🌺🌺🌺
Rembulan menatap langit-langit kamar yang remang dengan pandangan kosong, mereka baru saja selesai bercinta setelah waktu menunjukkan pukul delapan malam. Berjam-jam pria ini menghajarnya tanpa henti, membuat tubuhnya terasa pegal semua karna ulah itu. Bulan menoleh ke sampingnya, pria kejam ini sudah terlelap dengan begitu pulas. Melihat wajahnya saja, sorot kebencian mengarungi perasaan Bulan. bagaimana tidak, ia kerap kali tidak mendapatkan perlakuan baik maupun lembut. jika pun ada secercah kelembutan, pasti berakhir dengan kekerasan. Bulan menyeka air mata yang keluar dari pelupuknya, ia harus kuat dan tegar menghadapi cobaan yang diberikan ini.
Tiba-tiba Bulan teringat akan nomor ponsel yang ia berikan kepada Assisten Stev, apakah pria itu sudah menghubunginya atau belum? Bulan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, dengan tubuh yang lesu ia berusaha untuk tetap kuat melangkah walaupun tergopoh-gopoh. area sensitifnya terasa sangat nyeri sekali, menuntunnya untuk berjalan pelan.
Kini ia tiba di kamar miliknya, menyalakan lampu hingga terang benderang membias wajahnya.
"Walau tidak bisa bertemu, setidaknya aku harus bisa berkomunikasi lewat ponsel. Aku harus tahu apa yang terjadi dengan perusahaan. kenapa aku selemah ini, Ya Allah?" gumamnya, sambil mencari ponsel didalam himpitan pakaian
Bulan menyesali akan sifatnya yang terlalu lembek terhadap orang-orang sekitarnya, termasuk pada Mami yang menyingkirkan dirinya meneruskan perusahaan sebagai CEO. andaikan dirinya keras, pasti sekarang ini juga hidupnya akan baik-baik saja tanpa masalah. Otak, tenaga, dan hidup akan ia kuras hanya untuk mengurus perusahaan. Tidak seperti saat ini, dua kali ia terjebak dalam perangkap singa yang menghajarnya secara membabi buta.
Ada pesan di aplikasi hijau, Bulan bergegas memeriksanya. dan ternyata benar, itu adalah pesan dari Assisten Perusahaan.
"Nona, ini nomor saya. Apakah kita tidak bisa bertemu? dan keadaan anda, kenapa kabur dari rumah besar?"
Pesan yang cukup memprihatinkan, akan ada banyak cerita yang ingin Bulan sampaikan kepada pria itu, akan ada banyak keluhan pula yang akan ia lontarkan, namun itu hanya tertanam didalam hatinya. entah sampai kapan, Bulan hanya bisa menghela nafas dalam.
"Aku baik-baik saja, Stev. jangan katakan pada Mami dan siapa pun, jika aku bersama orang lain." balasnya
Bulan menghembuskan nafasnya dengan kasar, pikirannya berkelana menatap area kamar. tak berapa lama pesan masuk kembali muncul diatas layar ponselnya. Bulan menunduk, membaca pesan tersebut.
"Maaf, Nona, saya sempat mengikuti anda, tapi mobil itu melaju kencang, saya khawatir. apakah benar anda baik-baik saja?"
"Kamu mengikutiku?? Jangan lancang, Stev! aku baik-baik saja jadi jangan cemaskan aku! Ada apa dengan perusahaan?" balasnya, lalu mengirim pesan tersebut
Bulan memejamkan matanya, menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang dengan kasar. Terdengar hembusan nafas dari mulutnya, merasa tidak suka dengan sang Assisten yang mencoba untuk mengikutinya.
"Maaf, Stev ... jangan sampai kamu tahu di mana tempat tinggalku. dirimu akan dalam bahaya jika sampai mendatangi tempat neraka ini. Cukup aku saja yang menjalaninya, demi melindungi keluarga dan orang terdekatku." lirih Bulan, berbicara pada udara diatas wajahnya
"Astaga! belanjaan ku belum dimasukkan kedalam kulkas!" Bulan terlonjak kaget tatkala baru mengingat barang belanjaannya
Buru-buru wanita itu ke dapur untuk menyimpan segalanya kedalam kulkas maupun tempat penyimpanan. Mengingat ada ayam fillet, daging dan sayuran lainnya, akan tidak bagus jika tidak disimpan ke dalam tempat pendingin.
Beberapa menit kemudian, tugasnya telah selesai. Area sensitifnya mulai terasa perih lagi karena kegiatan barusan yang terlalu terburu-buru.
"Oh .... perihnya." rintih Bulan, menyentuh pangkal pahanya yang terluka akibat percintaan yang begitu menyiksanya
"Sepertinya aku harus membeli pil KB, bisa saja aku mengandung anak psikopat itu, tidak akan!" Bulan menggeleng cepat, secercah janin yang hinggap di rahimnya mulai menguasai pikiran.
***
Bulan berusaha untuk berjalan seperti sedia kala, hingar bingar suasana malam begitu ia rindukan. Bisa menghirup udara bebas walau tercemar, setidaknya ia bisa merasakan nikmatnya kehidupan. Bukan terpenjara didalam sangkar hitam yang menyiksa, disana bagaikan robot hanya bisa mengangguk menuruti Tuannya. dan malam ini, ia akan ke Apotik untuk membeli obat penting itu. Beruntungnya, lelaki kejam tersebut tengah terlelap pulas tanpa terganggu sedikit pun.
"Aku merindukan Dunia, aku merindukan makam Papi, aku merindukan Bintang, dan--aku merindukan pelukan Mami dan kasih sayangnya. hiks hiks hiks ...." lagi-lagi Bulan terlihat cengeng dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia segera mengusapnya agar pandangan tetap terlihat jelas tanpa ditutupi air mata yang tergenang.
Ia harus tegar dan kuat, ya, dirinya mengangguki itu seolah setuju akan perkataan batinnya.
Beberapa menit kemudian dengan berjalan kaki, gadis cantik tersebut telah tiba di pelataran Apotik.
"Pil KB nya, ada, Mbak?"
"Berapa papan, Nona?" tanyanya sambil mengambil sekotak pil KB yang berisi beberapa papan.
"Sekotak itu saja, Mbak." ucapnya, Bulan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. beruntung saja dirinya memiliki tabungan sebelum blackcard miliknya diambil oleh Mentari, kakak kandungnya yang licik dan sombong.
Bulan tiba di Apartement milik Tuannya yang kejam, bergegas menekan tombol password di panel pintu. diam-diam saat dirinya dan Guntur akan masuk ke dalam Apartement, Bulan mencoba untuk mencuri password dengan sorot matanya.
Ceklek
Pintu terbuka, dan saat itu pula ia terdiam melihat sorot mata elang yang tajam, menatap lekat dirinya tepat di depan pintu.
"Pintar!"
🌺🌺🌺
Apa yang akan terjadi setelahnya? 😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Fenty Dhani
waaaduuuhh😱ketahuan🥺
2023-03-09
1
Mr.VANO
kasihan bulan.sdh jatuh tertimpa tangga pula.serumah dg org gila
2022-05-27
1
Mara
Waduh ketahuan.... diapain lagi nih😱
2022-04-23
0