🌺🌺🌺
Sesuatu terasa berat tatkala ada yang menimpa dirinya. Ia mendesis, tubuhnya tak bisa digerakkan. Ia buka kelopak mata perlahan-lahan, sontak saja terperanjat kaget melihat lelaki ini tidur disampingnya. Mata Bulan membulat, ia berada dibawah kungkungan pria ini. Kaki kekar itu mengunci kakinya, dan tangan pria itu juga mengunci dadanya. Bulan dapat merasakan embusan nafas mengenai pucuk rambutnya
"Ngapain dia disini, cuma pakai kolor aja lagi." dengusnya, Bulan dapat merasakan area pangkal paha pria ini.
Sontak matanya membulat, pasti Guntur lagi-lagi menggerayanginya.
"Oh tidak!" Ia mengangkat sedikit kepalanya, menatap ke bawah untuk melihat tubuhnya. seketika saja ia bisa bernafas lega, pakaiannya masih utuh, tapi---
Bulan mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, sesuatu dapat ia rasakan dibawah tubuhnya.
"Ah, kolorku nggak ada." rengeknya
"Mesum!!" umpat Bulan menatap sinis pada pria yang masih memejamkan mata. Namun tatapan sinis itu berubah heran, dahinya berkerut tatkala yang ia umpat malah tersenyum simpul
Lagi-lagi wanita itu terlonjak dan terpelongo, tangan Guntur menarik tubuhnya untuk mendekat lagi padanya. Hingga wanita itu berada lekat pada dada telanjang pria ini. Bulan meronta, ia ingin dilepaskan.
"A-aku mau masak, lepas! apa yang anda lakukan disini."
"Tidur. apa kau tidak lihat?" sahutnya, masih mata terpejam
"Tidak hanya tidur, tapi anda juga memperkosaku." Bulan memutar bola matanya
Lelaki itu malah terkekeh tanpa ada rasa bersalah
"Peluk aku, aku ingin mendapatkan kehangatan yang tulus." pintanya
"Hah?"
Guntur kembali mempererat dekapannya, membuat Bulan meringis.
"Ya ya baiklah, longgarkan dulu, aku merasa sesak." desisnya, Guntur melonggarkan pelukan itu
Bulan menuruti keinginannya, ia peluk pria yang kekurangan kasih sayang ini dengan penuh rasa tulus, seolah ia tengah merangkap menjadi sosok ibu untuknya. Bulan membenamkan wajah di dada bidang lelaki tampan ini, bulu halus membuat kulitnya terasa geli, tapi itu sangat menyenangkan. Indra penciumannya menangkap aroma tubuh ini, ia hirup dalam-dalam tubuh itu, sangat wangi sekali dan menenangkan. Bulan mengulum senyum, semakin ia eratkan pelukannya
Sedangkan Guntur, ia seolah tengah dicintai walaupun kenyataannya tidak. Nyatanya ini adalah sikap kepedulian Bulan dan patuh akan dirinya. Guntur merasa nyaman, tubuh hangat wanita ini mampu menentramkan jiwanya.
"Sudah, ya ..." Bulan mendongak, dirasa telah cukup lama ia berada didekapannya. pekerjaan rumah juga sudah menanti diluar sana
"Baiklah." Guntur menguraikan pelukannya
***
"Aku akan pergi keluar, sore nanti aku kembali." Guntur membersihkan area mulutnya setelah sarapan selesai
"Mau ke mana?" Bulan memungut alat makan kotor milik keduanya
"Kembali ke pekerjaan ku. kalau mau pergi, ingat! jangan pernah mengadu!" peringatnya
"Jadi aku boleh keluar sebentar?" mata Bulan tampak berbinar-binar
"Ya! setelah pekerjaan rumah beres, dan ingat ancamanku!"
"Baiklah, aku mengerti." Bulan mengangguk paham
"Ah iya, ini gajimu, aku baru ingat." Guntur mengeluarkan sesuatu berupa amplop dari saku kemejanya, ia taruh diatas meja makan dan menyodorkannya kepada Bulan
Bulan tertegun melihatnya, ia tersenyum kepada sosok pria yang telah pergi meninggalkannya. "Terima kasih!" teriak gadis itu
Guntur bergegas keluar dari Apartementnya, meninggalkan Bulan yang masih terpaku ditempat menatap punggung majikannya hingga menghilang dari balik sekat. semua alat penyamarannya sudah berada didalam mobil, ia tinggalkan disana tatkala aksi penculikan tadi malam ia urungkan. kini, pasti tiga tawanannya itu sudah terperangkap di dalam teritorialnya. sebuah tempat rahasia yang berada ditengah hutan, tentu saja tidak ada yang mengetahui tempat tersebut.
Hampir satu jam lamanya ia berkendara, sempat singgah ke bengkel milik anak buahnya untuk mengganti mobil. kini Guntur telah tiba disebuah bangunan kuno nan kumuh, dijaga oleh dua orang anak buahnya yang bertugas memantau Cctv disetiap sudut ruangan dan pula jalan masuk ke dalam Hutan. agar mereka lebih cepat mengetahui jika saja ada penyusup atau penjelajah yang memasuki area mereka. akan dalam bahaya jika tempat Markas milik Guntur akan diketahui oleh seseorang. dan mereka akan berakhir kedalam jeruji besi.
Ceklek
Mendengar bunyi pintu yang terbuka, kedua anak buahnya yang sedang sarapan sembari memantau monitor, sontak berdiri dan membalikkan tubuh ke belakang menyambut kedatangan Tuannya.
"Selamat pagi, Tuan."
"Ya. apa sudah dipastikan penculikan itu aman tanpa ada yang memantau?" tanyanya
"Sudah dipastikan aman, Tuan. tidak ada yang curiga sama sekali."
"Bagus!"
Ya, roda mobil yang ditumpangi para wanita itu sengaja mereka kempeskan hingga ditengah perjalanan pergerakan mobil terasa berguncang. bersyukurnya pada tengah malam disebuah jalanan yang gadis-gadis itu lewati sudah tampak lengang dan hening, hingga anak buahnya berpura-pura empati atas kebingungan yang melanda tiga gadis ini.
Anak buah yang dikerahkan oleh Guntur, mulai melakukan tugasnya. memberikan tumpangan kepada mereka yang malang ini. sungguh para wanita ini tidak memiliki rasa takut, menerima dengan senang hati atas kebaikan pria ini. beruntung saja Guntur memilih pria yang tak kalah tampan darinya walau sebagian wajah ditutupi oleh masker. alih-alih pria itu jerawatan, merasa tidak percaya diri bila berhadapan dengan ketiga wanita cantik ini. sungguh lucu, padahal sekelompok geng Guntur tidak akan memperlihatkan wajah dihadapan calon tawanannya, bahkan mantan tawanan sekali pun demi keamanan diri sendiri.
🌺🌺🌺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Fenty Dhani
💪💪💪💪💪💪
2023-03-09
1
Putra Andhika Dika
pembunuh berdarah dingin
2022-05-26
0
Mara
Seru bgt 😘
2022-04-23
0