“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak, aku akan pulang sendiri,” tolak Bella, hingga membuat Arnold terdiam.
“Aku juga akan pergi.” Kini Julian yang buka suara dan Arnold hanya menganggukkan kepalanya.
Arnold terus berdiri di depan Bar miliknya, menyaksikan mobil Bella dan mobil Julian yang mulai berjalan, menjauh dan meninggalkan tempatnya.
Menghela napas berat, Arnold pun kembali masuk ke dalam Bar.
Julian tak langsung pulang ke rumahnya, melainkan mengikuti kemana mobil Bella akan pergi.
Sesuai kesepakatan mereka bertiga tadi, pagi ini Bella akan langsung mengatakan kepada Azam tentang perceraian mereka.
Dan selama proses cerai itu berlangsung, Bella memutuskan untuk pindah ke negara Singapura.
Julian dan Arnold mendukung, mereka berdua bahkan siap membantu Bella dalam hal apapun.
Mendapatkan dukungan dari kedua sahabatnya, membuat Bella jadi lebih tegar, ia tak merasa sendiri lagi.
Ya, masalahnya dengan Azam tak akan membuat hidupnya terhenti. Waktu akan terus berjalan dan ia punya kehidupan yang harus dijalaninya sendiri.
Entah bagaimana jadinya nanti, namun Bella pun akan berusaha mencari kebahagiaannya sendiri.
Jam setengah sembilan pagi, Bella sampai di mansion miliknya. Melihat Mobil Bella yang sudah masuk ke dalam mansion itu pun Julian menghembuskan napasnya lega. Jujur saja, ia masih sedikit khawatir Bella akan melakukan tindakan diluar batas, bunuh diri misalnya.
Tapi melihat Bella yang nampaknya baik-baik saja, Julian pun segera berlalu dari sana.
Dan Bella, masuk ke dalam mansion itu dengan langkahnya yang agak gontai. Efek Alkohol itu ternyata belum sepenuhnya hilang.
Bella bahkan tak peduli saat beberapa pelayan menyapanya dengan hormat, ia malah tersenyum sinis. Merasa jijik sendiri. Bella sangat yakin, jika semua pelayan di mansion ini sudah tahu hubungan antara suaminya dan Raya.
Hanya dia seorang sajalah yang tidak tahu.
Bella sungguh merasa di bodoh-bodohi oleh suaminya itu.
“Menjijikkan,” gumam Bella pelan, ia nyaris saja jatuh saat hendak menaiki anak tangga.
Namun untunglah, Azam datang dan menahan tubuh Bella.
Bukannya senang, Bella malah langsung mendorong tubuh Azam untuk menjauh. Bella, tak sudi tubuhnya disentuh oleh pria hina seperti Azam.
“Ku peringatkan satu kali lagi, jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu. Aku lebih baik jatuh,” ucap Bella sengit. Ia bahkan mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya di wajah Azam.
Melihat Azam yang bergeming, Bella berdecih.
Sedari semalam, Azam menunggu kepulangan Bella. Dan saat Bella masuk ke dalam mansion tadi Azam duduk di sofa ruang tamu, namun Bella tak melihatnya.
Bella hanya terus berjalan dengan langkahnya yang gontai.
“Ada yang ingin aku bicarakan.”
“Katakan!” potong Bella cepat, tak ingin basa basi. Ia pun ingin segera mengatakan jika ia akan mengajukan gugatan cerai.
“Tidak disini, ayo pergi ke ruang kerjaku.”
Lagi, Bella berdecih seraya tersenyum miring.
“Kenapa? Kamu tidak ingin wanitamu itu melihat kita bicara?” Bella, langsung bergidik, menatap jijik pada Azam.
“Jangan membuang waktuku Zam.Tidak perlu mambahas banyak hal, semua yang kamu katakan hanya terdengar seperti omong kosong di telingaku.” Timpal Bella, sengit.
“Aku akan mengajukan gugatan cerai, setelah kita berpisah terserahmu mau melakukan apa. Tapi sebelum kita berpisah, aku mohon padamu, sangat mohon, sembunyikanlah wanitamu itu baik-baik, jangan biarkan aku melihat wajah kotornya. Jangan biarkan dunia tahu jika dia adalah perusak rumah tangga kita!”
Setelah mengatakan itu, Bella kembali melangkahkan kakinya.
Meninggalkan Azam, yang terpaku ditempatnya berdiri.
Melihat Bella yang mulai menaiki anak tangga dan menjauh.
Sebelum Bella benar-benar menghilang dari pandangannya, Azam segera berlari dan menyusul sang istri.
Sampai di atas tangga, Azam kembali menahan tangan Bella, dan secepat kilat pula Bella menepisnya.
“JANGAN SENTUH AKU!” pekik Bella dengan kemarahannya, mendapatkan sentuhan Azam benar-benar membuatnya muak.
“Dengarkan aku dulu,” pinta Azam, ia bicara dengan pelan, sadar posisinya memang salah.
Bella hanya diam dan menatap tajam suami brengseknya ini. Meskipun ia sungguh malas mendengarkan kalimat yang akan diucapkan oleh Azam.
“Aku akan mengeluarkan Raya dari mansion ini, tapi kita jangan bercerai sekarang. Ini masih terlalu awal Bel, apa kata keluarga kita nanti?” tanya Azam. Sebuah pertanyaan yang membuat Bella geleng-geleng kepala.
“Ku rasa otakmu memang sudah benar-benar rusak Zam, keluarga? Jika kamu masih memikirkan mereka harusnya pikirkan dulu sebelum bertindak, perbuatanmu dengan Raya itu sungguh menjijikkan. Meskipun kita tidak saling mencintai tapi kita sudah menikah Zam, kamu sudah mengikat janji suci didepan TUHAN!” bentak Bella sungguh geram.
Tak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh Azam itu. Meminta waktu lebih untuk terus menyakiti dirinya, dan mencari aman untuk dirinya sendiri.
“Maafkan aku Bell.”
“Jangan meminta maaf.”
Hening, keduanya hanya diam dan terdengar isakan tangis Bella di lantai 2 mansion itu.
“Setelah 2 tahun, baru kita berpisah.”
“Itu terlalu lama, 3 bulan lagi aku akan mengajukan gugatan cerai.” Putus Bella lalu segera pergi dari sana.
Masuk ke dalam kamarnya dan mengemas semua barang miliknya. Hari ini juga, Bella akan meninggalkan mansion ini.
Azam masih berdiri ditempat yang sama, bahkan ia hanya diam saat melihat Bella yang melewatinya dengan menarik satu koper.
Turun dan meninggalkan dirinya.
“Maafkan aku Bella, dulu aku sungguh bingung, sampai mengambil keputusan untuk menikahimu.” Lirih Azam, iapun sangat menyesalkan hubunganya dengan Bella akan berakhir seperti ini.
Saat itu juga, Azam memerintahkan Ben untuk mengikuti Bella. Lalu menyiapkan satu mata-mata bayangan yang akan terus mengawasi istrinya itu.
Di mana pun Bella berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
1 bulan berlalu.
Kini Bella sudah tinggal di Singapura bersama sang asisten, Fhia.
Kesibukkannya sebagai model masih terus berlanjut, ia justru menggunakan itu untuk menghilangkan pikirannya atas Azam.
Sesekali Julian dan Arnold mengunjungi Bella disana. Azzura juga ikut, meskipun ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun Zura mulai bertanya-tanya, karena tiap kali mereka berempat berkumpul, tak ada satupun diantara ketiga temannya yang membicarakan sang abang, Azam.
Seperti hari ini.
“Bell, apa hubunganmu dengan abang baik-baik saja?” tanya Zura, saat ini ia dan Bella sedang berada di dapur. Mengambil beberapa minuman dan buah yang akan mereka bawa ke balkon apartemen.
“Iya, kami baik-baik saja, kenapa?” jawab Bella tanpa ragu, ia bahkan menjawab dengan lancar hingga membuat Zura jadi semakin bingung.
Baik-baik saja, namun tidak pernah membicarakannya sekalipun.
“Kapan kalian terakhir bertemu?”
“Kemarin, kemarin mas Azam mengunjungiku kesini,” jawab Bella bohong.
“Bohong, kemarin abang ke desa parupay bersama ibu.”
Deg!
Seketika, jantung Bella serasa mau copot. Akhirnya, Bella hanya bisa menampakkan senyum kuda.
“Maksudku, kemarin aku dan mas Azam baru saja melakukan panggilan video, saat dia di desa Parupay,” balas Bella hati-hati.
Dan Zura, hanya tersenyum kecil.
Makin tahu jika Bella tengah membohonginya. Karena sebenarnya Azam kemarin tidak pergi ke desa Parupay bersama sang ibu. Azam, masih menyibukan dirinya di MK. Itu hanya akal-akalan Zura saja.
Senyum kecil Zura itu, akhirnya berubah jadi senyum getir. Sadar jika kini, Bella, Julian dan Arnold sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
komalia komalia
aku mau nangis jadi nya terlalu kecewa sama kamu azzam Semoga kamu menyesal pelajaran hidup nya waktu kecil engga di jadikan pengalaman
2025-01-22
1
andi hastutty
Azam bodoh
2024-09-14
1
guntur 1609
tu namanya pecundang azam memang masih egois. dia memikirkan keluarganya. bagaimana nasib bella yg gak di fikirkanya
2024-07-27
0