Dimitri meletakan telpon pada telinga nya, dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh seorang perawat di seberang sana.
Bib.
Dimitri mematikan sambungan telepon nya, dan kini ia beralih menatap Lala yang juga tengah menatapnya.
"Ayah mu sudah sadar," kata Dimitri.
"Ayah sadar?" Lala menghapus jejak air mata nya, kemudian ia bergegas turun dari ranjang. Karena ia harus segera menuju rumah sakit.
Namun sayang tiba-tiba lengannya di tahan Dimitri, hingga Lala tidak bisa pergi.
"Kau tidak boleh pergi, sebelum menghabiskan nasi itu," Dimitri menunjuk nasi yang sudah tersaji untuk Lala, dan di letakkan di atas meja nakas.
Lala menatap makanan itu, ia tidak ingin sama sekali untuk makan. Yang ia inginkan hanya memeluk Ayahnya.
"Kalau kau tidak mau makan kau tidak akan pergi, tapi kalau kau makan aku yang akan mengantarkan mu," ujar Dimitri.
Lala kembali duduk di sisi ranjang, ia mengambil piring dan mulai melahap habis isi piring tersebut. Bahkan Lala makan dengan gerakan cepat, karena sudah tidak sabar untuk menemui sang Ayah. Setelah selesai makan Dimitri tidak mengingkari janjinya, ia benar-benar mengantarkan Lala menuju rumah sakit.
Lala duduk diam di samping Dimitri yang terus melajukan kendaraan nya membelah jalanan, tidak ada percakapan yang terjadi di antara Lala dan Dimitri.
Lala yang sibuk memikirkan sang Ayah, dan Dimitri yang sesekali melirik Lala yang duduk di sampingnya.
"Ayo," Dimitri membuka pintu mobil, kini mereka sampai di rumah sakit.
Lala tentu saja tidak ingin membuang-buang waktu, ia dengan semangat langsung turun dan berjalan cepat demi melihat sang Ayah yang masih di rawat di dalam sana.
"Ayah," seru Lala, dan ia dengan cepat memeluk sang Ayah yang masih berbaring di atas ranjang.
Perlahan mata Atmaja terbuka, dan langsung melihat wajah putri nya. Tangan Atmaja dengan susah payah di angkat, dan meletakkannya di atas punggung Lala.
Lala sedikit menjauh saat merasakan tangan sang Ayah, karena ia ingin melihat wajah Atmaja yang tersenyum padanya.
"Ayah....hiks...hiks....hiks....." Lala kembali memeluk Atmaja dengan erat, meluapkan segala keluh nya selama ini. Tidak ada tempat mengadu ataupun bersandar, yang ada ia hanya sendirian tanpa penopang.
"Ayah baik-baik saja," suara lemah Atmaja berusaha meyakinkan putri nya, kemudian ia kembali mengusap punggung Lala. Hingga kemudian mata Atmaja mengarah pada pintu yang terbuka dan ada Alexander Dimitri di sana, Atmaja tau siapa Dimitri. Bahkan keduanya dulu adalah sahabat baik, persahabatan mereka hancur karena Sinara memilih Atmaja dari pada Dimitri yang masih berstatus kekasih dari Sinara.
Lala menyadari arah tatapan Atmaja, ia juga ikut melihat arah yang di tatap Atmaja. Dan ternyata ada Dimitri di sana.
"Dia suami Lala Yah," kata Lala dengan baik, karena Lala tidak ingin menyimpan apapun dari sang Ayah.
Atmaja sangat shock mendengar kata yang di katakan oleh Lala, "Su....suami?" tanya Atmaja dengan suara lemah dan terbata-bata.
Lala mengangguk, dan Atmaja mulai memegang dadanya sambil menahan sakit.
"Aku permisi dulu," pamit Dimitri, karena keadaan Atmaja semakin parah saat melihat dirinya. Entah mengapa ada rasa tidak tega saat melihat keadaan Atmaja, hingga Dimitri lebih memilih pergi dengan begitu mungkin keadaan Atmaja bisa lebih baik.
Atmaja masih memegang dadanya, rasanya sangat sakit sekali, "Kenapa harus dia?" tanya Atmaja dengan menahan rasa sakit, "Dia orang yang sudah menghancurkan kita, dia dan Sarika bekerja sama untuk menghamcurkan kita. Menikah dengan dia adalah rencananya dari awal," jelas Atmaja. Sebab sebelum Atmaja jatuh pingsan ia mendengar hal yang cukup mengejutkan.
"Dimitri sayang, semua berkas berharga itu sudah di tangan ku. Dan akan segera aku antarkan pada mu, semua data perusahaan Atmaja juga sudah di tangan mu. Dan satu lagi rencana kita menjebak Lala menjadi istri mu. Setelah itu kita bisa berkumpul bersama Zira anak kita, tanpa harus aku beracting lagi di sini," kata Sarika pada seorang yang tengah berbicara dengannya melalui sambungan telepon di seberang sana.
Atmaja sangat shock mendengarkan semua kata yang di ucapkan oleh Sarika, dan satu kalimat yang membuat hati Atmaja hancur. Zira anak yang ia sayangi ternyata bukan anaknya.
"Sarika!" Atmaja tidak lagi bisa menahan amarah, ia mendekati Sarika dan ingin melayangkan tangan nya. Namun sayang tiba-tiba Atmaja malah memegang dadanya, sedetik kemudian Atmaja sudah tidak sadar lagi.
Semua sudah di katakan oleh Atmaja pada putrinya, tidak ada yang dapat di katakan oleh Lala selain menangis pilu. Sungguh kini yang mampu menguatkan nya sang Ayah saja.
"Aaaaa...." Atmaja memegang dadanya, dan ia kembali tidak sadarkan diri.
"Dokter!!!" seru Lala.
Setelah dokter memeriksa keadaan Atmaja, kini ia beralih menatap Lala, "Operasi harus segera di lakukan demi nyawa pasien agar bisa di selamatkan," kata sang dokter.
Hiks....hiks....hiks....
Lala langsung terduduk di lantai, kakinya tidak lagi dapat menahan badannya sendiri. Rasa tidak ingin kehilangan sang Ayah begitu kuat, dan apa yang harus Lala lakukan saat ini. Sementara Dimitri tanpaknya tidak berniat untuk memberikan biaya operasi untuk Ayahnya.
Tidak ingin meratapi nasibnya terlalu lama Lala menemukan sebuah ide, terasa sangat sulit dan sakit tapi inilah jalan satu-satunya. Ia rela menjual dirinya hanya demi uang, Lala melihat pakaian yang ia gunakan. Dan kini ia menggunakan piama dengan lengan panjang, "Tidak mungkin dengan pakaian begini," gumam Lala.
Kaki nya segera membawa tubuhnya keluar dari rumah sakit, ia terus berjalan mungkin ada yang bisa ia lakukan agar bisa mendapatkan uang untuk membeli dress murah. Namun sayang waktu malam telah tiba, ia kini hanya berdiri di sisi jalanan dengan bingung.
"Kak!"
Seorang wanita menepuk pundak Lala dari belakang, dan itu Zira.
"Zira."
Lala terkejut melihat kehadiran Zira di sana, tapi paling tidak mungkin ia bisa minta tolong pada Zira.
"Kakak kenapa sih, terus ngapain malam-malam di sini?" Zira melihat jam yang melingkar di tangannya, menunjukan pukul 21:00, "Ini udah malem lho kak," ujar Zira lagi.
"Zira, Kakak boleh pinjam uang?"
"O, bentar," Zira mengambil uang dari dalam sakunya, "Aku baru gajian, bawa aja buat Kakak," Zira memberikan lembaran uang seratus ribu berjumlah sepuluh lembar pada Lala.
"Kamu sekarang kerja Dek?" tanya Lala terkejut, sebab selama ini hidup mereka serba berkecukupan. Tapi kini Zira pun harus menanggung hidupnya sendiri. Padahal Zira masih duduk di bangku SMA.
"Iya Kak, Zira enggak sudi terima uang dari Ibu. Zira kerja di minimarket depan situ Kak, nanti kalau Kakak mau temuin Zira datang ke sana aja," kata Zira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Rinjani
Zira ternyata baik ,sarika ancen kook
2022-07-07
0
Nadira Anggraini
untung hati zira g.sebusuk emak ma bapak.na..
2022-06-29
0
Neni Triana
dadaku nyesek baca nya thorrr...sakiiittt.....kasihan Lala....klo aku punya uang ku bantu Lala utk operasi sang ayah....
2022-06-06
1