The Last One Standing

The Last One Standing

Prologue.

Semua orang pasti menginginkan hidup yang damai....

Banyak yang bilang, hidup akan lebih berwarna jika kita punya tujuan. Bukankah begitu? Maka, mulai sekarang, aku telah menetapkan tujuan hidupku: demi mendapatkan kedamaian setiap hari. Betapa menyenangkannya jika itu menjadi kenyataan!

Sayangnya, kenyataan sering kali berbanding terbalik dengan harapan. Aku tahu, mungkin itu hanyalah mimpi belaka. Contohnya, saat ini, dalam perjalanan menuju sekolah, aku bertemu dengan mereka.

Mereka adalah berandalan yang paling ditakuti di kelas. Ingat, hanya di kelas! Aku tak tahu di luar sekolah, apakah mereka benar-benar menakutkan. Yang jelas, mereka adalah orang-orang yang selalu menggangguku. Itu saja.

"Heeeeeeiiiii!!!!!!"

Salah satu dari mereka memukul kepalaku. Orang tersebut berteriak dengan ceria, tampak sangat menikmati perbuatannya.

"Aw! Argh..."

"Ahahahahahaha!"

Ia tertawa keras, diiringi tawa kawan-kawannya yang lain.

"Apa, huh?" dia melotot tanpa meminta maaf.

'Sial.'

Bukan ini yang kuinginkan. Hidup di sekolahku seharusnya damai dan menyenangkan, bukan begini!

Aku berharap dia meminta maaf, tapi sepertinya itu harapan kosong. Setelah membenarkan posisi tubuhku dan berbalik, kuperhatikan wajah mereka satu per satu. Mereka adalah teman-temanku di kelas.

Seperti yang sudah kubilang, mereka adalah para berandalan kelas atas. Keempatnya terus tertawa, seolah kebahagiaan mereka bersumber dari penderitaanku.

Apa yang mereka dapatkan dari menggangguku? Kesenangan? Benarkah begitu?

Aku pernah mendengar, mereka yang seperti itu biasanya merasa lebih tinggi dengan mengganggu orang yang lebih lemah. Apakah itu benar?

Kalau begitu, aku tak bisa hanya diam. Aku harus sesekali membela diri agar tidak semakin terjerembab.

"Anu..."

"Apa?!"

Belum sempat aku mengeluarkan suara, salah satu dari mereka meraih hoodie kesayanganku.

"Kau mulai berani sekarang, ya?"

"Em..."

"Apa? Katakan yang jelas!"

"....Tidak. Anu..."

Sambil merasa cemas, aku tidak berbuat apa-apa.

"...Maaf. Aku yang salah."

Kata-kata bodoh itu keluar begitu saja tanpa kusadari. Empat orang di hadapanku ini adalah Chandra, Rio, Angga, dan Sandi.

"Nah, begitu, kalimat seperti itulah yang ingin kudengar darimu."

"Sadari posisimu, atau kau akan dalam masalah lagi lain kali."

"Tch! Dasar sampah..."

"Kami pergi. Lain kali, tidak ada kesempatan kedua, kau paham?"

Mereka pergi, meninggalkanku yang masih terkejut.

Dua tahun lalu, aku bertemu mereka saat pulang sekolah. Saat itu, aku masih siswa kelas satu. Keempat orang ini sedang merokok di depan gerbang sekolah.

Aku tidak terlalu mengingat semua detailnya, namun yang pasti, itu adalah kebetulan yang buruk. Di sampingku berdiri seorang guru. Kami berjalan berdampingan keluar gerbang.

Aku tidak menyangka kami akan berpapasan dengan mereka. Keringat mengucur deras membasahi punggungku.

'Ah! Oh, tidak.' Begitu pikirku saat itu.

Aku menutup mulutku rapat-rapat. Dari belakang, aku menyaksikan tuntas drama yang terjadi.

Si guru tengah memberikan ceramah, menghukum mereka. Pada akhirnya, mereka salah mengira bahwa akulah yang membawakan guru tersebut. Lagipula, tempat mereka nongkrong itu adalah gerbang sekolah. Semua orang keluar dan masuk melalui situ. Seharusnya situ berpikir sedikit!

Selama berbulan-bulan, aku terpaksa menjadi kacung bagi mereka. Aku dibuli dan diminta melakukan berbagai hal.

Mulai dari disiram air dingin saat ke toilet, didorong hingga jatuh ke lantai, bahkan terlempar ke semak-semak dan menabrak tembok!

Mereka melemparku dengan barang-barang bekas, seperti penghapus dan pulpen, hingga pakaianku kotor. Yang paling parah, aku pernah dihias seperti badut di depan kelas. Mereka menjadikanku bulan-bulanan, membuatku terasing di sekolah.

Yup, aku sangat menyedihkan.

Bagaimana nasibku bisa terus seperti ini setiap hari?

Hik.

Apa? Apa aku menangis?

Hik. Hik.

Sial. Memalukan sekali...

Kenapa air mata ini tak henti-hentinya mengalir? Kenapa juga dadaku terasa sakit?

Tanpa sadar, aku mulai menangis.

"Hik... hik..."

Aku hanya ingin semua ini cepat berakhir.

Suatu saat nanti, aku akan membalas mereka.

Terpopuler

Comments

pembacasetia

pembacasetia

tragis

2022-01-10

1

LORD?!

LORD?!

ntaps

2022-01-06

0

Arockz

Arockz

semngat

2022-01-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!