Tatapan mata penuh keterkejutan itu lansung menghunus seorang Gadis yang sudah bersih memakai Kemeja kebesaran yang begitu Sexsi ditubuhnya, gadis itu hanya bisa menunduk saat mata tajam Wanita berambut kehitaman itu seakan mengintrogasinya dengan sangat mengerikan.
Amoera hanya bisa diam mematung didepan pintu kamar mandinya merasa sangat malu namun juga takut, wanita ini begitu cantik dan terlihat sempurna dengan tubuh yang tinggi, ia menduga sesuatu yang mungkin sudah akan menghancurkan hidupnya.
"Kau siapa?"
Tanya Rea penuh ketajaman, disini tak ada Kakaknya Denzo karna Pria itu entah pergi kemana setelah menyimpan gadis mungil ini didalam kamarnya, tentu Rea dan Damian sangat heran dan terkejut.
"Kau tak punya mulut, ya?"
"A..Aku..!"
"Sudahlah, kau membuatnya takut!"
Ucap Damian merasa kasihan dengan gadis cantik ini, ia mendekati Amoera yang mundur beberapa langkah menjauhinya membuat dahi Damian mengkerut merasa bingung.
"Hey! Namaku Damian!"
"A...Amoera!"
"Ouh! Amoeba!"
Amoera lansung menatap Damian yang terkikik dengan ucapannya sendiri dengan Rea yang lansung mencubit perut Sixpak sang kakak yang keterlaluan bercanda dalam situasi begini.
"A..Amoba i..itu apa?"
"Ha?"
Pekik keduanya terkejut bukan main membuat Kiki yang sedari tadi menyimak menggeram menatap tajam Damian yang mencengir kuda menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hanya sejenis Makanan! kalau di makan dia menyengat!"
"Benarkah?"
"Jangan kau dengarkan ucapan si Pembohomg ini! sekarang aku tanya, Kau siapa, dari mana dan apa hubunganmu dengan Pria yang membawamu kesini?"
Tanya Rea lagi seraya berbaring diatas ranjang sana, Amoera memperhatikan betul bagaimana tingkah Rea yang sepertinya sangat berani dan begitu dekat dengan Tuan Tampan itu, hati kecil Amoera mencolos membayangkan kalau ia sudah salah berada disini.
"Saya hanya pengemis!"
Dorr..
Damian terkejut bukan main saat peluru itu lansung menghunus paha Amoera yang seketika meringis dan jatuh memeggang daun pintu, Gadis mungil itu gemetar pucat saat melihat Siapa yang menatapnya tajam didepan pintu kamar sana.
Aura kelam itu mulai memyeluruh membuat Damian tak ingin bercanda lagi, ia lansung berjongkok ingin membantu Amoera yang sudah menangis menahan sakit.
"Jangan membantunya!"
"Denzo! Kau sudah gila, ha? dia tak salah apapun lalu kenapa kau menembaknya?"
" pengemis itu tempatnya bukan disini!"
Amoera mencengkram pahanya yang berlumuran darah, sangat sakit rasanya dipermainkan begini, ia tak tahu apa yang sebenarnya pria itu mau, disuatu saat ia bisa lembut dan tiba-tiba ia malah dibuat takut dan selalu terluka akan Perlakuan kasarnya.
"Hey! ayo ikut aku!"
"JANGAN MENYENTUHNYA!"
Tekan Denzo menatap membunuh Damian yang membuang nafas berat berdiri dengan wajah yang frustasi, ia sangat tak tega melihat Amoera yang meringis sakit dan menangis tanpa ada kesalahan yang jelas.
"Kau pengemis. kan?"
"Pu..Pulang hiks!"
"Kemana tempatmu Pulang? Sampah? Cacian, atau Jalanan?"
Amoera tetap menunduk membuat Tangan Denzo benar-benar terkepal kuat menyaksikan kebodohan gadis ini, sama sekali tak punya harga diri dan keberanian.
"JAWAB AKU!!"
"Kakak hiks!! Ka..Kakak hiks!"
Isak Amoera meringkuk disudut sana karna merasa takut dengan Denzo yang sudah menghisap semua keberaniannya, darah itu terus keluar membasahi kemeja putih yang sudah bercampur rona merah.
"Kau orang terbodoh yang pernah aku temui!!"
"Kak!!"
Rea mengambil Pistol dari tangan Denzo yang sepertinya sangat emosi, ia yakin ada sesuatu yang menyulut sikap tak terkendali ini hingga bisa melukai seseorang.
"Sudahlah, dia masih belia!"
"Dia bukan manusia! bahkan dia mengakui dirinya sendiri RENDAH!"
Geram Denzo begitu mengubun, ia sangat tersulut akan apa yang baru saja ia ketahui atas laporan para Anggotanya, Asal usul gadis ini, Kisah hidup dan segalanya.
"Ki..Kiki!"
Amoera menghapus air bening yang terus keluar itu lalu menutup pintu kamar mandi dengan hati-hati, mereka hanya diam tak tahu apa yang dilakukan gadis malang itu sekarang.
"Kau keterlaluan!"
"Jangan mencampuri urusanku!"
"Tapi dia itu tak salah, Zo! kau bisa kena amuk Abi!"
"Kau tak tahu apapun dan Diam!"
Damian lansung mengumpat lalu duduk di sofa sana, begitu juga Rea yang tak ingin Kakaknya emosi lagi seperti tadi.
Setelah beberapa lama, Pintu kamar Mandi itu terbuka dengan Denzo yang masih berdiri teggak menunggu apa yang dilakukan Gadis lamban itu, dan seketika mata mereka membelo kosong saat melihat Amoera yang malah berpakaian kumu dan penuh darah sepertinya pakaian awal gadis ini.
"Tu..Tuan!"
Amoera mendekati Denzo yang bertampah panas mengepalkan tangannya kuat dengan aura yang sudah menyerukan pembantain, Damian dan Rea menegguk ludahnya berat saat wajah Denzo benar-benar mengeras.
"Sa..Saya pulang! da..dan Terimakasih!"
Ucap Amoera memberi senyum biasa diwajah pucatnya karna ia tak sanggup lagi dengan luka di paha dan pemikirannya, namun ia tak ingin menyusahkan siapapun.
Kau benar kak! Dunia ini kejam, dan tak ada tempatku untuk siapapun dan dimanapun.
"Ma..Maaf!"
Sambung Amoera lalu menyeret kaki berlumuran darah itu untuk keluar, bahkan kulit putihnya sangat pucat karna terlalu banyak mengeluarkan darah, melangkah tanpa alas seakan tak merasa dinginnya lantai ini.
"Denzo! Kau jangan setega ini!"
"Biarkan saja!"
Ucap Denzo datar berbalik menatap Amoera yang memeggang pintu keluar kamar, gadis itu terlihat memeggangi kepalanya yang berdenyut kuat dengan tubuh yang mulai lemas tak terkendali.
Perlahan ia mendekat ke tubuh Amoera yang masih saja memaksakan langkah itu untuk keluar, suasana seakan hening hanya tertuju pada gadis belia itu saja.
"Pu..Pusing!"
"Hey!!"
Pekik mereka saat Amoera lansung tumbang namun Denzo dengan cepat menagkapnya kilat seraya memeluk kepala keangkuhan gadis itu tepat menghapit dadanya.
"Tu..Tuan!"
"Otakmu tak berfungsi!"
"A..Aku i..ingin pulang!"
Amoera sayu-sayu mencengkram kepalanya kuat dengan Kiki yang menjilati luka dipahanya untuk meredam pendarahan, namun apalah dayanya karna tenaganya sudah hilang begitu saja.
"Dasar Lamban!"
"Pu..Pulang!"
Denzo tak perduli, ia menggendong Amoera kembali ke Ranjang sana dengan tatapan tak percaya Rea dan Damian yang mulai menggosipkan sesuatu, namun mereka terdiam saat Pria menyeramkan itu kembali menghunus jantung.
"Panggil Zalwa!"
"Baiklah! tadi kau menembaknya lalu kau obati, besok kau membunuhnya dan tak akan bisa kau hidupkan kemba..!"
"DAMIAN!!!"
"Iya!! Ah Dasar Pemarah!!"
Umpat Damian melangkah keluar karna bentakan keras itu sebuah kode untuk tak bercanda, sudah jelas ia selalu tak pernah serius dalam hal-hal tertentu yang menurutnya menyebalkan.
"Sakit?"
"Hm!"
"Seharusnya aku membunuhmu! kau selalu menyusahkan aku dimana tempat, Gadis Bodoh, lamban tak berguna!"
Umpat Denzo seraya mengambil pisau dan garpu dimeja sana, tak lupa kotak obat dan Tisu yang selalu Stendbay disini.
"A..As!"
"Jangan lemah, ini hanya luka biasa!"
"Kak! dia tak sama sepertimu atau aku! setidaknya perlakukan dia sesuai kemampuan tubuh!"
Ucap Rea memeggang bahu Denzo yang hanya diam tetap mencongkel peluru yang tadi hanya ia pidik pinggir, itupun hanya peluru rakitan untuk menembak jarak dekat, tak terlalu parah karna hanya menembus kulit luar.
"Lain kali buat aku menyabut nyawamu!"
Ucap Denzo menarik Amoera kepelukannya dengan tangan yang masih menahan untuk menarik peluru ini, ia harus meredamnya sesaat.
"Sa..Sakit hiks!"
Denzo mendekatkan lengannya ke mulut Amoera yang lansung mengigitnya menahan sakit dengan tangan satunya Denzo gunakan untuk mengambil sisa peluru yang digunakan.
"Gigit saja!"
"Ta..Tapi nanti Sakit!"
"Tak apa!"
Rea aggak sedikit bergidik dengan aura langka ini, ia tak menyangka kalau Kakaknya akan sebaik ini, ia kira Denzo akan menjadikan Amoera tempat ukiran, tapi malah menjadi begini.
"Aku salah tempat!"
Umpat Rea lalu melangkah pergi. sebentar lagi akan waktunya Sholat tentu ia harus pergi kekamarnya sekarang.
"Kak! jangan lupa Sholat!"
"Hm!"
Gumam Denzo seraya menghapus lelehan darah itu dengan peluru kecil yang tadi tertancap sudah keluar membuat rasa lega itu menghampiri Amoera.
"Jangan banyak bergerak! ambil Pakaian apapun yang kau suka di Lemari sana, tapi jangan Lemariku!"
"Pulang!"
"Dan jangan sekali lagi kau mengucapkan kata itu!"
"Tapi Sa..Saya ingin pulang!"
Denzo hanya diam lalu menyambar handuk pergi kekamar mandi, sekilat Denzo menatap wajahnya di Cermin sana dengan Intens, apa yang harus ia lakukan sekarang? ada rahasia besar yang terselumbung namun kenapa ia tak bisa membunuh Amoera.
"Ada apa denganku?"
......
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
mafia taat beribadah...
2024-10-24
0
Kinay naluw
ays... rahasia apa tuh bisikin dong.
2022-12-09
0
Sumini Harrni
kasihan ameora..♥️❤️
2022-09-18
0