Tatapan licik itu lansung tercipta saat melihat sebuah Pesan dari teman sejawat mereka yang sudah lama menggeluti Bisnis haram ini, bahkan Bisnis pertandingan Hewan Peliharaan ini selalu diadakan setiap minggu untuk menghibur para Manusia tak berperasaan di Dunia gelap sana, peluang besar mendapat uang yang berlimpah itu seketika mengguncang otak mereka.
"Kau ingin ikut?"
"Aku tak menjamin! Dunia bawah itu terdengar sangat menakutkan! Rusell itu sudah lama ikut didalam Pertandingan Ilegal itu, bagaimana kalau Aparat Kepolisian mencium gelagat kita?"
Dario terdiam sesaat, mereka sudah tak ingin hidup tak berkecukupan begini, apalagi setiap hari Amoera hanya bisa mengumpulkan beberapa roti yang belum tentu mengenyangkan bagi perut rakus itu.
Sekilat ide lansung timbul di otak si gempal Boby yang sedang mengunyah beberapa Makaron yang ia curi dari jajanan anak kecil ditaman kota sana.
"Bagaimana kalau si Dungu itu yang kita pertandingkan?"
Dario lansung menyeringai puas, ia menepuk punggung Boby yang telah memikirkan bagaimana mudahnya menyuruh si Dungu itu untuk bertanding siang ini, ia yakin Amoera tak akan paham apa maksud mereka sebenarnya.
"Otakmu berfungsi dengan baik! yah, Amoera adalah Peliharaan yang pas!"
"Kalian bicara apa?"
Justin yang membuka pintu kamarnya pelan dengan menyeret kakinya yang tak bisa bergerak, ia mendengar kata-kata aneh yag terucap dari mulut dua Mahluk serakah ini.
"Kau tak perlu ikut campur!"
"Aku tak akan biarkan kalian mengusik, Ora!"
"Hey! lihat tubuhmu, kau saja hidup bergantung pada Kotoran itu!"
"Boby!!!"
Bentak Justin menyala-nyala, ia tak pernah memanggap Amoera sebagai kotoran dan tak pernah ingin merepotkan si kecil itu, kalau bisa ia yang membanting tulang untuk menghidupi saudara-saudaranya ini.
"Aku benarkan? kau itu juga secara tak lansung memanfaatkan si dungu itu, tak usah Sok perduli padanya!"
"Apa kau sudah gila? dia adikmu Bob, kau tak pernah menganggapnya dan memandangnya dengan baik!!"
Brugh..
Justin dilempar dengan kursi plastik yang ada disamping Dario tadi hingga pria itu lansung tergorok menghapit pintu dengan pelipis yang berdarah.
"Jangan menceramahiku! kalau kau ingin membantunya, maka hilagkan cacatmu ini! dasar tak berguna!!"
"Kakak!!!"
Suara melengking Gadis kecil di depan pintu sana dengan mata yang mengembun melihat Justin yang tampak tak bisa melawan karna keadaan yang terbatas, ia tak habis pikir dengan dua manusia tak punya hati ini.
"Ka..Kak, Justin!"
"Kakak tak apa! jangan menangis!"
Amoera terisak melihat luka dipelipis Justin, ia menatap sesak pada dua Kakak Laki-lakinya yang sama sekali tak berguna.
"Ka..Kakak hiks! kenapa melukai, Kak Justin? dia sedang sakit kak hiks!"
"Salahkan dia yang mencoba menjadi pahlawan! si cacat ini memang tak berguna!!"
"Cukup!!! hiks, Ka.Kakak jahat!!! Kalian jahat hiks!!"
Teriak Amoera melempar kembali kursi itu ke tubuh Boby yang lansung panas akan keberanian si Dungu ini, dengan sekali uluran Boby lansung melempar benda itu kembali ke kepala Amoera yang lansung membentur dinding.
Bugh..
"Ora!!!"
Justin terkejut melihat Amoera yang meringis memeggangi kening mulusnya yang berdarah, ia dengan siggap melihat kening sang adik.
"O..Ora! Ora ke..keningmu?"
"O..Ora baik-baik saja, Kak!"
Amoera lansung menghapus lelehan darah di keningnya itu dengan cepat, kepalanya sangat pusing tapi ia berusaha aggar Justin tak khawatir padanya meski tubuhnya sudah sangat lelah.
Melihat Amoera yang sangat menyayangi Justin membuat senyum bengis itu muncul dikedua wajah Boby dan Dario, mereka sudah memikirkan apa yang akan membuat si dungu ini sukarela pergi ke pertandingan.
"Kak! Ayo kembali ke tempat tidur,mu!"
"Tapi keningmu ha..!"
"Ora baik-baik saja, ayo Kakak istirahat!"
Justin menghela nafas berat dan menurut saat Amoera membantunya untuk kembali ke tempat tidur, ia bisa pergi kekamar mandi dengan menyeret kakinya dengan pasrah, ia tak ingin merepotkan Amoera yang masih sangat belia untuk menatap Dunia yang fana ini.
"Kak! Ora akan siapkan makanan?"
"Makanan?"
Amoera tersenyum mengangguk mengeluarkan satu kotak makanan yang ia sembunyikan dibalik Jas besar yang ia pakai hingga dua Monster di luar sana tak melihatnya.
"Ini tadi ada Tuan Tampan yang menyelamatkan Ora dari para penjahat! dia juga mengobati Kiki dan memberi ini!"
Amoera begitu berbinar menceritakan segalanya, si dungu itu terlihat sangat mengidolakan dan menyukai Tuan Tampan yang menjadi bualan bibirnya.
"Dia itu sangat Tampan, Tinggi dan gagah! tapi dia juga menakutkan, Kakak!"
"Dia tampan tapi menakutkan?"
Tanya Justin bingung, ia mengelus surai ke'emasan Amoera yang terasa lebih harum dan lembut, Pakaian Amoera juga telah diganti.
"Dia juga membelikanmu pakaian?"
"Hem! Tadi ada Temannya yang mengantar Ora sampai Gang, dia juga memembelikan makanan dan Pakaian ini!"
"Lalu jasnya?"
Amoera tersentak kaget, ia baru ingin kalau Jas Tuan Tampan itu masih belum ia kembalikan, padahal tadi ia berfikir untuk mengembalikannya secepat mungkin karna dari Tampilan dan Tekstur benda ini sangat mahal.
"Ka..Kak! Ora lupa, I...Ini pasti mahal, kan?"
Justin mengangguk membenarkan melihat Lebel atau ciri-ciri khas dari Jas mahal dan berkelas ini, sudah ia duga kalau Benda ini dipakai oleh Orang kelas atas dan Bangsawan.
"Lututmu kenapa, Ora?"
Lirih Justin terkejut saat melihat Lutut Amoera yang memar dan tergores, ia lansung melihat bagian tubuh Adiknya yang lain seperti punggung dan ia terhenti pada tangan dan siku Amoera yang terkikis Aspal.
"Ka..Kau! Siapa lagi yang mengusikmu? sudah Kakak bilang kau jangan pergi ketempat ramai!!!"
"Ta..Tapi Ora tak..!"
"Kau ingat Derajat kita Ora! orang tak akan menganggapmu manusia disana, kita hanya ditempatkan di sudut!"
Hati Amoera terjepit mendengar kalimat itu, ia ingin sekali menjadi Gadis seperti di luar sana, ia suka melihat dari kejahuan para Remaja yang bercanda tawa bergaul dengan semua orang, ia tak ingin hidup di kucilkan dinegara bebas dan Maju seperti Prancis ini.
"Ta..Tapi Ora ingin seperti mereka, Kak!"
"Kau dengar Kakak baik-baik! Diluar itu sangatlah kejam, jadilah dirimu sendiri dan lupakan impian tinggi itu, Ora! kita tak akan bisa seperti mereka, Sayang!"
Bibir Amoera bergetar mendengar ucapan itu dengan tetesan air mata yang mulai keluar, apa ia akan tetap hidup begini selamanya? apa ia tak akan pernah merasakan hidup seperti Wanita-Wanita diluar sana?
"Maafkan kakak! Ka..Kakak sudah membuat hidupmu hancur!"
"Kakak hiks, ja..jangan bicara begitu!"
Suara bergetar Amoera yang lansung memeluk Justin dengan isak tangisnya, apalah adaya Justin yang tak ingin Adiknya terus jadi remehan semua orang, ia tak ingin Amoera menjadi hilang harga diri dihadapan mereka semua.
"Kita jauh dari mereka semua! Nikmati hidupmu tanpa harus membuat harga dirimu terus di injak, Sayang!"
"Ta..Tapi Ora i..ingin seperti mereka, Kak hiks! Ora tak mau di katakan Kotoran hiks hiks, Ora Manusia kan Kak?"
Justin mengangguk mengecup kening Amoera dengan lelehan bening itu, ia ingin segera sembuh tapi harus bagaimana? tak ada yang bisa ia harapkan.
"Kau Adik Kakak! kau manusia bah..bahkan kau lebih baik dari mereka!"
"Ta..Tapi mereka selalu menga..mengatakan Ora Kotoran hiks! Ora benci mereka, Kak hiks!"
"Tenanglah, kau tak Kotoran! kau Berlian sayang, jangan hiraukan makian itu! yang penting kau tak seperti apa yang mereka katakan!"
Amoera mengangguk lalu menatap Kiki yang mengesekan bulu lembut itu ketangannya dengan wajah yang begitu manis menatap Pemiliknya ini.
"Tadi kaki Kiki terluka, Kak!"
"apa sudah di obati?"
"Sudah, hm Kiki masih sakit?"
Kiki hanya menggeleng seakan mengerti ucapan Amoera yang sudah sehati dengannya, namun Kiki lansung mengeram saat melihat Dua Mahluk yang tadi membuat masalah muncul di pintu sana.
"Mau apa kalian?"
"Ora!"
"I..Iya kakak?"
"Aku ingin bicara!"
Justin menggeleng menatap Amoera yang tersenyum mengecup pipi Justin lalu pamit pergi, si dungu itu tak tahu apa yang telah direncanakan oleh dua Mahluk bejat itu.
..........
Denzo menatap tajam Ezilla yang menunjukan beberapa Target untuk dijadikan Karyanya malam ini, yang ia permasalahkan wanita ini merekrut orang-orang ysng berasal dari Perusahaan MCC itu sendiri.
"Kau tak takut, Momymu marah?"
"King, Dady ada dibelakangku! jadi aku bebas dari amukan, Momy!"
Denzo lansung berdcih malas, ia tak tertarik dengan tawaran itu karna lebih penasaran pada Gadis yang tadi membawa Jasnya, tatapan itu seakan membayang dikepalanya.
"Aku tak tertarik!"
"Ayolah, disana juga banyak Wanita yang..!"
Ezilla lansung terdiam membeku saat Denzo menatapnya tajam, pria ini sangat menyeramkan jika sedang marah begini.
"A..Aku pergi!"
"Hm!"
Ezilla lansung melangkah keluar dari Ruangan Denzo yang duduk dikursi kekuasaannya, ia bertopang kaki angkuh mencoba berfikir untuk menepis gadis menyebalkan itu.
......
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
kirain Elliza ini wanita tuan Denzo
2024-10-24
0
pupu
sekali ketemu trus kepikiran ,,terlalu klise thor.
2023-02-10
1
Kinay naluw
ada ya sodara modelan begono.
2022-12-09
0