Setelah berbagi cerita dengan Tania, kini Zakia kembali lagi ke rumah Tony dengan perasaan yang sedikit tenang dari yang tadi. Karena menurut Zakia dirinya masuk ke keluarga ini dengan baik, maka keluar pun harus dengan baik.
Sebenarnya Zakia tak kuasa jika harus mengambil keputusan ini. Tapi dirinya juga tak mau di madu. Butuh berapa stok sabar lagi untuk Zakia keluarkan agar dia dianggap oleh keluarga ini.
Tapi Zakia adalah wanita berbeda. Meskipun emosinya sedang menggebu minta disalurkan dari dalam tubuhnya, namun yang tampak diluar hanyalah wajah tenang dia. Bahkan ketika dirinya di maki atau dihina, Zakia hanya memasang wajah tenang. Seperti makian dan hinaan itu bukan ditujukan untuk nya.
Kini Zakia sampai dipuncak kesabarannya, stok sabarnya sudah habis untuk keluarga ini. Cukup mereka menginjak harga dirinya. Cukup dirinya dianggap bodoh selama ini. Jika saja Tony tak mengajak Sari ke rumah ini, mungkin Zakia akan tetap bersikap seperti tak terjadi apa-apa. Namun, nasi sudah menjadi bubur, apa yang terjadi tak bisa diulangi lagi.
Disini lah Zakia sekarang, didalam kamar, tempat dimana dia biasa menghabiskan waktu dengan suaminya. Tempat yang tahun pertama pernikahannya begitu indah. Hingga berubah menjadi hambar karena perubahan sikap Tony.
Zakia melihat Tony duduk bersandar pada sandaran kasur dengan mata terpejam. Sepertinya Tony tak sadar jika Zakia masuk ke dalam kamarnya. Tapi Zakia tau jika Tony masih terjaga.
"Kak? " Tony membuka mata mendengar sapaan Zakia.
"Zakia"
"Aku minta kakak siapin berkas perceraian kita, biar aku yang mengajukan ke pengadilan"
"Nggak, Kia. Kakak gak akan... "
Suara Tony terhenti ketika ponselnya bergetar, setelah membaca siapa yang memanggil dia tak langsung menggeser tombol hijau. Dirinya malah menatap ke arah Zakia.
"Angkatlah, aku juga ingin tahu apa yang akan dia bicarakan di larut malam seperti ini"
Sungguh wanita yang luar biasa bukan? Zakia membiarkan suaminya mengangkat telfon dari selingkuhannya di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan dirinya yang mengijinkan.
Tony segera menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Yang" Sapa Sari diujung sana. Jika didengar dari nada suaranya, sepertinya wanita itu terlihat bahagia.
"Iya? " Jawab Tony kikuk, pasalnya Zakia tengah memperhatikan dirinya.
"Kamu tau kenapa aku telfon kamu tengah malam begini? "
"Kenapa? "
"Aku ada kabar bahagia"
"Kabar? Bahagia? Apa? " Sungguh Tony merutuki kebodohannya, dirinya bahkan gugup saat berbicara dengan Sari.
"Aku hamil, dan ini anak kamu. Anak kita"
DUAR...
Baik Zakia maupun Tony terdiam seketika. Mereka masih mencerna baik-baik apa yang barusan telinga mereka dengar. Otak mereka serasa berkerja dengan lambat setelah mendengar kalimat terakhir Sari.
"Kamu masih di sana kan? "
"Ah iya? "
"Kok kamu diem? Kamu gak bahagia ya sama kabar ini? "
"Eh nggak kok. Eh.. Anu. Nanti aku telfon lagi" Tony langsung mematikan panggilannya.
Kini dirinya mendapati Zakia sedang tersenyum tipis di depannya. Namun, sorot matanya mengatakan kebalikannya. Banyak luka yang tersimpan rapi dalam sorot mata itu. Kekecewaan yang berlindung dibalik tatapan teduh itu. Amarah yang bersembunyi dalam pancaran mata bahagia itu. Kini Tony bisa melihat semuanya dalam mata istrinya. Walaupun diluar Zakia tampak tersenyum, tapi hatinya kini berteriak, menangis dengan pilu.
"Kia, kakak... "
"Ceraikan aku, Kak. Nikahi Mbak Sari"
"Tapi, Kia"
"Gak ada alasan kakak buat gak nikahin Mbak Sari"
"Tapi kakak sayang kamu Zakia" Lirih Tony.
"Jika seseorang memang benar-benar sayang dan mencintai pasangannya, dia tak akan tergoda oleh rumput tetangga meskipun rumput itu lebih segar. Justru sebaliknya dia akan berusaha bagaimana agar rumput miliknya bisa segar"
Tony terdiam, perkataan Zakia memukul titik lemahnya. Membela diri juga tak akan bisa karena dirinya memang salah. Tony melihat Zakia mengeluarkan koper dan mulai memasukkan satu per satu bajunya dari dalam lemari.
"Kakak siapkan saja berkasnya besok, Kia yang akan mengurusnya"
"Tak bisakah kita mencari jalan lain selain perceraian, Zakia? "
"Poligami maksud kakak? " Zakia menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap dalam mata Tony.
"Poligami dibolehkan jika kakak mampu dan bisa berbuat adil. Kakak mampu untuk menafkahi dua istri dengan pekerjaan kakak yang sekarang, Kia yakin itu. Meskipun selama menjadi istri kakak, Kia tak pernah menerima apa itu namanya nafkah dari seorang suami"
"Dan adil. Ini yang tak akan Zakia dapatkan kak. Jika kakak melakukan poligami, kakak akan melupakan Zakia"
"Kakak janji tidak akan Zakia"
"Laki-laki yang dipegang ucapannya kak, diawal hubungan kita dibentuk kakak berjanji akan bertanggungjawab penuh atas hidup Zakia, tapi sekarang apa? Kakak menghianati kepercayaan Zakia. Bukankah kakak juga sering menghabiskan waktu kakak dengan Mbak Sari daripada dengan Zakia, yang notabene nya adalah istri sah kakak" Zakia menekan kalimat terakhirnya.
"Ikhlaskan Zakia kak, Kia janji tak akan menganggu hubungan kakak lagi kedepannya"
"Tidak Zakia"
"Kakak tidak boleh egois. Ingat calon buah hati kakak sudah tumbuh di rahim Mbak Sari, bukan di rahim Kia. Jadi gak ada alasan kakak untuk menghindar dari masalah ini"
"Tapi, Kia"
"Jika kakak tetap ingin melakukan poligami, itu sama saja kakak membunuh Kia secara perlahan. Karena apa? Kia akan jadi bahan omongan tetangga sekitar. Akan timbul banyak sekali gosip diluar sana, itu akan memberatkan Kia, kak. Jadi Kia mohon ikhlaskan Kia. Jika suatu hari kita bertemu tanpa sengaja Kia janji akan berpura-pura tak kenal dengan kakak" Tony melotot tak percaya dengan ucapan Zakia.
"Segitu inginnya kamu lepas dari ku Zakia? " Ucap Tony dengan nada meremehkan.
"Kia masih muda, Kak. Kia ingin melanjutkan urusan Kia yang tertunda"
"Urusan? "
"Kia ingin mengejar mimpi Kia. Kia ingin melanjutkan kuliah, Kia"
"Aku bisa membiayai kuliah kamu asal kamu tetap jadi istri aku, Kia"
"Dua tahun kak" Ucap Zakia seraya tersenyum.
"Hah? "
"Dua tahun pernikahan kita, Kia selalu menunggu kakak mendaftarkan Kia kuliah seperti yang kakak ucapkan diawal. Kakak akan membiayai Kia kuliah saat menikah nanti. Karena apa? Kakak tak ingin fokus Kia terbagi jika harus berkuliah sambil bekerja. Itu yang kakak ucapkan dulu bukan? Lalu sekarang apa? Perkataan yang sama lagi? "
Tony bungkam, benar kata Zakia. Sebelum menikahi Zakia dirinya telah berjanji akan membiayai kuliahnya. Namun, sampai sekarang bahkan dirinya lupa untuk mendaftarkan Zakia untuk kuliah.
Zakia melanjutkan kegiatannya karena melihat Tony yang terdiam karena ucapannya. Mereka masih larut dengan kegiatan masing-masing. Tony dengan pikirannya, Zakia dengan pakaiannya.
Zakia duduk disisi ranjang setelah selesai memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper yang tadi ka ambil.
"Kak? " Tony hanya diam tak menjawab, namun dirinya mendengar saat Zakia memanggilnya.
"Jika kakak nanti menikah dengan Mbak Sari. Usahakan untuk tidak berkumpul satu rumah dengan mama"
"Rumah tangga itu dibangun dengan diskusi impian dua orang yang saling melengkapi. Apa jadinya jika ada orang lain hadir ikut masuk dalam diskusi. Semua tergantung bagaimana dua orang dalam bersikap sih, karena diskusi tersebut bisa membawa kearah bahagia bisa pula ke arah kehancuran"
"Kak, sesungguhnya tak semua menantu itu nyaman tinggal satu atap dengan mertuanya. Bukan hanya canggung, tapi mereka akan merasa seperti diawasi. Mereka akan takut melakukan kesalahan, padahal takut adalah hal yang memicu terjadinya sebuah kesalahan"
"Kak dalam hubungan pernikahan, mertua tak dianjurkan ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Boleh orang tua menasehati namun sebatas menasehati, tak lebih jauh. Orang tua yang baik akan membiarkan dua insan dalam ikatan rumah tangga mengambil keputusan sendiri, mereka hanya akan mengingatkan jika dua insan mulai menyimpang atau salah jalan. Tugas mertua hanya menasehati bukan mencampuri"
"Kak, jika kau menikah dengan Mbak Sari nanti. Diskusikan semuanya dengan istrimu, bukan dengan ibumu. Karena apa? Dia pendamping mu saat ini. Dia yang akan melayani dari kau bangun tidur hingga tidur lagi. Minta lah pendapatnya agar dia merasa dihargai dan dihormati"
"Kak, jika kau menikah nanti. Tanyakanlah keadaan istrimu, bagaimana perasaannya. Karena tak semua wanita dapat mengungkapkan isi hatinya dengan mudah. Sebagian dari mereka akan memilih memendam seluruh keluh dan kesahnya daripada berbagi. Jika itu terjadi hubungan rumah tangga tak akan sehat, karena tak adanya keterbukaan keduanya"
"Kak, jadilah ayah yang baik untuk anak-anak mu kelak. Bimbing mereka dengan lembut, kak. Ingatkan mereka jika salah, giring kembali mereka ke jalan yang seharusnya"
"Kamu laki-laki baik, kak. Cuma kamu sedang khilaf saja saat melakukan itu. Aku memaafkan mu. Selamat tinggal calon ayah, semoga bahagia"
Tanpa menunggu respon dari Tony, Zakia langsung menyeret kopernya keluar dari kamar itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Nery Wigati
Zaskia kamu luar bisa👍
2022-11-14
0
Noni Kartika Wati
suka sama karakter Zakia yg ga cengeng 👍
2022-10-14
0
Arin
bgus Kia ini yg sy suka,wnita klo udh di khianti aplgi sampe si cweny hamil sbge istri yg udh di khianti ya mnding Kya gtu,mundur itu lbih baik....smngt KIA smga nanti kmu jdi orng sukses biar ngga di remehin orng 👍💪
2022-06-17
0