Bab 3.

"Kita lihat seberapa banyak EXP yang ada dalam tubuh gempalmu."

Aku mulai bergerak, memasuki wilayah para slime dengan percaya diri. Pedang kayu di tanganku akan menebas mereka semua, aku menjilati bibirku sambil tersenyum. Saat melihat aksiku itu, para slime mendadak gelisah. Mereka kocar-kacir, lebih memilih untuk menghindar daripada melawan. Makhluk-makhluk ini benar-benar cinta damai. Namun, ada rasa sedih dalam diriku jika harus melihat mereka terbunuh di sini.

Tiba-tiba, salah satu slime berani mendatangiku. Dengan percaya diri, ia melompat maju, tampak melotot padaku. Tapi, sayangnya, aku tak peduli. Aku langsung menusuknya.

"Matilah!"

Tapi... kenapa? Pedangku tidak bisa melukainya sama sekali. Dengan tubuh yang licin dan daging tebal, seranganku tidak mendapatkan hasil.

Seketika, suasana berubah. Ratusan slime mengubah tatapan mereka menjadi merah. Kini, mangsa dan predator berbalik. Mereka pun menyerangku secara bersamaan. Pertarungan pun mulai sengit. Sepertinya mereka hanya berpura-pura lemah sebelumnya. Begitu menyadari aku hanya bisa menggertak, mereka mulai berani dan mendominasi.

Sialan! Aku telah ditipu!

Hampir saja aku kalah. Satu ekor slime membutuhkan waktu lebih dari tiga menit untuk kutumbangkan, dan napasku mulai memburu. Saat kurasa ada yang menatapku dari belakang, aku berbalik dan melihat satu slime berlari kencang dari arah kanan, siap menubrukku. Namun, aku satu langkah lebih cepat.

Aku berhasil menyerang slime itu dengan tendangan volley. Sayangnya, tubuhku masih terlalu lemah, hanya berhasil mementalkannya dua langkah ke belakang.

"Huff... huff..."

Nafas yang memburu, pertarungan masih berlangsung, dan baru dua slime yang berhasil kukalahkan.

"Bum! Bum!"

Tanah bergetar saat aku menoleh ke belakang. Mataku terperangah melihat seekor slime raksasa. Sebagai informasi, slime normal biasanya memiliki level antara dua atau tiga, tapi slime di hadapanku ini jauh di atas level itu.

[Lv.7 Uncommon Boss Slime.]

"Glek."

Aku menelan ludahku. Ini selevel dengan serigala yang kutemui pagi tadi. Melirik bar HP-ku, aku terkejut melihat kondisi darahku [7/25]. Aku sudah kehilangan banyak darah. Jika dipaksa untuk bertarung lagi, apalagi dengan boss slime, Aku hanya akan menggali kuburanku sendiri!

"A-Aaaah..."

Aku tak bisa menerima ini. Tidak ingin kabur dalam sebuah game. Kenapa semuanya selalu berbeda denganku? Kenapa mereka seolah selalu bersikap jahat?

Kesal, aku mulai menyalahkan segalanya. Dan pada akhirnya, air mataku tak tertahan.

"Aku akan terus berlari seperti biasanya, dan menjadi seorang sampah sekali lagi."

Aku mulai berbalik pergi. Langkah pertama terasa berat, tetapi lambat laun aku mulai terbiasa. Namun, rasa pertanyaan menyergap: Apakah ini benar?

Tiba-tiba, berbagai perasaan mulai bergejolak di dalam dadaku. Sedih dan kesal pada diri sendiri. Iri dan marah saat melihat orang lain mampu melakukannya. Aku menggigit bibirku, menahan semua emosi itu.

"Uuuugggghhh..."

Aku menyadari sesuatu. Apakah aku akan selalu begini? Seumur hidupku, dipanggil pecundang di mana-mana? Selalu merasa tidak berguna?

Seandainya ada sedikit keberanian dalam diriku, setidaknya aku bisa berdiri dengan gagah. Tapi bagaimana orang lain menciptakan keberanian? Dari mana asalnya?

Ah, benar. Keberanian. Orang-orang biasanya tidak banyak berpikir. Mereka melakukan sesuatu daripada terpaku pada kemungkinan baik dan buruk. Otak kita cenderung melihat yang terburuk dan memilih jalan yang paling aman. Ternyata, pilihan terburuk, penuh risiko, justru bisa meningkatkan peluang untuk bertahan hidup dan menjadi lebih kuat.

"...A-Apakah aku juga dapat melakukannya?"

Aku berhenti berlari dan berbalik. Baiklah. Aku telah memutuskan. Dunia mungkin tidak bisa kuubah, tetapi aku bisa. Aku akan melawanmu. Harus menang, karena aku tidak ingin kesalahan terulang sekali lagi.

"Akulah orang yang akan berdiri paling terakhir dan menertawakan semuanya."

Aku mengawasi boss slime yang melompat bersama anak buahnya, masih mencoba mengejarku. Tanpa sadar, aku menatap bar HP yang tersisa. [7/25]. Jika terkena tabrakan dari slime kecil, aku mungkin hanya mampu bertahan tiga atau empat kali. Lantas, bagaimana dengan yang besar?

Entah apa yang terjadi, kegelapan tiba-tiba menyelimuti tempatku. Melihat ke langit, aku menyadari itu adalah serangan dari boss slime.

Segera, aku melompat dan berguling untuk menghindar. "Fiuh." Selamatlah aku. Hampir saja itu menjadi akhir hidupku.

Saat melihat tempatku berdiri, kaki terasa lemas, lututku gemetaran dan enggan menuruti perintah. Tanah di sekitarku ambles sedalam satu meter, retakan besar terlihat jelas di sana. Perlahan, boss slime berbalik menatapku.

"Eh?"

Dia tersenyum? Senyum angkuh yang menunjukkan bahwa mereka menganggapku sebagai sampah atau serangga yang bisa dihilangkan dengan gampangnya.

Tidak... aku tidak mau begini...

"Wuuuuuush..."

Waktu seolah berhenti. Boss slime melayang di udara! Tubuh bagian bawahnya hampir menyentuh kepalaku. Walaupun sudah menekuk punggungku ke belakang, itu usaha yang sia-sia.

Jika aku tetap diam, maka aku akan tertindas olehnya.

Apakah harapan sudah habis? Apakah aku akan tamat di sini?

Sungguh aku tidak ingin diakhiri begitu. Aku ingin bilang pada dunia bahwa diriku bukan seperti yang selama ini mereka bayangkan. Aku bisa berubah.

"Boooooom!!!"

Retakan besar terjadi di tanah. Lubang yang dibentuk boss slime lebih besar dari sebelumnya. Asap membubung, menutup pandanganku.

Tak ada seorang pun yang bisa melihat apa yang sedang terjadi di sini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!