Semua orang pasti menginginkan hidup yang damai....
Banyak yang bilang, hidup akan lebih berwarna jika kita punya tujuan. Bukankah begitu? Maka, mulai sekarang, aku telah menetapkan tujuan hidupku: demi mendapatkan kedamaian setiap hari. Betapa menyenangkannya jika itu menjadi kenyataan!
Sayangnya, kenyataan sering kali berbanding terbalik dengan harapan. Aku tahu, mungkin itu hanyalah mimpi belaka. Contohnya, saat ini, dalam perjalanan menuju sekolah, aku bertemu dengan mereka.
Mereka adalah berandalan yang paling ditakuti di kelas. Ingat, hanya di kelas! Aku tak tahu di luar sekolah, apakah mereka benar-benar menakutkan. Yang jelas, mereka adalah orang-orang yang selalu menggangguku. Itu saja.
"Heeeeeeiiiii!!!!!!"
Salah satu dari mereka memukul kepalaku. Orang tersebut berteriak dengan ceria, tampak sangat menikmati perbuatannya.
"Aw! Argh..."
"Ahahahahahaha!"
Ia tertawa keras, diiringi tawa kawan-kawannya yang lain.
"Apa, huh?" dia melotot tanpa meminta maaf.
'Sial.'
Bukan ini yang kuinginkan. Hidup di sekolahku seharusnya damai dan menyenangkan, bukan begini!
Aku berharap dia meminta maaf, tapi sepertinya itu harapan kosong. Setelah membenarkan posisi tubuhku dan berbalik, kuperhatikan wajah mereka satu per satu. Mereka adalah teman-temanku di kelas.
Seperti yang sudah kubilang, mereka adalah para berandalan kelas atas. Keempatnya terus tertawa, seolah kebahagiaan mereka bersumber dari penderitaanku.
Apa yang mereka dapatkan dari menggangguku? Kesenangan? Benarkah begitu?
Aku pernah mendengar, mereka yang seperti itu biasanya merasa lebih tinggi dengan mengganggu orang yang lebih lemah. Apakah itu benar?
Kalau begitu, aku tak bisa hanya diam. Aku harus sesekali membela diri agar tidak semakin terjerembab.
"Anu..."
"Apa?!"
Belum sempat aku mengeluarkan suara, salah satu dari mereka meraih hoodie kesayanganku.
"Kau mulai berani sekarang, ya?"
"Em..."
"Apa? Katakan yang jelas!"
"....Tidak. Anu..."
Sambil merasa cemas, aku tidak berbuat apa-apa.
"...Maaf. Aku yang salah."
Kata-kata bodoh itu keluar begitu saja tanpa kusadari. Empat orang di hadapanku ini adalah Chandra, Rio, Angga, dan Sandi.
"Nah, begitu, kalimat seperti itulah yang ingin kudengar darimu."
"Sadari posisimu, atau kau akan dalam masalah lagi lain kali."
"Tch! Dasar sampah..."
"Kami pergi. Lain kali, tidak ada kesempatan kedua, kau paham?"
Mereka pergi, meninggalkanku yang masih terkejut.
Dua tahun lalu, aku bertemu mereka saat pulang sekolah. Saat itu, aku masih siswa kelas satu. Keempat orang ini sedang merokok di depan gerbang sekolah.
Aku tidak terlalu mengingat semua detailnya, namun yang pasti, itu adalah kebetulan yang buruk. Di sampingku berdiri seorang guru. Kami berjalan berdampingan keluar gerbang.
Aku tidak menyangka kami akan berpapasan dengan mereka. Keringat mengucur deras membasahi punggungku.
'Ah! Oh, tidak.' Begitu pikirku saat itu.
Aku menutup mulutku rapat-rapat. Dari belakang, aku menyaksikan tuntas drama yang terjadi.
Si guru tengah memberikan ceramah, menghukum mereka. Pada akhirnya, mereka salah mengira bahwa akulah yang membawakan guru tersebut. Lagipula, tempat mereka nongkrong itu adalah gerbang sekolah. Semua orang keluar dan masuk melalui situ. Seharusnya situ berpikir sedikit!
Selama berbulan-bulan, aku terpaksa menjadi kacung bagi mereka. Aku dibuli dan diminta melakukan berbagai hal.
Mulai dari disiram air dingin saat ke toilet, didorong hingga jatuh ke lantai, bahkan terlempar ke semak-semak dan menabrak tembok!
Mereka melemparku dengan barang-barang bekas, seperti penghapus dan pulpen, hingga pakaianku kotor. Yang paling parah, aku pernah dihias seperti badut di depan kelas. Mereka menjadikanku bulan-bulanan, membuatku terasing di sekolah.
Yup, aku sangat menyedihkan.
Bagaimana nasibku bisa terus seperti ini setiap hari?
Hik.
Apa? Apa aku menangis?
Hik. Hik.
Sial. Memalukan sekali...
Kenapa air mata ini tak henti-hentinya mengalir? Kenapa juga dadaku terasa sakit?
Tanpa sadar, aku mulai menangis.
"Hik... hik..."
Aku hanya ingin semua ini cepat berakhir.
Suatu saat nanti, aku akan membalas mereka.
Kalian tahu, duduk di bangku barisan belakang itu sangat menyenangkan. Jauh dari pandangan guru, jauh dari papan tulis, dan kamu tidak akan ketahuan jika tidur di kelas. Namun, tiada gading yang tak retak. Ada satu kekurangannya, aku harus bersebelahan dengan Chandra dan gengnya.
Sialan. Jika begini, sama sekali tidak ada enaknya!
Mari kita beralih ke topik yang lebih menarik. Ini tentang pandangan para ladies padaku. Meskipun aku adalah seorang loser (pecundang) yang dihindari satu kelas, pesonaku tetap ada, menonjol di antara kaum hawa. Yeah!
Tunggu, sudah berapa kali para cewek melirikku hari ini? Kurasa sudah ada empat yang melakukannya siang ini. Yeah! Mereka suka sekali mencuri pandang dan tersenyum malu saat ketahuan. Namun, meskipun begitu, aku masih tidak memiliki pacar. Sungguh tidak masuk akal bukan?
Aku tidak tahu apa masalahnya. Apakah ini karena statusku di kelas sebagai pecundang? Kudengar para cewek sering meributkan hal seperti ini. Mereka itu terlalu pemilih dan pemalu. Hal yang tidak dimiliki oleh Chandra dan gengnya, jelas adalah 'ketampanan'. Meski begitu, mereka masih memiliki pacar, bahkan ada yang sampai dua.
Meski aku tidak tampan-tampan amat, dibandingkan dengan mereka berempat, akulah pemenangnya. Yeah!
Tiba-tiba, sebuah rencana brilian muncul di kepalaku. Kali ini adalah percobaanku yang ketiga untuk membalas mereka.
"Mwehehehe!" Aku menggosok tanganku.
"Kau barusan tertawa?" Chandra mendesis, curiga.
"Tidak," jawabku cepat, berusaha tetap tenang.
"Jangan-jangan kau sedang menertawakanku, ya?!"
"Tidak kok." Sekali lagi aku menjawab dengan cepat.
"Kau mau dihajar?"
"....." Aku hanya diam, berusaha mengabaikannya.
Buk!
Tunggu saja, brengsek. Kini aku berakhir dengan memar besar di mataku.
"Hei, besok adalah harinya, kan?"
"Kau benar. Gamelabs akan merilis game terbarunya dan yang lebih nyata!"
"Wah, asik! Aku sudah tidak sabar lagi!"
Anak-anak terlihat gembira membicarakannya. Semua orang pasti suka bermain game, tidak terkecuali diriku. Meski tidak terlalu jago, aku juga seorang gamer. Banyak permainan yang sudah ku coba.
"Kapsul untuk memainkannya juga lumayan murah!"
"Ya. Orang tuaku bahkan sudah membelikan dua buah. Satu untukku dan satu lagi untuk adikku."
Gamelabs memang selalu viral dengan game-game mereka sebelumnya. Wajar saja semua orang di berbagai penjuru dunia tidak sabar menunggu rilis ini.
'Sebuah game dari Gamelabs, ya?.... Pasti akan luar biasa.'
Namun sekarang bukan waktunya untuk bermain. Aku harus fokus pada rencanaku. Rencana ini memang berisiko, tetapi jika aku ingin membuat Chandra menderita berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, ini satu-satunya jalan.
Aku berencana mendekati pacarnya dan melakukan "NTR" di sini (Nikung Tanpa Rem). Rasakan patah hati terbesar dasar berandalan sialan!
Bukan hanya Chandra, aku juga akan mendekati pacar Angga, Rio, dan Sandi. Mamtap! Mereka pasti akan menangis saat tahu telah dikhianati.
"Mwehehehe!" Aku menggosok tanganku sekali lagi.
Lagipula, Chandra dan gengnya hanyalah bocah SMA sama sepertiku. Sekali mereka merasakan patah hati... maka, pasti sudah tidak tertolong lagi.
Hari ini mungkin aku sungguh brilian!
Mereka mungkin akan duduk sendirian di pojok kamar, berhari-hari, mendengarkan musik sedih sambil mengusap ingus yang berceceran menggunakan tisu.
"Mamtap! Mwehehehe!" Berulang kali aku menggosok tanganku.
Pasti akan sangat menyenangkan. Aku sudah tidak sabar melihat masa depan seperti itu.
Namun, keesokan harinya, semuanya tidak berjalan sesuai harapanku…..
Bukan berarti aku ditolak di sini. Melainkan aku yang ketahuan oleh salah satu orang dari sekolahku. Dia berdiri dengan penuh percaya diri, menudingku dengan jari telunjuknya, sambil mengatakan bahwa aku adalah orang yang memulai semua ini. Dia bahkan berani menambahkan, jika aku sampai berani menggrepe tubuh polos Maya.
Ya, Maya—pacar Chandra. Kami berbeda kelas, dan dia adalah adik kelas kami, selisih dua tahun. Sekarang, aku dipanggil oleh Chandra dan gengnya ke toilet, dan...
Aku tidak mau pergi!
Firasat buruk menyelimuti hatiku. Rasanya, hari ini akan berbeda; lebih kelam daripada hari-hari sebelumnya. Jika aku pergi, aku yakin, aku tidak akan pernah kembali. Imajinasiku melayang jauh, membayangkan Chandra mungkin bisa membuatku tak berdaya, tidak lagi bisa berdiri. Dia akan memberikan pelajaran yang menyakitkan padaku.
Lebih baik aku duduk diam di sini, menunggu seseorang, seorang guru mungkin, untuk datang menolong. Seharusnya ada seseorang yang memanggil mereka, begitu pikirku.
"JADI RUPANYA... SI SAMPAH ADA DI SINI...???"
Suara Chandra menggema dari balik pintu kelas, menyeringai dan tersenyum lebar ke arahku. Oh, tidak. Seseorang, tolong aku... Siapa saja...
Kulihat ke kiri dan kanan, tidak ada satu pun yang berniat membantuku. Mereka malah menyingkir, memberikan jalan pada bos geng di sisi seberang. Tatapan mereka penuh dengan kepuasan, seolah berkata padaku bahwa waktu dekat perpisahan akan tiba.
"Akhirnya aku dapat bertemu denganmu, sampah. Setelah menunggu sekian lama di depan toilet. Akhirnya..."
Chandra berdiri tepat di depan mejaku, wajahnya penuh kebencian.
"...Si b***ngan, Teo."
Sepertinya Chandra sudah menunggu lama di toilet. Rasa tidak sabarnya membara, dan sekarang dia menemui aku secara langsung. Tatapan orang-orang di sekitar sungguh menjengkelkan. Mereka hanya terdiam, menonton, tak melakukan apa-apa. Apakah mereka merasa terhibur dengan melihat semua ini?
"...A-Ada yang bisa ku bant-- Uh!"
Kerah bajuku tiba-tiba ditarik ke atas oleh Chandra. Tiga anak gengnya sudah berkumpul, menatapku dengan penuh intimidasi. Sialan. Semua ini sangat menakutkan.
Aku tidak bisa melakukan apa pun. Haruskah aku hanya pasrah dipukuli seperti pecundang lagi? Di saat seperti ini, aku sangat ingin melawan! Kenapa mereka masih menonton?!
Sekelompok siswa berkumpul dan membuat keributan di belakang. Mereka hanya berbisik, saling tukar pandang, seolah mengharapkan sesuatu yang lebih seru.
"Kalian..."
Aku menggigit bibirku, dan menelan ludah yang terasa berat. Sekali lagi, yang bisa kulakukan adalah meminta maaf. Tapi sebelum aku melakukannya, seolah Chandra sudah tahu, tangannya berpindah dan menusuk leherku dengan cepat.
"Uhuk! Ueeeek... Uhuk! Uhuk!"
Tubuhku berontak. Beberapa saat kemudian, Chandra mengangkat tubuhku bersamaan dengan cengkeramannya yang semakin kuat.
"Uhhhh! K-K-Kumohon... Lepaskan... aku... tidak akan mengulanginya..."
Aku berjanji tidak akan mendekati Maya lagi! Bahkan aku bersedia menjadi budak untukmu selamanya! Tolong, lepaskan tanganmu. Sebentar lagi aku akan tidak sadarkan diri!
Hampir saja pandangan mataku menghilang dalam kegelapan. Tiba-tiba, seseorang muncul, menolongku. Dia menjerit, meminta seorang guru untuk segera ke sini. Jika terlambat sekian detik saja, aku akan mati di tangan Chandra baj***an ini! Apa itu tenaga dari seorang bocah SMA?
Momen-momen menegangkan ini berakhir ketika aku dibawa ke UKS. Chandra dan gengnya akhirnya mendapatkan hukuman dari para guru, hanya diskors. Rasanya, aku ingin menangis seharian.
Aku pulang. Saat sampai di rumah, rasa malas mendera, ingin segera merebahkan diri di kamar. Namun, tugas menyiapkan makan malam untuk ayah dan diriku tetap harus dijalani.
Begitu aku membuka pintu rumah, selembar kertas menarik perhatian, dengan tulisan 'Maafkan Ayah' membuat mataku berair.
"A-Ayah?"
Akhirnya, setelah sekian lama, Ayah pergi meninggalkanku sendirian entah ke mana. Kini, aku di rumah ini sendirian, tanpa keluarga, teman, atau sanak saudara.
"Bruk!"
Kakiku terjegal dan aku terduduk lemas di lantai, belum sempat berteriak. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi.
"Ting. Tong."
"Ayah!" Terbayang harapan, tapi ketika membuka pintu, sesosok gadis cantik dengan rambut panjang berdiri di sana, tersenyum tipis.
"...Maya?" Keningku berkerut, kebingungan melanda.
Setelah beberapa detik, saat memikirkan apakah semua ini nyata, Maya berbicara padaku.
"Maukah kau bermain berdua denganku?"
"Huh? A-Apa?"
Kesan pertamaku padanya adalah... 'aneh'. Tanpa ragu, dia datang ke rumahku. Dalam keadaan putus asa ini, aku sudah tak peduli apapun lagi.
"Hmmm, baiklah. Silakan masuk."
Jika setengah badanmu sudah terjun ke dalam air, maka sekalian saja aku menyelam. Aku tidak takut lagi. Maya adalah orang yang menyelamatkanku dengan melaporkan kejadian di sekolah, jadi tidak sopan jika aku mengusirnya.
Dengan semangat yang menggelora, Maya bertanya, "Tapi... apakah tidak masalah jika aku masuk ke kamar kakak?"
"Tidak masalah," jawabku cepat tanpa berpikir. Kami berdua melangkah ke kamarku dalam sekejap.
"Wow, jadi ini adalah kamar kakak?" Dia terkesan.
Aku memilih duduk di pojokan, tidak mengerti mengapa dia begitu takjub. Maya memperhatikanku, lalu menyampaikan, "Kau tahu, kupikir kamar seorang pria remaja akan sangat berantakan, tetapi ini berbeda."
Maya berusaha menghiburku. Dia bercerita tentang berbagai hal, seperti meja belajarku, gayaku, modis pakaianku dan bahkan masalah yang sedang dihadapinya. Hingga pada suatu momen, dia menghela napas.
"Um... Maukah kakak bermain game bersamaku?"
"Game?" tanyaku.
"Yup," jawabnya sambil mengangguk penuh harap.
Bagaimana bisa seseorang secerdas dia menunjukkan semangat seperti itu? Tapi... dia memang datang jauh-jauh hanya untuk mengajakku bermain game, ya?
"Maaf. Tapi aku harus menolaknya."
"Eh? Kenapa?"
"Aku tidak bisa bermain game."
"Tapi, ini adalah game terbaru dari Gamelabs.co, loh?"
"...Dari Gamelabs?"
Maya menyodorkan sebuah perangkat ke arahku, dan aku terkejut melihat antusiasme di matanya. Ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang berbeda...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!