Azura, membuat sebuah rencana.
Ia membujuk ayah dan ibunya untuk mengadakan makan malam keluarga, merayakan 18 tahun usia pernikahan mereka.
Sebelum-seblumnya, memang tidak pernah ada perayaan. Karena ibu Haura tak menyukai itu, ibu Haura lebih suka menjual harga sembako murah bagi para warga tak mampu ketimbang membuat sebuah perayaan.
Tapi kali ini, Zura memaksa, mengatakan kepada ayah dan ibunya jika ia ingin sekali semua keluarga Malik berkumpul.
Apalagi semenjak nenek Aminah meninggal, mereka jarang sekali memiliki waktu bersama.
Ia dan sang kakak mulai sibuk bekerja di Malik Kingdom, sang adik Agata pun disibukkan dengan kuliahnya.
Ayah dan ibunya pun lebih sering menghabiskan waktu di desa Parupay. Menikmati masa tuanya di tempat yang indah dan menenangkan. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.
Haura menuruti keinginan anak tengahnya itu. Pun Adam yang juga mendukung.
Malam ini, semua keluarga Malik berkumpul di mansion nenek Zahra, untuk merayakan ulang 18 tahun pernikahan Adam dan Haura.
Disuruh pulang oleh sang ibu mertua, Bella pun menurut. Pagi tadi ia sudah kembali ke Indonesia. Tapi ia memilih tak pulang ke mansion. Malainkan menginap disebuah hotel.
Bella merasa, mansion itu sudah menjadi tempat menjijikkan baginya.
Malam ini, Bella tampil cantik seperti biasanya. Menggunakan gaun malam yang memperlihatkan pundak. Ia menggerai rambut panjangnya dan memakai riasan tipis.
Sepatu heels tidak pernah tertinggal.
“Kita hanya akan malam bersama keluarga Bell, abaikan pria brengsek itu, abaikan, abaikan,” ucap Bella, berbicara pada dirinya sendiri di dalam cermin.
Satu bulan menenangkan dirinya di Singapura, membuat hati Bella kembali tertata. Meskipun sakit hatinya belum pulih betul, namun kini ia jadi lebih tegar.
“Cantik, setelah bercerai dari Azam, aku akan menikah dengan pangeran dari Singapura,” ucap Bella lagi, lalu terkekeh. Kekehan yang lama-lama jadi senyum getir.
“Sudahlah, ini sudah jam 7. Aku akan pergi.”
Bella, berpamitan pada Fhia sang asisten yang selalu ikut kemanapun ia pergi. Mengatakan jika mungkin malam ini ia tak akan pulang. Bella merasa, jika malam ini pasti keluarganya akan meminta dia untuk menginap di mansion.
“Baiklah, jika ada yang membuatmu tak nyaman hubungi aku. Atau jika suamimu itu kembali menyakitimu kabari aku, aku sendiri yang akan memukulnya.” Jawab Fhia, dengan suaranya yang tegas.
Bella terkekeh, beruntung masih banyak orang yang menyayangi dirinya.
“Baiklah, ku pegang kata-katamu.”
Mengambil tas kecilnya yang hanya berisi dompet dan ponsel, Bella segera keluar dari dalam kamar hotel itu.
Ia menuju basement hotel, dimana mobilnya terparkir.
Sesekali Bella bersenandung diantara langkahnya yang pelan-pelan. Mengusir sepi yang mulai mendatangi hati.
Langkah Bella terhenti, saat ia melihat seorang pria berdiri tepat disebelah mobilnya.
Pria itu juga menatap kearahnya, menatap dengan tatapan yang lekat dan dingin.
Azam, berdiri disana.
Seketika, Bella merasakan hatinya berdesir. Luka yang sudah mengering itu seolah dikelopek kembali, terasa begitu perih.
Tak ingin terlihat lemah, Bella kembali melangkahkan kakinya, tak ingin kehadiran Azam membuatnya goyah.
Bella, adalah wanita yang kuat. Ya, aku adalah wanita yang kuat. Tanpa Azam aku bisa hidup bahagia. Batin Bella, yakin.
Ia terus berjalan hingga sampai dihadapan Azam.
“Minggir,” ucap Bella ketus, karena Azam menghalangi jalannya. Azam berdiri tepat didepan pintu kemudi.
“Kita pergi bersama,” jawab Azam, sebuah ajakan yang membuat Bella tersenyum miring.
“Permainan apalagi yang ingin kamu mainkan? Apa ingin menunjukkan pada semua orang jika hubungan kita baik-baik saja?” tanya Bella, dengan nada menghina.
Azam, selalu bisa membuat hatinya sakit. Membuat ia seolah tak memiliki harga diri.
Bukannya menjawab, Azam malah menyelipkan beberapa rambut Bella kebelakang telinga.
Bella hanya diam, merasa jengah.
“Di ujung sana ada paparazi, bukankah kita juga harus menunjukkan pada dunia jika hubungan kita baik-baik saja?” bisik Azam.
Membuat Bella sampai kehabisan kata-kata.
“Aku tidak peduli dengan pandangan orang padaku, aku ada diposisi ini bukan karena pernikahan kita, aku mendapatkannya dari kerja keras. Jadi saat semua orang tahu jika hubungan kita sudah hancur, itu tidak akan menggoyahkan karierku,” balas Bella, ia lalu menepis tangan Azam yang masih berada di dekat wajahnya.
Bella bahkan hendak mendorong tubuh suaminya itu untuk menjauh, namun Azam kembali menahan lengannya, dan merebut kunci mobil Bella.
Dengan memaksa, Azam pun menarik Bella dan membawaya ke kursi penumpang, disamping kemudi.
“Sudah ku katakan, kita akan pergi bersama.” Ucap Azam, ia bahkan langsung mendudukkan Bella dan memasang seatbeltnya.
Bella benar-benar tak menyangka, jika Azam akan setega ini. Bahkan pergelangan tangannya sampai terasa sakit.
Sungguh, saat ini juga Bella ingin menangis. Namun sekuat tenaga ia tahan, agar air mata itu tidak tumpah.
“Jangan sentuh aku,” ucap Bella saat Azam udah duduk di kursi kemudi.
“Aku tidak akan menyentuhmu andaikan kamu menurut.”
Hening, tak ada lagi yang buka suara.
Bella bahkan langsung memalingkan wajahnya menghadap jendela saat mobil itu dikemudikan oleh Azam.
Melaju meninggalkan basement hotel dan menuju mansion nenek Zahra.
Sepanjang perjalanan itu, Bella dan Azam sama-sama diam. Hubungan mereka benar-benar sudah rusak. Padahal sebelum menikah dulu, mereka lebih dekat dan memiliki hubungan yang hangat.
Tiap kali bertemu Bella akan selalu ceria dan bercerita banyak hal. Sesekali Azam menanggapi dengan senyumnya yang kecil.
Tapi kini, tak ada lagi kehangatan itu.
Yang ada, hanyalah sebuah hubungan yang dingin.
20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di mansion nenek Zahra. Sudah banyak mobil yang terparkir disana. Sepertinya seluruh keluarga Malik sudah berkumpul. Bukan hanya keluarga Adam, Agra dan Aida, namun juga banyak saudara-saudaranya yang lain.
“Aku mohon Bell, buatlah hubungan kita baik-baik saja di depan mereka,” ucap Azam, sebelum mereka turun. Bella tak bisa pergi lebih dulu karena Azam masih mengunci pintu mobilnya.
Sebenarnya, Bella tidak sudi menuruti keinginan Azam itu. Namun ketika terlintas wajah ayah dan ibunya, Bella tak punya pilihan lain.
Berpisah baik-baik dengan Azam, adalah yang bisa ia lakukan agar kedua orang tuanya tidam sampai bersedih. Meskipun sebenarnya, hatinya begitu tersiksa.
“Buka pintunya,” ucap Bella, tak menjawab pertanyaan Azam. Namun Azam tak butuh jawaban Bella, lagipula baginya ini sudah keputusan final.
Bella turun dan Azam mengikuti. Wanita cantik ini berjalan lebih dulu, sampai ia merasa tangan kanannya digenggam oleh Azam.
Hingga keduanya berjalan beriringan dan saling bergandengan tangan.
“Kamu benar-benar pria brengsek Zam, bukan hanya aku yang kamu permainkan. Tapi wanitamu itu juga akan bersedih jika sikapmu seperti ini.”
“Sebaiknya pikirkan baik-baik, alasan kenapa kamu melepas cincin pernikahan kita.” Balas Azam.
Keduanya masuk ke dalam mansion dan langsung disambut dengan tatapan semua orang.
Baik Bella dan Azam, keduanya sama-sama tersenyum. Menunjukkan seolah-olah, hidup mereka baik-baik saja.
Baiklah, ayo lakukan. Batin Bella.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
komalia komalia
nyesek banget aku
2025-01-22
0
Nana Niez
jadi benci sm azam
2025-01-08
0
andi hastutty
Azam egois sekali
2024-09-14
0