🌺🌺🌺
"Pintar!" Guntur tersenyum penuh arti sambil menepuk tangannya pelan, menatap gadis tawanannya sudah berhasil keluyuran tanpa sepengetahuannya. terlebih lagi, mencuri kesempatan disaat ia terlelap.
"Maaf, Tuan, saya hanya membeli makanan malam untuk kita." ucapnya, menunjukkan kantung kresek yang berisi dua box makanan
"Alasan!" Guntur menarik tangan Bulan dengan kasarnya, membuat gadis itu terhuyung membentur tubuh kekar milik majikannya. "Masak, kan, bisa! kenapa harus beli diluar! bilang saja kamu baru ketemu dengan pria itu, kan!" teriak Guntur, menangkup kedua pipi Bulan dengan kerasnya
"A-aku nggak ada bertemu dengan pria itu, aku bersumpah demi apapun." dengan susah payah ia berkata kebenarannya. Sorot mata lelaki ini seakan ingin membunuhnya saat itu juga
Guntur menatap kilatan cahaya netra milik wanita itu, mencari celah kebohongan didalamnya. Ia selidiki, mata itu menunjukkan sebuah kejujuran yang memang benar adanya seperti itu.
"Eeeeengh!" tubuh Bulan tersungkur ke atas sofa, Guntur dengan kasar menjatuhkan tubuh itu diatasnya
"Awas kau berani macam-macam dibelakang ku, Bulan!" peringatnya dengan mengacungkan jari telunjuk, menegaskan hal itu kepada gadis ini
"I-iya." Bulan mengangguk sembari menundukkan kepalanya
Sorot mata elang milik Guntur beralih kepada sebuah kantung yang digenggam erat oleh tawanannya. Seketika saja air liurnya terasa penuh, segera ia telan dengan kasar. Sepertinya pria ini tengah tergoda dengan makanan yang dibawa oleh tawanan spesialnya ini.
"Apa yang kau bawa? bukalah kalau memang untuk dimakan!" gertaknya
"Ck! dia selalu saja berteriak." gumam Bulan tanpa mengeluarkan suara
Bulan menaruh dua box itu diatas meja, membuka tutupnya hingga kepulan asap tipis menguar dengan bebasnya. mengantarkan aroma makanan memasuki lubang hidung sepasang manusia ini. Guntur mengendus, aromanya sangat wangi dan menggoda perutnya
"Nasi goreng?"
"Iya, Tuan. maaf, cuma bisa beli di pinggiran jalan."
"Hm! pergilah, kau ambilkan sendok." titahnya, membenamkan tubuhnya diatas sofa. sembari menunggu Bulan, Guntur menyalakan televisi untuk memecahkan keheningan diantara mereka. Jangan sampai ia mengamuk lagi, dirinya juga merasa tersiksa setelah menyiksa orang atau melampiaskan kekesalan pada objek lain.
Guntur terpaku melihat sesosok yang ia kenal dilayar televisi, kedua tangannya mengepal menahan amarah yang kembali bangkit didalam raganya. giginya bergemeletuk kuat saat senyum itu ditunjukkan kehadapan sorot kamera.
Bulan datang menghampiri, keningnya mengernyit heran menangkap aura panas dari diri seorang Guntur. ada apa lagi dengannya? tidak bisakah agak sehari saja dia bersikap normal layak orang umumnya? Bulan menoleh ke arah televisi, seorang pria parubaya berparas bule tengah mengadakan konferensi pers dengan sorot cahaya kamera yang menyinari wajahnya.
"Ini sendok dan minumnya, Tuan." Bulan mencoba mengalihkan perhatian pria itu, namun Guntur tetap bergeming, tidak mempedulikan keberadaan pelayannya
Ada apa dengannya? batin Bulan
"Tuan, anda baik-baik saja?" Bulan menyentuh pundak lelaki ini, sedikit memberikan tepukan disana
Guntur terlonjak, menoleh ke samping menatap Bulan. "Ayo makan." ajaknya
Pria itu mengangguk, mematikan layar televisi tatkala sudah tidak berminat lagi untuk menonton. sedangkan Bulan, ia masih penasaran mengapa pria ini tampak emosi menatap layar kaca itu.
Ah, masa bodoh! disetiap waktu, raut wajah dia emang tidak pernah berubah. batinnya
***
Sebelum kembali tidur, Bulan merogoh obat yang sempat ia beli tadi. bergegas meminum pil tersebut, namun kegiatannya terhenti tatkala mendengar keributan tepat diatas kepalanya. dimana, letak kamar Guntur ada diatas kamarnya.
Praang!!!
Bulan terlonjak kaget, tanpa sengaja butiran pil yang ia pegang seketika terjatuh ke lantai. dengan sigap, wanita itu bergegas keluar kamar untuk memeriksa kondisi dilantai atas. perasaannya sedang tidak nyaman, lagi-lagi pria sakit jiwa itu berulah lagi.
"Kemana orang tua pria ini, bisa-bisanya membebaskan orang sakit kayak gini." gumam Bulan, mempercepat langkah kakinya menuju kamar tersebut
Bulan terpaku melihat isi kamar yang sudah seperti kapal pecah. barang berceceran dimana-mana, cermin rias telah pecah berkeping-keping berserakan diatas lantai, sedangkan pria itu mengambil sesuatu dari dalam laci dan memasukkannya kedalam mulut.
"Tuan kenapa mengamuk terus? apa yang menyebabkan anda seperti ini sebenarnya? seharusnya orang tua anda tahu tentang kondisi ini, tidak membiarkan anaknya berbuat sesuka hati. kalau kayak gini bukan orang lain aja yang terluka, tapi anda juga." omel Bulan sembari memungut serpihan kaca yang berserakan. entah punya keberanian dari mana sampai mengomel sepanjang itu, dirinya hanya menyampaikan segala sesuatu yang sudah mengganjal dihatinya.
Biarlah pria itu memarahinya, tanpa melakukan kesalahan pun ia juga acap kali dibentak. dan kini--lebih baik ia memilih untuk menyadarkan akal sehat pria itu.
"Bukan urusanmu! cukup kau memasak, menyapu, mencuci pakaianku, dari pada ikut campur sama urusanku." sahut Guntur yang duduk termenung menatap gemerlap kota diluar sana
"Sudah tidak bisa dibiarkan kalau anda temprament seperti ini, anda butuh teman untuk mencurahkan isi hati anda, bukan melampiaskan sama benda mati atau pun orang yang tidak bersalah."
Bulan berdiri, berjalan mendekati pria itu lalu mendudukkan tubuhnya disamping Guntur.
"Anggap saya teman anda, anda bisa curahkan hati kepada saya. tidak baik juga menyimpannya sendiri, kalau ujungnya berakhir seperti ini." Bulan menatap iba, menyentuh pundak Guntur sembari mengusapnya.
"Hiks hiks hiks ....."
🌺🌺🌺
Kok otor mewek sih endingnya 🤧😭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Fenty Dhani
y benar...butuh teman curhat dia☺️buat Guntur senyaman mungkin bulan☺️
2023-03-09
1
Mr.VANO
pil kb sdh di mkn bulan
2022-05-27
0
Mara
Makin seru ... lanjut 😘
2022-04-23
0