Bab 15.

Perpisahan.

Selamat pagi, para pembaca yang budiman...

Aku dan Porky sekarang telah hidup selama satu tahun di dalam jurang.

Omong-omong 'Porky' adalah nama sahabatku.

Dia selalu ada, dua puluh empat jam dalam sehari.

Di saat aku membuka mata wajahnya lah yang pertama kali kutatap.

Memang menakutkan, tapi aku telah terbiasa.

Kami sudah seperti teman sehidup dan semati sekarang ini.

Tidak terpisahkan.

Keseharian kami?

Seperti biasanya....

"Hei, jangan mulai lagi."

"Grook."

Aku sedang membakar daging di sumur yang sangat dalam ini. Daging itu adalah persediaanku yang kuambil dari gudang milik desa Goblin. Untungnya daging itu bisa disimpan ke dalam inventori dan tidak pernah membusuk.

"Kita sudah gencatan senjata. Bukankah kau ingat?"

Dalam pakta integritas, kami berdua tidak boleh saling menyerang di saat waktu makan siang dan makan malam. Di malam hari juga digunakan untuk tidur.

Perjanjian ini kami buat dengan persetujuan dari kedua belah pihak.

"Grooook!"

"Ah? Aku mengerti. Kalau begitu kita selesaikan dengan cepat sebelum makan siang, kemarilah."

Sepertinya temanku ini adalah seorang maniak bertarung. Harus kuakui jika staminanya tidak pernah habis. Aku curiga kalau daya tahannya juga tidak terbatas.

Selain memiliki stamina yang luar biasa, dia juga memiliki regenerasi yang super cepat. Kombinasi keduanya itu yang membuatnya kemudian tak terkalahkan.

Jika sudah satu tahun berlalu, lalu bagaimana dengan kabar dunia luar?

Entahlah. Game ini sepertinya benar-benar rusak.

Jadi, bagaimana bisa aku masih tetap tenang, padahal mengetahui aku sudah hidup di dalam dunia game?

Jawabannya, mungkin hal ini dipengaruhi dari skill 'Poker Face (Pasif)' yang kumiliki.

Aku baru menyadari kemampuan skill itu baru-baru ini.

"Hap!"

Aku sekarang berada jauh di pojok ruangan.

Karena pertarungan kami yang selalu heboh, aku pun memilih tempat ini.

Aku tidak ingin disaat kita bertarung nantinya, makanan yang kumasak akan hancur menjadi bubur atau terciprat setetes darah kami.

"Kemarilah kau, Porky."

Aku tersenyum dan melambaikan tanganku padanya.

Porky pun dengan wajah seriusnya menyambut dengan berlari ke arahku.

Oh, benar juga. Dia memiliki julukan sang Penggilas dulunya.

Di sini aku mulai memasang kuda-kuda. Pedang Demonic pun terasa sangat pas di tanganku.

Sepertinya aku juga sudah mulai terbiasa dengannya. Entah sudah berapa kali ini aku mengayunkan pedang dalam seharinya.

Ratusan atau bahkan ribuan?

Ah. Kupikir itu hanya masalah kecil, jadi kita lanjutkan fokus melawan Porky untuk sekarang.

Jika tidak, dia mungkin akan ngambek dan merasa tidak mood selama seharian, teman besar ini harus diberi perhatian yang lebih.

"Oh!"

Aku terkejut setelah melihat Porky yang tiba-tiba sudah berada di depanku.

"Sprint."

[Semua hal sekarang menjadi lebih lambat dalam kacamatamu.]

"Duar!"

Terdengar suara yang sangat keras sekali.

Porky menabrak tembok di depannya. Dia menyebabkan asap dan batu-batuan terlempar kemana-mana.

Aku pun menarik napas.

Di langit-langit, aku mencoba untuk memfokuskan diri. Di mana tempat yang ingin aku serang.

Terlihat luka lama milik Porky. Luka itu adalah bekas pertarungan dari kami berdua yang telah lalu. Luka itu semakin dalam saja dan terlihat seperti sulit dihilangkan.

Aku terjun dengan bebas dari ketinggian yang sangat ekstrem. Aku mendarat tepat di punggung Porky.

"Jleeeeeb!"

Setelah itu, aku segera berlari menggunakan skill sprint dan gaya gravitasi bumi untuk gelayutan di sana.

Dengan menyerat pedang di kedua tanganku. Aku mulai memutari tubuhnya dengan sangat cepat, membuat pola melingkar berbentuk per pegas di badannya.

[Efek 'Bleeding' berhasil ditambahkan.]

Setelah selesai melakukannya, aku pun mendarat jatuh ke tanah. Ada beberapa detik jeda di udara saat aku akan jatuh.

Lalu di saat itulah skill tersembunyiku akan beraksi.

"Dash."

Seketika sebuah gaya dorong tiba-tiba menyentak tubuhku. Aku pun juga baru menyadari hal ini akhir-akhir ini.

"Slaaaash!"

Tersisa aentuhan terakhir...

Aku pun menebas dan memberikan goresan panjang di sisi kanan tubuh Porky.

"Grooooooook!!!"

Dia menjerit sangat kencang sebelum perlahan jatuh ke tanah.

[Efek 'Bleeding berhasil ditambahkan.]

Ronde ke-1.025, berhasil dimenangkan olehku. Total sudah 512 kemenangan berhasil kukantongi.

Siang itu aku menikmati makan siang dengan tenang dan nyaman di depan perapian. Daging hari ini juga terasa sangat lembut dan pas, hanya saja...

"Uek!"

Dagingnya tidak memiliki rasa apa pun.

Setelah makan siang, aku melirik ke arah Porky. Biasanya di jam segini dia sudah terbangun.

Namun entah kenapa kali ini kecepatan regenerasinya menurun.

Tidak. Kupikir kemampuan regenerasi Porky semakin hari semakin melemah, ataukah cuman perasaanku saja?

Semoga tidak ada hal buruk terjadi nantinya.

Mari kita berdoa untuk yang terbaik demi Porky.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!