Bab 11.

True Love.

Sial.

Akhirnya sang mc yang ditunggu tidak pernah menunjukkan batang hidungnya.

"Hei, Bocah! Kapan temanmu itu akan datang sebenarnya?"

"Benar. Awas saja jika kau berani membohongi kami!"

"Hei, jaga nada bicara kalian!"

"Ma-Maafkan kami, komandan..."

Semua orang mulai marah.

Hanya Elinalise saja yang mengerti dan bersedia menunggu.

Dengan kata-katanya itu, dia berhasil menenangkan semua orang.

"Mohon maafkan mereka. Tapi... Jika terus begini... Aku takut jika..."

Sama.

Aku juga.

Tapi aku tidak bisa mengatakannya.

Anehnya wajahku masih tetap normal, dan nada bicaraku masih tetap seperti biasanya, seolah tidak ada apa pun yang sedang terjadi di sini.

Aku sungguh terkejut pada diriku sendiri.

Elinalise mungkin percaya padaku karena melihat semua itu.

Aku tidak tahu alasan kenapa mc tidak hadir sekarang ini.

Tapi aku mengerti dengan kecemasan yang sedang dihadapi oleh perempuan ini.

Elinalise mungkin khawatir jika kita tidak segera bergerak, maka cepat atau lambat keberadaan kita akan segera diketahui.

Haaa.

Aku mulai menghela napas.

Karena aku yang memulai, aku harus melakukan sesuatu dan bertanggung jawab di sini.

Kurasa, baru pertama kali ini aku mendapatkan kepercayaan dari seseorang.

Jadi aku tidak ingin membuatnya kecewa karena telah menyerahkan segalanya padaku.

"Kalian semua pergilah."

"Apa?!!"

Semua orang berteriak ke arahku.

"Seseorang harus tetap di sini dan menahannya."

Aku menunjuk ke arah bayangan besar yang menonjol seperti gunung.

Monster itu sudah semakin dekat. Sepertinya dia melacak kami semua menggunakan indra penciumannya.

Lagipula semua ini hanyalah sebuah game.

Aku berbalik dan mencoba untuk pergi.

"Tunggu, apa yang barusan kau maksud?"

Elinalise tiba-tiba menarik lenganku.

Sepertinya dia tidak akan membiarkanku pergi sebelum memberikan penjelasan lebih banyak.

Yah. Aku paham jika hal ini akan membuat harga dirinya tercoreng.

Namun... Jika dirinya memaksakan diri untuk bertarung melawan Ors tanpa bantuan sang mc sekarang, maka hal itu sama saja dengan gantung diri.

Sehingga keputusannya di sini adalah diriku...

"...Aku tetap harus pergi."

Akan tetap pergi.

Aku tahu keputusan ini salah, dan juga aku tidak bisa menjelaskan jika ini hanyalah dunia game dan kau adalah seorang karakter utama.

Mati di sini mungkin tidak akan membuatku terbunuh di dunia nyata.

Aku memang tidak bisa mengatakan hal-hal seperti itu, namun aku akan sedikit merubahnya dan mengatakan...

"Serahkan semuanya kepadaku."

Tenang saja jika ada aku di sini, semuanya akan kembali normal dan berjalan sesuai alur cerita.

Mungkin 'alur cerita' di dunia ini sama dengan 'takdir' jika di dunia nyata.

"Huh?"

Elinalise mengernyitkan keningnya karena kebingungan.

Astaga, sungguh perempuan ini... Kau cukup pergi dan berlari tanpa perlu berbalik. Apa susahnya melakukan hal itu?

"Sebenarnya keberanian macam apa yang kau miliki sampai bisa berdiri tegap sebanding dengan monster itu..."

Bahkan para kesatria di belakang Elinalise saja bergetar ketakutan, dan mereka juga tidak tahu harus melakukan apa.

"...Kuperhatikan kau selalu tenang di setiap situasi. Apalagi, aku sangat terkejut, setelah kau dengan enteng mengatakan 'ingin menahannya'..."

Jika dilihat dari sudut pandang Elinalise, dia membuat seolah-olah diriku adalah sosok yang sangat hebat.

Namun kenyataannya, aku tahu jika semua ini hanya sebatas game dan sama sekali tidak berbahaya.

Aku tidak akan pernah bisa mati di sini.

"Aku jadi paham sekarang. Aku sungguh minta maaf karena telah memberimu kepercayaan yang berat, hal itu pasti membuatmu kesusahan kan. Kau pasti merasa bertanggung jawab, benar begitu?"

Mataku terbelalak karena tebakan Elinalise, namun beberapa detik kemudian kembali menjadi normal dengan cepat.

Apalagi di sini Elinalise sampai membungkukkan badannya meminta maaf padaku.

Elinalise meletakan tangannya di kepalaku, dia kemudian mengusap rambutku dengan lembut bagaikan anak kecil dengan orang tuanya.

Aku merasakan kehangatan yang nyaman dari tangannya.

Menenangkan... Dan hangat...

Hampir persis dengan milik mendiang ibuku...

"Tapi... Jalanmu masih sangat panjang. Di sini, umurmu adalah yang paling muda. Aku akan menggantikan mu, jadi pergilah bersama dengan yang lain."

Elinalise Bona Dea. Perempuan ini sungguh luar biasa.

Aku kagum padanya.

Aku sungguh menghormatinya.

[Selamat.]

[Anda telah berhasil membuka salah satu kunci atribut pemain.]

['Apa itu arti cinta'.]

What?

Eh?

[Selama anda bersama dengan seseorang yang paling berharga di sisi anda. Mau itu dewa sekalipun, tidak ada yang bisa menghentikan anda.]

Kenapa bahasa sistem tiba-tiba menjadi puitis begini?

[Selamat.]

[Anda telah mendapatkan skill tingkat 'Unique'.]

Woah! Aku tidak percaya dengan yang kulihat ini.

[Untukmu aku tidak bisa mati, aku akan tetap hidup dan menjadi pelindungmu.]

[Die Hard Lv. 1 (Unlocked).]

Apa?

Skill apa ini sebenarnya.

[Die Hard - Pemain memiliki pemulihan super yang setara dengan seekor monster tingkat legenda. Bisa kembali hidup dari kematian asalkan tidak mendapatkan kematian yang instan. Cooldown: 24 Jam.]

Jadi intinya sekarang aku menjadi manusia abadi, huh?

"Hm? Kenapa kau tiba-tiba tersenyum? Aku tau, kau pasti sangat suka saat diusap rambutmu ya~"

Elinalise melihat ada yang salah kepadaku dan mulai menggodaku.

Tapi...

Sekali lagi, aku tidak ingin melarikan diri.

Aku akan menghadapi segalanya dan melangkah maju.

"Kau pasti sudah banyak membunuh, kan?"

"Kau bocah! Apa yang kau katakan kepada komandan barusan, huh?!! Itu tidak sopan kau tahu! Barusan saja dia berniat menyelamatkan hidupmu. Kenapa kau malah--"

"Jika salah satu atau dua orang mati. Bukankah itu tidak ada masalah bagimu. Apalagi jika orang itu adalah orang yang asing. Lagipula kau masih memiliki misi yang lain dan lebih penting bukan?"

Komandan Perang, entah berapa juta kematian yang telah disaksikannya.

Kehilangan satu pion seharusnya tidak menjadi masalah baginya.

Berdasarkan cerita yang kudengar, dia juga masih harus segera menemukan pangeran.

"Pokoknya serahkan semuanya kepadaku."

Aku menatap mata sang komandan, sembari memberikan sedikit aura intimidasi.

Mungkin hal itu tidak berguna baginya, tapi aku harus terlihat kuat di sini.

"Aku mengerti jika itu keputusanmu."

"Tungg-- Komandan, begitu saja? Apakah kau akan membiarkannya?"

Aku tersenyum mendengar jawabannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!