"Gimana acaranya? Meriah nggak Kak? " Tanya Tina tak sabar setelah melihat kakak dan kakak iparnya sampai di rumah mereka.
"Kalau penasaran kenapa gak ikut aja sih tadi? " Tanya Sari sambil duduk di sofa, mengistirahatkan diri sejenak. Sedangkan Tony langsung masuk ke kamar sang putri.
"Ish, kalo bukan karena Kak Seno yang ada pasien mendadak mana mungkin aku gak datang" Jawab Tina cemberut.
"Namanya kamu pacaran sama dokter ya harus tanggung resikonya dong"
"Tapi dia itu kayak gak sayang sama aku, Mbak Sari" Rengeknya.
"Kamu kapan dewasa sih, Tin? Kalau apa-apa kamu ngadu, kapan kamu dewasanya? "
"Ish, aku tuh males mikir, Mbak. Eh, Kak Tony nanti pas acara tunangan aku kita sewa gedung ya" mohon Tina pada Tony.
"Rumah ini cukup besar loh, Tin" tekan Sari.
Sebenarnya Sari tak terlalu menyukai sikap adik iparnya yang terlalu manja dan semena-mena ini. Belum lagi ibu mertua nya, yang seakan memperlakukan Tina layaknya tuan putri. Tak boleh melakukan ini lah, tak boleh itu lah, takut ini lah, takut itu lah. Kapan dia akan mandiri? Pikir Sari.
"Bawa dulu calonnya ke sini, suruh juga orang tuanya menemui kakak dan mama, baru kamu bisa tunangan. Jangan seenaknya saja Tina" Tina hanya cemberut mendengar ucapan Tony.
"Kak Seno itu sibuk, Kak. Dia itu dokter. Kakak kira dia gak ada kerjaan apa? "
"Sesibuk apapun dia, kalau kamu memang penting dia akan meluangkan waktunya untuk kamu" ucap Sari.
"Bener kata Mbak kamu itu Tina. Atur waktu kalau memang dia serius, umur kamu sudah cukup untuk menikah" Tina hanya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Oh iya Mas. Itu tadi Zakia mantan pembantu kamu bukan, sih? " tanya Sari penasaran setelah cukup lama hening.
"Mbak Sari ketemu Zakia? Dimana? " Sari hanya mengangguk.
"Tadi di acara tunangan anaknya atasan kakak kamu. Mbak cuma heran"
"Heran kenapa? "
"Kalau dia anaknya orang berada kenapa mau jadi pembantu di rumah ini? "
"Zakia? Anak orang berada? Mbak Sari ngaco deh, dia itu cuma anak panti yang gak punya apa-apa"
"Tapi beneran Tina, tadi itu dia dikenalkan sebagai putri bungsu keluarga Wijaya. Mbak awalnya pangling, tapi melihat sorot matanya Mbak baru yakin kalau dia Zakia yang sama. Gila ih, sekarang dia makin cantik, mana modis lagi" puji Sari tanpa menyadari perubahan ekspresi suaminya.
"Zakia yang lain kali, Mbak. Gak mungkin kalau Zakia mantan pembantu kita itu anak keluarga terpandang semacam keluarga Wijaya"
"Jangan meragukan Mbak, Tina. Mbak tak pernah salah mengenali orang"
"Tapi mana mungkin, aku tau banget siapa Zakia, si miskin dari panti itu"
"Cukup Tina, jangan lagi menghina seseorang sembarangan. Kamu ini terlalu dimanja sama mama, akhirnya ya begini mulut gak ada filternya" sergah Tony.
"Kok kakak gitu sih sama aku? "
"Apa Tina? Benar bukan? Selama ini jangan kira kakak gak tau kelakuan kamu diluar sana. Kamu kelamaan dimanja jadi seenaknya dalam bersikap dan berbicara"
"Aku kan bicara fakta, kenapa kakak marah? " ucap Tina meninggikan suaranya.
"Jangan meninggikan suara kamu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dari kamu Tina" bentak Tony.
"Kenapa kakak jadi bentak aku sih? " setelah mengatakan itu, Tina langsung berlari ke kamarnya.
"Mas, sudah. Nanti Riny terbangun" Sari mengelus pelan baju suaminya itu.
"Tapi sekali-sekali Tina harus dikerasin biar gak ngelunjak. Gimana jadinya nanti kalau dia bersikap seenaknya terus? Gimana nanti kalau dia ikut di rumah mertuanya dengan sikap seperti itu? Bikin malu aja"
"Aku tau, tapi kamu bisa menasehati nya dengan lembut. Tak perlu pakai emosi begini. Yang ada bukannya berubah, Tina malah semakin menjadi nantinya"
Tony mengusap wajahnya kasar. Semenjak kepergian Zakia yang
tanpa pamit, sikap Tina dan mamanya semakin menjadi. Hingga dirinya menikah dengan Sari pun, sikap mereka tak berubah. Untungnya Sari bukan wanita lemah lembut seperti Zakia yang mudah mengalah.
"Mama dari mana saja jam segini baru kembali? " tanya Tony saat melihat mamanya baru datang, Sari hanya menoleh ke arah ibu mertuanya itu.
"Seperti biasa, mama habis kumpul sama temen-temen Mama. Ada apa sih, Ton? Biasanya juga nama seperti ini kamu juga tak protes"
Ya, semenjak Tony naik jabatan dan otomatis gajinya juga naik. Sarah semakin menjadi dalam mengatur keuangan, bahkan dirinya juga terkesan sangat boros. Hingga membuat Tony sering kali menegurnya, tapi tak pernah digubris nya. Untungnya Sari masih bekerja, jadi dirinya masih memiliki pemasukan pribadi. Jika mengandalkan gaji Tony itu tak akan cukup. Apalagi ibu mertua mengambil alih penuh untuk mengelola keuangan Tony.
"Kurangi mama berkumpul dengan teman-teman Mama itu, didik Tina dengan benar. Tanyakan kapan anak itu dilamar, jangan cuma beraninya membawa anak gadis ke sana kemari tanpa kepastian. Kurangi juga mama menghamburkan uang untuk hal tidak penting"
"Kamu ini kenapa sih, Ton? Biasanya kamu juga gak pernah protes Mama ngapain aja"
"Aku gak mau tau, ini terakhir kalinya Mama pulang larut hanya untuk melakukan hal tak penting di luar sana jika Mama masih ingin tinggal nyaman di rumah ini"
Setelah Tony naik jabatan, Tony berhasil membeli rumah yang cukup mewah untuk keluarga kecilnya awalnya. Namun, siapa sangka adik dan mamanya memilih ikut tinggal bersama dirinya dan istrinya. Tony hanya mengiyakan saat Sari mengatakan tak apa jika tinggal bersama dengan mama dan adiknya.
Kali ini Tony menyesali keputusannya mengiyakan adik dan mamanya untuk tinggal bersama. Bukannya memperlakukan Sari sebagai ratu di rumah itu, bahkan kesannya Sari akan bernasib seperti Zakia.
Tony mengingat perkataan Zakia sebelum meninggalkannya 'Kak dalam hubungan pernikahan, mertua tak dianjurkan ikut campur salam urusan rumah tangga anaknya. Boleh orang tua menasehati namun sebatas menasehati, tak lebih jauh. Orang tua yang baik akan membiarkan dua insan dalam ikatan rumah tangga mengambil keputusan sendiri, mereka hanya akan mengingatkan jika dua insan mulai menyimpang atau salah jalan. Tugas mertua hanya menasehati bukan mencampuri'
Tapi pada nyatanya mamanya tak berhenti untuk mengomentari bahkan mengatur rumah tangganya. Bahkan Sari juga mengalah untuk mengatur keuangan rumah ini dan mengelola gajinya. Bukankah harusnya Sari yang berhak melakukan itu semua.
...****************...
"Oh iya, Kia tadi gak liat Kak Al? " tanya Zakia pada Tania yang masih asik bergelayut manja pada tunangannya.
Setelah acara selesai dan para tamu membubarkan diri, mereka berkumpul di taman belakang rumah utama keluarga Wijaya. Albert pun ikut berkumpul di sana karena permintaan Tania, sedangkan kedua orang tuanya telah kembali lebih dulu.
"Alesha? " tanya Tania memastikan, Zakia hanya mengangguk.
"Mama dirawat di luar negeri karena sakit, mereka baru berangkat dua hari yang lalu"
"Semoga cepet sembuh buat mamanya Kak Al"
"Kia makan dulu, nak" seru Nita.
"Nanti, Bunda. Kia mau bersih-bersih dulu. Gerah"
"Ya sudah, setelah itu langsung makan. Mulai tadi Bunda gak liat kamu makan apapun"
"Diet kali dia Bunda" goda Tania.
"Ndak Bunda, ngapain diet badan Kia udah bagus. Kia syukuri mau gendut atau kurus"
"Katanya yang langsing itu cantik loh, dek"
"Gak ada teori yang menjelaskan hal semacam itu. Cantik itu relatif Mbak. Buat apa cantik fisik dan wajah tapi kelakuan buruk. Syukuri saja apa yang Allah kasih sama kita, jangan kufur sama nikmat Allah, Mbak"
"Bu ustadzah cantik ku ini bos"
"Ah, Mbak Nia gitu mulu" Zakia pasti akan merona malu ketika Tania menggodanya dengan kata-kata itu.
Tania terkikik geli saat melihat Zakia yang berlari dengan wajah merona malu.
"Usil banget sih, Sayang? "
"Dia itu lucu tau, Kak. Apalagi kalau lagi malu, mukanya merah banget"
"Sudah Nia jangan goda adik kamu terus. Nanti dia malah gak betah disini"
"Nggih Ayahku sayang"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Sitti Azizah
mantep SMG bhgia sll
2023-05-02
0
kavena ayunda
enak bgt hidup mantan suami smaa.pelakor nya bahagia aja sih thor
2022-10-04
0
Tihajar
lanjut aku suka
2022-04-09
1