Selalu mendapatkan penolakan dari Bella membuat hati Azam mencelos.
Bahkan niat untuk kembali memaksa gadis ini kerap kali muncul di kepalanya. Menarik Bella masuk ke dalam kamarnya dan menunjukkan bahwa kini mereka adalah sepasang suami istri.
Tapi saat teringat akan kesalahannya sendiri, membuat Azam kembali berpikir, jika pantas Bella memperlakukannya seperti ini.
Melihat Bella yang sudah menghilang dari pandangannya. Azam pun mulai melangkah untuk menyusul. Namun beberapa langkah kakinya maju, tiba-tiba ia mengurungkan niat.
"Jika aku menghampirinya pasti Bella akan pergi," gumam Azam.
Ia menelan salivanya, lalu memilih berbalik. Azam ingin Bella betah dulu di mansion ini, tak ingin membuat istrinya itu merasa terusik.
Akhirnya Azam pergi, dan memilih naik ke lantai 2 dan masuk ke ruang kerjanya.
Duduk seraya terus memperhatikan Bella dari layar cctv.
Dilihatnya, Bella yang menyusun barang di lemari pendingin. Lalu berkutat di dapur dan membuat sebuah masakan.
Azam tak pernah tahu, jika Bella sepiawai itu di dapur. Bahkan Bella pun membersihkan semua peralatan yang sudah ia pakai.
Lalu duduk dimeja makan dan mulai makan hasil masakannya sendiri. Setelah usai, Bella pergi meninggalkan dapur.
Hati Azam, kembali berdesir.
Kembali teringat pemikiran buruknya tentang Bella. Si anak manja yang tidak akan bisa mengurus dapur.
Saat melihat sang istri sudah masuk ke dalam kamarnya, Azam lantas kembali turun ke lantai 1. Ia langsung menuju dapur dan membuka tudung nasi diatas meja.
Dilihatnya, 2 macam masakan sang istri. Dan Azam, langsung mencicipi salah satunya.
"Sejak kapan Bella bisa masak?" tanya Azam, yang ia tanyakan pada dirinya sendiri.
Karena tidak ada orang lain disana yang mendengar pertanyaannya itu.
Hari ini berlalu dan keesokannya lagi Azam kembali memberi ruang Bella untuk sendiri.
Azam setia duduk di ruang kerjanya dan memperhatikan Bella dan Fhia yang duduk di ruang keluarga. Kedua gadis itu merajut, membuat beberapa sepatu kecil-kecil, seolah sepatu untuk bayi.
Azam, sungguh bertanya-tanya, untuk apa itu semua.
Seolah banyak sekali yang ia tidak tahu tentang istrinya itu. Karena dibenak Azam Bella itu hanyalah gadis kontroversi, gadis seksi, dan bukan ahli ibadah. Hanya tahu caranya berpoya-poya dan berbuat semaunya.
Mengambil ponselnya di atas meja, Azam akhirnya menghubungi Ben.
Meminta asisten pribadinya itu untuk datang kesini.
10 menit kemudian Ben datang, menyapa ramah sang Nyonya dan Fhia yang masih berada di ruang keluarga. Tapi Bella dan Fhia juga mengabaikan Ben.
Membuat Ben seperti seekor nyamuk, berdengung lalu pergi dengan sendirinya.
"Kamu lihat sendirikan apa yang dilakukan Bella? untuk apa dia merajut seperti itu?" tanya Azam bertubi, setelah sang asisten berdiri di hadapannya.
"Itu untuk bayi-bayi di yayasan Nyonya Bella Tuan," jawab Ben apa adanya, membuat kedua netra Azam membola.
"Yayasan? kenapa kamu tidak pernah memberi tahuku Bella punya yayasan itu?"
"Karena Anda tidak pernah bertanya Tuan," jawab Ben, apa adanya.
Sebuah jawaban yang membuat hati Azam semakin merasa kecil. Yayasan Kasih Ibu yang Bella buat, berisi bayi-bayi mungil yang sudah tidak memiliki orang tua, dan tidak diharapkan oleh keluarganya.
Sama, seperti ia dulu, sampai akhirnya mama Sarah dan papa Agra mengadopsinya menjadi anak.
Selama ini Bella memang tidak terlihat aktif di sana. Karena semuanya Fhia yang mengambil alih kendali.
Sementara Bella fokus mencari uang untuk anak-anak itu.
Bahkan keluarga Malik pun tak ada yang tau tentang yayasan yang Bella bangun. Karena uang yang Bella gunakan untuk membangun yayasan itu adalah uangnya sendiri dari menjadi model.
Bukan uang terus mengalir dari perusahaan Malik Kingdom untuknya.
Semua uang Bella dari MK, masih utuh di dalam rekeningnya.
"Kenapa baru memberi tahuku sekarang Ben, kamu membuatku jadi pria yang jahat."
"Karena Anda baru bertanya sekarang Tuan, selama ini Anda selalu sibuk dengan Nona Raya."
Azam, tak bisa lagi berkata-kata. Ia sungguh kecewa pada dirinya sendiri. Bahkan kini merasa, ia lebih hina dibandingkan Bella.
Menjelang sore kala itu, Ben akhirnya pergi dari mansion. Tak lama setelahnya Fhia pun pamit pulang.
Bella lantas membereskan semua barang-barangnya dan kembali memasukkannya didalam kardus.
Jika sudah tidak ada Fhia seperti ini, Bella rasanya enggan berkeliaran di dalam mansion.
Malas jika harus bertemu dengan Azam.
Selesai berkemas. Bella hendak kembali ke kamarnya dengan membawa kardus itu.
Namun baru berbalik, kakinya langsung berhenti bergerak. Saat melihat beberapa orang masuk dan membawa beberapa pot bunga mawar putih, lalu meletakkannya di bawah kaki Bella.
Bunga-bunga itu masih hidup.
"Apa ini?" tanya Bella pada salah satu orang itu, dan bukannya menjawab, sang pengirim hanya tersenyum lalu menundukkan kepalanya hormat.
Tak sampai di sana, ternyata pengirim itu keluar dan kembali lagi masuk ke dalam. Kembali membawa bunga-bunga segar didalamnya.
Membuat mansion di lantai 1 ini penuh dengan bunga mawar, dari tengah, ruang tamu, juga dapur.
Bahkan deretan bunga itupun sampai menuju ke pintu kamarnya.
Dan terakhir, pengirim itu memberikan sebuket bunga mawar merah dengan kartu ucapan didalamnya.
Tahu tak bisa meminta maaf secara langsung, Azam mengirimkan Seribu bunga mawar putih untuk istrinya itu, sebagai permohonan maafnya.
Arra, maafkan aku. Aku mengaku salah.
Ucap Azam dalam kartu ucapan yang ia tulis di buket bunga mawar merah itu. Membuat hati Bella menghangat dengan sendirinya.
Belum lagi saat Bella melihat sekeliling, rumahnya yang dipenuhi dengan bunga mawar putih.
Bunga, sebagai ungkapan permintaan maaf.
Masih berdiri di ruang tengah, Bella melihat Azam yang menuruni anak tangga. Lalu berjalan menuju arahnya hingga kini berdiri dihadapan.
"Maafkan aku Arra," ucap Azam langsung. Sengaja memanggil Bella dengan nama itu. Nama panggilan Bella saat kecil.
Kembali mendengar seseorang memanggilnya Arra, membuat Bella kembali teringat kenangan manis mereka semasa kecil.
Saat mereka belajar bersama, duduk di taman sekolah, juga saat mereka pergi ke jepang kala itu.
Berlari dibawah puluhan pohon sakura yang sedang berbunga.
Bella, tak menjawab apapun. Hanya menatap kedua netra Azam yang menatapnya sendu.
Lalu buru-buru memutus tatapan itu, saat tiba-tiba dadanya kembali berdesir.
Bella, mencari jalan untuk pergi, namun semuanya sudah tertutup oleh bunga mawar. Satu-satunya jalan sudah ditutup oleh Azam.
"Aku memang sengaja membuatmu tidak bisa kabur," ucap Azam dengan tersenyum kecil, saat melihat sang istri tak menemukan celah untuk lewat.
"Minggir, aku mau lewat!" jawab Bella, ketus.
Meski ketulusan Azam bisa ia rasa, namun tak semudah itu membuat Bella percaya.
"Ayo kita mulai semuanya dari awal Ra."
"Berhenti memanggilku Arra. Namu Bella!"
"Arra."
"Bella!"
"Arraku."
Bella, langsung bergeming kala mendengar itu. Tapi bukannya senang, itu semua terdengar seperti omong kosong.
"Minggir," pinta Bella sekali lagi.
Dan bukannya menyingkir, Azam malah berjalan mendekat. Membuat Bella terpojok sat kakinya nyaris menyentuh bunga mawar dibelakang tubuhnya.
"Jangan berontak jika tidak ingin kita berdua jatuh," ucap Azam, lalu merengkuh pinggang sang istri dan memeluknya erat.
Tubuh Bella bahkan sampai terangkat, membuat ia berjinjit.
Merasakan kepala Azam bersembunyi diceruk lehernya yang terbuka. Karena saat ini Bella hanya menggunakan tanktop. Sementara rambutnya, diikat tinggi.
"Maafkan aku," ucap Azam sekali lagi. Seraya semakin memeluk erat tubuh sang istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Aluna_21
Bella bekerja bukan untuk impiannya sendiri, tapi untuk kebahagian anak' yang pernah merasakan posisinya dulu,, mulia sekali hatimu bel,, dan dengan semua kemampuan yang kamu punya,, hati Azam mulai terketuk,, bahwa bella tak seburuk yang dia pikirkan.
2024-12-21
1
komalia komalia
tambah nyesek masih kurasakan
2025-01-23
0
May Keisya
si Ben kan pasukannya Azam jadi ikut di cuekin🤣🤣
2024-11-15
0