🌺🌺🌺
"Aku ingin melihat laporan dari perusahaan tentang perkembangan yang dikendalikan Mamiku."
"Baik, Non, nanti akan saya kirimkan lewat email."
"Hmmm ..." Bulan tampak menimbang-nimbang, jika lewat email ia akan terus fokus kepada benda itu, apalagi jika sang Majikan, Guntur, tak segan-segan menyelonong masuk ke dalam kamarnya dan mengetahui dirinya memiliki ponsel, bisa saja lelaki itu akan melenyapkan harta berharga satu-satunya. Dan laporan berupa dokumen fisik--mungkin ada baiknya jika mereka bertemu lagi. "Saya mau salinannya aja, tidak usah kirim ke email."
"Baik, Non, tidak masalah." lelaki itu menurut
"Apa saja yang Mami lakukan? panggil aku Bulan aja, Stev."
"Eh?"
"Bulan saja, tidak ada embel-embel Non."
"Baiklah, Bulan. seperti yang saya katakan kalau Nyonya suka mengelak untuk bertemu klien diluar. terkadang saya sendiri yang harus turun tangan, atau mereka yang ke Perusahaan. banyak dari mereka yang kurang suka dengan sikap Nyonya, hanya saja kinerja kita yang memumpuni adalah alasan mereka masih bertahan."
"Banyak pegawai yang tidak suka dengan sikap Nyonya, dan saya sudah merasa jengah mendengar keluhan mereka jika perusahaan lebih baik diambil alih oleh anda."
Bulan mengangguk paham, tiba-tiba saja ia teringat akan kejadian kemarin pagi melihat sosok Mami yang bergandengan dengan lelaki lain disebuah Hotel
"Aku masih memikirkan jalan baiknya, Stev, tapi untuk saat ini kalian mesti ekstra sabar dengan sikap Mami."
"Baiklah. mungkin sebaiknya kita makan siang dulu, Non, eh--Bulan." ia terkekeh, Bulan menggelengkan kepala melihatnya
Kini keduanya tengah menikmati makan siang bersama setelah memesan dua piring makanan. tepukan di pundak sontak saja membuat gadis itu terlonjak kaget. ia menoleh ke belakang dan terbelalak kaget melihat Guntur datang menghampirinya. bagaimana bisa pria ini mengetahui keberadaannya.
"Tu---
"Hai, Sayang." sapa Guntur dengan senyum manisnya, langsung mendudukkan tubuh disamping Bulan lalu mengecup kening itu. Bulan ternganga, matanya membulat mendapat perlakuan ini didepan sang Assisten. Stev yang melihatnya sedikit kaget.
"Tuan Guntur, anda---" Stev menunjuk lelaki itu dan Bulan dengan menggerakkan jari telunjuknya seolah tengah bingung apa hubungan mereka.
"Bulan adalah kekasihku. kamu kenal sama kekasihku ini?"
"Tentu saja. Nona adalah pewaris Cakrawala Group, Tuan."
"Wow! jadi kamu punya perusahaan?"
Bulan mengangguk kikuk, sedikit mengendikkan bahunya yang dirangkul oleh pria ini.
"Bagaimana kabar, Tuan? setahu saja Perkasa Group kembali dipegang oleh Tuan Perkasa."
"Ya, baik-baik saja."
"Sayang, bisakah kita pulang?" Guntur menatap Bulan dengan sorot mata yang tegas, Bulan bergidik ngeri menatap mata itu
"Anda tahu dari mana saya disini?" bisik Bulan
"Kau lupa siapa aku?"
Bulan menelan salivanya dengan kasar. tentu saja ia tahu, pria psikopat yang pandai menguasai orang, apalagi tawanannya.
"Stev, aku pamit, ya ... kebetulan urusan kita sudah selesai." pamitnya, mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar pesanannya
"Baik, Non, Tuan, hati-hati." sahutnya
"Ini, aku titip sama kamu ya, bye!" Bulan menaruh uangnya diatas meja, kemudian melambaikan tangan pada Stev tatkala lelaki ini menyeret tubuhnya menjauhi meja itu
Guntur membuka pintu mobil untuk Bulan, mendorong tubuh wanita itu dengan kasar untuk masuk ke dalam kendaraannya. Bulan mendengus kesal, entah ada apa dengan lelaki ini lagi.
"Katanya boleh keluar, tapi kok kayak gak suka." gerutunya
"Tidak dengan lelaki, Bulan! kau tidak boleh ketemu dengan siapa pun." peringatnya, mendekatkan wajahnya kepada Bulan, mata melotot itu menghunus tajam padanya. Bulan bergidik ngeri, ia berusaha memundurkan kepalanya
"Mau apa?"
"Jangan bergerak!"
Bulan menurutinya, sesuatu didalam sana berpacu dengan sangat cepat melihat lelaki ini yang mungkin akan menyerangnya. benar saja, pinggulnya ditarik ke depan, bibirnya langsung dibungkam oleh lelaki ini.
"Eeeeemmh ..." Bulan meronta-ronta
Guntur melahap bibirnya dengan rakus, seolah sudah sangat lama tidak mencicipi manisnya ranum itu dan ia merindukannya, Bulan adalah miliknya seutuhnya. Guntur melepaskan pagutan mereka, bibir keduanya sudah basah dan terlihat sangat mendamba. Guntur menatap tengkuk leher wanita ini, tanpa permisi ia membenamkan bibirnya disana. menyapu setiap kulit dengan lidahnya, sesekali ia gigit dan memberikan tanda kepemilikan. ya, tubuh Bulan adalah miliknya. ia sudah terobsesi dengan tubuh itu dan tidak akan membiarkan miliknya didekati pria mana pun.
"Guntur .... eeeeemmh!" Bulan mendesah, sensasi geli yang penuh kenikmatan sudah menjalar di sanubarinya
"Kau milikku, Bulan. eeemhh ...."
"Kau mesum! aaah, sudah ..."
Guntur masih belum puas, ia membuka kancing baju milik Bulan, ingin mencicipi bukit kembar yang mendamba itu. ia tersenyum sensual melihat belahan dada yang menggoda, ini adalah miliknya sampai kapan pun. Guntur membenamkan wajahnya disana, mengecupnya dan memberikan sedikit sapuan hangat.
"Kita pulang." Guntur menarik kepalanya, ia ingin yang lebih intim saat tiba di Apartement
"Aku lapar."
🌺🌺🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Fenty Dhani
yah terciduk🤭
dapat hukuman yang enak²🤭🙈
2023-03-10
1
Mr.VANO
hukuman panas di atas ranjang,klo bulan buat kesalaan,tak buat salah lg di hukum apa lg buat salah
2022-05-27
0
Diana Lestari Purba Dasuha
udah mulai tumbuh benih" cinta
2022-05-07
0