Abligai menatap serius Amoera yang merasa tak nyaman hingga ia terus berdempet ke tubuh Denzo yang sedang menelfon, sedari tadi Abligai selalu menatapnya dengan arti yang berbeda membuat Amoera menjadi sedikit tak tenang, apalagi mengingat ia baru kenal dengan Abligay.
"Kenapa. hm?"
"Tidak ada! hanya ingin seperti ini!"
Ucap Amoera mengeratkan pelukannya ke tubuh Denzo yang mengelus kepalanya lembut, entahlah keduanya sedari tadi ada dibawah pohon ini tanpa beranjak kemanapun walau sudah sangat sore, Denzo hanya pamit saat ia ingin Sholat tadi.
"Hey! kau bisa jatuh, Sayang!"
"Sayang?"
"Hem, Iya!"
Amoera terkikik kecil seraya memanjat tubuh gagah Denzo yang dengan cepat menjadikan lehernya sebagai tempat gelantungan Amoera yang berkoala padanya, gadis ini terlihat bersembunyi dari Abligay yang menahan panas akan api cemburu yang melahap jiwanya.
"Apa saat disana anda lansung Menikah, King?"
"Tidak! kau persiapkan saja tapi.. Hey, jangan banyak bergerak!"
Tegur Denzo lembut pada Amoera yang bergerak karna ia suka dengan aroma tubuh pria ini hingga ia tak mau diam menggerayai leher Denzo yang sudah panas.
"Zo rajin olahraga?"
"Memangnya kenapa, hm?"
"Tubuhmu keras, dan Kekar!!"
Denzo hanya tersenyum seraya melanjutkan panggliannya dengan rencana Pernikahan yang sederhana untuk yang sementara waktu serta mengajak Amoera masuk dalam kepercaya'annya terlebih dahulu.
"Sayang!"
"Hm?"
"Kau mau tidak masuk dalam Kepercaya'anku?"
"Apa dengan masuk kesitu Ora jadi cerdas?"
Denzo menyentil halus kening Amoera karna gadis ini selalu menyangkut pautkan segalanya dengan Kecerdasan dan Sukses.
"Tergantung kau juga! kalau kau serius pasti akan cerdas!"
"Kalau begitu Ora serius!"
"Kau yakin?"
Amoera mengangguk yakin lalu menatap Kiki yang sedang berdiri entah apa yang dirasakan Hewan itu hingga wajahnya sangat serius.
"Kiki! kita ikut Tuan Tampan, ya?"
Kiki tersigap namun ia seketika mengangguk mengerti sedangkan Denzo sudah tahu apa yang telah terjadi hingga Kiki seperti ini.
"Jangan pernah sendiri! kau harus bicara dengan teman atau apapun disekitarmu!"
"Memangnya kenapa?"
"Karna kau itu berbeda, hm?"
Amoera pun menganggukinya, ia tak ambil pusing karna menurutnya memang ia sering merasa melamun sendiri lalu tak tahu apa yang ia lakukan selanjutnya.
"Kita akan melakukan Prosesi Religusmu besok! ingat jangan pernah sendiri dan mengosongkan pikiranmu!"
"Iya, Zo! tapi memangnya kenapa?"
"Hanya berjaga kalau singa lain mengusikmu!"
Amoera hanya diam sejenak, ia rasa kali ini ia merasa aman karna Denzo selalu ada bersamanya meski terkadang setiap ingin tidur Amoera selalu hilang kendali seakan ia dihantui sesuatu.
"Kau bisa membaca?"
"Tidak! memangnya kenapa?"
Denzo terdiam sejenak mendudukan Amoera diatas ayunan, ia harus mencarikan Amoera guru atau sejenisnya untuk menyibukan gadis ini.
"Bay!!"
Abligay yang sedari tadi mencari celapun lansung mendekat bersemangat menatap Amoera membuat Denzo benar-benar panas, tapi ia harus menahannya karna nyawa gadis ini lebih penting.
"Iya, Kak?"
"Kau akan lulus?"
"Iya! hanya beberapa minggu lagi!"
Denzo menggangguk datar seraya memeriksa Ponselnya, ia perlu beberapa teman untuk Amoera sebelum menjalankan rencananya yang selanjutnya.
"Kau bisa ajari ISTRIKU?"
Glek..
Abligay menegguk ludahnya berat saat Denzo menekan kata itu, ia mengupat didalam hati karna Amoera belum menikah tapi Denzo malah mengumumkan status Palsu.
"Memangnya mengajari apa?"
"Membaca! menulis atau sejenisnya!"
"Aku mau dan benar-benar mau! iya kan Cantik?"
Bugh..
Abligay lansung terhuyung untung saja ia berpeggangan ke pohon disampingnya karna tendangan kuat Denzo yang membuat ia nyaris tersungkur.
"Hati-Hati dengan ucapanmu!"
"Hm! tapi aku cukup serius kalau soal ajar mengajar!"
Denzo tak memusingkannya lalu mengelus kepala Amoera yang sedikit berayun menatap Abligay dengan geli, ia kira laki-laki ini jahat tapi nyatanya sangat ramah.
"Jangan termakan rayuannya! ingat kau akan menikah denganku!"
"Iya, Zo!"
Denzo mengecup kilas kening Amoera lalu melangkah pergi, ia harus menyelesaikan pekerja'annya yang lain yaitu mencari Rusell yang masih belum ditemukan sama sekali.
"Namaku Abligay!"
"Hm, Aku sudah tahu!"
Jawab Amoera tersenyum menjabat tangan Abligay yang senang bukan main, ia duduk ditepi bangku Pohon seraya menatap Amoera yang juga menunggu apa yang akan dilakukan.
"Benar kau akan menikah?"
"Hm, iya! kau sudah menikah?"
"Belum! masih menunggu!"
Ameoera yang tak tahu artinya pun hanya mengangguk paham saja, namun Abligay lansung terdiam saat mendapat pesan di ponselnya, wajah tampannya sedikit berubah aneh membuat Amoera cemas.
"Kenapa?"
"Tidak ada! kau mau aku temani berjalan keluar tidak!"
"Zo bilang aku tak boleh keluar!"
"Ayolah, hanya untuk hadiah pertemanan kita! aku janji hanya jalan-jalan didekat Taman kota!"
Amoera sedikit bingung namun seketika ia mengangguk saat mengingat Abligay adalah temen Denzo tentu ia akan percaya.
"Hm, Baiklah! tapi hanya sebentar!"
"Iya, percaya saja padaku!"
Amoera mengangguk turun dari Ayunannya dan melangkah beriringan dengan Aglibay yang berbicara ngelantur membuat ia sesekali terkekeh kecil dan membalasnya juga.
Mereka terus melangkah keluar dengan Aglibay yang melempat batu disetiap ia bicara, ia juga terbahak kecil akan hal konyol yang keluar begitu saja. Aglibay mengendarai mobilnya untuk berkeliaran hari ini.
Setelah beberapa lama mereka sampai di tepat didekat jalan Taman kota dengan Mobil yang dikendarai Abligay terparkir disamping Toko Ice Cream yang begitu segar membuat Amoera berseri kegirangan.
Suasana begitu ramai karna Para Masyarakat disini sibuk membawa anak-anak mereka untuk menikmati Sore ini.
"Ayo Turun!"
"Tapi disini banyak orang!"
"Kalau ingin sepi di kuburan!"
Amoera hanya menepuk bahu Aglibay yang terkekeh seraya turun untuk membuka pintu Mobil Amoera.
"Silahkan, Nona!"
"Kita mau kemana?"
"Kau mau Ice Cream?"
Amoera mengangguk dengan Aglibay yang lansung menggandeng Amoera menuju tempat itu, para anak-anak disana juga sangat ramai membuat mereka harus exstra sabar dan menunggu.
"Ra!"
"Ha?"
"Aku ke Toilet dulu! kau tunggu disini dan jangan kemana-mana!"
"Ta..Tapi Bay!!"
Aglibay sudah berlari ke belakang sana lalu menghilang ditengah keramaian membuat Amoera menggeleng saja.
"Dasar Bay!"
Gumam Amoera lalu mengantri dibalik seorang bocah laki-laki berkulit hitam itu dengan para Wanita yang terlihat menatapnya aneh, Amoera pun merasa gugup dipandangi seperti itu hingga ia menunduk.
"Apa yang salah denganku?"
"Hey! Kau!"
Amoera lansung menatap wanita berambut keriting dengan kulit hitam legam itu, persis seperti bangsa Eropa tapi dalam campuran lain.
"I..Iya, Nyonya?"
"Kau sudah Remaja tapi masih mengantri dijajanan anak-anak! pergilah ketempat lain, banyak disini yang sederajat denganmu!"
"Ma..Maksudnya?"
"Ternyata kau dungu ya?"
Dgg..
Amoera lansung dilanda rasa takut, ia melangkah pelan kepinggir membiarkan para anak-anak yang lain menggantikan tempatnya, ia tak tahu kenapa mereka malah tak menyukainya.
"Kak! cobalah pergi mencari teman!"
Ucap Bocah berambut lurus pirang yang menatap ramah Amoera, tentu Amoera mengangguk dan melangkah menjauhi Keramaian hingga ia berjalan sendiri memutari taman.
Ia tak tahu siapa yang telah mengintainya sedari tadi bahkan Pria berpakaian hitam dan Masker itu menyalip keramaian mendekati Amoera yang sibuk melihat daerah disekitarnya.
"Dapat kau!"
Gumam Pria itu mengeluarkan sebilah pisau dari dalam jaketnya seraya mendekati Amoera yang sama sekali tak peka, gadis dungu itu malah sibuk berjalan tak tahu arah.
Disaat Amoera mulai linglung ia dengan cepat mendekat kebelakang tubuh Amoera dan...
....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Kinay naluw
apa Ora di culik.
2022-12-09
0
༄༅⃟𝐐Dwi Kartikasari🐢
awas ora...
2022-06-19
0
Rokiyah Yulianti
Yaelah Bay kenapa Amoeranya ditinggal si, itu si Ora mau diapain? Deg deg'an euy, auto ngamuk dah si Denzo kalo sampe Ora celaka
2022-03-05
0