Overdosis

"Setelah kelas selesai kita cerita ya, aku kangen," Rika tersenyum, akhirnya ia bisa melihat Lala kembali. Walaupun ia bingung alasan mengapa kini Lala terlihat bersedih, dan juga ia tidak tahu tentang alasan Lala yang tidak pernah datang ke kampus.

Dimas melangkah masuk, tidak ada yang berani berbicara. Wajah Dimas yang dingin membuat para mahasiswa segan padanya, setelah meletakan beberapa benda yang ia bawa pada meja. Ia melipat kedua tangannya di dada dan mulai mengedarkan pandangannya, tiba-tiba mata Dimas melihat seorang wanita yang ia cari. Lala. Lala ada di antara mahasiswa lainnya, Dimas hanya tersenyum samar karena bisa melihat wajah wanita yang ia tunggu-tunggu.

Lala hanya diam menunduk, ia seakan hanya sendiri saja tanpa tahu banyak nyawa yang berada di sekitar nya. Bahkan ia tidak mendengar saat Dimas mulai membuka materi.

"Lala," Rika menepuk pundak Lala, karena ia sadar dari tadi Lala tidak mendengar apa yang di jelaskan oleh Dimas di depan sana.

Lala mengusap wajahnya, ia kini duduk tegak dengan bersandar pada tempat duduknya. Dan menatap kedepannya, di mana seorang dosen tengah melihat dirinya juga. Lala mulai mengingat jika kini ia sedang berada di kampus dan ternyata ada Dimas di depan sana.

"La, lu Napa?" tanya Rika semakin bingung.

Lala semakin mengusap wajahnya, dan berusaha untuk tetap menguasai dirinya. Namun lama-kelamaan ia semakin tidak kuat, dengan cepat Lala bangun dari duduknya dan berlari keluar.

"Lala!!" seru Rika bingung dan ingin mengejar Lala.

"Duduk," Dimas dengan cepat memerintahkan Rika kembali duduk pada tempatnya.

"Lala?" Rika menatap bingung pada Dimas, dan ia merasa kesal pada Dimas.

"Kembali duduk!" titah Dimas tidak ingin di bantah.

Rika melihat sekitarnya, dan semua mata tengah tertuju padanya. Dengan kesal Rika kembali pada tempat, dan Dimas yang kini keluar.

Lala terus berlari, banyaknya orang-orang di sana seakan membuatnya tidak nyaman. Kini ia terbiasa menyendiri tanpa seorang teman, hingga ia kini berada di depan sebuah apotik. Setelah mendapat apa yang ia cara kini Lala berjalan tanpa arah, hingga akhirnya kakinya terasa letih sekali. Ia melihat sekitar nya dan ternyata kini ia berada di sebuah taman kota dengan ada danau buatan yang terlihat begitu indah.

Lala langsung duduk dan melihat ke depan, berulangkali ia terus berusaha untuk tetap tenang. Sampai akhirnya Lala meminum obat penenang yang baru saja ia beli dengan lembaran uang kes yang tadi di berikan oleh Dimitri.

"Ayah," ucap Lala dengan tubuh gemetaran dan berkeringat dingin, tanpa sadar Lala terus menelan satu persatu obat pada tangannya. Bahkan ia pun tidak sadar, karena ia hanya ingin tetap tenang dan bisa menguasai dirinya.

"Lala!" seru Dimas dan jarak beberapa meter dari Lala, ia terlihat terengah-engah karena barusan berlari demi mencari keberadaan Lala hingga akhirnya matanya melihat Lala di sana.

Lala yang tengah memeluk lututnya melihat ke samping, di mana ada Dimas di sana. Lala menatap diam dan bingung mengapa Dimas mencarinya, apakah Dimas ingin meminta untuk melakukan hal kotor untuk membayar Ayahnya yang akan di biayai oleh Dimas? Tapi Ayahnya sudah tiada sebelum operasi, lalu mengapa Dimas mencarinya pikir Lala.

"Kau kenapa?" tanya Dimas saat menyadari tatapan Lala yang aneh.

Lala menggeleng saat kaki Dimas perlahan mendekati nya, bukan takut pada Dimas. Tapi Lala takut pada tali pinggang yang terpasang pada diri Dimas, keringat dingin semakin mengalir deras seiringan irama jantung yang semakin kencang.

"Kamu kenapa?" Dimas dengan cepat memegang lengan Lala agar tidak lagi berlari seperti tadi.

"Lepas Pak, Ayah tidak jadi di operasi kenapa Bapak mencari saya! Saya sedang tidak berhutang pada Bapak!" seru Lala sambil berusaha melepaskan diri dari Dimas.

Deg.

Perasaan Dimas tidak karuan saat mendengar kata yang di ucapkan oleh Lala, "Kau bicara apa?" tanya Dimas.

"Pak Dimas tolong lepaskan saya!!!" seru Lala semakin ketakutan, tali pinggang Dimas terasa sangat mengerikan bagi Lala hingga ia meronta-ronta minta di lepaskan. Dan itulah alasan Lala memilih untuk keluar saat mata kuliah masih berlangsung, ia merasa tidak sanggup lagi melihat tali pinggang itu.

"Aku ingin bicara," kata Dimas yang tidak ingin melepaskan Lala.

Lala menggeleng dan tetap berusaha melepaskan diri nya, "Enggak!!!" kata Lala.

"Sebentar saja," pinta Dimas yang belum mengerti ada apa dengan Lala.

"Enggak Pak, tolong lep....." tiba-tiba tubuh Lala terjatuh begitu saja di atas rerumputan yang begitu indah.

"Lala kau kenapa?" tanya Dimas panik dan ia memangku kepala Lala.

Tidak lama kemudian mulut Lala mengeluarkan banyak busa, dan tubuhnya kejang-kejang.

Mata Dimas melihat ada beberapa butir pil yang terjatuh di atas rumput, kemudian ada sebuah botol dan Dimas yakin itu adalah botol dari butiran obat tersebut. Dan Lala sudah menelannya. Dengan cepat Dimas mengangkat tubuh Lala.

Rumah sakit Sejahtera Bunda kini menjadi saksi sebuah insiden yang membuat Dimas menitihkan air mata, di dalam sana seorang wanita yang dulu mati-matian mengejar cintanya kini tengah berjuang demi bisa tetap melanjutkan hidup.

Dimas diam dan tertunduk, ia duduk di kursi tunggu rumah sakit sambil tertunduk.

"Tuan," seorang dokter keluar dari ruangan Lala, dan sudah di pastikan jika itu adalah dokter yang baru saja menangani Lala.

Dimas tersadar ia berdiri dan menatap sang dokter yang ber-tag Vera itu.

"Bagaimana keadaan nya dok?" tanya Dimas tidak sabar.

"Pasien overdosis obat, dan beruntung bisa segera di tangani," jelas sang dokter.

Dimas mengangguk dan merasa lebih lega, karena Lala masih bisa di sembuhkan.

"Tapi Tuan," dokter itu terlihat ragu untuk berbicara, karena ia takut jika Dimas merasa tersinggung.

"Tapi kenapa dok?" tanya Dimas yang kini ikut penasaran.

"Mohon maaf tuan, tapi di tubuh pasien kami temukan banyak sekali memar. Dan kemungkinan itu karena hantaman benda tumpul, maksud saya benda tumpul sengaja dihantam pada tubuh pasien," jelas sang dokter, "Maksud saya itu berupa kekerasan," tambah dokter yang berusaha menjelaskan lebih jelas.

"Memar? Kekerasan?" Dimas bingun dan masih bertanya-tanya.

"Apa anda suaminya?" tanya sang dokter penasaran.

"Bukan," jawab Dimas.

Dokter tersebut mengangguk mengerti, karena dari tapi ia merasa ragu untuk berbicara. Tapi setelah Dimas mengaku tidak sang dokter kembali berbicara dengan jelas, "Sepertinya pasien sering mengalami kekerasan fisik, dan usia pasien juga masih sangat muda. Kita berdoa saja semoga setelah sadar pasien tidak mengalami gangguan mental," jelas sang dokter lagi.

Dimas tertunduk lesu, ia kini melangkah masuk dan melihat Lala yang masih belum sadarkan diri. Pakaian rumah sakit dengan lengan pendek yang kini terpasang di tubuh Lala memperlihatkan apa yang di katakan sang dokter memang benar. Karena mata Dimas melihat dengan jelas memar itu.

Terpopuler

Comments

Niningrahayu Ningsih

Niningrahayu Ningsih

Masya Allah baca cerita ini air mata nggak bisa berhenti thor, ngena banget dihati ceritanya, sehat selalu author 🤗

2023-04-02

0

Adwa Zarkasih

Adwa Zarkasih

😭😭😭

2022-07-17

1

Meiny Gunawan

Meiny Gunawan

😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

2022-07-01

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1
2 Menikah
3 Tersiksa
4 Zira Anak Dimitri
5 Kembali Kuliah
6 Bertemu Dimas
7 Kasar
8 Bersenang-senang
9 Curiga
10 Apa Sudah Terjadi?
11 Info giveaway (Hadiah)
12 Ayah Sadar
13 Demi Ayah
14 Luka
15 Kehilangan Ayah
16 Pemakaman Ayah
17 Robot
18 Overdosis
19 Trauma
20 Istri Ku
21 Rumah Kedua Orang Tua Dimas
22 Sahabat Selamanya
23 Main Cantik
24 Ingin Pergi
25 Berdebar
26 Visum
27 Surat Cerai
28 Di Kepung
29 Tertembak
30 Sah bercerai
31 Trauma
32 Waktunya bangkit dari keterpurukan
33 Nyaman
34 Cemburu
35 Pulang dengan Pak Bimo
36 Ketakutan
37 Memalukan
38 Tidak tergenggam
39 Apa harus sesakit ini
40 Jangan Dia
41 Direnggut paksa
42 Kecewa
43 Pil
44 Korban
45 Pengen Khilaf
46 Pengakuan Zea
47 Kebaya milik Mama Yeni
48 Sah!!!!
49 Makanlah biar kuat
50 Panas
51 Morning kiss
52 Bocah Lebih menarik
53 Dasar Bucin
54 Kontrak Pernikahan
55 Ngadem?
56 Perjuangan Di mulai
57 Makan Malam Romantis
58 Aa Dimas
59 Selamat pagi Cinta
60 Pawangnya
61 Pencuri
62 Liburan
63 Kau harus di hukum dulu
64 Sendiri
65 Senyuman mu
66 Nasib
67 Berdebar
68 Jangan Adik ku
69 Kesal
70 Sama saja
71 Ketemu diam-diam
72 Memohon
73 Gemas
74 Demi adik ipar
75 Asisten dadakan
76 Cinta pertama tidak seindah bayangan ku
77 Maaf
78 Selamat
79 Maksudnya
80 Berkunjung
81 Mode Lola
82 Kita bukan sahabat lagi
83 Salah
84 Bukti
85 Yakin
86 Terpaksa
87 Tidak Tenang
88 Kawin lari
89 Pasrah
90 Keputusan
91 Di Titik Terendah
92 Berakhir
93 Dimitri
94 Sesal
95 Pisah
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100 skip aja, kalau ngotot dosa di tanggung pembaca.
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147 pengumuman
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
Episodes

Updated 159 Episodes

1
Part 1
2
Menikah
3
Tersiksa
4
Zira Anak Dimitri
5
Kembali Kuliah
6
Bertemu Dimas
7
Kasar
8
Bersenang-senang
9
Curiga
10
Apa Sudah Terjadi?
11
Info giveaway (Hadiah)
12
Ayah Sadar
13
Demi Ayah
14
Luka
15
Kehilangan Ayah
16
Pemakaman Ayah
17
Robot
18
Overdosis
19
Trauma
20
Istri Ku
21
Rumah Kedua Orang Tua Dimas
22
Sahabat Selamanya
23
Main Cantik
24
Ingin Pergi
25
Berdebar
26
Visum
27
Surat Cerai
28
Di Kepung
29
Tertembak
30
Sah bercerai
31
Trauma
32
Waktunya bangkit dari keterpurukan
33
Nyaman
34
Cemburu
35
Pulang dengan Pak Bimo
36
Ketakutan
37
Memalukan
38
Tidak tergenggam
39
Apa harus sesakit ini
40
Jangan Dia
41
Direnggut paksa
42
Kecewa
43
Pil
44
Korban
45
Pengen Khilaf
46
Pengakuan Zea
47
Kebaya milik Mama Yeni
48
Sah!!!!
49
Makanlah biar kuat
50
Panas
51
Morning kiss
52
Bocah Lebih menarik
53
Dasar Bucin
54
Kontrak Pernikahan
55
Ngadem?
56
Perjuangan Di mulai
57
Makan Malam Romantis
58
Aa Dimas
59
Selamat pagi Cinta
60
Pawangnya
61
Pencuri
62
Liburan
63
Kau harus di hukum dulu
64
Sendiri
65
Senyuman mu
66
Nasib
67
Berdebar
68
Jangan Adik ku
69
Kesal
70
Sama saja
71
Ketemu diam-diam
72
Memohon
73
Gemas
74
Demi adik ipar
75
Asisten dadakan
76
Cinta pertama tidak seindah bayangan ku
77
Maaf
78
Selamat
79
Maksudnya
80
Berkunjung
81
Mode Lola
82
Kita bukan sahabat lagi
83
Salah
84
Bukti
85
Yakin
86
Terpaksa
87
Tidak Tenang
88
Kawin lari
89
Pasrah
90
Keputusan
91
Di Titik Terendah
92
Berakhir
93
Dimitri
94
Sesal
95
Pisah
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100 skip aja, kalau ngotot dosa di tanggung pembaca.
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147 pengumuman
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!