Bukan berarti aku ditolak di sini. Melainkan aku yang ketahuan oleh salah satu orang dari sekolahku. Dia berdiri dengan penuh percaya diri, menudingku dengan jari telunjuknya, sambil mengatakan bahwa aku adalah orang yang memulai semua ini. Dia bahkan berani menambahkan, jika aku sampai berani menggrepe tubuh polos Maya.
Ya, Maya—pacar Chandra. Kami berbeda kelas, dan dia adalah adik kelas kami, selisih dua tahun. Sekarang, aku dipanggil oleh Chandra dan gengnya ke toilet, dan...
Aku tidak mau pergi!
Firasat buruk menyelimuti hatiku. Rasanya, hari ini akan berbeda; lebih kelam daripada hari-hari sebelumnya. Jika aku pergi, aku yakin, aku tidak akan pernah kembali. Imajinasiku melayang jauh, membayangkan Chandra mungkin bisa membuatku tak berdaya, tidak lagi bisa berdiri. Dia akan memberikan pelajaran yang menyakitkan padaku.
Lebih baik aku duduk diam di sini, menunggu seseorang, seorang guru mungkin, untuk datang menolong. Seharusnya ada seseorang yang memanggil mereka, begitu pikirku.
"JADI RUPANYA... SI SAMPAH ADA DI SINI...???"
Suara Chandra menggema dari balik pintu kelas, menyeringai dan tersenyum lebar ke arahku. Oh, tidak. Seseorang, tolong aku... Siapa saja...
Kulihat ke kiri dan kanan, tidak ada satu pun yang berniat membantuku. Mereka malah menyingkir, memberikan jalan pada bos geng di sisi seberang. Tatapan mereka penuh dengan kepuasan, seolah berkata padaku bahwa waktu dekat perpisahan akan tiba.
"Akhirnya aku dapat bertemu denganmu, sampah. Setelah menunggu sekian lama di depan toilet. Akhirnya..."
Chandra berdiri tepat di depan mejaku, wajahnya penuh kebencian.
"...Si b***ngan, Teo."
Sepertinya Chandra sudah menunggu lama di toilet. Rasa tidak sabarnya membara, dan sekarang dia menemui aku secara langsung. Tatapan orang-orang di sekitar sungguh menjengkelkan. Mereka hanya terdiam, menonton, tak melakukan apa-apa. Apakah mereka merasa terhibur dengan melihat semua ini?
"...A-Ada yang bisa ku bant-- Uh!"
Kerah bajuku tiba-tiba ditarik ke atas oleh Chandra. Tiga anak gengnya sudah berkumpul, menatapku dengan penuh intimidasi. Sialan. Semua ini sangat menakutkan.
Aku tidak bisa melakukan apa pun. Haruskah aku hanya pasrah dipukuli seperti pecundang lagi? Di saat seperti ini, aku sangat ingin melawan! Kenapa mereka masih menonton?!
Sekelompok siswa berkumpul dan membuat keributan di belakang. Mereka hanya berbisik, saling tukar pandang, seolah mengharapkan sesuatu yang lebih seru.
"Kalian..."
Aku menggigit bibirku, dan menelan ludah yang terasa berat. Sekali lagi, yang bisa kulakukan adalah meminta maaf. Tapi sebelum aku melakukannya, seolah Chandra sudah tahu, tangannya berpindah dan menusuk leherku dengan cepat.
"Uhuk! Ueeeek... Uhuk! Uhuk!"
Tubuhku berontak. Beberapa saat kemudian, Chandra mengangkat tubuhku bersamaan dengan cengkeramannya yang semakin kuat.
"Uhhhh! K-K-Kumohon... Lepaskan... aku... tidak akan mengulanginya..."
Aku berjanji tidak akan mendekati Maya lagi! Bahkan aku bersedia menjadi budak untukmu selamanya! Tolong, lepaskan tanganmu. Sebentar lagi aku akan tidak sadarkan diri!
Hampir saja pandangan mataku menghilang dalam kegelapan. Tiba-tiba, seseorang muncul, menolongku. Dia menjerit, meminta seorang guru untuk segera ke sini. Jika terlambat sekian detik saja, aku akan mati di tangan Chandra baj***an ini! Apa itu tenaga dari seorang bocah SMA?
Momen-momen menegangkan ini berakhir ketika aku dibawa ke UKS. Chandra dan gengnya akhirnya mendapatkan hukuman dari para guru, hanya diskors. Rasanya, aku ingin menangis seharian.
Aku pulang. Saat sampai di rumah, rasa malas mendera, ingin segera merebahkan diri di kamar. Namun, tugas menyiapkan makan malam untuk ayah dan diriku tetap harus dijalani.
Begitu aku membuka pintu rumah, selembar kertas menarik perhatian, dengan tulisan 'Maafkan Ayah' membuat mataku berair.
"A-Ayah?"
Akhirnya, setelah sekian lama, Ayah pergi meninggalkanku sendirian entah ke mana. Kini, aku di rumah ini sendirian, tanpa keluarga, teman, atau sanak saudara.
"Bruk!"
Kakiku terjegal dan aku terduduk lemas di lantai, belum sempat berteriak. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi.
"Ting. Tong."
"Ayah!" Terbayang harapan, tapi ketika membuka pintu, sesosok gadis cantik dengan rambut panjang berdiri di sana, tersenyum tipis.
"...Maya?" Keningku berkerut, kebingungan melanda.
Setelah beberapa detik, saat memikirkan apakah semua ini nyata, Maya berbicara padaku.
"Maukah kau bermain berdua denganku?"
"Huh? A-Apa?"
Kesan pertamaku padanya adalah... 'aneh'. Tanpa ragu, dia datang ke rumahku. Dalam keadaan putus asa ini, aku sudah tak peduli apapun lagi.
"Hmmm, baiklah. Silakan masuk."
Jika setengah badanmu sudah terjun ke dalam air, maka sekalian saja aku menyelam. Aku tidak takut lagi. Maya adalah orang yang menyelamatkanku dengan melaporkan kejadian di sekolah, jadi tidak sopan jika aku mengusirnya.
Dengan semangat yang menggelora, Maya bertanya, "Tapi... apakah tidak masalah jika aku masuk ke kamar kakak?"
"Tidak masalah," jawabku cepat tanpa berpikir. Kami berdua melangkah ke kamarku dalam sekejap.
"Wow, jadi ini adalah kamar kakak?" Dia terkesan.
Aku memilih duduk di pojokan, tidak mengerti mengapa dia begitu takjub. Maya memperhatikanku, lalu menyampaikan, "Kau tahu, kupikir kamar seorang pria remaja akan sangat berantakan, tetapi ini berbeda."
Maya berusaha menghiburku. Dia bercerita tentang berbagai hal, seperti meja belajarku, gayaku, modis pakaianku dan bahkan masalah yang sedang dihadapinya. Hingga pada suatu momen, dia menghela napas.
"Um... Maukah kakak bermain game bersamaku?"
"Game?" tanyaku.
"Yup," jawabnya sambil mengangguk penuh harap.
Bagaimana bisa seseorang secerdas dia menunjukkan semangat seperti itu? Tapi... dia memang datang jauh-jauh hanya untuk mengajakku bermain game, ya?
"Maaf. Tapi aku harus menolaknya."
"Eh? Kenapa?"
"Aku tidak bisa bermain game."
"Tapi, ini adalah game terbaru dari Gamelabs.co, loh?"
"...Dari Gamelabs?"
Maya menyodorkan sebuah perangkat ke arahku, dan aku terkejut melihat antusiasme di matanya. Ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang berbeda...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
B_A
emang gak mati kalo "ditusuk" di leher? dipukul aja bisa bikin pingsan lo, apalagi ini ditusuk
2022-01-03
0