Katanya setelah menikah itu sangat menyenangkan, katanya masa-masa baru menikah itu sangat membahagiakan. Tapi berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan Lala, sebab ternyata semua itu hanya sebuah mimpi saja. Justru ia sangat tersiksa.
Satu Minggu sudah berlalu Lala bukan dijadikan sebagai istri, tapi lebih tepatnya seorang budak. Bila ia salah maka tangan Dimitri yang berbicara, seperti hari ini pun Lala sudah dua kali membuat kopi karena Dimitri merasa tidak enak pada kopi buatannya. Itu memang benar, karena Lala memang tidak pandai dalam mengurus dapur. Hidup berkecukupan dengan bergelimang harta membuat nya selalu di layani oleh pembantu. Hingga untuk menyedihkan kopi saja kini Lala perlu belajar.
"Ini Mas," Lala meletakan kopi buatannya di atas meja, kemudian ia berdiri di dekat meja.
Dimitri mengambil cangkir tersebut dan mulai menyeruput nya, namun sedetik kemudian Dimitri melempar gelas tersebut.
Krang!!!
Banyak beling yang pecah di lantai, bahkan ada kopi yang juga mulai tumpah. Sampai Lala juga terkena percikan kopi panas itu.
"Auuu...." Lala mundur selangkah karena kakinya terasa panas.
"Apa kau tidak bisa melakukan hal yang benar," geram Dimitri.
Lala tertunduk takut, tubuhnya yang kecil membuat nya merasa tidak akan bisa melawan Dimitri.
"Sayang ada apa ini?" tanya Sarika yang tiba-tiba muncul saat mendengar suara.
"Wanita ini sama seperti Ayahnya yang tidak berguna itu!" jawab Dimitri sambil menatap Lala. Kemudian Dimitri pergi begitu saja.
Sarika mendekati Lala, kemudian ia mencengkram dagu Lala dengan kuat, "Dasar bocah!!" geram Sarika.
Lala tersenyum miring menatap Sarika, ia benar-benar membenci Sarika yang ternyata berhati iblis, "Kau itu memang iblis, selama ini kau berpura-pura baik! Tapi ternyata kau hanya seekor rubah yang licik," kata Lala lagi.
"Berani sekali kau ya," Sarika ingin mencengkram rambut Lala, tapi Lala langsung melawan dengan mendorong Sarika.
"Ingat iblis, Ayah ku akan tahu semua ini setelah dia sadar!" kata Lala.
"Oh....ya?" Sarika tersenyum miring, "Apa kau berpikir jika Ayah mudah melakukan operasi?" tanya Sarika dengan remeh.
"Maksud mu apa?"
"Ayah mu itu tidak akan sembuh sayang, jadi jangan terlalu bermimpi.....selamat menikmati neraka mu, aku lelah menjadi pura-pura baik terus di hadapan mu, selama bertahun-tahun, dan ini saat nya tiba," Sarika berniat pergi, namun kemudian ia kembali berbalik melihat Lala. Bibirnya terus memperhatikan senyuman nya, "Ayah mu itu begini karena perusahaan nya bangkrut, dan kau tahu penyebabnya?" tanya Sarika remeh, "Karena aku yang membocorkan semuanya pada kekasih ku Dimitri," lanjut Sarika lalu pergi begitu saja, dengan membawa tawa bahagia nya.
Lala meremas dadanya, baru menikah dengan Dimitri beberapa hari ia sudah tersiksa lahir dan batin. Lantas apa lagi yang akan terjadi selanjutnya, "Hiks......hiks...." Lala menangis, semua kebahagiaan yang indah dulu hilang seketika. Tidak ada lagi tawa dan juga canda yang selalu keluar dari bibir manisnya, yang ada hanya air mata yang terus membingkai di pipinya.
Sore harinya Lala bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit menjenguk sang Ayah, selama menikah ia memang tidak pernah di ijinkan Dimitri ke rumah sakit. Dan untuk sore ini Lala berharap Dimitri mengijinkannya.
"Mau kemana kau?" tanya Dimitri tepat di depan pintu, bertepatan dengan Lala yang akan segera keluar.
Lala yang sangat pendek itu memberanikan diri untuk mendongkak, "Aku mau ke rumah sakit Mas, mau jenguk Ayah," jawab Lala.
"Siapa yang mengijinkan mu?!"
"Aku mohon Mas, aku rindu Ayah," kata Lala penuh harap.
"Masuk!" Dimitri menarik Lala, dan menghempaskan nya di lantai. Kemudian ia berkacak pinggang di hadapannya Lala.
"Auu....." Lala meringis dan melihat sikunya yang memerah karena terkena lantai, saat berusaha melindungi dirinya.
"Kau pikir untuk apa kau ku nikahi? Untuk menjadi seorang ratu?!" kesal Dimitri, "Aku menikahi mu agar Ayah mu itu merasakan sakit yang aku rasakan saat ia sadar nantinya," Dimitri tersenyum penuh kemenangan membayangkan jika nanti Atmaja sadar dan mengetahui semua ini.
"Tapi apa salah ku?" tanya Lala, ia berdiri dan menatap Dimitri, "Aku tidak pernah tahu semua ini."
"Kau memang tidak tahu," Dimitri melepaskan ikat pinggang pada dirinya, "Tapi kau adalah kesalahan yang lahir ke dunia ini!!!"
Lala meneguk saliva, ia mundur selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya tubuhnya membentur dinding.
"Aku suka yang seperti ini," ujar Dimitri sambil tangannya mulai menggulung tali pinggang di tangannya.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Lala, bahkan kakinya juga mulai bergetar hebat. Ia pikir menikah dengan Dimitri adalah sebuah keputusan yang baik, yang dapat segera menyembuhkan sang Ayah. Tapi ternyata tidak, ia masuk ke jurang neraka yang begitu menyiksanya.
"Kenapa?" tanya Dimitri sambil tersenyum, ia tahu Lala terlihat ketakutan, "Apa kau ingin segera merasakannya? Tidak aku sedang berbaik hati pada mu ya?" tambah Dimitri lagi, tapi aku harap setelah ini kau mengerti, jika ingin pergi kau harus mendapatkan ijin dari ku," Dimitri melemparkan tali pinggang di tangannya pada ranjang, kemudian ia mengambil ponsel Lala. Tidak sampai di sana, ia juga mengambil ATM milik Lala.
"Mas jangan," kata Lala.
"Kenapa?" Dimitri menatapnya dengan tajam, dan mata yang memerah. Kemudian arah pandang Dimitri kembali pada tali pinggang yang ia lempar tadi pada ranjang.
Lala tidak berani lagi membantah, ia hanya pasrah kembali. Karena takut jika Dimitri menyiksa nya dengan tali pinggang itu, walaupun hanya ingin sekali memohon pada Dimitri untuk tidak mengambil barang miliknya.
Hingga kemudian Dimitri meletakan ponsel Lala di lantai.
"Mas jangan," dengan cepat Lala berjongkok dan memegang ponselnya, ia ingin melindungi ponselnya.
Namun bersamaan dengan itu Dimitri menginjak ponsel itu hingga tangan Lalu juga terkena.
"Auuu....." ringis Lala, karena tangannya terasa sakit sekali.
Dimitri mengangkat kakinya, dan Lala cepat-cepat menarik tangannya. Lala kesakitan hingga ia mengibas-ngibaskan tangan nya.
"Itu bukan karena aku, tapi karena diri mu sendiri," kata Dimitri dengan santai, kemudian ia kembali menginjak ponsel Lala hingga tidak bisa lagi berfungsi, "Ingat, itu belum seberapa...jangan pernah pergi tanpa ijin ku," kata Dimitri, kemudian ia pergi meninggalkan Lala yang tengah menahan sakit.
"Hiks.....hiks....." Lala menangis meluapkan bertapa sedihnya dirinya, bahkan sampai saat ini pun janji Dimitri untuk memberi biaya operasi untuk Ayah nya pun belum juga ada. Tidak pernah Lala bermimpi hidup dalam rumah tangga yang begitu kejam ini, bahkan untuk membayangkan saja sulit. Namun apa daya semua terjadi dengan begitu saja, tawa yang dulu benar-benar berganti dengan air mata kepiluan dan entah sampai kapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Siti Aisyah
lala nya hrs dirubah thor ..cerdaskan otak nya biar gak disiksa terus..
laki nya sakit jiwa ini...mati rasa..
2022-07-15
0
Alya Yuni
Makanya Lala kau trllu bodoh
2022-07-07
0
HenyNur
kok kejam sekali yah ....tunggu karmamu Dimitri sm mama tiri 😠😠
2022-07-02
0