Ini pagi pertama Zakia sebagai anak angkat di keluarga Tania. Namun karena kebiasaannya bangun subuh dan melakukan ibadah sholat subuh dan tak tidur kembali. Sekarang Zakia kebingungan akan melakukan apa. Dirinya berpikir ingin memasak saja.
Zakia lantas menuju dapur, meninggalkan Tania yang masih bergelut dengan selimutnya. Zakia mengecek bahan yang ada di kulkas, ternyata cukup banyak. Karena hanya berdua dengan Tania, Zakia berniat memasak yang simple saja.
Zakia tidak tahu Tania terbiasa sarapan apa ketika pagi. Jadi dirinya terpaksa menyediakan dua menu sekaligus. Zakia akan membuat nasi goreng dan roti bakar. Ya itu saja. Pikirnya.
Satu jam Zakia bergelut di dapur, terlihat dirinya sangat terampil memainkan peralatan dapur dan teman-temannya. Bahkan Zakia menyempatkan membuat brownis kukus saat melihat banyak bahan kue di rumah ini. Zakia tau ini lancang, tapi dirinya tak bisa menahan hasrat untuk mengolah bahan tersebut.
Tiga puluh menit setelah Zakia keluar dari kamarnya, Tania terbangun. Ketika membuka mata tak melihat Zakia disisinya tak membuat Tania pusing, mungkin Zakia sedang mandi atau keluar. Itu saja yang ada dipikiran Tania. Tania langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Dua puluh menit setelahnya Tania menyelesaikan ritual mandinya. Tania langsung berganti baju dan memoles make-up tipis diwajahnya. Karena dirinya ingat saat ini akan mengantar adiknya untuk berbelanja. Tania berjanji akan membuat Zakia berubah. Karena menurut Tania, Zakia itu cantik, tidak bahkan sangat cantik. Hanya saja itu tersembunyi dibalik penampilan sederhana Zakia. Maka dari itu Tania akan membuang sedikit kesederhanaan Zakia, karena bagaimanapun sekarang Zakia adalah nona muda kedua dari keluarga Wijaya.
Setelah selesai dengan urusannya Tania langsung mencari keberadaan Zakia dirumahnya. Belum juga mencari Zakia, indera penciuman Tania sudah disuguhkan dengan aroma yang lezat. Tanpa berpikir panjang lagi Tania langsung menuju arah dapur, dirinya yakin itu pasti Zakia. Pasalnya di rumah ini pembantu hanya datang saat sore hari untuk membersihkan rumah. Setelah itu kembali lagi ke rumah utama.
Saat sampai di meja makan, Tania melihat dua porsi nasi goreng dan tiga buah roti bakar. Meskipun hanya nasi goreng dan roti bakar, itu saja sudah membuat Tania meneguk ludahnya kasar. Bagaimana tidak, aroma yang menggoda ditambah dengan penampilan masakan yang begitu cantik sungguh menggugah selera. Tania jadi merasa akan makan di restoran. Ada-ada saja otaknya ini memang. Tapi Ngomong-ngomong Tania belum melihat Zakia, apa masih di dapur? Tanpa berpikir lagi Tania langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur. Benar saja Zakia masih di situ, tak menyadari kedatangan Tania karena posisi Zakia membelakangi Tania.
"Allah" Kaget Zakia saat berbalik mendapati Tania yang berdiri di belakangnya. "Mbak Nia bikin kaget aja" Tambahnya.
"Hehehe maaf lagian kamu serius banget sih, emang lagi ngapain? "
"Ini tadi Kia buat brownies kukus, gak papa kan Mbak? Kia pakai bahan yang ada" Zakia berucap sambil menunduk. Tania dibuat gemas dengan tingkah Zakia.
"Gak papa kok, itu bahan punya bunda. Bunda sering buat eksperimen" Jawab Tania sambil tertawa.
"Eksperimen? "
"Iya, bunda itu sering belajar gitu bikin kue. Ya meskipun hasil gagal terus tapi bunda terus mencoba" Jelas Tania.
"Kenapa bisa gitu? "
"Karena tante pinter bikin kue, sedang bunda nggak. Jadi bunda pengen kayak tante"
"Hahaha, ada-ada aja bunda. Padahal passion tiap orang kan beda, Mbak"
"Bunda susah dibilangin" Ucap Tania.
"Iya kayak kamu ya, Nia" Tania langsung terdiam mendengar suara lembut yang familiar di telinganya.
Mampus. Batinnya mengumpat.
Tania berbalik, terlihat di sana berdiri dua orang paruh baya berbeda gender dengan penuh karisma diusianya yang tak lagi muda.
Tania hanya menampilkan deretan gigi putihnya saat melihat kedua orang tuanya berdiri berdampingan.
"Eh ayah sama bunda kapan sampai? " Tanya Tania basa-basi.
Mendengar Tania menyebut dua orang itu dengan sebutan ayah dan bunda, Zakia langsung meletakkan brownies kukus yang ia pegang sejak tadi. Dirinya langsung maju, menyalami kedua orang yang akan menjadi orang tua angkatnya mulai saat ini.
Nita dan Arya kaget melihat tingkah Zakia, namun beberapa derik setelahnya mereka tersenyum hangat. Betapa sopan nya calon anak angkatnya ini. Bahkan Arya langsung memeluk Zakia. Zakia yang mendapat pelukan tiba-tiba langsung kaget dan mematung ditempat. Dirinya bingung harus berbuat apa. Namun, Zakia memberanikan diri untuk membalas pelukan Arya. Zakia memeluk Arya dengan lembut sambil memejamkan matanya. Hangat. Sehangat inikah pelukan seorang ayah? Tak terasa air matanya menetes membasahi kemeja yang Arya pakai.
"Ya ampun kenapa menangis, nak. Apa Ayah memelukmu terlalu erat? " Zakia tersenyum sambil menggeleng.
"Ayah kau apakan putriku? "
"Ayah apakan adikku? " Nita dan Tania bertanya bersamaan.
Hening.
Hingga mereka tersadar saat mendengar Zakia terkekeh. Mereka takjub, Zakia begitu manis saat tertawa seperti itu.
"Bunda, Mbak Nia, Kia gak papa kok. Cuma Zakia baru tau rasanya jika dipeluk seorang Ayah sehangat dan setenang ini" Ucap Zakia dengan senyum yang tetap terpatri di wajahnya. Meskipun sorot matanya berkata lain. Sungguh Zakia wanita yang luar biasa, bisa menutupi segala luka yang ada dalam jiwanya.
Mendengar ucapan Zakia mereka langsung memeluk Zakia secara bersamaan. Entah mengapa setiap kali melihat Zakia, Nita merasa ada perasaan familiar, namun entah apa itu. Nita tak ingin menebaknya, biarkan takdir mengatur bagaimana baiknya saja.
"Kia sesak" Cicit Zakia karena dipeluk tiga orang sekaligus.
Mereka langsung melepas pelukannya dan tertawa bersama. Nita tak sengaja menangkap wangi kue di sekitarnya langsung mengedarkan pandangannya. Hingga fokusnya terjatuh pada brownies yang yang masih mengepulkan asap tipis.
"Ini siapa yang buat? " Tanya Nita entah pada siapa karena dirinya tak melihat lawan bicaranya.
"Ah, maaf Bunda tadi Kia buat itu pakai bahan kue Bunda"
"Tak apa Kia. Kamu membuatnya sendiri? "
"Ya hanya berbekal insting saja Bunda" Jawab Zakia malu.
"Berapa kali mencoba? "
"Satu kali"
"Langsung jadi? " Zakia hanya mengangguk.
"Wah hebat kamu Zakia" Zakia menaikkan sebelah alisnya mendengar pujian Arya.
"Hebat kenapa? "
"Dalam satu kali percobaan kamu langsung berhasil, kalau Bunda berkali-kali belum tentu jadi meskipun mengikuti resep"
"Passion Bunda bukan di kue kali, makanya gagal terus" Celetuk Zakia. "Tapi Zakia juga belum cicipi, tampilan boleh mulus kalau rasa cacat sama aja gagal Ayah"
"Pengetahuan kamu tentang kue cukup baik juga Zakia"
"Ah tidak juga Bunda, Kia hanya sering menonton acara masak saat di rumah suami"
"Suami? " Arya mengernyit bingung. Apa maksudnya Zakia mengatakan suami? Apakah Zakia ini sudah menikah? Bukankah umurnya baru akan memasuki dua puluh tahun?
"Mending Ayah tanyanya nanti aja, sekarang Nia laper. Kia udah masak juga" Keluhan Nia.
"Kamu masak Zakia? " Tanya Nita terkejut. Zakia hanya mengangguk sopan.
"Ah, biar Zakia kembali membuat nasi goreng. Kia hanya membuat dua porsi, karena Kia kira hanya berdua dengan Mbak Nia"
"Tak perlu Kia, biarkan nasi gorengnya dimakan ayah dan bunda. Kamu dan aku makan roti bakarnya saja tak apa kan? " Tania meminta persetujuan.
"Apa akan kenyang? " Zakia tak yakin.
"Nia hanya terbiasa makan selembar roti jika pagi, Kia. Jadi itu pasti cukup. Tapi kalau kamu kurang kamu bisa membuatnya lagi, atau biarkan bunda yang memakan itu. Kamu bisa makan nasi gorengnya biar kenyang"
"Ah tak perlu Bunda, Kia akan makan rotinya saja. Sebentar Kia buatkan teh buat Ayah dan Bunda. Mbak Nia mau juga? "
"Tolong buatkan aku susu saja Zakia"
"Baiklah"
Zakia bergegas ke dapur lagi untuk membuat minuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Shuhairi Nafsir
Thor muga benar Zakia itu anaknya Arya sama Nita. adiknya Tania
2022-04-10
1
Nova Lasari
moga ini jalan kebahagian buat zakia
2022-04-06
2
Sinta Darmawati
awal bahagiamu Zakia.
2022-04-05
1