam Goreng biar paket komplit," Celetuk Yuliana sambil menyimpan Ayam Goreng diatas piring Umma Nadia.
Syauqi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Empat wanita yang dikenalnya itu. Dia teringat meninggalkan Bundanya di Ruang Rawat.
"Bunda!!" ucap Syauqi dengan nada yang lumayan keras.
"Astaghfirullohaladzim! Syifa ketinggalan," celetuk Umma Nadia.
Semua yang ada disana menahan tawa dengan tingkah keluarga itu. Mereka kembali ke Ruangan Bunda Syifa dengan terburu-buru. Dilihatnya Bunda Syifa yang merajuk karena ditinggalkan.
"Bunda, maaf ya. Uqi lupa kalo Bunda juga sedang sakit," sesal Syauqi.
"Sorry ya, Bun!" ucap Yuliana.
"Kamu mau bilang apa Nad? Mau bilang maaf juga?" ketus Bunda Syifa saat melihat Umma akan membuka mulutnya.
"Enggak! Aku cuma mau bilang, jangan marah-marah dan sedih lagi! Gisya is back!" celetuk Umma Nadia.
Namun kata-katanya itu membuat Bunda Syifa tersenyum penuh haru. Mereka saling berpelukan.
"Terimakasih sudah selalu berada disamping kami selama ini, terimakasih sudah menguatkan kami hingga saat ini." lirih Bunda Syifa.
"InshaAllah selamanya kita akan selalu bersama-sama, semoga hanya kematian yang bisa memisahkan ikatan persaudaraan kita." ucap Umma Nadia membuat mereka semakin mengeratkan pelukannya.
Alhamdulillah nih, Gisya sudah sadar!
Reader : kapan nih ketemu Fahri nya lagi? 🤔
Author : Sabar dong! Author kan mesti ngatur pertemuan mereka biar Uhuy! 😉
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Desi Wulandari
😅😅
2024-08-28
0
Aden Boy
😅😅😅😅
2024-04-14
0
Aden Boy
🤦♀️gustiii🙈🤣🤣🤣🤣🤣
2024-04-14
0