Ponsel Dimas berdering, ia melihat siapa yang menghubungi dirinya. Kemudian ia melihat Lala masih terlelap, Dimas keluar dari ruangan itu dan ingin berbicara melalui sambungan telepon. Karena itu panggilan cukup penting, Dimas mencari tempat yang menurut nya tidak ada yang mendengar, apa yang mereka bicarakan.
Di tempat lainnya Dimitri merasa geram, karena ternyata Lala tengah bersama dengan Dimas. Dari tadi ia hanya sibuk dengan pekerjaan nya, hingga ia tidak ingin di ganggu. Namun saat ia akan menjemput Lala, ia mendapat laporan ternyata Lala bersama Dimas.
Perlahan kaki Dimitri melangkah masuk ke sebuah rumah sakit, di mana ada Lala yang tengah di rawat di sana. Dengan kasar Dimitri membuka pintu dan segera masuk, namun ia tidak menemukan Lala di sana.
Dalam waktu yang sama Dimas yang baru saja selesai berbicara melalui panggilan telepon juga kembali ke ruang rawat, dan matanya melihat Dimitri di sana.
"Kemana istri ku!!" geram Dimitri yang melihat Dimas.
Dimas langsung melihat ranjang, dan ternyata kosong. Dimas bisa menyimpulkan jika Lala keluar dari ruangan itu sebelum Dimitri masuk.
"Jawab aku!" geram Dimitri dan ia langsung mencengkram kerah kemeja Dimas semakin kuat.
"Kau mencari siapa?" tanya Dimas santai sambil melepaskan tangan Dimitri, kemudian ia mengipas kemejanya seolah jijik karena bekas tangan Dimitri.
"Hey jangan main-main! Jawab. Dimana istri ku?!" tanya Dimitri lagi berkabut amarah.
"Istri mu siapa?"
"Layla Putri Sinara! Wanita yang kau dekati, kau bawa, tanpa seizin ku!" tegas Dimitri.
"Kau suaminya?"
"Iya, aku suaminya!"
"Lalu kenapa bertanya pada ku!" ujar Dimas santai, "Kau memang tidak waras, bagaimana bisa kau tidak tahu dimana istri mu sendiri," kata Dimas terkekeh.
"Jangan main-main dengan ku! Anak bau kencur seperti mu bukan tandingan ku!" jari telunjuk Dimitri mengarah pada wajah Dimas, "Kau itu hanya abu bagi ku, kau itu tidak ada apa-apa nya. Ingat kalau bukan karena kau bekerja dengan anak pengusaha dari Anggara Wijaya kau hanya nyamuk, sekali tepuk mati!" kata Dimitri tertawa penuh kemenangan, karena merasa Dimas sangat remeh.
Dimas tersenyum, dan mengangguk, "Kau memang benar tuan Dimitri, aku ini hanya nyamuk saja bagi mu."
"Akhirnya kau sadar, sebaiknya jangan lagi ikut campur dengan urusan ku. Aku tidak ingin kau menyesal, karena berhadapan dengan seorang Alexander Dimitri!" kata Dimitri dengan bangga.
"Ahahahhaha.......benarkah?" tanya Dimas tertawa.
"Cepat katakan di mana istri ku!" geram Dimitri karena Dimas belum menjawab pertanyaan nya.
"Memangnya kemana istri mu, lagi pula kau lebih cocok menjadi Ayahnya. Ingat usia, sebaiknya cari yang seumuran. Kenapa tidak Sarika saja, kau kan sudah memiliki anak dengannya. Jangan Lala, karena dia masih terlalu muda," kata Dimas.
Dimas selama ini tidak diam saja, ia pun membiarkan semuanya bukan karena ia hanya menjadi penonton. Tapi ia tengah fokus mencaritahu tentang Dimitri, hingga ia sudah siap bila berhadapan dengan Dimitri.
"Kau," Dimitri melayangkan tangannya, dan ingin meninju Dimas.
Dengan cepat Dimas menangkap tangan Dimitri dan memutar tangannya Dimitri kebelakang, "Kakek-kakek seperti mu bukan tandingan ku!" ujar Dimas.
Buk!
Dimas meninju bagian perut Dimitri, dan ia tersenyum miring.
"Kurang aja!" geram Dimitri, "Kau akan menyesal sudah ikut campur dalam urusan ku!"
"Bos, Nyonya muda masih di sekitar sini," kata seorang anak buah yang di tugaskan oleh Dimitri menyebar di beberapa bagian rumah sakit untuk mencari Lala.
Dimitri dan Dimas langsung melihat bodyguard tersebut, "Apa kau menemukannya?" tanya Dimitri.
"Iya bos, Nyonya berlari dan seperti dia sedang bersembunyi," kata Bodyguard itu lagi.
Dimitri mengangguk, ia mengeluarkan ponselnya dan melacak keberadaan Lala, "Cepat cari, istri ku belum jauh dari sini!!" titah Dimitri, seketika ia sadar jika Dimas sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan itu, "Kurang ajar!" umpat Dimitri, "Cepat menyebar dan cari istri ku!" titah Dimitri lagi.
Kini para bodyguard itu mulai menyebar mencari keberadaan Lala, dan begitu juga Dimitri yang mencari keberadaan Lala.
Dimas yang kini berada di lorong-lorong rumah sakit juga tengah mencari di mana keberadaan Lala, ia tidak ingin Dimitri yang terlebih dahulu menemukan Lala. Dimas kini menghentikan langkah kakinya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah. Hingga tiba-tiba ada yang membentur tubuhnya.
Buk!
"Aaaaa....." ringis Lala.
Wanita yang tanpa sengaja menabrak Dimas adalah Lala. Lala ingin berlari karena ketakutan sebab ada dua lelaki yang mengejarnya, ia tidak tahu siapa lelaki itu. Tapi ia tetap saja takut bayangan saat malam itu dua orang preman yang mengejarnya membuat rasa trauma itu muncul, hingga Lala terus berlari dan tanpa sengaja menabrak Dimas.
"Lala," kata Dimas.
"Pak Dimas," Lala kembali mundur dan berusaha menjauh, ia juga merasa takut pada Dimas.
"Ayo kita pergi dari sini!" ujar Dimas.
Lala yang masih terlalu lemah mendudukkan tubuhnya, bahkan dari tadi ia berlari dengan tubuh yang gemetaran. Karena tubuhnya memang masih sangat lemah. Dan ia menggelengkan kepalanya, menolak ajakan Dimas. Air mata Lala terus tumpah, karena ketakutan.
Dimas langsung membuka ikat pinggang nya, karena ia sadar seperti apa yang dikatakan oleh dokter barusan benar. Lala tampak hanya menatap tapi pinggang itu.
"Jangan Pak, hiks.....hiks....hiks...." Lala menangis karena berpikir ikat pinggang itu akan di gemparkan Dimas pada tubuh nya.
Dimas langsung membuangnya asal, kemudian ia mendekati Lala, "Kita harus pergi!" Dimas langsung mengangkat tubuh Lala, dan tiba-tiba ada seorang pria berkemeja hitam yang terlihat.
"Jangan takut," Dimas membawa Lala pada sudut ruangan, hingga bisa menutupi keduanya dan tidak terlihat. Setelah di rasa aman Dimas dengan cepat membawa Lala keluar dari rumah sakit itu, "Tidak apa," kata Dimas yang melihat Lala sangat ketakutan, dan kini keduanya sudah masuk kedalam mobil milik Dimas.
Dimas menyalakan mesin mobilnya, dan melihat Lala yang duduk di sampingnya. Sambil meremas kedua tangannya, hingga mata Dimas tertuju pada benda berbentuk bulat yang terpasang di jari manis Lala.
"Lepaskan cincin ini," kata Dimas sambil memegang tangan Lala.
Lala menggeleng, entah apa yang ia pikirkan tapi kini Lala hanya ketakutan.
"Kalau kau masih memakai ini Dimitri bisa menemukan mu, kau mau?" tanya Dimas, sebenarnya Lala tidak tega menakut-nakuti Lala tapi keadaan yang memaksa. Apa lagi mereka tidak punya banyak waktu.
Lala menggeleng sambil terus menangis, jangan tanyakan wajahnya kini seperti apa. Karena wajahnya sangat pucat, dan entah mendapatkan tenaga dari mana ia bisa lari.
"Kalau begitu lepas," kat Dimas, dengan cepat Dimas mengambil cincin itu dan melemparnya keluar. Setelah itu Dimas langsung mengemudikan mobilnya.
Tidak berselang lama Dimitri kini berada di tempat parkir, dan ia menemukan cincin Lala yang terpasang GPS, "Kurang ajar!"
*
Banyak yang Vote jadi semangat up nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ
Dimas aku padamu...Bawa pergi Lala sejauh² nya dari Suami nya yang bertopeng iblis itu...🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
2022-09-03
1
Ida Lailamajenun
moga Dimas bisa ngobatin trauma Lala kasihan tuh msh muda tapi mental nya hancur Krn si iblis dimitri.bawa jauh dikit Lala nya Dimas biar gk ditemukan Dimitri
2022-06-18
2
Billa Nuraidabilla
habattt juga s Dimas
2022-05-30
2