Jangan buat papah kehilangan muka dihadapan tuan Adam dan Nyonya Haura Nak, mereka sudah sangat banyak membantu kita.
Ucapan sang ayah terus terngiang dibenak Raya. Hingga ia kembali ke dalam kamarnya sendiri, ucapan itu masih terus menghantui.
Perihal cinta yang ia rasa, kenapa banyak sekali yang tidak merestuinya. Padahal bukan hanya dia yang mencintai Azam, tapi Azam juga mencintai dirinya.
Duduk disisi ranjang, Raya membuka ponselnya yang tidak ada notifikasi apapun.
Bahkan sang kekasih juga belum menghubunginya hari ini.
Perhatian Raya teralihkan saat pintu kamarnya dibuka, dilihatnya sang ibu masuk.
Lalu duduk tepat disisinya.
“Mah,” sapa Raya pelan. Ia pun menoleh dan duduk menghadap pada ibunya itu.
“Ada apa Mah?” tanya Raya pula, melihat wajah ibu yang nampak banyak diselimuti kegelisahan.
“Ray, Mamah tanya sekali lagi, bagaimana hubunganmu dengan Azam sekarang?” tanya Sundari langsung, ia bahkan menggenggam erat kedua tangan sang anak.
Raya, tak langsung menjawab, jika ditanya seperti ini, iapun jadi bimbang sendiri.
Azam, memang mengatakan jika ia dan Bella akan bercerai 2 bulan lagi. Tapi entah kenapa, sudut hati Raya meragu. Apalagi akhir-akhir ini Azam jadi lebih jarang menghubunginya, dan selalu sibuk dengan istrinya itu.
Bella, memang selalu mencari masalah hingga membuat Azam repot. Si Pembuat Ulah.
“Kata mas Azam, dia dan nyonya Bella akan bercerai 2 bulan lagi Mah.”
Mendengar itu, Sundari langsung menghembuskan napasnya lega, bahkan sangat bersyukur.
“Alhamdulilah, baguslah kalau seperti itu. Sebaiknya kamu kembali ke Jakarta Nak, jangan biarkan Azam bersama istrinya itu terus. Perasaan manusia itu gampang berubahnya, kamu harus pandai-pandai menjaga cinta Azam.”
Raya, bergeming. Karena dia pulang ke Bandung pun atas keinginan Azam. Azam tak ingin hubungan mereka akan diketahui banyak orang jika Raya masih berada di mansion.
“Tapi Mah, mas Azam yang memintaku untuk pulang.”
Kini, giliran Sundari yang diam, seolah memikirkan sebuah cara agar anaknya kembali ke Jakarta.
“Baiklah, tidak usah kembali ke Mansion, tapi mintalah Azam untuk menemanimu ke rumah sakit dan mengambil obat papah, katakan obat papah habis.”
“Bukannya obat papah masih banyak Mah?”
Sundari, menghembuskan napasnya pelan., “Itu hanya Alasan Ray, yang penting selama mereka belum bercerai kamu juga harus memiliki waktu yang banyak dengan Azam.”
Raya, hanya bisa diam seraya menganggukkan kepalanya, patuh. Semua ucapan sang ibu selalu ia terima dengan tangan terbuka. Karena nyatanya, iapun merindu pada sosok pria itu, seorang pria yang selalu bersikap dingin namun memiliki tatapan yang hangat.
Saat itu juga, saat ibunya masih di sana, Raya mencoba untuk menghubungi Azam.
Di panggilan pertama, telepon itu langsung terjawab. Bibir Raya langsung tersenyum lebar. Pun sang ibu yang ikut tersenyum pula.
Keduanya saling bertukar salam lalu Raya menyampaikan maksudnya, siang ini juga ia akan ke Jakarta, mengambil obat sang ayah di rumah sakit tempat ayahnya di rawat dulu.
Rumah sakit Mayapadu.
Mendengar itu, Azam pun langsung mengatakan jika ia tak bisa menemani. Dari siang hingga malam ia ada pertemuan dengan klien penting.
Membuat senyum Raya dan Sundari luntur secara perlahan.
“Kenapa harus datang kesini langsung, aku bisa meminta seseorang untuk mengantarnya ke rumahmu,” ucap Azam, memberi solusi.
“Ada yang ingin aku tanyakan pada dokter papah Mas, karena itulah aku harus ke Jakarta langsung.”
Hening, Azam pun jadi bingung harus bagaimana. Di Satu sisi ia tak bisa meninggalkan pekerjaan di satu sisi lainnya ia tak mungkin membiarkan Raya sendirian.
“Baiklah, setelah sampai di Jakarta aku akan meminta Ben untuk menemanimu. Jika pertemuanku selesai lebih cepat aku akan mengantarmu pulang.”
Senyum yang tadi pudar, kini kembali terbit.
“Iya Mas,” jawab Raya pelan, seraya mengulum senyum.
Panggilan itu terputus, Raya dan Sundari lantas saling pandang dengan senyumnya yang terkembang.
“Tampilah yang cantik, buat Azam tidak bisa berpaling darimu.”
Raya, menganggukkan kepalanya dengan antusias.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai panggilannya dengan Raya mati, Azam masih terus memperhatikan ponselnya itu.
1 jam lalu, Priska sang mata-mata yang bertugas mematai-matai Bella melaporkan sesuatu.
Bahwa ia melihat seorang asisten pengusaha muda Singapura yang mengantarkan bunga untuk nyonya Bella. Asisten dari Edward Savarun.
Azam, jadi bertanya-tanya apa maksudnya itu.
“Memangnya dia tidak tahu kalau Bella sudah menikah,” gumam Azam, tak habis pikir.
Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika sebuah pemikiran muncul, mungkin saja, Bella yang lebih dulu menggoda pengusaha itu.
“Dari dulu Bella memang selalu seperti itu,” ucap Azam lagi dengan nadanya yang terdengar kesal. Bukan apa-apa, Azam hanya merasa jika Bella hanya bisa membuat ulah, lalu ia yang harus menyelesaikan semuanya.
Berita tentang Arnold baru turun, kini naik lagi nama pria yang lain. Membuat Azam, menghembuskan napasnya berat.
Siang itu, Azam langsung menuju hotel Julian. Dimana ia dan sang klien akan bertemu, Hotel Luxurious.
Kedatangan Azam itu juga didengar oleh Julian. Namun Julian memilih untuk tak peduli, lalu mensibukkan diri dengan urusannya sendiri.
Biasanya, jika ada teman-temannya yang berkunjung kesini, Julian akan menyempatkan waktu untuk menemui.
Tapi kini pengecualian untuk Azam.
“Tuan, Tuan Azam ingin menemui Anda, beliau sudah menunggu didepan,” ucap Sekretaris Julian. Ia masuk ke dalam ruangannya dan melaporkan itu.
“Bukankah aku sudah bilang padamu, hari ini aku tidak ingin bertemu dengan siapapun.”
Sekretaris itu hanya diam, seraya menundukkan kepalanya, takut. Siapa yang tak tau Azam Malik. Sekretaris inipun takut pada sang penguasa itu.
Dan kini, ia berada dalam keadaan yang sulit. Pikirnya, karena Azam dan Julian bersahabat, maka Julian akan tetap menemui meskipun ia sudah memerintahkan untuk menolak semua tamu.
“Maaf Tuan,” hanya itulah yang bisa diucapkan sekretaris ini, tidak berani mengucapkan kalimat yang lain.
“Suruh dia masuk!” titah Julian akhirnya, enggan berdebat.
Tak lama setelah sekretaris itu keluar, Azam masuk ke dalam ruangannya.
“Julian,” panggil Azam, seraya mendekat, lalu duduk di kursi hadapan Julian, keduanya hanya terhalang oleh meja kerja.
“Ada perlu apa?” tanya Julian ketus. Mereka sudah sama-sama tahu tentang masalah Bella dan Raya, membuat Julian tidak ingin menutupi kekesalannya.
“Aku harus bagaimana Julian? Agar kalian mengerti apa yang aku rasakan.” Tanya Azam, sedikit putus asa.
Masalahnya dengan Bella membuat kedua sahabatnya menjauh. Jujur saja, itu membuat Azam merasa kehilangan. Seolah ia tak punya tempat lagi untuk berbagi.
“Aku yang salah, Bella tidak bersalah dan Raya juga tidak.”
“Berhentilah menyebut nama wanita itu, aku muak. Bukan karena dia seorang pelayan Zam, tapi setelah kamu menikah pun dia masih berani berhubungan denganmu.” Balas Julian cepat.
“Jangan salahkan dia, Julian.”
“Sudah, aku sudah tidak bisa lagi bicara denganmu. Lebih baik sekarang kamu pergi.” Potong Julian cepat, makin malam bicara dengan Azam, makin membuat emosinya tak bisa ditahan.
Azam memang salah, dan mengulur-ngulur masalah ini makin membuat Julian geram. Jika ingin menceraikan Bella, maka cepat ceraikan, itulah yang Julian inginkan. Jadi Bella, tidak akan merasa sakit terlalu lama.
Belum sempat Azam menjawab, ponsel di genggaman tangannya bergetar.
Dilihatnya, ada panggilan masuk dari Raya. Azam tak langsung menjawab, nampak Ragu lalu melihat kearah Julian yang menatapnya sinis.
“Apa dari wanita itu?” tanya Julian, melihat Azam yang tak berkata-kata membuat ia yakin jika tebakannya adalah benar.
“Kamu memang harus pergi kan, pergilah.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
komalia komalia
kapan Orang tua si azzam tau
2025-01-23
0
rin
pas kecil jenius knp gede nya begitu 🤣🤣🤣🤣 haduuuh...
2024-10-24
0
andi hastutty
Kamu zam yg membuat hidupmu susah dan sahabatmu menjauh. Lebih bagus cerita adam malik laki2 setia
2024-09-15
0