Amoera sangat gugup duduk disamping Denzo yang terlihat menatap Abi Mark yang duduk disampingnya dengan Umi Shena yang ada didekat Amoera, keduanya menjadi Wali nikah Sah Denzo dengan Wali Amoera yaitu Majelis Ulama yang tampak berbincang kecil membicarakan surat-surat dan Buku Nikah yang sudah disiapkan, tinggal ditanda tangani saja oleh kedua Mempelai.
"Apa kalian siap?"
Denzo menatap Amoera yakin dan keduanya pun mengangguki Sheikh Abdullah yang lansung menjabat tangan Denzo yang tegap dan berwibawah, Pria yang memakai jas lengkap dengan Dasi itu tampak sangat yakin dengan keputusannya.
"Saya Nikahkan Engkau Denzo Sian Alfoenzo Bin Mark Sian Alfoenzo dengan Amoera Eorana dengan seperangkat alat sholat dan Sejenis Berlian 10 Gram dan harta lainnya dibayar, Tunai!"
"Saya terima nikahnya Amoera Eorana dengan mahar tersebut dibayar, Tunai!"
Ucapan Denzo begitu lancar membuat mereka semua menelan kelega'an, hal yang dirasakan Umi Shena adalah lega dan berharap kelak semua ini tak sia-sia, ia mendukung keputusan Denzo untuk menikah tentu ia sebagai seorang ibu yang tahu betul Perasa'an Putranya Umi Shena merasa bahagia, meski nanti ia tak tahu apa yang terjadi dengan anak-anaknya.
"Sah!"
"Alhamdullilah hirobbil'allamin!!"
Mereka bersyukur lalu berdo'a bersama dengan Sheikh Abdullah yang memimpin, beberapa Prosesi pun dilakukan hingga tiba saatnya Denzo dan Amoera menyalipkan Cincin Pernikahan mereka.
Amoera hanya diam menurut atas arahan Umi Shena, ia tak berani menatap wajah Tampan Denzo yang semangkin bercahaya seakan mendapat mentari yang selama ini tertutup awan.
"Ulurkan tanganmu!"
"I..Ini!"
Amoera mengulurkan tangannya dengan wajah yang tetap tertunduk, mereka bingung kenapa Denzo tak kunjung memakaikan Cincinnya membuat tanda tanya besar dibenak mereka.
"Ada apa?"
"Aku juga tak tahu!"
Bisik mereka mencoba untuk menunggu, Denzo tetap diam menatap Amoera yang tak ingin memandangnya.
"Tatap aku!"
"Ta..Tapi disini..!"
"Tatap aku, Sayang!"
Untuk sekali ucapan kecil yang hanya didengar Amoera itu membuat ia lansung mengangkat wajahnya menatap lembut wajah tampan Pria yang sudah Sah menjadi Suaminya malam ini. perlahan Denzo memasangkan Cincin itu ke jari manis Amoera lalu mengecupnya membuat mereka memerah malu sedangkan Umi Shena tersenyum bahagia.
"Ouhhh!"
"Selamat datang di Duniaku!"
"Terimakasih!"
Amoera melakukan hal yang sama namun ia mengecup punggung tangan kekar Denzo yang lansung memeluknya membuat mereka semua yakin Pernikahan ini memang atas dasar Cinta yang tergambar jelas dari mata mereka masing-masing.
"Baiklah, semoga kalian menjadi Keluarga yang Sakinah Mawadah Warohmah, dan selalu bahagia mengingat Allah yang Sempurna!"
"Amin!"
Denzo dan Amoera menyalami para Tetuah ulama dan Majelis yang tak segan untuk memberikan Do'a, mereka baru pertama kali disalami oleh Mister President ini meski yang sekarang hadir ditengah-tengah masa adalah seorang Pria muda yang telah menyandang Status Menikah dan beristri.
Setelah beberapa lama menjalani beberapa Do'a, tepat jam 11 Malam acara selesai sesuai kesederhana'an yang Denzo pinta, tak banyak yang menghadiri selain tokoh Aggama dan hanya beberapa Saksi dari Anggotanya, Mereka juga bingung kenapa Denzo malah memilih menikah secara diam-diam dari Publik begini?
"Apa kalian ingin pulang Sekarang?"
"Yah! Kau meninggalkan Perusahaan di Amerika dan pergi kesini hanya untuk Menjemput gadismu, Ya?"
Goda Umi Shena mengelus kepala Denzo yang memberi senyuman khasnya bagi sang Umi yang sangat ia cintai, Amoera melihat jiwa besar yang terpimpin didalam tubuh gagah Denzo.
"Kak! kau pulang malam ini juga, Kan?"
"Hm! Pesawatnya sudah disiapkan!"
"Tapi apa Kakak ipar ikut?"
Denzo menggenggam tangan Amoera yang ada dibelakangnya, gadis ini sedari tadi tak percaya diri bergabung dengan Umi Shena dan Rea yang terlihat sangat berkasta tinggi, ia teringat ucapan Kakaknya dulu.
"A..Aku..Aku tinggal disi..!"
"Kau ikut aku!"
"Iya, Nak! kau sekarang sudah punya seorang Suami! kau harus mematuhi yang baik darinya, kau sudah beralih tanggung jawab ketangan Putraku!"
Timpal Umi Shena mengelus punggung Amoera yang terdiam, Denzo tahu Amoera masih memikirkan tentang Justin dan 2 Kakaknya yang sudah tiada itu.
"Kau tak perlu khawatir! Kakakmu akan selalu bahagia jika kau bahagia!"
"Benarkah?"
"Hm!"
Amoera lansung mengangguk mengikuti langkah Denzo menuju mobilnya, Mereka harus lansung ke Bandara dengan Damian yang sudah menyiapkan segalanya sesuai keinginan Pria itu.
Disepanjang Perjalanan Amoera hanya diam, tak sepatah katapun yang keluar dari bibir mungil Sexsinya membuat Leo yang sedang menyetirpun aggak bingung.
"Ada masalah?"
"Tidak ada!"
Denzo menghela nafas halus lalu membaringkan tubuh Amoera dengan kepala gadis ini tepat berpangku ke pahanya, tatapan keduanya terkunci dengan Genggaman tangan Denzo menguat ke tangan mungilnya.
"Tak usah memikirkan apapun, bukankah kau sudah ada bersamaku?"
"Zo! bagaimana dengan Kakak? dia itu tak bisa berjalan bisa saja nanti terjadi sesuatu padanya!"
Seandainya Justin memang benar membohongimu apa yang kau lakukan? dia itu sangat licik memanfaatkan gadis se Istimewa dan sebaik kau Amoera. cobalah berfikir maju dan jangan fokus pada kebaikannya.
"Jangan terlalu percaya pada orang!"
"Termasuk kau?"
Tanya Amoera sedikit menyelipkan Intonasi kesalnya karna Denzo selalu bicara begini setiap membahas Kakaknya, padahal menurutnya tak ada yang salah sama sekali.
Bukannya marah Denzo hanya menarik sudut bibirnya kecil mencubit gemas pipi Cubby yang selalu membuat ia melamun memikirkan gadis ini.
"Hanya padaku! kau Istriku, Milikku dan tak ada yang bisa melukaimu!"
"Zo! Mau ini Boleh?"
Jari Amoera menyentuh bibir Denzo yang terdiam sesaat dengan gestur yang tenang, padahal Amoera tak tahu kalau sedari pertama mereka bertemu Denzo selalu menahan diri aggar tak melewati batas. berbeda dengan Amoera yang sangat penasaran bagaimana rasanya berciuman.
"Benar kau mau?"
"Hm, Yah! Ora penasaran kenapa setiap Pria dan Wanita yang ada di bawah pohon didekat kapal selalu begitu setiap bertemu, pernah Ora ingin mencobanya tapi tidak tahu dengan siapa!"
"Kau yakin?"
"Apa boleh?"
Denzo mengangguk misterius dengan Amoera yang bangun dan duduk dipangkuan Denzo yang hanya diam menunggu apa yang dilakukan si Lamban ini.
Perlahan Amoera mendekatkan wajahnya, keduanya masih saling menatap mesra namun penuh makna, bahkan hembusan nafas itu saling membentur dengan kedua tangan Amoera berada di bahu Denzo yang membelit pinggangnya.
Cup..
Amoera menempelkan bibirnya ke bibir Denzo yang hanya diam, mata mereka masih menghunus jantung masing-masing tanpa pergerakan, tak ada Inisiatif dari Amoera untuk melakukan hal lain selain menempelkan bibir saja sedikit menekan dan..
"Sudah! Terimakasih, Zo!"
Amoera menjauhkan wajahnya dari wajah Denzo yang sudah merah merdang membuat Amoera kebingungan, apa ia salah melakukan itu?
"Zo! apa kau sakit?"
"Itu bukan ciuman!"
Suara serak Denzo berucap berat menatap lemah Amoera yang tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Kau ingin merasakan Ciuman?"
"Iya tapi kan sud..!"
Cup..
"Ehmm!"
Pekik Amoera tertahan saat bibirnya malah dibungkam Denzo yang memangut lembut seraya tangan yang mengelus kepala Amoera yang perlahan tenang seraya membuka mulutnya kecil karna lidah Pria ini sudah menyusuri rogga mulutnya dengan sangat halus dan penuh perhatian.
Aku suka semua ini! sangat manis dan lembut.
Batin Denzo melepas dahaga kecilnya dengan tak henti-henti menghisap lembut penuh tekanan, bahkan Amoera pun terbuai hingga memejamkan matanya membiarkan Denzo menjelajahi mulutnya dengan begitu pelan namun sangat membayang.
Decapan erotis itu meremangkan kulit Leo yang lansung memasang memakai Earpice lalu menyetel musik di Ponselnya untuk menghindari suara tak berahlak itu.
"E..Emm!"
Amoera menepuk bahu Denzo karna nafasnya sudah habis dan tercekat, dengan tak rela Denzo melepas pangutannya dengan benang Silva yang masih menjuntai menghubungkan bibir masing-masing.
Deru nafas Denzo memberat dengan bagian bawahnya yang sudah keras membuat Amoera gelisah karna ada yang menekan bokongnya.
"Jangan bergerak!"
"Ke..Kenapa, Zo? kau sakit?"
Denzo menggeleng mengusap bibir bawah Amoera yang bengkak dengan jempolnya, ia ingin lagi tapi ia tak mau membuat Amoera takut dan lelah nantinya.
"Zo! wajahmu merah, lehermu juga! Ora takut kau..!"
"Aku baik-baik saja jika kau diam dan jangan menggesekan bokongmu, Sayang!"
Lirih Denzo berat seraknya menyandarkan kepala ke Kursi mobil seraya wajah yang benar-benar menahan, namun Amoera tak mengerti, ia malah panik sendiri melihat kulit Denzo yang merah meradang dengan dada yang naik turun menghela nafas.
"Zo! kau kenapa?"
"Ouus Shitt!"
Umpat Denzo menggeram saat Amoera malah terus bergerak membuat ia kelimpungan.
.......
Vote and Like Sayang.,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
SLina
aqu pun sama spt ora, pasti berat u mninggalkan kk spt justin
2024-03-28
0
Kinay naluw
yuhuuu udah sah.
2022-12-09
0
༄༅⃟𝐐Dwi Kartikasari🐢
wkwkwkkkk
ular piton nya mau cagoa
2022-06-19
0