🌺🌺🌺
"Kenapa lama sekali! dan--siapa lelaki tadi!" gertak Guntur, ia sempat menajamkan penglihatan dari balik pintu transparant Supermarket tersebut untuk memerhatikan gadis disampingnya ini, tatkala terlalu lama sekali berbelanja hingga membuatnya sudah tidak tahan lagi berada ditempat ini
"Kepercayaan keluargaku, saya nggak mengadu kok, sumpah." Bulan mengangkat tangannya, membentuk jari seperti huruf v
"Sempat kamu mengadu, semua orang terdekatmu akan terancam!" ancamnya, segera menekan pedal gas mobil, meninggalkan pelataran tempat itu
"Saya janji tidak melakukannya." lirih Bulan
Dengan nafas yang menggebu-gebu akibat kemarahan yang masih menjalar di sanubarinya, Guntur menyalib kendaraan lain untuk bisa tiba di Apartement dalam waktu yang cepat. Sesuatu menuntunnya untuk menghajar gadis ini, entah akan melukainya atau mungkin merusak kehormatannya.
Bulan menoleh padanya, tubuhnya terhuyung ke samping tatkala pria itu terlalu agresif sekali dalam mengendarai kendaraan beroda empat ini.
"Bisa pelan-pelan saja, Tuan?" Ia mencoba untuk bernegosiasi
Lelaki itu melirik sekilas, tanpa ada sepatah kata pun.
Disisi lain, Tuan Perkasa yang kini kembali menjabat sebagai Presdir di perusahaannya, mulai mengadakan rapat bersama para investor. Ia tidak ingin ada yang menarik sahamnya dan berakibat fatal untuk usaha kerasnya selama ini. Putranya benar-benar keterlaluan, menurut cerita sang Assisten, bila Guntur sering datang terlambat, tidak ingin bertemu klien, bahkan menghadiri rapat saja ia tidak lagi fokus. Sungguh membuatnya resah sebagai Assisten dari pewaris Perkasa Group.
Para investor sudah tiba di ruangan rapat, semuanya telah berkumpul disana. sebelum bertemu mereka, sungguh membuat Tuan Perkasa merasa deg-degan, pasalnya ini bukan masalah sepele, perusahaannya tengah diambang-ambang kehancuran.
"Mari, Tuan." sang Assisten membuyarkan lamunan Tuannya
Tuan Perkasa mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk menetralisirkan perasaannya kali ini. ia mengangguk dan bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.
"Saya perwakilan dari Tuan Guntur, mohon maaf atas kelalaian putra saya dalam mengolah Perusahaan. mulai dari sekarang, saya pribadilah yang akan menjabat sebagai CEO di Perusahaan ini sampai putra saya bisa kembali normal dan mendapatkan kepercayaan kita semua."
"Saya berharap Tuan-Tuan tetap berkenan untuk menjunjung kerja sama kita, meraih keuntungan yang diharapkan tanpa adanya penurunan yang signifikan. jika boleh, bisa disampaikan atas apa yang dirasa tidak berkenan di hati? terima kasih." Tuan Perkasa kembali duduk setelah menundukkan kepalanya
"Maaf, Tuan, kita hanya kurang respect tiap kali bertemu dengan putra anda, dan kami berfikir bila pemimpin yang tidak fokus akan perusahaan ini, lambat laun pasti akan jatuh juga. walaupun sampai saat ini, Perusahaan masih stabil, tapi kami yakin bila suatu saat nanti akan berdampak buruk akan kerja sama kita."
"Dan saya tidak akan menarik saham, tapi dengan satu syarat."
Cukup lama rapat berlangsung, pembahasan penting yang mereka bicarakan. Tuan Perkasa harus menyanggupi syarat-syarat yang diutarakan oleh mereka demi kemajuan Perusahaan ini. rapat pun diakhiri dengan hati yang lega, setidaknya kesempatan bisa ia peroleh kembali dan memanfaatkannya dalam kinerja yang sebaik-baiknya.
"Dika."
"Iya, Tuan?"
"Cari tahu penyebab Guntur seperti itu. saya merasakan anak itu sedang mengidap suatu penyakit." titahnya
"Maaf, Tuan, ini hanya pandangan saya dan para pegawai. bukan maksud menghina, tapi kami merasa beliau tengah mengidap penyakit kejiwaan." bisiknya
"Ya, kamu benar. cari tahu itu!" perintahnya, diangguki oleh sang kepercayaan
Tuan Perkasa memejamkan matanya sejenak, dadanya terasa sesak bila mengira putranya mengidap penyakit seperti itu. entah apa yang terjadi, padahal dirinya mendidik dengan baik tanpa adanya paksaan atau tekanan. melalui naluri sang Ayah, ia memang merasakan pria itu tidak sedang baik-baik saja.
Di Apartement xxx, sepulangnya dari Supermarket, Guntur langsung menggerayangi tubuh molek milik pembantunya, melahapnya dengan rakus tanpa ada kata ampun. Bulan sudah merasa jengah, dirinya selalu menjadi bual-bualan hasrat oleh pria ini. dirinya kerap seperti itu, seolah sesuatu tengah menimpanya.
Suara erotis memenuhi ruangan kamar milik Guntur, peradukan dibawah sana sangat mengguncang tubuh telanjang Bulan. Guntur terus menghantam goa mulus yamg masih rapat ini, entah kenapa masih rapat padahal cukup sering ia menghangatkan rahim wanita itu.
Apakah miliknya sangat kecil? memikirkan hal itu, sulut emosi kembali menyerangnya. memorinya kembali dipenuhi oleh kejadian beberapa tahun lalu, yang membuat dirinya merasa insecure.
"Aaaaah ..... pelan, Tuan." erang Bulan, pria itu sempat melamun hingga tidak sadar temponya teramat kencang.
"Apa milikku kecil, Bulan?" lelaki ini menghentikan aksinya sejenak
Wanita itu menggeleng, entah kecil dari mananya. jika kecil, pasti tidak sesakit ini, pikirnya.
Guntur kembali melanjutkannya, semakin kencamg dan kencang. sudah beberapa kali mereka mencapai ******* yang begitu membuatnya melayang-layang ke atas awan.
"Sudah, Tuan ... eeengh!"
"Tidak akan, sampai aku puas! kita akan melakukan banyak gaya, Bulan tersayang." Guntur tersenyum miring, langsung membalikkan tubuh gadis ini, membelakanginya.
Lelaki sakit jiwa! psikopat! tidak punya hati! umpat Bulan, menahan perih dibagian sensitif yang belum pernah disentuh
🌺🌺🌺
...Gimana sih buat yang kejam-kejam, guys? Otor nggak sanggup kalau untuk Bulan 🤧😪...
Jangan lupa rutinitas wajibnya ya 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Fenty Dhani
makin penasaran...siapa sebenarnya yang menghina Guntur...hingga dia berubah bagai monster??🥺
2023-03-09
1
ossy Novica
Apa mungkin dia pernah di hina wnita kalo Mr P nya kecil karna itu Guntur jadi keras
2022-07-02
0
Mara
Ayah selamatkan anakmu segera😔
2022-04-23
0