Azam, sudah berada di dalam apartemen Bella. Ia memperhatikan seisi apartemen ini dengan seksama.
Apartemen dengan sentuhan warna pastel, mulai dari sofa dan semua perabotnya. Warna-warna kesukaan sang istri, Bella.
Menelisik tiap sudut, dan ia tak menemukan siapapun disini selain dirinya sendiri. Dengan langkah lebar dan penuh percaya diri, Azam mulai berjalan. Mencari tempat yang ia yakini akan ada Bella di sana, sebuah kamar.
Tak berapa lama kemudian, pandangannya mengunci sebuah pintu yang tak tertutup rapat, bahkan dari dalam sana terdengar lagu-lagu diputar dengan suara sedang.
Bahkan iapun mendengar pula, suara Bella yang bersenandung.
“Fhia!” teriak Bella pada sang asisten. Tapi yang di panggil tak kunjung datang juga.
Bella pikir, mungkin Fhia sedang berurusan dengan orang yang menekan bell apartemennya tadi.
Kembali sibuk didepan lemari pakaian dan memilih-milih.
“Fhia, kamu sudah kembali?” tanya Bella saat mendengar pintu seperti terbuka, lalu ada suara langkah pula.
Tapi Bella tak menoleh dan melihat siapa yang datang, ia sudah yakin jika itu adalah Fhia.
“Aku pakai baju yang mana ya?” tanya Bella dengan riang, ia bahkan berulang kali tersenyum lebar saat memperhatikan deretan gaun malamnya yang tersusun rapi didalam lemari itu. Lalu berulang kali mengambil dan mencocokkan dengan tubuhnya sendiri.
Bahkan Bella sesekali berjinjit saat hendak mengambil bajunya yang sudah terlipat di bagian atas.
“Fhia, ambilkan aku kursi, aku tidak bisa mengambil baju pemberian Arnold. Kata dia aku akan sangat cantik menggunakan baju itu,” ucap Bella, masih terus berusaha mengambil baju didalam plastik yang ada di bagian paling atas.
Bella bahkan melompat-lompat ingin menggapainya.
Dengan sesekali memegangi handuk yang ia kenakan agar tidak jatuh.
“Ah, susah,” rutuk Bella, kesal.
“Mana kursinya?” rengek Bella pada sang asisten, ia memasang wajah memelas dan mulai menoleh pada Fhia.
Deg!
Seketika, jantung Bella seperti terhenti. Bukan Fhia yang dilihatnya, melainkan Azam. Si pria brengsek.
Sesaat, Bella hanya terpaku dengan tatapannya mendadak beku, dingin.
Sebuah perubahan drastis raut wajah Bella yang membuat Azam geram.
Bella, semakin mencengkram erat handuk ditubuhnya.
Tidak, aku tidak boleh takut. Batin Bella, mencoba kembali mengumpulkan keberanian. Di depan pria brengsek ini, Bella tidak ingin terlihat lemah.
Susah payah, Bella menormalkan detak jantungnya dan mulai bersikap seperti biasa.
Membuat, seolah kehadiran Azam tak membuatnya terusik.
“Dimana Fhia? Apa kamu yang menggantikannya jadi asistenku?” tanya Bella dengan mencebik, ia bahkan langsung mengalihkan tatapannya pada Azam dan kembali sibuk dengan lemari pakaiannya.
Jika tadi ia berusaha mengambil sesuatu diatas sana, kini Bella berjongkok dan membuka laci dibawah lemari itu. Memilih beberapa shal yang bisa ia gunakan sebagai penutup leher.
Di Singapura, saat ini musim hujan. Mekipun Bella menggunakan baju terbuka, namun tengkuknya harus tetap tertutup. Agar tidak merinding ketika angin menyapa.
Melihat Bella yang mengacuhkannya seperti ini, benar-benar membuat Azam geram.
Bahkan hanya dengan menggunakan handuk kecil itu, Bella tidak sedikitpun malu.
Menarik dan menghembuskan napasnya pelan, Azam, akhirnya buka suara.
“Malam ini kamu tampil kan? Jatuhlah dan aku akan menolongmu,” ucap Azam langsung, tanpa basa basi.
Ia ingin meredam skandal Bella dan Arnold dengan menyajikan pandangan romantis bagi semua media.
Saat Bella terjatuh di atas catwalk, Azam akan berlari dan menolongnya. Azam yakin, dengan seperti itu maka skandal Bella akan menghilang dengan sendirinya.
Namun mendengar permintaan Azam, Bella lagi-lagi sampai tak bisa berkata-kata. Azam, semakin membuatnya muak.
Seolah kini, Bella baru tahu siapa Azam sesungguhnya, seorang pria brengsek yang suka bersandiwara.
“Jangan tatap aku, aku mau ganti baju. Kecualiii, kamu ingin melihatku telanjaang.” Jawab Bella dengan suara menantang.
Ia bahkan langsung berdiri dan melepas handuknya begitu saja hingga jatuh keatas lantai.
Azam, dengan cepat berbalik. Dengan jantungnya berdetak tak karuan. Bella, benar-benar diluar bayangannya. Ternyata, Bella jauh lebih liar dari yang ia kira.
Melihat reaksi Azam yang berlebihan itu, Bella mengulum senyumnya. Padahal ia sudah menggunakan dalaman, dengan tali bra yang transparan.
“Kenapa cemas sekali dengan beritaku dengan Arnold, harusnya kamu cemas jika skandal mu yang ketahuan,” ledek Bella setelah ia selesai menggunakan gaunnya.
Gaun berwarna merah maroon dengan belahan dada yang rendah. Bahkan tali pengaitnya begitu kecil.
Azam hanya bergeming, seraya terus membelakangi Bella.
“Kenapa diam? Apa aku harus membongkar semuanya? Menjadikan wanita itu bulan-bulanan fans ku?” tanya Bella bertubi, lalu ia terkekeh, merasa senang sendiri.
Sementara Azam, mengepalkan tangannya kuat.
“Diantara kita, bukan aku yang tidak punya harga diri Zam. Tapi kamu!” timpal Bella dengan sengit, ia bahkan melewati Azam begitu saja dan duduk di kursi meja riasnya. Mulai membuka satu per satu alat make up di sana.
Dan tak peduli dengan keberadaan Azam, ia terus memoles wajah.
Merasa geram, Azam pun mendekati istrinya itu, duduk di meja rias Bella hingga banyak alat make up yang jatuh. Azam, langsung menarik tangan kanan Bella dan memasangkan sebuah cincin di jari manis itu.
Cincin pernikahan mereka, Azam memasangkannya dengan kasar.
“Jangan pernah lepas cincin ini lagi!” ucap Azam, dengan nada mengancam. Sesaat Bela terpaku, bertanya-tanya bagaimana bisa Azam mendapatkan cincin ini kembali.
Namun saat kesadarannya pulih, Bella segera melepas cincin itu dan membuangnya asal di dalam kamar.
Melemparnya keras hingga terdengar dentingan yang begitu jelas.
“BELLA!” bentak Azam, kesabarannya benar-benar diuji oleh perempuan satu ini.
Dibentak seperti itu, air mata Bella jatuh dengan sendirinya. Ia hanya diam, lalu memalingkan wajah.
Deru napas Bella memburu, namun sekuat tenaga ia coba mengendalikan diri.
“Pergi!” usir Bella dengan suaranya yang lirih.
“Aku akan pergi, tapi pakai cincin ini.” Lagi, Azam mengambil sebuah cincin di dalam saku celananya, lalu memasangkannya dijari manis tangan kanan Bella.
Azam, sudah banyak membuat salinan cincin pernikahan istrinya itu. Sementara yang asli ia simpan sendiri.
Ben dan anak buahnya yang bersusah payah mencari di jalanan malam itu.
Tahu Bella akan selalu membuang cincinnya, Azam memutuskan untuk menyimpannya sendiri.
“Ingat kataku, aku akan datang ke acaramu nanti malam. Dan saat tampil diatas catwalk, jatuhlah. Aku akan menolong.”
Setelah mengatakan itu, Azam pergi dari sana. Meninggalkan Bella yang menggepalkan kedua tangannya erat.
Menahan amarah dan rasa bencinya yang semakin besar.
“Aku membencimu Zam, aku membencimu!” rutuk Bella, ia kembali menangis.
“Bell!” teriak Fhia, tak lama setelah Azam pergi, Fhia masuk. ia berlari dan menghampiri Bella di kamar, memeluk Bella erat dan memberikan ketenagan.
“Jangan menangis Bell, berhenti menangisi pria brengsek itu,” pinta Fhia, namun ia ikut menangis juga.
Bella, menghapus air mata itu, bahkan bersusah payah membuatnya agar tak jatuh lagi.
“Dia memintaku untuk jatuh Fhia, lalu dia akan datang dan menolong.”
“Turuti saja keinginan dia, bukankah setelah itu dia akan menjauhimu.”
Bella, mengangguk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Nana Niez
males zam,, egois
2025-01-08
0
andi hastutty
Azam ih dasar laki2 tidak tau diri
2024-09-14
0
Leng Loy
Azam jadi laki" pecundang
2024-06-11
0