Gisya baru saja membuka matanya, samar-samar dia mendengar suara orang berteriak. Namun, Gisya belum bisa bergerak. Tubuhnya seakan lemah, untuk mengangkat tangan pun sangat sulit.
"Dimana ini? Kenapa tubuhku lemah seperti ini? Bunda dimana? Caca takut." batin Gisya.
Hari ini Gisya sudah mulai dipindahkan ke Ruang Rawat Inap biasa, setelah dua hari yang lalu tersadar. Kondisi Gisya sudah cukup stabil, hanya saja ada beberapa hal yang mungkin akan membuat mereka bersedih kembali. Gisya baru saja terlelap tidur, saat dokter datang untuk memeriksa keadaannya.
"Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan mengenai kondisi Gisya. Saat ini Gisya akan kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya terutama kaki. Akibat dari kecelakaan itu membuat beberapa syaraf pada ototnya melemah dan juga ada tulang kakinya yang retak. Saat ini kami sudah memasang penyangga pada tulang kakinya yang retak." tutur Dokter menjelaskan.
"Yaa Allah, Nak." lirih Bunda Syifa.
"Ibu jangan khawatir, itu tidak bersifat permanen. Jika terus melakukan therapy, maka dia akan bisa berjalan seperti biasa." ucap Dokter menjelaskan.
"Berapa lama Dok, Kakak saya harus menjalani therapy?" tanya Syauqi pada Dokter.
"Semua itu tergantung pada pasien. Jika dia memiliki semangat yang tinggi, mungkin dalam 2-3 bulan dia bisa berjalan normal kembali. Jika tidak ada yang ditanyakan kembali, saya permisi mau visite pasien yang lain" pamit Dokter.
"Terimakasih, Dokter." ucap Bunda dan Syauqi.
Gisya yang belum benar-benar terlelap, mendengar semua percakapan itu. Hatinya begitu sakit, dia tidak bisa berjalan. Dia kembali mengingat kejadian itu. Dimana tubuhnya terpental ke aspal, yang Gisya sangat ingat adalah dia merasa tubuhnya melayang jauh.
Sudah 2 bulan berlalu. Setiap hari Syauqi, Febri dan Yuliana bergantian untuk menemani Gisya melakukan therapy. Semenjak kejadian itu, Gisya menjadi lebih pendiam. Bahkan mereka sudah tidak dapat melihat lagi senyuman manis diwajah Gisya. Seperti sore ini, mereka sedang melatih Gisya berjalan menggunakan walker disalah satu Taman depan Taman Makam Pahlawan Bandung. Mereka memilih tempat itu, karena tidak begitu ramai.
"Ayo, semangat Ca! Kamu pasti bisa!" ucap Yuliana menyemangati Gisya.
Gisya tidak menjawabnya, dia mulai melanjutkan usahanya agar bisa berjalan. Gisya mulai kesal, karena kakinya belum juga bisa lepas dari tongkat yang menyiksanya selama 2 bulan ini.
Bruugghhh!
Gisya terjatuh, mereka panik dan berlari menghampiri Gisya. Namun langkah mereka terhenti ketika Gisya mulai berbicara.
"Stop! Jangan ada yang berani maju, tinggalkan aku sendirian!" pinta Gisya.
"Teh, biar Uqi bantu berdiri. Kalo Teteh cape, kita pulang sekarang ya, Teh." ucap Syauqi membujuk Gisya.
"Stop Teteh bilang! Teteh gak mau dikasihani, tolong Teteh minta tinggalkan teteh sendiri!" tegas Gisya.
"Ca jangan gini ya. Kalo kamu cape, kita istirahat pulang sekarang. Jangan terlalu dipaksakan, aku mohon Ca." bujuk Febri yang berharap Gisya akan mendengarkannya.
"Berapa kali aku bilang, tolong kali ini biarkan aku sendiri dulu! Teteh mohon Qi, aku mohon," lirih Gisya yang memohon pada semuanya.
"Yaudah, kita tunggu kamu disana! Kalo kamu udah tenang, kita akan balik lagi kesini," ucap Yuliana yang mengerti kondisi kita Gisya saat ini.
Mereka pergi menuju salah satu pedagang kaki lima yang menjual gorengan. Disana mereka duduk memperhatikan Gisya dari jauh. Mereka melihat Gisya mencoba bangkit dan mulai berjalan.
Sudah hampir satu jam mereka disana. Namun, Gisya masih berusaha untuk belajar berjalan. Langit sudah mulai mendung, Syauqi beberapa kali membujuk Gisya supaya mau pulang. Tapi Gisya masih kekeh ingin tetap disana. Gisya sudah mulai kesal dan emosi. Dia terjatuh lagi dan kali ini dia memukul-mukul kakinya untuk meluapkan emosinya. Mereka tidak berani mendekat, karena emosi Gisya sedang tidak stabil. Febri dan Yuliana hanya saling berpelukan, berteduh dari hujan dan melihat Gisya dari kejauhan. Begitupun dengan Syauqi, dia hanya bisa menahan airmatanya ketika melihat Gisya seperti itu.
Kebetulan hari itu Fahri juga sudah mulai mendapatkan tugas di Bandung. Fahri sedang menikmati Lari Sore disekitaran Gasibu. Dia memarkirkan mobilnya didekat Taman Makam Pahlawan, karena jalan itu memang tidak begitu ramai dan tidak banyak dilewati kendaraan umum. Hujan mulai turun, Fahri berlari menuju mobilnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis yang terjatuh saat berjalan menggunakan tongkat. Fahri menghampiri gadis itu.
"Yaa Allah, kenapa ini harus terjadi kepadaku?! Aku lelah, aku capek! Aku ingin seperti dulu, aku ingin bisa berjalan seperti dulu!! Dasar tidak berguna!!" teriak Gisya frustasi sambil melemparkan tongkatnya.
Tongkat itu jatuh tepat didepan Fahri, dia berjalan menuju kearah gadis itu. Dibawah guyuran hujan, Fahri tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.
"Jangan menyalahkan Allah, semua itu terjadi kepadamu karena Allah yakin kamu mampu melewatinya. Jika kamu menyerah, itu tandanya kamu tidak percaya kepada Allah. Mari saya bantu berdiri." ucap Fahri sambil memberikan tongkat itu. Namun Gisya menepisnya.
"Jangan kasihani aku! Aku tidak butuh dikasihani!" teriak Gisya. Fahri termenung sejenak.
"Aku hanya ingin menolongmu, bukan mengasihanimu! Lihatlah dirimu, menangis sendiri dibawah hujan dan meratapi kesedihanmu. Tidakkah kamu memikirkan orang-orang diluar sana? Mereka ada yang jauh lebih menderita darimu! Mereka tidak punya tangan dan kaki, tapi mereka tetap bersemangat untuk menjalani hidup! Tidak bisakah kamu bersyukur akan hal itu?" tutur Fahri menasehati Gisya.
Gisya terdiam, semua ucapan Fahri memang ada benarnya. Selama ini dia hanya meratapi nasibnya, padahal diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih menderita darinya.
Gisya mulai mengambil tongkatnya dan mencoba berdiri, tapi kakinya terasa sakit. Fahri yang melihat Gisya kesakitan tidak bergeming. Bukan karena tidak peduli, tapi Fahri ingin gadis itu lebih bisa menghargai oranglain.
"Jika kesulitan, Kenapa tidak meminta tolong?" ucap Fahri sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Gisya.
Gisya terdiam sejenak, Fahri sudah berdiri dan berjalan beberapa langkah. Tapi dia terdiam mematung setelah mendengar suara Gisya.
"Tolong! Tolong aku! Aku mohon tolong aku!" teriak Gisya sambil menangis.
"Suara itu," batin Fahri
Fahri menoleh kearah suara, dia berjalan mendekati Gisya dan mensejajarkan tubuhnya kembali. Fahri memberikan tongkat itu kepada Gisya dan dia mau menerima tongkat dari Fahri. Saat Gisya mendongakkan wajahnya, pandangan mereka bertemu. Gisya dan Fahri sama-sama terkejut. Gisya mulai berdiri dibantu oleh Fahri. Kejadian itu tidak luput dari pandangan Syauqi, Febri dan Yuliana. Saat Syauqi akan menghampiri Gisya, dia ditahan oleh Febri.
"Apa dia gadis itu? Suaranya persis seperti suara wanita dimimpiku dan suara itu yang membuatku sadar dari koma." Batin Fahri.
"Terimakasih," ucap Gisya.
"Apa kabar?" tanya Fahri.
"Seperti yang abang lihat, tidak baik-baik saja."
"Bukan tidak, tapi belum." jawab Fahri.
Saat akan mulai melangkah, Gisya merasa kepalanya pusing dan tidak sadarkan diri. Dengan sigap Fahri menahan tubuh Gisya dan menggendongnya menuju ke mobil miliknya. Namun Syauqi, Febri dan Yuliana menahannya.
"Biar saya yang bawa mobilnya, tolong duduk dibelakang bersama Gisya," ucap Syauqi.
Fahri merasa heran, tapi ketika melihat Febri dan Yuliana dia menganggukkan kepalanya. Dia memangku Gisya di kursi belakang, sementara Yuliana dan Febri menyusul memakai mobil Syauqi.
"Apa dia kekasih Gisya yang baru? Tapi sepertinya usia laki-laki itu jauh dibawah Gisya," ucap Fahri dalam hati.
"Saya Syauqi, adik satu-satunya Gisya," ucap Syauqi yang seolah mengerti dengan apa yang ada di benak Fahri.
"Saya Fahri, sahabat dari kekasih Febri,"
"Abang TNI?" tanya Syauqi pada Fahri.
"Ya, saya baru saja dipindah tugaskan di Bandung. Kamu sepertinya satu profesi dengan saya." tebak Fahri.
"Saya Polisi Bang, baru 2 bulan lulus dari SPN. Sekarang tugas di Polwiltabes." ucap Syauqi.
"Ini kita mau kemana Syauqi? Bukannya tadi klinik sudah terlewat?" heran Fahri karena dia tidak tau Syauqi akan membawanya kemana.
"Ke Rumah Bang, sejak hari itu Teh Caca tidak mau lagi berhubungan dengan sesuatu yang berbau obat." Jelas Syauqi. Fahri hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui.
Febri dan Yuliana sudah sampai duluan di Rumah Gisya. Mereka mempersiapkan handuk untuk Gisya.
Saat mendengar suara mobil, mereka bergegas keluar untuk membuka gerbang.
"Astaghfirulloh! Caca kenapa lagi?" teriak Bunda Syifa yang melihat Syauqi menggendong Gisya.
"Pingsan Bun, mungkin kecapean." jawab Syauqi.
"Yasudah bawa kekamar! Ulil tolong ya gantikan pakaian Caca. Bunda mau bikin teh panas dulu untuk kalian," ucap Bunda Syifa.
"Siap! Bun, pinjam baju Alm. Ayah. Baju Uqi tidak akan muat sepertinya, pasti kekecilan." ucap Yuliana.
"Baju Ayah buat siapa?" Heran Bunda Syifa.
"Tuh buat orang yang nolongin Caca! Bunda liat aja sendiri," tutur Yuliana sambil berjalan menuju kamar Gisya.
"MashaAllah, Fahri!" sapa Bunda Syifa yang refleks memeluk Fahri.
"Baju Bunda jadi basah karena peluk Fahri. Hehehe, Bunda apa kabar?" tanya Fahri.
"Bunda baik, sudah nanti mengobrolnya. Sekarang ganti baju kamu, tapi pakai bekas Ayah tidak apa-apa ya? Baju Uqi pasti kekecilan dibadan kamu," ucap Bunda Syifa.
"Terimakasih, Bun."
Fahri pun mengganti pakaiannya di kamar Uqi. Saat keluar dari dari kamar mandi, Fahri melihat Uqi yang tertunduk lesu diatas sofa sambil memegang foto Ayahnya. Syauqi mendongakkan kepalanya.
"Abang cocok pakai baju Ayah, lihat hampir sama persis bukan?" tutur Syauqi sambil memperlihatkan foto Ayahnya yang memakai baju yang saat ini sedang dipakai oleh Fahri.
"Kamu merindukan Ayahmu, Syauqi?" tanya Fahri.
"Panggil saja Uqi, Bang. Tentu saja sangat rindu, Ayah meninggal tepat sehari sebelum Ulang Tahun Uqi." lirih Syauqi. Fahri membawa Uqi dalam pelukannya.
"Kamu seorang Polisi, kamu harus kuat! Abang yakin saat ini Ayahmu sangat bangga padamu." ucap Fahri menyemangati Syauqi.
"Kamu beruntung, masih memiliki Bunda disisimu. Jika tidak ada Mama Risma dan Papa Hari, mungkin hingga saat ini aku hidup sendirian." lirih Fahri dalam hati.
Semoga kalian suka jalan ceritanya ya!
Jangan lupa teruss dukung Author yaa!!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Nurr Amirr🥰💞
sangt suka thorrrr... Alur jln ceritanya mulus enggak bertele-tele...
2024-07-15
0
Ita Retno
sukaaaaaa best thor👍👍❤️❤️😍😍
2023-05-06
0
Alvika cahyawati
duh knp cerita nya melow mulu sich banjir airmata mulu dmn2 mengandung bawang.
2023-02-20
1