Ezilla menatap Intens laporan dari Anggotanya, ia benar-benar terkejut melihat rincian yang tertulis serta beberapa bukti yang diambil dari kejadian beberapa Tahun yang lalu.
Dan yang paling mengejutkan lagi hal ini bisa menghancurkan seseorang namun juga bisa menghindari segala kemungkinan, Ezilla mengikat rambut nya yang sudah dipotong sebahu dengan wajah yang benar-benar Frustasi.
"Tidak! King tak bisa dekat dengan gadis itu!"
Gumam Ezilla yang memikirkan kedepannya, cepat atau lambat Amoera juga akan tahu segalanya, gadis itu pasti sangat membenci Denzo jika tahu apa yang telah dilakukan pria itu dulu. ia merutuk karna tak bisa mengatur semuanya dengan baik.
"Kak!"
Seorang Remaja laki-laki yang tampak menatap kesal Sang Kakak yang lebih tua 7 Tahun darinya itu, lebih tepatnya Ezilla berumur 25 dan Aglibay berumur 18 Tahun, wajah laki-laki itu terlihat sangat muda namun juga terlihat sangat menjengkelkan dengan bulu mata lentik yang sama.
"Bay! kenapa kau Ke Perusaha'an? Dady bisa marah! kau pasti Bolos sekolah, kan? hingga malam-malam ini kau keluar"
"Kak! aku tak ingin Sekolah disini!"
Ucap Aglibay duduk diatas Meja kerja Ezilla yang hanya menghela nafas berat memikirkan Adik laki-lakinya yang selalu bosan.
"Kau harus Sekolah disini! Momy pasti akan membunuhmu jika kau Nakal lagi!"
"Kakak juga! 5 Sekolah ternama pernah Kakak Bakarkan?"
Bugh..
Ezilla meninju bahu Aglibay yang seketika terbatuk, sumpah demi apapun ia ingin seperti Kakaknya yang Keren, bahkan terkenal disetiap penjuru Negara ini akan kesuksesannya memimpin Perusahaan MCC tanpa bimbingan kecuali bersama dady mereka.
"Itu ajaran, King! Kata Momy King adalah segala-galanya!"
"Dady bisa marah Kakak! ayolah, pujuk Momy aggar memindahkan aku ke Sekolah yang lain!"
Ezilla hanya menaikan bahunya acuh lalu kembali memeriksa berkas di mejanya, disana ada Foto-Foto gadis cantik yang mengundang tatapan penuh keterpesona'an Aglibay yang lansung mengambilnya.
"Bay!!"
"Kak! I..Ini siapa?"
"Berikan padaku!"
Namun, Aglibay menolak dan lansung menatap Intens seorang Gadis berkulit putih dengan Pipi Cubby itu sedang tersenyum menatap Ombak pantai pelabuhan, Meski pakaiannya kumu tapi auranya begitu kuat.
"Kak! Aku pesan ini!"
"Kau gila? dia itu gadis yang bersama, King!"
"Kak! aku yakin Kak Denzo tak suka dengan gadis ini, dia bukan Tipe Kingmu Kakak!"
"Terserah kau saja!"
Aglibay lansung meloncat kegirangan, ia sudah bosan dengan gadis-gadis yang selalu mengejarnya namun tak ada yang menarik, tapi ia suka Karakter dari tatapan gadis ini.
...........
Amoera menatap keluar Balkon kamar ini, rasanya sangat gelisah dan tak nyaman jika meninggalkan Kakaknya di Rumah sana, ia takut Boby dan Dario malah mencelakai Kakaknya yang tak bisa apa-apa.
"Kiki! apa Kakak sudah makan?"
"Sudah!"
Amoera tersentak saat suara Denzo dari belakang sana, ia seketika menoleh dan terkejut setengah mati melihat apa yang dipakai Pria itu.
Denzo baru saja selesai Sholat Isya dengan memakai Koko dan Sarung disertai Kopiah yang menambah kesan Cool dan Sopan, tak lupa kesan berwibawah dari Koko Merah maron dengan sarung hitam yang begitu Elegan membalut tubuh gagahnya membuat Amoera termenung kosong.
Tak..
"Aau!!"
"Matamu hampir keluar!"
Amoera hanya merenggut mengusap keningnya yang dijitak Denzo, ia jadi mengupat karna mengaggumi ketampanan pria kasar ini, tapi ia pun tak bisa mengelak dari pesona pria ini.
"Tuan!"
"Hm!"
"Bagaimana caranya menjadi sukses?"
Denzo terdiam sejenak seraya berdiri disamping Amoera yang menatap rembulan diatas sana, sepertinya pertanyaan itu sangat mudah dijawab.
"Usaha dan Do'a!"
"Do'a?"
Denzo mengangguk, ia melihat Amoera memang tak tahu apapun bahkan gadis ini tak bisa dikatakan paham hal kecil sekalipun, Denzo sedikit prihatin jika ia harus melakukan hal yang sadis ketubuh mungil ini.
"Hm, mungkin kau tak punya Tuhan atau Kepercaya'an!"
"Tidak! saya punya Kiki saya percaya dan sangat menyayangi Kiki begitu juga Kakak saya!"
"Itu berbeda, Bodoh!"
Amoera menyeringit bingung, ia rasa itu sama saja dan tak ada bedanya. kepercaya'an ia juga punya sama seperti yang lainnya.
"Tuan Kaya! Tampan, dan sangat dihormati! Saya juga ingin begitu!"
"Belajar yang rajin!"
"Belajar apa?"
Denzo menaikan bahunya acuh, 3 hari lagi ia akan pulang ke Negaranya mengingat Umi dan Abinya pasti khawatir karna tak ada lagi anak-anak yang menghuni Kediaman Alfoenzo di kota Alfonso sana.
"Kau mau jadi pintar?"
"Mau?"
"Maka jangan mudah percaya pada orang lain!"
"Maksudnya?"
Denzo menghela nafas berat, sepertinya keputusannya secara Spontan ini cukup benar, Amoera pasti sangat menyayangi Kakak-Kakaknya hingga akan percaya saja apa yang kelak akan dikatakan padanya.
"Kau mau ikut dalam Keanggotaan Klanku?"
"Mau?"
Sambar Amoera tersenyum merasa sangat ingin, ia sudah melihat bagaimana anggota-anggota Denzo yang begitu terlatih, ia sangat ingin seperti itu.
"Siapkan dirimu untuk besok!"
"Tapi bagaimana dengan Kakakku, Tuan?"
"Dia akan baik-baik saja! asalkan kau bisa bertarung!"
"Ora siap!"
"Cihh!"
Denzo melangkah masuk kedalam kamarnya, ia harus melatih Amoera sebelum nanti gadis ini malah terluka sendiri, tapi tentu Denzo tak akan menceburkan dirinya didalam lumpur yang akan mengisap hidupnya nanti.
Melihat Denzo yang begitu perduli, Amoera tersenyum kecil, sepertinya ia sudah dewasa hingga berani menyukai seseorang, tapi sayangnya ia hanya bisa menyukai dalam diam.
"Masuklah! kau bisa masuk angin, Nanti!"
"saya tidur disini, Ya?"
"MASUK!!"
Bentak Denzo dari dalam Walkcloset sana lansung membuat Amoera kelagapan dan lansung meloncat keatas Sofa sana, ia memakai Kemeja biru Denzo karna ia suka dengan Aroma Maskulin tubuh pria itu.
"Kiki! Kenapa dia sangat galak?"
"Karna kau Lamban!"
Ketus Denzo seraya menatap tajam Amoera yang hanya diam menunduk namun ia mencuri-curi pandang pada Denzo yang hanya mengulum senyum kecil menelan gamas akan tingkah aneh gadis ini.
"Kau mau makan?"
"Saya sudah kenyang, Tuan! tadi Tuan yang berambut agggak panjang itu membelikan saya Makanan!"
"Siapa?"
"Yang tadi menyetir!"
"Lain kali minta padaku saja!"
"Ha?"
Denzo berbalik menatap tajam Amoera yang kembali menunduk, ia tak tahu Pria ini begitu aneh, terkadang baik, lembut dan kembali menyeramkan.
"Kau hanya boleh menurut padaku!"
"Ba..Baiklah!"
"Bagus! sekarang naik ke atas ranjang!"
"Disini saja, Tuan! tempatnya em..!"
Amoera lansung terdiam saat Denzo kembali memandangnya membunuh hingga ia lansung melangkah keatas ranjang sana lalu duduk ditempat empuk itu, rasanya sangat nyaman dan lembut, pantas saja orang kaya seperti Tuan Tampan ini betah berbaring disini.
"Pahamu masih sakit?"
"Sedikit perih! tapi sudah baikan!"
"Hm!"
Denzo berjongkok dihadapan Amoera yang berselonjoran kaki, pria itu menaikan ujung kemejanya untuk melihat paha Amoera yang tadi tak ingin di obati Zalwa.
"Jangan terlalu berkeliaran, lukamu bisa kembali berdarah!"
"Ini gara-gara Tuan!"
"Kenapa aku?"
"Kan Tuan yang menembaknya!"
"Salahmu sendiri seperti tak punya harga diri!"
Amoera terdiam sesaat lalu menatap wajah Denzo yang entah kenapa selalu tak bisa ia lupakan, ia betah berada di sisi pria ini.
"Terimakasih ya!"
Degg..
Denzo meneggang ditempatnya saat tangan mungil itu mengelus rahangnya lembut membuat dada Denzo digempur detakan jantung yang menggila, apalagi ia sedari tadi berusaha tak terpancing akan bentuk tubuh gadis ini.
"U..Untuk?"
"Sudah menolong, Saya!"
Cup..
Duarrr..
Damian yang tadi ingin masuk pun seketika mematung melebarkan matanya tak percaya saat melihat Amoera mengecup pipi Denzo yang meneggang ditempat dengan wajah yang kosong seakan kesadaran pria itu sudah diambil dari tubuhnya.
"Laporan yang bagus untuk Umi!"
Geram Damian memotretnya, ia jadi punya alat balas dendam untuk membuat pria Arogan itu untuk diomeli Uminya nanti.
....
Vote and Like Sayang..
Untuk saat ini kita Slow karna masalahnya cukup rumit jika di gempur sekarang😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
lha.. si Damian
2024-10-24
0
SLina
🤣🤣
2024-03-28
0
Kinay naluw
nih adek usil bingit.
2022-12-09
1