🌺🌺🌺
"Bulan!!!"
Suara menggema terdengar sangat kuat memekikkan telinga milik gadis yang sedang berkutat di Dapur. sontak tangannya bergetar mendengar teriakkan yang timbul dari lantai dua. dengan sigap perempuan tersebut berlari terbirit-birit menuju asal suara
"I-iya, Tuan, ada apa?" tanyanya
"Mandikan aku!" perintahnya, mata Bulan membulat mendengarnya
"Isikan air, cepat!" teriaknya, yang masih asyik memandang kota pada pagi hari yang cukup terik itu
Bulan kocar-kacir berjalan ke kamar mandi, melakukan perintah yang entah kenapa spontan ia turuti. mengingat pisau membekas darah dan pula ancaman keluarga dilayangkan padanya. walaupun Mami tidak menyukainya, setidaknya dengan cara melindungi adalah wujud kasihnya kepada Mami.
Air telah terisi beserta aromaterapi yang menenangkan mampu membuat tubuh terasa wangi, Bulan dengan cepat menghampiri Tuannya yang hanya melamun menatap keluar jendela.
"Air sudah siap, Tuan."
Pria itu membalikkan tubuhnya menatap sang pembantu. "Mandikan aku!" titahnya
Bulan bergeming, ia bingung dengan permintaan lelaki ini. melihat Bulan tak bereaksi, membuat Guntur mendengkus kesal dan langsung meraup kedua pipi gadis itu.
"Ingat tugasmu? melayani urusan lahir dan batinku! atau tidak---" Guntur mencengkeram kuat rahang milik Bulan, membuat wanita itu meringis. apalagi melihat wajah mengerikan dari pria itu.
"Eeeggh ..."
"Akan ku hancurkan rahangmu dengan sekali rematan!" bisiknya dengan penuh ancaman, lagi-lagi Bulan menangis menahan sakit itu.
Guntur tersenyum miring, ia puas melihat air mata wanita tawanannya. puas melakukan itu, ia melepaskan tangannya dari wajah perempuan ini.
"Masuk!" teriaknya, giginya bergemeletuk kuat, Bulan mengangguk dan langsung melaksanakan perintahnya
Air hangat yang menenangkan, Guntur merebahkan kepalanya di pembatas bathup, kedua tangannya terentang bersandar pada pembatas itu. Sedangkan Bulan, si pelayan tawanan, menggosok tubuh itu dengan spons jaring. Ia membuang wajahnya ke arah lain, alih-alih ingin menghindari pandangannya dari dada kekar berotot itu, sungguh menggoda dan hampir menggoda imannya.
"Tatap aku!" Bulan terlonjak kaget, refleks langsung menatap wajah tampan yang tak pernah lagi tersenyum itu
"Buka bajumu!" titahnya, sontak saja Bulan ternganga dan menggeleng
"Tidak terima bantahan!" pekiknya, Guntur menegapkan tubuhnya
Bagaikan bersama wanita bisu, gadis ini sampai tidak berani bersuara karena gertakan yang diberikannya. Namun melihat wajah takut itu, menjadi kepuasan tersendiri untuk Guntur. Ia senang, melampiaskannya dengan gadis ini sungguh menyenangkan baginya. Apalagi menikmati keperawanan itu, seketika membuat anaconda miliknya kembali menegang.
"Sudah, Tuan." ucapnya dengan suara yang lesu
Guntur menatapnya, ia mendengus kesal karena tidak sesuai dengan keinginannya. "Semuanya! semuanya!"
"Tapi--"
"Kau jangan macam-macam padaku, Bulan! kau tidak tau siapa aku, jadi menurutlah!" teriaknya, wanita itu mengangguk cepat dan buru-buru membuka seluruh pakaiannya hingga polos
Guntur menggigit bibirnya memandang tubuh molek nan menggoda dihadapannya, V yang mulus, bukit kembar nan masih fresh dan kencang. Tak sia-sia pilihannya selama ini menguntit wanita tersebut.
"Duduk diatasku, dan bermainlah." titahnya dengan lembut
"Ma-maksudnya?" Bulan yang polos, tentu saja masih bingung
"Ah, aku lupa." Guntur memutar bola matanya. "Duduk disini," Ia menunjuk bawah perutnya
Dengan ragu, wanita itu menurut. Guntur yang sudah memegang miliknya, tangan satu lagi menuntun tubuh wanita itu untuk membenamkan miliknya kedalam sangkar itu. Bulan terbelalak, tubuhnya menegang merasakan inti tubuhnya ditusuk dengan kasar.
"Sakit ..." Bulan meringis, matanya mulai berkaca-kaca. Namun lelaki itu tetap tidak peduli, bagaikan tidak punya hati ini adalah hiburan tersendiri. Pria itu mencengkram pundak pelayannya, mulai menggoyangkan pinggulnya keatas hingga gadis ini ikut terguncang
"Aaaakh!" Bulan menggigit bibirnya, ini sesuatu yang lebih menyakitkan
"Bagaimana, nikmat, bukan?" tanya Guntur yang menatap lekat raut wajah mengiba dari wanita suci tanpa dosa ini
"Hentikan, Tuan." pintanya, ia ingin bangkit, tapi cengkeraman tangan itu menahan tubuhnya untuk tidak beralih sedikit saja
"Rileks, Sayang ... sekarang kamu yang bergoyang." titahnya
***
"Maaf, Tuan, saran saya anda jangan seenaknya dengan penanganan perusahaan ini. Saya tahu anda adalah Boss, tapi reputasi perusahaan ini sudah hampir hancur, walaupun hasil kerja kita masih stabil." jelas sang Assisten yang bekerja bersama Guntur
"Hampir hancur bagaimana maksud kamu?"
"Maaf, menurut saya konsentrasi anda telah terpecah dan anda juga lalai." ucapnya dengan nada lemah, Assisten itu menunduk tidak berani menatap kilatan amarah itu, ia tahu ini akan terjadi, tapi demi perusahaan ia siap menerima amukan dari Tuannya.
Perihal hasil kerja yang masih stabil tanpa adanya penurunan, tentu saja itu adalah hasil usaha keras Asistennya dan para pegawai lainnya. banyak mereka yang berasumsi bila atasannya memiliki masalah kejiwaan. hanya demi perusahaan yang telah berdiri lama, mereka berusaha untuk mempertahankan gedung ini.
Prang!!
Terdengar dentuman kuat yang berasal dari barang-barang diatas meja kerja, semuanya berserakan dilantai hingga membuat Assisten itu terkejut.
"Kau menghinaku rupanya, apa kau tidak tau siapa aku, hah!" Guntur mencengkeram kerah kemeja pria ini
"Sa-saya tau, Tuan." ucap gugup pria berusia tiga puluh tahun itu. tentu saja dia tahu bila atasannya ini sangat kejam, emosional dan temprament
"Kau, aku pecat!!"
🌺🌺🌺
...Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya 😉...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Amel Munthe
moga siguntur kesambar petir
2023-04-23
1
Fenty Dhani
flas back...penasaran...bagaimana Guntur sampai bisa seperti itu??🥺
2023-03-09
0
Rosmawati Intan
menengang kan.
2022-09-29
0