Selesai Sholat Isya, mereka berkumpul di halaman belakang rumah, disamping Kolam Ikan milik Uwak Yusuf. Gisya masih termenung memandang ponselnya, beberapa kali ia membaca pesan yang membuat hatinya pedih teriris.
"Udah jangan dipikirkan, sekarang kan kamu udah tau semuanya Ca. Gak ada alasan lagi untuk kamu mempertahankan semuanya, lagian alm. Ayah kamu juga gak memaksa kan?" Tutur Yuliana sambil mengusap lembut bahu Gisya.
"Kalian denger?" tanya Gisya karena terkejut.
"Maaf ya, kita gak maksud nguping. Cuman kita khawatir denger kamu nangis, dan gak sengaja denger semuanya." ucap Febri karena takut Gisya marah.
"Makasih ya! Kalian selalu ada disaat aku terpuruk," ucap Gisya sambil memeluk kedua sahabatnya.
"Eh, eh, eh si Eneng malah berpelukan kaya Teletabis! Hayuk makan Jagung, udah Mamang bakar itu jagungnya," ucap Mang Dayat membuat mereka terperanjat kaget.
"Si Mamang udah kayak dedemit tiba-tiba muncul!" Ketus Yuliana yang kesal.
"Yaa Alloh Neng Yuli mah gitu sama Mamang! Gak CS-an lagi ah," ujar Mang Dayat.
Selagi mereka menikmati jagung, Uwak Ais dan Uwak Yusuf sedang menerima tamu, karena besok akan ada Acara Amal Bakti dari ibu-ibu Persit dan Uwak Ais menjadi salah satu koordinator. Karena Uwak Yusuf merupakan Kepala Desa disana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, mereka sudah berada di Kamar karena udara disana sangat dingin. Yuliana sedang sibuk bertelepon dengan kekasihnya, begitupun dengan Febri yang sedang menelepon kekasihnya. Gisya menghela nafasnya, saat dia membuka ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari Zayn.
Zayn Fadillah
Assalamualaikum, Caca apa kabar? Maaf Aa baru bisa kirim pesan ke Caca.
Gisya
Walaikumsalam, kabar baik A. Ga apa-apa Caca paham.
Zayn Fadillah
Caca belum tidur? Aa rindu Caca.
Gisya
Baru mau tidur A, jika rindu sebut Caca dalam do'a.
Zayn Fadillah
Selalu Aa sebut Caca dalam do'a, maafkan keputusan Aa untuk menunda pernikahan kita lagi ya Ca.
Gisya
InshaAllah Caca Ikhlas menjalani semua a ☺
Zayn Fadillah
Maafkan Aa Ca, apa Caca marah?
Gisya tidak lagi membalas pesan dari Zayn, karena baginya semuanya sudah berakhir. Tidak pernah ada rasa dendam ataupun benci pada diri Gisya terhadap Zayn. Hanya saja rasa kecewa terhadap keadaan.
Sementara itu di Cafe sore tadi, empat orang laki-laki sedang berkumpul. Membicarakan banyak hal, dari yang serius hingga yang nyeleneh. Mereka adalah Jafran, Fahri, Andi dan bawahan mereka Indra.
"Jadi kalian besok ke Lembang ikut Acara Amal Bakti ibu-ibu Persit?" tanya Jafran.
"Iya bang, lumayan bisa cuci mata juga! Siapa tau nemu calon ibu Persitku!" ucap Indra sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Idih tuh mata pake kedip sebelah! Mau seumur-umur tu mata kedipnya sebelah-sebelah!" ucap Jafran merinding melihat Indra.
"Amit-amit bang Jafran, kalo ngomong suka gak disaring dah," kesal Indra.
"Hahahaha, hiburan banget ya, Ri. Kapan lagi liat Tom&Jerry live gini." ujar Andi dan mendapatkan tabokan ditangannya oleh Jafran.
"Sialan! Eh, besok malam rencananya aku mau kasih kejutan untuk Ulil ku tercinta," ucap Jafran sambil senyum-senyum.
"Idih malah senyam senyum, kesambet dedemit baru tau rasa!" ucap Andi sambil menoyor kepala Jafran.
"Eh ini kepala di fitrahin, maen toyor aja Bambang!" ucap Jafran kesal.
"Hahahahaha! Bambang kan nama bapaknya si Indra," ucap Fahri sambil tertawa terbahak-bahak.
"Pissss Ndra!" ucap Jafran sambil mengangkat tangannya dengan tanda damai.
"Bang Jafran mau kasih kejutan apa buat Calon Istri Abang?" tanya Indra penasaran.
"Rencananya sih aku mau ngelamar dia, ini lagi kong kalikong Emak-Emak rempong! Kalian ada ide gak?" ujar Jafran.
Memang rencananya Jafran akan memberikan kejutan untuk Yuliana. Karena sudah hampir 1 tahun mereka tidak bertemu.
"Nah itu menurut Umma kamu gimana?" tanya Fahri.
"Ini sih Umma sama yang lain baru punya rencana buat makan-makan aja biar Ulil ku sayang gak curiga, cuman aku bingung cara ngelamarnya itu gimana loh" ucap Jafran kebingungan.
"Gampang nanti kita bantu! Dimana tempatnya? Biar nanti sepulang dari Lembang kita langsung kesana," ucap Fahri meyakinkan.
"Di Sky Line Resto, kalian udah janji loh ya mau bantu! Sebelum jam 5 sore pokoknya kalian harus udah disana, awas kalo ngaret!" ujar Jafran memperingati.
"Siap deh pak pilot," ucap mereka serempak.
Suhu udara di Lembang sangatlah dingin, Gisya yang memiliki riwayat Alergi terhadap dingin mulai bersin-bersin selepas Sholat Subuh.
"Hatcihhh, Hatciihhh," Gisya mulai bersin-bersin.
"Yarhamukalloohuu!" ucap Febri.
"Yahdiikumulloohu Wa Yaslihu Balakum!" jawab Gisya.
"Nih, minum obat Alerginya. Udah gitu tidur lagi biar enakan," Yuliana memberikan obat dan segelas air putih untuk Gisya.
Setelah meminum obatnya, Gisya kembali terlelap tidur. Sementara Yuliana dan Febri membantu Uwak Ais mempersiapkan makanan untuk menyambut ibu-ibu Persit yang akan melakukan Kegiatan Amal Bakti untuk warga sekitar.
Tepat pukul 9 pagi rombongan Ibu-ibu Persit sudah berada di Lokasi. Dibantu oleh para Tentara muda, mereka menurunkan beberapa ratus paket Sembako untuk dibagikan kepada warga.
"Febri, Uwak minta tolong buatkan kopi hitam 5 gelas ya! Diantar kedepan," ucap Uwak Ais.
"Siap laksanakan Uwakku yang cantik," ujar Febri lalu bergegas menuju dapur.
5 gelas kopi sudah Febri buatkan, dia membawanya bersama beberapa makanan diatas nampan. Ketika sudah berada didepan, Febri terkejut akan keberadaan sang pujaan hati. Meskipun saat ini status mereka belum jelas, tapi rasa cinta yang dipancarkan itu sangat jelas. Hampir saja Febri menjatuhkan nampannya, untung saja Andi berhasil menangkapnya.
"Hati-hati Dinda, sini biar Kang Mas saja yang bawa," ucap Andi sambil mengambil nampan yang berada ditangan Febri.
"Makasih Mas, Febri tinggal kedalam dulu ya Mas!" ujar Febri yang langsung masuk kedalam rumah karena degup jantungnya sudah tidak beraturan.
Kejadian tadi tidak luput dari perhatian ibu-ibu Persit, mereka mulai mencecar Andi dengan berbagai pertanyaan. Bahkan ada yang sekedar meledeknya.
"Om Andi, itu Calon istrinya? Cantik sekali!" Tanya Ibu Danki pada Andi.
"Siap! Do'akan saja Bu Danki, semoga berjodoh," ujar Andi.
"Wah, tadinya saya berharap Om Andi jadi menantu saya loh!" ucap salah satu Ibu Persit.
"Semoga disegerakan ya, Om!" ujar yang lainnya pada Andi.
Sementara didalam Febri hanya senyum-senyum mendengar percakapan sang pujaan hati. Hingga dia tidak menyadari bahwa sejak tadi ada empat pasang mata yang memperhatikannya.
"Itu si Udang cengar-cengir didepan pintu ngapain sih Ca! Jangan-jangan kesambet jurig ini mah," bisik Yuliana pada Gisya yang mengintip dari pintu kamar.
"Hush! Kamu kalo ngomong suka kemana aja, samperin aja daripada kamu penasaran Lil," ujar Gisya.
"Kalian lagi ngapain disini? Pake bisik-bisik segala lagi, pamali anak gadis pada diem dipintu!," ucap Uwak Ais yang membuat ketiganya terkaget.
"Astaghfirulloh Uwak," teriak mereka serempak.
"Uwak mah bikin kaget aja, untung aja ini Jantung masih diem ditempat!" celetuk Yuliana membuat Uwak Ais tertawa.
"Lagian anak gadis pada ngintip, pamali tau! Mana pada diem di pintu, kalo kata orang sunda mah 'bisi nongtot Jodo'," ucap Uwak Ais menasehati.
"Apa hubungannya Uwakku sayang diem dipintu sama Jodoh? Suka gak paham deh aku!" ucap Febri sambil berjalan menuju kearah dua sahabatnya.
"Eh, anak gadis teh suka pada ngeyel! Udah ah, Uwak mau kedepan dulu. Acaranya udah mau dimulai," ucap Uwak Ais meninggalkan mereka bertiga.
Acara Amal Bakti sudah selesai tepat pukul 12 siang. Fahri baru saja menyelesaikan Sholatnya di Mushola yang tepat berada disamping Rumah Uwak Yusuf. Jendela kamar Gisya sedikit terbuka, Fahri bisa melihat keberadaan Gisya disana.
"Kenapa dia ada disini? Apa cuman lamunanku saja? Kenapa dia selalu tiba-tiba muncul." batin Fahri.
Gisya baru saja menyelesaikan Sholat Dzuhurnya dan bersiap untuk pulang. Sang Bunda sudah menelepon, agar mereka pulang tidak terlalu sore untuk makan malam bersama. Selesai bersiap, Gisya dan kedua sahabatnya berpamitan kepada Uwak Ais dan Uwak Yusuf.
"Uwak, kami pulang dulu ya!" pamit Febri pada Uwak Ais dan Uwak Yusuf.
"Ebi, hati-hati nyetirnya! Kalo ngantuk, mending istirahat dulu atau gantian nyetir sama yang lain," ujar Uwak Ais yang khawatir.
"Tenang Uwak, Ulil udah punya amunisi dijalan biar gak ngantuk," ucap Yuliana sambil menenteng satu keresek besar makanan.
"Gak akan ngantuk aku mah! Gak tau kalo yang doyan molor!" Ledek Febri.
"Sstt! Kalian ini! InshaAllah kami akan baik-baik aja Uwak, makasih banyak ya Uwak. Maaf kalo Caca selalu merepotkan Uwak, Caca tunggu di Bandung ya, Uwak. Caca ingin semuanya segera selesai." ucap Gisya sambil memeluk Uwak Yusuf.
"Minggu depan Uwak akan ke Bandung, Caca harus mempersiapkan diri. Uwak yakin Allah punya rencana terbaik untuk Caca, Uwak janji akan selalu menjaga keluarga kalian." janji Uwak Yusuf pada Gisya.
Disisi lain, Jafran masih disibukan dengan persiapan kejutan lamarannya untuk Yuliana sang calon istri. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, tapi kedua teman yang ditunggunya belum juga menunjukkan batang hidungnya. Jafran sengaja menyewa Rooftop Cafe ini dengan harga yang tidak murah, apalagi ini hari Minggu. Tapi, demi sang kekasih apapun akan dilakukannya. Beberapa menit kemudian, Fahri dan Andi baru saja datang.
"Gimana persiapannya, udah semua?" Tepuk Fahri pada bahu Jafran yang sedang asyik meminum jus.
"Uhuk! Uhuk!," Jafran tersedak karena kaget.
"Dikit-dikit minumnya Pan! Gak kami minta kok," ucap Andi sambil menepuk punggung Jafran.
"Hai manusia! Kalo dateng itu ucap salam, Assalamualaikum gitu! Bukan maen tepak tepok aja," geram Jafran.
"Hehehe, sorry deh sorry! Jadi gimana persiapannya" ucap Fahri cengengesan.
"Tuh balon udah pada dipasang, bunga udah ditabur, tinggal lilin yang belom dinyalain! Lagian ribet amat si musti pake lilin, ini kan mau ngelamar bukan mau ngepet!" gerutu Jafran pasalnya Andi mendadak memberitahu Jafran untuk menyediakan lilin.
"Eh anak curut, biar romantis tau! Gini nih yang jarang menginjakan bumi, gitu aja gak paham!" kesal Andi.
"Udah-udah malah ribut! Mana foto kamu sama si Ulil yang aku minta?" tanya Fahri.
"Tuh udah di gantung-gantungin sama Mbaknya!" tunjuk Jafran pada salah satu pegawai Cafe.
"Baguuss, udah keren ini! Jangan lupa Bucket Bunga sama Cincinnya, udah siap semua kan?" Tanya Andi.
"Udah aman!" ucap Jafran.
Mereka mulai mengatur posisi tempat duduk dibantu oleh beberapa pegawai Cafe. Tidak lupa live musik untuk menambah kesan romantis pada acara lamaran Yuliana. Dirasa persiapan telah selesai, mereka membantu Jafran mempersiapkan diri untuk menyambut sang kekasih.
Bagaimana kejutan yang akan diberikan Jafran, akan ada juga kejutan untuk Febri dan Gisya. Apakah Kejutan yang menyenangkan? Atau malah menyakitkan?
Dukung terus karya pertama Author ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Aden Boy
🤣🤣🤣🤣🙈😅
2024-04-13
0
Aden Boy
🤣🤣🤣🤣
2024-04-13
0
Ria Rimadasari
karya pertama aja udah sebagus itu thor, semangat thor
2022-12-07
0