Bab 7.

SUDUT PANDANG ORANG LAIN.

Gawat.

Aku salah langkah.

Tidak pernah aku mengira jika musuh akan datang.

Mereka menyerang disaat aku sedang pergi.

"Cih."

Aku kesal karena termakan umpan mereka.

Kukira mereka tidak akan menyerang saat matahari masih bersinar.

Padahal penduduk desa dan para pengawal yang bersamaku sedang berjaga.

Aku benar-benar lengah kali ini.

Tapi aku akan menebusnya dan membalikan semua keadaan ini.

Desa tampak sangat kacau sekarang.

Mereka berubah menjadi arang karena hangus terbakar.

Langit juga berubah menjadi gelap, padahal hari masih sore pada saat itu.

"Bagaimana kondisi pangeran sekarang?"

"Ah! Komandan!"

Semua orang lantas tersenyum melihatku.

"Ini sungguhan kau?!"

"Syukurlah jika komandan sudah datang!"

Mereka terlihat bersemangat dan kembali ceria.

"Akhirnya komandan perang kita telah tiba."

"Benar. Seorang perempuan jenius dengan usia yang masih remaja..."

Perempuan ini sudah jago berpedang di umurnya yang delapan tahun, dan mencapai tingkatan master pada saat masih sepuluh tahun.

Tidak berhenti di sana dia juga mempelajari berbagai ilmu pengetahuan lainnya seperti seni berperang, ilmu politik, dan bahkan berdagang.

"Komandan juga entah kenapa sangat cantik."

"Ya, kau benar. Hehe...."

Sudah banyak pria bangsawan yang ingin meminangnya.

Mereka ingin menjadikannya istri, beberapa juga sampai ingin menjadikannya selir.

Namun, mereka semua ditolak oleh sosok perempuan berambut pirang ini.

"Berhentilah bercanda, dan tolong katakan situasi kita saat ini."

"Baik! Komandan Elinalise!"

Dia lah Komandan Perang Posisi Keenam di Kerajaan Leah.

Elinalise Bona Dea atau biasa dipanggil 'Ratu Pedang'.

Orang-orang terdekatnya sering memanggilnya, Lise.

"Haaa."

Setelah mendengar semua cerita, aku menghela napas panjang.

Ternyata situasi lebih parah dari yang kuduga.

"Jadi mereka membawa seekor monster Rank-S?"

Jadi itulah penyebab kenapa mereka berani menyerang pada saat siang bolong seperti ini.

Pangeran sekarang sedang tertangkap.

Musuh sudah pergi, tetapi tidak begitu jauh kuyakin.

Aku segera mengumpulkan tim yang tersisa dan merencanakan sebuah pengejaran.

Pertama kami akan melacak arah pangeran dibawa. Setelah itu menentukan semua keputusan disaat pangeran ditemukan.

"Kalian semua tolong dengarkan. Sebisa mungkin, hindari pertarungan yang tidak berguna."

Mereka mengangguk mendengar perintahku.

Tidak menutup kemungkinan jika sebuah jebakan akan dipasang di sana. Nyawa pangeran adalah yang paling utama. Tapi jika tidak ada yang kembali, maka hal itu sama saja.

"Misi pengawalan kali ini berubah peringkatnya, dari yang awalnya C-Ranking menjadi S-Ranking. Aku juga sudah meminta bantuan saat ini, tapi kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sebagai gantinya kita akan meninggalkan sebuah penunjuk untuk mereka."

Aku menatap sekitar.

Wajah mereka terlihat ragu dan cemas saat aku memberitahu perubahan tingkat kesulitan misi. Tapi tidak ada waktu untuk ragu lagi, semakin kita terlalu banyak berpikir dan berlama-lama di sini, maka musuh akan semakin menjauh.

Aku pun hanya bisa meyakinkan mereka jika semua itu akan baik-baik saja.

Benar. Semuanya pasti akan baik-baik saja.

Pasti.

"Apa kalian mengerti?"

"Siap mengerti, komandan!"

Mereka pun menjawab dengan serempak.

"Maka ikutilah aku."

"Baik!"

SUDUT PANDANG TEO

Ada apa ini? Kenapa semuanya berwarna hitam.

Rumah, hutan, tidak ada satu pun yang tersisa. Padahal aku baru saja menemukan peradaban. Ada juga beberapa mayat di sini.

"Mayat?"

Bukankah...

"Hoeeeek!"

Ini adalah mayat manusia. Apakah mereka warga desa?

Siapa yang berani melakukan tindakan kejam itu di sini.

Sungguh tercela sekali kau.

Semua ini bahkan lebih buruk daripada pembulian yang dilakukan oleh Chandra and the gengs.

"...Eh?"

Saat aku melihat-lihat ke sekitar. Aku menemukan sesuatu yang menarik.

"Pita?"

Ada sebuah pita di pohon. Pita itu berwarna hitam dan cukup panjang.

Aku sempat berpikir cukup lama di sini.

Apakah ini adalah pengganti bendera kematian?

Kupikir seharusnya itu berwarna kuning atau merah jika di dunia nyata. Apakah hal ini berbeda di dunia game?

Tunggu. Aku menemukan beberapa lainnya di dalam hutan. Pita itu diikat seakan...

"Seakan mereka menunjuk ke sebuah tempat. Seseorang pasti ingin meminta tolong."

Pasti begitu, jika tidak kenapa pita ini diatur sejajar dan mudah dilihat?

"Hmmm."

Aku sangat penasaran apakah yang akan menanti ku di sana. Tapi saat baru selangkah saja aku berjalan. Seseorang tiba-tiba saja berteriak di belakangku.

"Berhenti! Apa yang sedang kau lakukan di sana?!"

Aku berbalik dan menemukan sekelompok prajurit.

Meski seorang tentara namun mereka lebih mirip disebut sebagai gelandangan lusuh. Pakaian dan armor mereka compang-camping bahkan rusak parah. Apakah mereka habis diserang monster atau apa?

"...E-Em..."

Aku tidak mengerti dengan maksudnya sehingga aku memiringkan kepalaku.

"Apakah aku kurang jelas! Kau telah mengambil pita itu. Apa yang ingin kau lakukan padanya?!"

Tanpa sadar ada salah satu pita di tanganku.

Apakah mereka berpikir aku akan mengambilnya atau menukarnya di tempat lain?

Tidak. Aku tidak bermaksud begitu.

"Tangkap dia!"

"T-Tunggu. A-A-Aku bisa jelaskan..."

Sialan. Kenapa cara bicara ku gagap dan belepotan. Ah, jadi kurang meyakinkan kan.

Jadi bagaimana ini dong.

"Aku tidak peduli apa katamu. Cepat tahan dia!"

"Eh? Tidak mungkin. Aku ini sama sekali bukan orang yang mencurigakan loh."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!