"Assalamualaikum" seru Tania dan Albert bersamaan.
"Wa'alaikumussalam"
Tania dan Albert menyalami tangan Arya dan Nita yang kebetulan ada di ruang tamu.
"Kia mana? "
"Udah kangen aja. Baru juga berapa jam gak ketemu, Nia" goda Arya.
Albert hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah tunangannya itu.
"Ish, Ayah. Belum puas tau kangen-kangenannya sama Kia"
"Wes arep nikah, kok kelakuane koyok arek cilik, piye toh nduk"
"Ayah ihh"
"Malu, Nia"
Tania melirik ke arah Albert yang tersenyum tipis, setelah itu dirinya cengengesan tak jelas.
"Lelenya sudah sampai kan, Bun? " tanya Albert.
"Sudah dieksekusi sama Zakia" jawab Nita sekenanya.
"Apa nih bawa-bawa nama Kia? " Zakia langsung bersuara saat namanya disebut.
Semuanya menoleh ke arah Zakia. Zakia tampak fresh dengan baju rumahannya. Gamis polos dipadu dengan jilbab instan nya, simple namun begitu cantik untuk Zakia.
"Belum makan siang? "
"Nunggu kamu, nak. Makanya belum Bunda ajak ke meja makan"
"Ayolah ke meja makan. Harusnya itu gak usah tunggu Kia, Bunda. Kalo laper ya langsung makan" ucap Kia sambil berjalan ke arah meja makan.
"Ini jadi berapa, Kak? " tanya Kia pada Albert.
"Apanya? "
"Harganya kakak ipar"
"Gratis ,kan buat adik ipar"
"Jangan gitu lah, besok Kia ada rencana masak lele lagi soalnya. Kalo gak bayar ya gimana nantinya"
"Gak gimana-gimana Kia, udah kamu itu adik Mbak berarti juga adiknya Albert, jadi terima aja" omel Tania.
"Huft, makasih loh kak"
"Iya sama-sama"
"Jadi ini apa? "
"Masakan, Nia. Kamu liatnya apa? " tanya Arya bingung.
Sembari menunggu istrinya menyiapkan air untuk dirinya, mereka akan mengobrol sebelum acara makan dimulai.
"Maksud Nia itu, dimasak apa gitu Yah"
"Lele nya Kia buat dua varian dulu. Mungkin sudah ada yang jual sih, tapi ini Kia buat versi Kia sendiri. Ini ada lele pedas manis, kalau cumi pedas manis itu sudah biasa jadi Kia buat beda. Terus yang ini lele krispi, mungkin diluaran banyak yang jual. Tapi fokus Kia disini pada sambelnya. Nanti Kia mau buat beberapa macam sambal. Ini Kia buat tiga ada sambal bawang, sambal matah, sama sambal tomat"
"Wuhuhu enak nih. Buat pecinta pedas kayaknya enak nih Kia" Zakia hanya mengangguk menjawab perkataan Nia.
"Ini cuminya Kia buat sate, dalemnya itu bisa diisi apa aja. Ini diisi bakso sama Kia, bisa juga nanti diganti yang lain kok"
"Keren, kita tinggal cicipi. Nanti bahas restorannya setelah makan" ucap Tania yang diangguki lainnya.
Mereka memulai ritual makan siang dengan hasil masakan Zakia. Tampak semuanya menikmati makanan yang Zakia olah. Zakia memang pandai memasak, tak hanya kue yang mampu ia olah dengan berbagai kreasi. Masakan berat pun bisa jadi ditangannya.
Setelah selesai mereka berkumpul kembali di ruang tamu, guna membahas kelanjutan rencana Zakia dalam membuka restoran.
"Sudah dapat tempat yang cocok Kia? "tanya Arya.
"Alhamdulillah udah Yah. Lokasinya strategis, Kia suka"
"Rencananya mau disewa atau gimana? "
"Sewa dulu kayaknya, Yah. Kita lihat progresnya dulu, jika terus meningkat ada kemungkinan Kia beli. Tapi jika belum mencapai target yang Kia pasang, kayaknya nggak dulu deh Yah"
"Ayah bisa bantu loh, nak"
"Kia ingin hasil jerih payah Kia sendiri Ayah"
"Berarti gak jadi kerja dong kamu, dek? " tanya Tania.
"Kita lihat aja nanti, Mbak. Kalau memungkinkan untuk kerja kenapa nggak? "
"Ojo kabeh dilakoni, nduk"
"Nggih Bunda. InsyaAllah Kia mampu"
"Bunda percaya sama Kia" Nita mengelus punggung Zakia.
"Kia, Mbak bisa minta tolong? "
"Selagi Kia mampu Mbak"
"Cariin kain buat seragam nanti dong"
"Buat acara nikahannya? " Tania mengangguk mengiyakan pertanyaan Zakia.
"Kamu cari kain nya aja, nanti langsung dikirim ke penjahit nya"
"Yang cewek kan otomatis pakai kebaya, Nia" tanya Nita.
"Kebayanya kita beli jadi Bunda, tapi yang warna senada. Toh keluarga inti kita cuma beberapa orang aja kan, terus dari keluarga Albert udah pesen kebayanya. Cuma ya tinggal kain batik nya aja" jelas Tania.
"Cari kain batik berarti ya, ada lagi? "
"Itu dulu deh, Kia" Zakia hanya mengangguk.
Zakia berdiri sedikit menjauh untuk menghubungi seseorang perihal kain batik yang dibutuhkan oleh Tania.
"Saya butuh kain batik dalam jumlah yang banyak. Tolong kirim gambar kain yang stok nya cukup banyak ya"
"Untuk acara apa, Bu Zakia? " tanya orang di seberang sana.
"Untuk acara pernikahan, kemungkinan dipakai saat akad nikah. Saya mau yang kalem ya motifnya"
"Siap, Bu. Saya langsung ke gudang buat cek barang yang ibu mau"
"Saya tunggu ya, mumpung calon suami kakak saya masih disini"
"Siap Bu"
"Terimakasih sebelumnya, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Zakia baru saja selesai menghubungi bawahannya. Ya, Zakia memiliki pabrik tekstil sendiri. Tidak ada yang tahu bagaimana sepak terjang seorang Zakia saat di luar negeri.
Saat di luar negeri Zakia iseng mengembangkan pengetahuannya di bidang IT. Menciptakan sebuah aplikasi, meretas atau apapun yang berhubungan dengan IT dia lakukan. Hingga salah satu temannya meminta bantuannya, siapa yang menyangka jika temannya malah mempromosikan dirinya pada perusahaan milik keluarga nya. Dari situlah saldo tabungan Zakia membengkak, setiap bulannya selalu bertambah. Karena ada saja yang meminta bantuannya dalam hal IT, tak lupa pula mereka memberikan imbalan yang fantastis menurut Zakia.
Tahun lalu tepatnya saat Zakia sedang berselancar dengan ponselnya, Zakia mendapati perusahaan tekstil yang hampir collaps. Setelah menimbang cukup lama dan melihat progres perusahaan tersebut selama beberapa tahun terakhir. Akhirnya Zakia mengakuisisi perusahaan tersebut menjadi miliknya. Namun, Zakia tak menduduki kursi pemimpin. Dia hanya bergerak dibalik layar.
Perusahaan yang awalnya sudah siap gulung tikar, perlahan merangkak naik kembali saat mendapat dobrakan semangat yang Zakia keluarkan. Ide-ide segar yang Zakia tuangkan, membuat para pekerja yang awalnya malas menjadi semangat kembali. Sekarang Zakia sudah dapat memetik hasil dari jerih payahnya selama satu tahun berpikir keras untuk membangkitkan perusahaannya.
"Kia" panggil Nita.
Zakia mengecek ponselnya sebentar. Setelah memastikan jika bawahannya mengirimkan apa yang dia mau, barulah Zakia mendekat ke arah keluarganya kembali.
"Ini contoh corak batiknya, dipilih dulu yang mana yang cocok" Zakia menyerahkan ponselnya pada Tania.
"Cepet banget dapatnya? " tanya Tania heran.
"Berarti Mbak Nia lagi beruntung"
"Iya, tapi ini cepet banget loh, Kia. Kamu punya kenalan orang tekstil atau gimana? " Zakia hanya mengangguk saja.
"Ini coraknya kalem semua ya. Aku suka liatnya"
"Jadi pilih yang mana? "
"Yang tengah aja deh, Kia. Gak papa, kan? " tanya Tania pada Albert untuk memastikan.
"Terserah kamu, sayang" jawab Albert sekenanya. Karena memang urusan baju Tania yang mengambil alih.
"Jadi deal yang tengah ya? " Tania mengangguk. "Kirim alamat penjahit nya, Mbak. Biar kainnya langsung dikirim ke sana"
"Gak usah dicek dulu kainnya, Kia? "
"Nanti Kia yang cek kesana deh, Bunda. Biar cepet, ini waktunya juga mepet kan"
"Untuk ukurannya gimana, Nia? " tanya Nita.
"Nanti setelah kain sampai perwakilan dari bagian penjahit akan kesini satu buat ngukur Bun. Terus ke rumah Albert satu, nanti yang mau pakai seragam nya dikumpulin ya, Yang. Biar langsung diukur hari itu juga" Albert mengangguk. Karena dari keluarganya memang cukup banyak yang akan menggunakan seragam, maklumlah keluarga besar.
"Tante kamu masih di luar negeri, Nia"
"Al kan bisa ngukur, Bunda. Jangan lupa Al itu pengen jadi desainer tapi malah mentok ngurusin bisnis karena gak ada penerus lagi" jawab Tania.
"Kamu atur lah, Bunda pusing kalau ikut cara kamu memang"
"Bunda terima beres aja, Kia yang bantu Mbak Nia. Akad nikahnya di rumah ini kan Mbak? "
"Iya, baru nanti resepsinya di hotel"
"Boleh kalau Kia yang atur dekorasinya. Maksudnya tata letaknya aja"
"Kami tiga tahun doang di luar negeri udah berubah banyak ya. Banyak dapet ilmu ya di luar negeri? " Zakia hanya nyengir saat ditembak pertanyaan begitu saja oleh Tania.
"Hehehe, habisnya ya gimana. Pulang kuliah kalo diem terus kan bosen, jadi iseng main ke toko bunga milik keluarga temen, eh keterusan sampai sering ikut kalau ada acara begituan. Tapi, Kia ikut kalau lagi kosong sih"
"Emang gak bisa diem kamu, Kia"
"Kayak kamu ya, Yang"
"Eh kok aku"
Semua tertawa melihat wajah bingung Tania.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Nova Lasari
sukses buat penulis semangat
2022-04-06
4