Hari ini Zakia berniat keluar guna mencari bangunan yang akan dirinya sewa untuk restorannya, karena untuk memasak makan siang masih terlalu pagi. Setelah Tania pergi bersama tunangannya, disusul Zakia juga keluar menggunakan mobilnya.
Jangan salah jika Zakia tak bisa mengendarai mobil, berhijab bukan halangan untuk menghalangi kebebasannya. Bahkan Zakia menjalin pertemanan dengan siapa saja, meskipun di luar negeri terkenal dengan pergaulan bebasnya, itu tak membuat seorang Zakia ikut terseret arus tersebut. Pertemanannya memang bebas, namun Zakia mampu menjaga batasannya sebagai seorang perempuan. Mungkin pada awalnya dirinya bergabung dengan temannya dianggap aneh, karena hanya dirinya yang menggunakan hijab namun itu tak membuat semangatnya surut untuk menjalin pertemanan. Terbukti, dirinya memiliki banyak teman dengan kalangan yang berbeda-beda.
Zakia berputar mengelilingi jalanan pusat kota saat ini. Berjalan tanpa arah karena memang selain mencari bangunan dirinya juga mencari lokasi yang strategis untuk restorannya. Karena Zakia mau restorannya dapat dijangkau oleh semua kalangan.
Akhirnya Zakia berhenti di salah satu gedung bertuliskan di sewakan. Zakia menarik sudut bibirnya, akhirnya setelah dua jam berkeliling dirinya menemukan juga tempat untuk usaha barunya. Zakia turun untuk melihat informasi yang dipasang di depan gedung tersebut. Mencacat nomor yang bisa dihubungi lalu menoleh melihat sekitarnya.
Gedung ini berada di areal yang cukup ramai, samping kirinya toko yang cukup besar. Mungkin tempat toko-toko kecil mengambil barang untuk dijual kembali. Samping kanannya adalah tanah lapang yang cukup luas. Melihat ini senyum Zakia kembali terbit, dia berniat menyewa lahan tersebut juga, karena gedung didepannya hanya memiliki sedikit tempat parkir, maka jika Zakia juga menyewa lahan tersebut maka restoran miliknya akan memiliki area parkir yang cukup luas. Gedung ini bersebrangan langsung dengan sekolahan yang berjejer dari sekolah dasar hingga tingkat kuliah. Jadi menurut Zakia tempat ini sangat cocok untuk dijadikan restoran.
Zakia menancapkan paku keyakinan di dalam hatinya, dia bertekad untuk membesarkan usahanya jika berhasil nanti. Agar nantinya dirinya tak perlu merepotkan orang tua angkatnya, karena sampai sekarang Zakia masih sungkan untuk meminta uang pada orangtuanya.
"Assalamualaikum Bunda? " panggilan dari Nita memecah lamunan Zakia.
" ... "
"Baiklah, nanti Kia akan mampir dulu. Ada lagi, Bunda? "
" ... "
"Lelenya sudah diantar ke rumah Bunda? "
" ... "
"Baiklah, ini Kia sudah dalam perjalanan pulang. Assalamualaikum Bunda cantikku"
Zakia langsung memasuki mobilnya dan mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan. Mencari supermarket karena Nita memintanya untuk membeli buah segar. Setelah mendapat tempat parkir, Zakia langsung bergegas turun dan masuk. Memulai perjalanannya didalam supermarket. Dalam hati Zakia berdoa semoga tidak kalap kali ini. Karena dirinya pernah berbelanja berlebihan saat di luar negeri. Apalagi saat melihat sayuran segar otak Zakia seakan langsung memiliki ide untuk diolah seperti apa.
"Kan kan ayo loh jangan macet sekarang" gumam Zakia sambil menepuk kepalanya pelan. "Kebiasaan ih ini otak, suka gak tau tempat kalau macet mikir"
Zakia melangkahkan kakinya menuju stand buah-buahan, dirinya lupa Nita meminta dibelikan buah apa saja saat di telfon tadi.
"Apel, jeruk, alpukat, anggur, melon, apalagi ya? " Zakia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dihadapkan dengan buah-buahan segar membuat otaknya kembali bekerja dengan cepat. Lalu dirinya tersenyum. Sepertinya dia harus mempercepat mengurus pembukaan restorannya, jangan biarkan ide ini menguap.
Karena saking fokusnya memilih buah, Zakia berjalan tanpa melihat ke depan.
Brugh...
"Astagfirullah" pekik Zakia kaget saat melihat buah yang dipilihnya berceceran di lantai, terlebih ada anak kecil yang duduk. Zakia yakin anak ini yang ditabrak nya tanpa sengaja tadi.
"Adek gak papa? " tanya Zakia panik melihat anak laki-laki yang menatapnya intens.
"Emm, Rich gak papa tante"
Zakia membantu anak itu berdiri, memeriksa keadaannya sebentar setelah memastikan tak ada luka atau yang lainnya, Zakia bernapas lega. Dirinya takut anak kecil ini terluka, karena benturan tadi cukup kuat.
"Kamu dengan siapa disini? "
"Rich bersama Papa dan bibi. Tapi Rich nyasar" jawab bocah itu dengan senyum tampannya.
"Baiklah, tante akan mengambil buah dulu, setelah itu baru antar kamu ke Papa kamu. Ganteng bisa tunggu disini? " anak laki-laki yang menyebut dirinya Rich itu mengangguk patuh.
Mata anak itu berbinar cerah saat melihat kelembutan Zakia. Bagaimana rasa khawatir Zakia padanya, membuat bocah laki-laki berusia lima tahun itu menancapkan paku keyakinan di hatinya. Dirinya tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan apa yang ada di otaknya.
"Hei ganteng kenapa tersenyum? " tanya Zakia membuat Rich kaget.
"Tak apa, tante"
"Baiklah, ayo tante temani mencari papa dan bibi mu"
Rich hanya mengangguk dan melingkarkan tangan mungilnya pada tangan Zakia. Melihat itu Zakia hanya tersenyum lembut menatap bocah kecil tampan ini.
"Dimana tadi Rich berpisah dengan papa? " tanya Zakia lembut.
"Di sana" Rich menunjuk ke arah kiri, tempat dimana barang-barang anak kecil dijual.
"Baiklah, coba kita cek siapa tau papa Rich masih di sana" Zakia menuntun langkah kecil Rich menuju tempat yang ditunjuk.
Samar-samar Zakia mendengar suara seorang laki-laki seperti sedang menegur bawahannya karena lalai. Setelah sampai Zakia mendapati punggung kokoh yang sedang menegur wanita paruh baya yang tampak menunduk ketakutan.
"Papa" seru Rich.
"Baby. Ya Tuhan nak, Papa khawatir. Kamu dari mana saja? " laki-laki itu langsung merengkuh Rich kedalam pelukannya, tampak kelegaan terpancar di wajah tampannya.
"Rich bosan. Jadi Rich jalan-jalan"
"Lain kali ijin Papa dulu, kalau kamu hilang bagaimana? "
"Maafin Rich, Papa" cicit Rich dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan menangis, Papa tidak marah hanya khawatir saja. Jadi jangan menangis, oke? " Rich hanya mengangguk mendengar bujukan ayahnya.
Zakia masih terdiam di tempatnya menyaksikan drama anak dan ayah ini. Sungguh keluarga yang harmonis.
"Papa, tante ini yang mengantar Rich kesini" ucap Rich sambil menatap Zakia.
"Terimakasih nona, maaf jika anak saya merepotkan"
"Tidak Tuan, sudah sepatutnya kita untuk saling tolong menolong"
"Papa ajak tante makan siang" bisik Rich pada ayahnya.
"Eh" Papa Rich menatap putranya dengan tatapan tak percaya, sedangkan Rich memasang wajah imut andalannya.
"Rich tante duluan ya, mari tuan. Assalamu'alaikum" Zakia hendak berbalik namun diurungkan karena panggilan dari pria didepannya
"Eh, nona? "
"Ya Tuan? "
"Bisakah kita makan siang bersama, anggap saja sebagai tanda terimakasih saya pada anda"
"Terimakasih untuk ajakannya, namun maaf saya sudah ditunggu oleh bunda saya di rumah. Mari, Assalamu'alaikum" Zakia langsung pergi begitu saja, tak menghiraukan salamnya dijawab apa tidak. Karena dirinya sudah telat untuk pulang.
Pria itu mematung saat Zakia menyunggingkan senyum tipis sebelum pergi, sungguh ciptaan Tuhan begitu indah.
"Papa" suara Rich menyadarkan lamunannya.
"Ya, ada apa? "
"Rich lapar"
"Baiklah boy. Mari kita berburu makanan"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Rohiyah
bagus ceritanya
2023-09-10
0
Siti Aniah
mudah² jodoh nya kia
2023-05-09
0
Ipung Suwarni
lanjut tor
2022-11-30
0