"Bunda, Kia jahil sama Nia" teriak Tania subuh itu.
Karena kagetnya semuanya langsung berkumpul di depan kamar Tania. Mereka hanya berdiri bingung karena nyawanya belum terkumpul semuanya.
Tania membuka pintu dengan kasar hendak menghampiri kamar adiknya itu. Tapi dikagetkan dengan keberadaan kedua orang tuanya di depan pintu kamarnya.
"Eh, Ayah sama Bunda ngapain? "
"Kamu yang ngapain teriak-teriak subuh-subuh begini, untung kita lagi di rumah utama Nia, apa jadinya kalo kita ada komplek? "
"Ya maaf, Kia sih"
"Kenapa adik kamu yang disalahin, kan kamu yang teriak? " tanya Arya.
"Nia ngantuk banget Ayah, tapi Kia telfonin Nia terus dari tadi. Ganggu tau" gerutu Tania.
"Dialihkan ke mode silent toh nduk"
"Tau ah, mau tak samperin dulu anaknya"
Belum juga mereka sampai di kamar Zakia, lantunan ayat suci sudah menyapa indera pendengaran mereka. Mereka terdiam hanyut dalam alunan merdu yang Zakia keluarkan. Mereka berjalan pelan menuju kamar Zakia, membuka sedikit pintu kamar Zakia. Tampak Zakia sedang duduk menghadap kiblat dengan memangku Al-Quran bersampul biru langit itu.
Hati mereka berdesir mendengar lantunan ayat suci yang begitu merdu, Zakia benar-benar paket komplit. Tak hanya cantik parasnya namun juga akhlaknya. Arya dan Nita bangga memiliki anak sepertinya, bukan berarti Tania tak membanggakan. Namun, setiap anak memiliki cara mereka sendiri untuk membuat orang tua mereka merasa bangga atas apa yang mereka lakukan.
"Dia nelfonin kamu suruh sholat, Nia"
"Tapi kenapa Ayah sama Bunda gak dibangunin? "
"Kia, sudah membangunkan kami terlebih dahulu, lalu kamu berteriak membuat kita kaget" Tania hanya nyengir mendengar penjelasan ayahnya.
"Ya sudah, ayo kita sholat dulu. Sepertinya Zakia sudah sholat duluan"
Begitulah sifat Zakia, dia akan menjadi orang yang usil bila di dekat orang yang disayanginya. Bahkan Zakia tak tanggung-tanggung untuk menjahili kakak angkatnya itu. Pembawaan dirinya yang ceria membuat kehangatan yang diciptakan olehnya menular pada orang-orang sekitarnya.
Paginya mereka duduk di meja makan dengan keadaan hening. Ritual sarapan berjalan dengan lancar, tanpa ada suara sedikitpun selain dentingan sendok, garpu dan piring yang saling beradu. Setelahnya mereka berkumpul di ruang tengah sebelum melakukan aktivitas masing-masing.
"Setelah ini Kia ada rencana apa, nduk? " tanya Arya lembut.
"Kerja mungkin, Yah. Nanti tak nulis surat lamaran dulu" jawabnya.
"Langsung masuk perusahaan Ayah atau Mbak mu, Ki. Kayak orang lain aja kamu, nak"
"Bukan begitu Bunda ku sayang. Kia mau menikmati prosesnya, kalau Kia langsung gabung di perusahaan Ayah atau Mbak Nia yang ada Kia malah langsung dapat jabatan enak. Kan gak asik tuh"
"Sak karep mu, nduk"
"Kia, gantiin Mbak dulu di perusahaan ya. Mbak kan masih sibuk sama urusan nikahan"
"Nikahane sopo? "
"Ah, cantikku bisa bahasa jawa. Ayah Kia ngomong jowo Yah" teriak Tania.
"Ayah krungu loh Nia" Tania hanya nyengir.
"Nikahan sopo, Mbak Nia? "
"Nikahan ku lah dek"
"Kapan? Sek, semalem tunangan memangnya langsung rembuk tanggal nikah, Yah? " tanya Zakia penasaran.
"Makanya jangan telat datengnya, gak tau kan"
"Bukan gitu, Mbak. Niatnya gak telat, cuma pesawat Kia delay. Mana Kia tahu bakal telat, kan? "
"Sudah, kalian kalau berdebat memang gak ada ujungnya. Kalau jauh nangis-nangis kangen, deket gini berantem terus" lerai Nita. Tania dan Zakia hanya nyengir.
"Mbak mu bakalan nikah sebulan lagi, Kia. Karena Mbak mu ini orangnya gak percayaan sama orang lain, alhasil dia sendiri yang turun tangan buat ngawasin persiapan nikahnya"
"Kia bantu, purun? "
"Bantu urus perusahaan aja, Mbak udah seneng kok"
"Mbok kasih istirahat lah, Kia baru sampai semalem langsung pulang loh"
"Ada rencana kemana? "
"Nginep di hotel, capek Ayah. Kia habis wisuda langsung balik" Zakia nyengir.
Harusnya baru tahun depan dirinya akan di wisuda, namun siapa yang akan menyangka jika seorang Zakia yang dianggap sebelah mata dulunya memiliki otak yang jenius.
"Salah sendiri, ditanyain ra tau bener jawabane"
"Maaf Ayah"
"Kenapa Kia sembunyikan ini, ini kabar bahagia loh nak? " tanya Nita dengan lembut sambil mengelus kepala Zakia yang terbalut hijab.
"Niatnya tak bikin surprise, malah pake acara delay segala" jawabnya cemberut.
Mereka bahagia, Zakia tak lagi kaku dalam menyampaikan ekspresinya. Tak seperti saat pertama yang serba kaku.
"Oleh-oleh kek dek, dari luar negeri masa gak ada oleh-oleh"
"Mbak ih, mana ada begituan. Kia baliknya buru-buru biar bisa hadir di acara spesial Mbak. Malah ditodong oleh-oleh, Bunda Mbak Nia jahat"
"Heleh, gayamu dek"
"Sudah-sudah kalian ini. Coba gitu akur kayak waktu video call kan adem Bunda liatnya, ini kenapa jadi kayak tom and Jerry sih"
"Mbak Nia, Bunda godain Kia mulu"
Obrolan pagi mereka terhenti dengan kedatangan Albert, Albert datang langsung menyalami kedua orang tua Tania dan Zakia. Lalu duduk di samping Tania.
"Duh senenge, isuk-isuk wes diapeli calon" goda Zakia pada Tania.
"Bunda, Kia nih" Tania merengek pada Nita karena digoda adiknya. Bahkan tunangannya kaget melihat sikap Tania jika bersama adiknya.
"Nia, ada Albert loh masa kayak anak kecil gini sikapnya? "
"Kia, Ayah. Kan malu atuh digoda didepan orangnya ini loh" jawab Tania cemberut karena ditegur ayahnya.
"Mau minum apa kakak ipar? "
"Panggil Albert aja, dek. Masa iya dipanggil kakak ipar mulu, berasa aneh"
"Fine, Kak Albert. Mau minum apa, Kia buatkan dulu, calonnya masih dalam mode malu"
"Kia" geram Tania, Zakia hanya cekikikan.
Arya dan Nita hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena Zakia tak henti-hentinya menggoda Tania. Bahkan saat ini muka Tania sudah memerah malu.
"Mbuh lah dek, sak karep mu"
"Udah ah, Kia siapin minum dulu" Zakia beranjak dari tempat duduknya menuju dapur.
"Empang aman, nak? "
"Alhamdulillah, Yah. Lancar"
Albert adalah petani lele. Awalnya dirinya hanya iseng membuat empang lele dan memeliharanya, hingga celetukan Tania untuk menjadikannya bisnis membuat Albert mencobanya. Meskipun ada perusahaan orang tuanya, namun empang lele ini adalah murni dari hasil kerja kerasnya bersama Tania. Karena tangan dingin Tania lah dibalik suksesnya usaha lele milik Albert.
"Oh jadi Kak Albert ini ternak lele? Dijual opo ora? "
"Hehehe iya dek, awalnya iseng aja bikin empang lele gitu, pas siap panen kata mbak mu ini kenapa gak dijual aja kan lumayan untungnya. Tak coba, eh keterusan sampai sekarang"
"Dipikirane Mbak Nia yo mung gur duwek tok"
"Hidup tak bisa tanpa uang"
"Kia, ada rencana buka resto. Kecil-kecilan sih, bawain lah Kak kalo main kesini lagi. Sekilo dulu, Kia coba buat berbagai olahan dari lele ntar"
"Wah, bener-bener Kia otaknya bisnis mulu"
"Katanya mau lamar kerja. Kalo mau buka resto Ayah bantu, nduk? "
"Tabungan Kia alhamdulillah cukup, Ayah. Kia ingin usaha Kia ini murni dari jerih payah Kia sendiri. Kalo masalah ngelamar kerjaan, Kia dapet info ada lowongan sekertaris disalah satu perusahaan besar di sini" jelas Zakia.
"Kalau kurang dananya ngomong sama Ayah, jangan cari pinjaman sana sini, paham Zakia? "
"Nggih Ayah ku sayang"
"Mau dikirim sekarang, dek. Biar orang kakak yang anter lele nya kesini? "
"Kalau tidak merepotkan gak papa, Kak. Mumpung ada Bunda biar bisa masak bareng, nanti makan siang balik, makan siang disini"
"Yakin cukup sekilo aja? "
"Segitu aja dulu, nanti tak buat beberapa macem. Mbak Nia kan foodies tugasnya icip-icip" Tania mengangkat jempolnya tanda setuju.
"Jadi rencana kalian mau kemana hari ini? "
"Cari cincin untuk nikahan dulu, Yah. Habis itu langsung ketemu sama bagian WO"
"Sayang besok aku gak bisa temenin. Aku ada rapat sama bagian pemasaran di perusahaan"
"Ada, Kia tenang aja"
"Iyolah, nanti Kia bantu. Mbak Nia koyo wong mlarat ae. Padahal ya bisa kan bagian WO dipanggil kesini tinggal pilih-pilih. Repot mah kalo bareng miss perfect"
"Sudah-sudah sana berangkat, Nia. Kamu kalau disini terus gak bakal berhenti berantem sama adiknya. Zakia sudah nduk mbaknya jangan digoda mulu" seperti biasa Nita dengan sabar melerai kedua putrinya itu.
"Jangan heran Albert, mereka kalau jauh nangis-nangis karena kangen, deket ya gini, kayak tom and jerry" Albert hanya tersenyum maklum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Hamida Hamida
lanjut thorrrr gaksabar nunggu
2022-05-24
0
Nunuy Unuy
author boleh protes nih..nama albert tp profesi kok ternak lele..yg keren dikit napa sih..profesi dokter gitu atau pengacara 🤷♀️😅🤭
2022-05-09
1
Mogu
ak di jkilingi org jwa tpi ga bsa bhsa jwa
jdi aku ad bbrpa dialog ga pham😥😥😥😥
2022-04-12
1