Amoera lansung menatap kesal Denzo yang malah asik menembaki Mobil yang mengikuti mereka dari belakang membuat ia beberapa kali menutup telinganya akan suara panas timah yang menembus Body mobil 3 Manusia itu.
"Jangan menembak!"
"Kalau begitu kau saja yang ditembak!"
Sret..
Denzo menarik tubuh Amoera kekaca mobil sana dengan peluru yang menghujami mobil mereka membuat Amoera berteriak histeris meronta dari pelukan Denzo yang hanya bermain dengan Musuh dibelakang sana untuk menakuti gadis Lamban ini.
Dorr..
"Aaa!!!"
"Sangat bodoh!"
Umpat Denzo saat pidikan musuh itu meleset dari kepala Amoera yang menjadi alat uji cobanya kali ini membuat Leo menggeleng jengah saja.
Mobil mereka saling berpacu dengan Leo yang membawa 3 Mobil hitam dibelakang sana untuk melewati jalur sunyi didekat Pemungkiman tepat di dekat kota pembuangan dengan rumah-rumah para Gelandangan yang ternyata masih tersisa didekat pembuangan untuk Industri listrik.
Brakk..
"Jangan dihancurkan!!"
Teriak Amoera saat Mobil mereka menghantam pagar pembatas untuk masuk ke kota Pembuangan ini, ia menatap para Manusia yang bergantung pada sampah ini untuk hidup, tak mungkin baginya untuk menghancurkan harapan mereka.
"Jangan di tabrak!"
"Itu hanya Manusia jalanan!"
"Tapi mereka juga manusia! jangan memandangnya begitu, Mereka tak pernah ingin dilahirkan ditempat kumu begini!"
"Hm!"
Gumam Denzo lalu terdiam sesaat dengan laju mobil yang begitu cepat, Leo sudah terlatih dalam hal ini bahkan kemampuannya tak lagi bisa diduakan kecuali kalau sedang berdama Ezilla si Ratu Eropa itu.
Ia hanya santai duduk seraya menatap Kaca spion, tembakan itu beruntun menuju Mobilnya tapi sayangnya Mobil ini sudah dirangkap khusus dan sangatlah Otomotif.
"King!"
Brakk..
Denzo menendang pintu mobilnya lalu menembaki satu persatu para Manusia suruhan Klan barat itu dari samping dengan Amoera yang mematung dengan mulut yang penuh camilan saat melihat Pesona Denzo membuat ia mengerijab beberapa kali bak putaran Slowmo yang membayang diotaknya.
Dorr..
"Uhuk!"
"Otakmu memang dibawah rata-rata!"
Umpat Denzo lalu menutup pintu mobilnya dengan 3 Mobil dibelakang mereka yang saling berbenturan akibat taktik khusus Denzo yang hanya membelit posisi lawan saja.
"Urus mereka!"
Anggota Klan Latina lansung menghadap 3 Mobil itu untuk menyelesaikan Permainan Kingnya yang sudah bosan karna si Lamban itu terus membuatnya tak fokus.
Duarrr...
"Aaa!!"
Amoera menunduk saat ledakan besar itu berkobar panas dibelakang sana, Denzo terkekeh kecil menjitak kening Amoera yang sangat jauh dari Dunianya, gadis ini sama sekali tak bisa keras.
"Dia tak akan memanggangmu! tapi kalau kau mau aku bisa melakukannya!"
"A..Apa mereka mati?"
Denzo hanya menaikan bahunya acuh, ia menelfon seseorang yang terdengar sangat melengking menjawab sambungannya.
"Kakak!!!"
"Kau dimana?"
"Di..Di kampus!"
"Pulang dan katakan pada Abi untuk menjadikan Zilla Donatur tetap di Perusahaan cabang!"
"Siap!!! tapi Kakak kapan pulang?"
"Jangan macam-macam!"
Tut...
Denzo mematikan sambungannya secara sepihak, ia hanya acuh membayangkan kalau Si kecilnya dan Damian itu pasti sedang mengupat diseberang sana.
"Si..Siapa, Tuan?"
"Istriku!"
Degg..
Amoera lansung menenggang ditempatnya mendengar kata itu, camilan yang ia makan seketika terasa hambar dengan wajah yang berubah sendu tak bersemangat membuat Denzo menyeringitkan dahinya bingung, kenapa Si lamban ini malah diam?
"Kenapa?"
"Aku harus pulang, Kakak pasti menungguku!"
Denzo hanya diam menatap Leo yang juga mengerti akan isyarat Kingnya, namun ini sudah menginjak malam, ia tak mungkin kembali ke Wilayah pelabuhan itu karna pasti Uminya akan menelfon nanti.
"Bersihkan dirimu dulu!"
"Tapi Kak Justin belum makan apapun sedari pa..!"
"Anggotaku akan mengurusnya!"
Amoera terdiam sesaat lalu kembali membungkus Camilan yang tak ia makan semuanya, hanya sedikit yang ia makan karna tak mungkin ia makan enak sedangkan Kakaknya tak makan, begitu juga Kiki yang tak lagi mengunyah Jajanan kecil itu, keduanya tampak sama dalam segi perilaku.
"Dia akan makan! kau tak perlu khawatir!"
"Benarkah?"
"Hm! lain kali jangan mau diajak kemanapun, gunakan otakmu!"
"Bagaimana caranya?"
Duarrr..
Denzo lansung naik darah dengan wajah yang meradang, ia seketika diam tak mau meladeni si Lamban ini, sudah jelas ia akan pusing sendiri memikirkannya.
"Na..Nama Tuan, Si..Siapa?"
"Hm!"
"Hm? Tuan Hm!"
"Panggil sesuka hatimu!"
Amoera mengangguk lalu melihat luka dipahanya, Dress kebiruan selutut Amoera terlihat tersingkap menamkan pangkal paha bening itu, ada sedikit bekas luka dan selebihnya kulit itu sangat mulus membuat Denzo menggaruk tengkuknya merasa sedikit aneh.
"Darahnya masih keluar!"
"Ja..Jangan dibuka!"
Denzo menghentikan tangan Amoera yang ingin membuka Dalemannya yang sudah basah akibat darah dan keringat yang tadi bercampur aduk, ia merasa tak nyaman dengan kondisi tubuhnya.
"Kenapa? rasanya perih, Tuan!"
"Kita sudah sampai, King!"
Denzo lansung menghela nafas lepas, setidaknya ia tak jantungan disini, ia lansung keluar saat Leo membuka pintu mobil dengan Amoera yang masih mengintip pangkal pahanya yang memar akibat jatuh tadi.
"Tuan!"
"Keluar!"
Amoera mengangguk namun ia tak cukup kuat menopang tubuhnya karna kaki yang sudah berlumuran darah, tapi tidak begitu parah karna pengobatan pertama yang Denzo lakukan.
"Tuan!"
"Aku tak bisa menggendongmu!"
"Karna Istri?"
Denzo kelagapan namun segera menormalkan exspresi wajahnya kembali datar dan mengangguk dingin, setidaknya ia selamat.
"Iya!"
Amoera hanya tersenyum lembut, meski rasanya hati itu begitu sakit namun apalah dayanya yang merasa tak bisa untuk melawan siapapun. melihat wajah sedih itu Denzo menjadi gelisah, ia teringat dengan Uminya yang selalu menasehatinya aggar tak menyakiti hati seorang wanita.
"Biar saya saja, King!"
"Aku saja!"
Denzo lansung menggendong ringan Amoera yang tetap merekahkan senyumannya, ia terlihat senang menatap Denzo yang berusaha mengendalikan dirinya, entah kenapa ia bereaksi melihat kulit putih gadis ini pikirannya mulai melayang mencari tempat yang indah itu.
"Siall!!"
"A..Apa?"
Tanya Amoera bergetar, ia ingin turun namun Denzo mengeratkan pelukannya dengan wajah yang berubah lembut namun tak menghilangkan kesan sangarnya.
"Hanya lupa makan!"
"Tuan belum makan?"
"Hm!"
"Ora bisa memasak!!"
"Cihh! Ora!"
Umpat Denzo aggak geli dengan nama itu, namun setidaknya Amoera tak bersedih seperti tadi meski ia pun harus meminta maaf pada Uminya karna ia telah membawa Gadis ke Apartemennya secara diam-diam.
Sedangkan dua Manusia yang mengintip mereka tampak gelagapan saat Leo menoleh kebelakang memandang Mobil hitam yang sangat mencurigakan. Pria berambut aggak Kecoklatan dengan bagian panjang dipertengahan rambutnya itu segera mendekati Mobil itu.
"Rea!"
"Sutt! nanti Kakak tahu!"
"Aku tak bisa berada disini, nafasku sesak, Sayang!"
Brak..
"Auss!!"
Damian lansung meringis saat Mobil mereka ditendang Leo yang tampak naik pitam melihat Rea si wanita berambut panjang kehitaman itu ternyata nekat pergi ke sini.
"Kalian!!"
"Rea yang mengajakku! aku sebenarnya tak ingin, Leo!"
Ucap Damian menyangkal membuat Rea lansung menatapnya membunuh membuat Damian mengecup pipi Adiknya ini dengan penuh cinta.
"Kakak sangat mencintaimu!"
"Cihh! aku lebih suka Kak Denzo, Kak Mian lebay!"
"Rea!!!"
Leo hanya tersenyum santai saja, Dialah Sasyarea adik dari Denso dan Damian yang selalu liar, biasanya Rea berteman dengan Ezilla hingga membuat sebuah keributan besar, ia tak yakin Kingnya akan mengelak jika Wanita itu melihat siapa yang ada di Apartemen sana.
Namun, ia sedari tadi mencoba santai meski tangannya sudah terkepal untuk menyeret seseorang yang mengintai mereka dari kejahuan, pria itu mengincar Amoera bukan Kingnya.
.....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
siapa lagi yg ngincar Mora.. Runsel kah atau Dario.. kok merka gak ikutan mati tercabik sih??
2024-10-24
0
Kinay naluw
nah kok Amora yang di incer.
2022-12-09
0
Aufa Aqli,.😍
aku klo bosen baca novel yg adem ayem,,pasti langsung lari ke karyamu thour ...solanya bikin jantung sehat..🤣🤣🤣
2022-08-14
0