Keluar dari ruangan Julian, Azam langsung menjawab panggilan Raya. Diujung sana, Raya mengatakan jika ia sudah berada di rumah sakit bersama Ben.
Bahkan mengatakan jika ia sudah menemui dokter sang ayah dan urusannya sudah usai.
“Baiklah, aku akan ke sana,” jawab Azam.
Setelah mengatakan itu Azam segera pergi, tanpa sadar jika Zura mengikuti. Awalnya, Azura ingin menemui Julian, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sang kakak keluar dari dalam ruangan itu.
Buru-buru, Zura menyingkir dan bersembunyi dibalik tembok, lagi-lagi menguping pembicaraan sang kakak. Telepon yang diyakini Azura dari perempuan itu.
Tanpa pikir panjang, Azura pun langsung mengendap-ngendap mengikuti sang kakak. Mengambil topi putih didalam tas kecilnya, Azura langsung menggunakan itu untuk menutupi wajah.
Sejak usia remaja, Azura sudah banyak memiliki fans fanatik, berkat paras cantik dan keindahan suaranya dalam teater musikal. Jadi untuk bebas berkeliaran diluar seperti ini, dia harus menggunakan topi dan masker.
Mengikuti terus sang kakak yang menuju lantai 3 hotel ini. Lantai dimana pusat perbelanjaan berada. Zura, langsung berdecih, berpikir jika kakaknya itu akan membelikan sesuatu untuk sang kekasih.
“Benar-benar tidak punya malu, sudah beristri masih memperhatikan wanita lain,” kesal Azura, bahkan sangat kesal.
Dilihatnya sang kakak yang mengambil beberapa pakaian berwarna hitam, namun pakaian itu adalah pakaian pria. Membuat Azura mengerutkan dahinya, bertanya-tanya.
Ternyata, Azam mengganti baju kerjanya menggunakan baju biasa setelan berwarna hitam, lengkap pula dengan topi hitam yang ia kenakan.
Melihat ulah sang kakak itu, membuat Azura kehabisan kata-kata. Bahkan Azam sampai rela menyamar demi menemui sang wanita.
Merasa geram, Azura pun langsung menghampiri kakaknya itu dengan wajahnya yang tak ramah. Namun sekuat tenaga bersikap biasa aja.
“Abang! Apa yang abang lakukan?” tanya Zura, membuat Azam sungguh terkejut, bahkan seolah jantungnya mau copot.
“Bagaimana bisa kamu ada disini?” tanya Azam pula, seraya membenahi topi yang ia kenakan.
“Aku tadi mau ketempat Julian, tapi malah melihat Abang disini. Abang mau kemana pakai baju hitam-hitam seperti itu?” Azura, bertanya dengan ketus, bahkan menatap sang kakak dengan wajah tak suka.
“Tidak kemana-mana, pergilah jika ingin menemui Julian. Aku masih ada urusan,” jelas Azam, ia bahkan hendak berlalu namun urung karena Azura menahan lengan sang kakak.
“Mau kemana? Lebih baik abang antar aku pulang saja, lagipula meeting Abang sudah selesai kan?” hardik Azura, ia bahkan langsung menarik tubuh kakaknya itu agar mengikuti langkahnya.
Aku, tidak akan membiarkan abang bertemu dengan wanita itu. Ucap Azura di dalam hati. Azura memang belum tahu seperti apa rupa wanita itu, namun kebenciannya sudah begitu menumpuk. Membuatnya enggan untuk mengetahui wajahnya.
“Zura, lepas, abang masih punya urusan.”
“Urusan apa, bicara yang jelas, bahkan aku bisa tahu semua jadwal abang,” jawab Zura, ketus.
Azam tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah adiknya ini. Meskipun hatinya mendadak gelisah, memikirkan Raya yang pasti akan menunggu kedatangannya.
Sampai di mobilnya, Azam hendak menghubungi Raya, namun kembali urung saat Zura merebut ponsel kakaknya itu.
“Bella pasti akan menunggu abang, nanti saja teleponnya,” ucap Zura, berucap sekaligus menyindir.
Yang disindir tidak menjawab apapun, hanya menghembuskan napasnya pelan.
Sore menjelang malam kala itu, Azam akhirnya mengantar sang adik pulang.
Sementara Raya yang sudah menunggu lama tanpa kejelasan, akhirnya memilih pulang ke Bandung dengan supir yang disediakan oleh Ben.
Di dalam mobil yang melaju itu, pikiran Raya berkecamuk memikirkan banyak hal. Jujur saja, ia kecewa. Hari ini, Raya sudah berusaha tampil sebaik mungkin, ia bahkan menggunakan gaun dengan motif bunga-bunga kecil untuk menyenangkan sang kekasih.
Tapi usahanya berakhir sia-sia, karena ia tidak bisa bertemu dengan Azam. Diliriknya jam yang tertera didalam ponsel, waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, tapi Azam pun belum juga menghubungi dirinya, menjelaskan kenapa ia sampai tak datang.
Pelan, Raya menghembuskan napas kecewanya.
Ucapan sang ibu kembali terngiang dengan jelas. Perkara hati yang mudah berubah. Raya mulai merasa, jika hati Azam mulai goyah.
Antara mempertahankan dirinya atau sebuah rumah tangga tanpa cinta itu.
Menyadari itu, Raya meremat kedua tangannya. Merasakan sesak di dada yang tiba-tiba menyerang.
“Aku harus bagaimana?” gumamnya pelan.
Akhirnya Raya, mencoba untuk menghubungi Azam.
Ponsel Azam diujung sana berdering, namun sayangnya ponsel itu masih berada di genggaman tangan Azura.
Reflek, Azura pun melihat panggilan itu dan membaca nama yang tertera di sana.
“Raya,” gumam Azura, membuat Azam langsung mengerem secara mendadak dan membanting stir kepinggiran jalan raya.
Zura sontak terkejut, bahkan tubuhnya terhuyung ke depan. Andai saja ia tak menggunakan sabuk pengaman pasti kepalanya sudah terbentur dashboard mobil.
“Berikan padaku.”
“Tidak!” tolak Zura cepat, Azura bahkan langsung membuka kaca mobil dan membuang ponsel itu kejalanan.
“Zura!” bentak Azam, membuat air mata Azura mengalir seketika. Kekesalan, kekecewaan dan kemarahannya sudah tak bisa lagi dibendung.
Zura, tidak lagi bisa lagi berpura-pura. Apalagi saat sang kakak sudah mulai membentaknya.
“Sadarlah Bang! Yang abang lakukan itu salah! Aku sudah tahu semuanya,” ucap Zura dengan derai air mata.
Azam bergeming, merasakan dadanya yang terasa tersengat.
Ternyata sang adik pun sudah mengetahui masalah ini.
“Apa kamu akan menyalahkan aku juga?” tanya Azam yang sudah kepalang basah.
“Istigfar Bang, kamu sudah menikah. Bagaimana jika ayah dan ibu sampai tahu masalah ini, mereka pasti sangat kecewa Bang.”
“Karena itu diamlah, sampai aku menyelesaikan semuanya.”
Azura, tak bisa lagi berkata-kata mendengar jawaban sang kakak. Seolah kini, Azura sudah tak mengenal lagi sosok dihadapannya ini. Dia bukan Azam abangnya, dia adalah Azam yang lain.
“Apa yang membuat Abang sampai tega seperti ini pada Bella Bang, apa salah Bella?”
“Zura, kamu paling tahu, apa yang membuat Abang tidak bisa menerima Bella.”
Azura, tersenyum getir.
“Itu bukan alasan Bang, keihklasan dan penerimaan adalah yang harus abang lakukan. Semua orang bisa berubah, termasuk Bella. Tapi Abang malah mencari di perempuan lain. Apa abang pikir abang sudah sempurna?” tanya Zura, saat mengatakan itu tenggorokkannya tercekak, terasa sakit.
Betapa ia sudah tak lagi mengenal sang kakak.
“2 bulan lalu saat Bella kembali dari Amerika dia sudah mengatakan padaku untuk berhenti dari dunia hiburan, dia ingin berusaha menjadi istri abang...” ucap Azura dengan sesenggukan.
Hal itu, Bella sampaikan pada Azura dan Julian sebelum dia pulang ke mansion saat makan siang di hotel Luxurious.
“Tapi saat dia sampai di rumah, dia melihat abang memeluk wanita itu, apa Abang tidak bisa merasa bagaimana sakitnya jadi Bella.”
Lagi, Air mata Zura semakin tumpah.
Sementara Azam bergeming, dengan pikirannya yang
gamang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
andi hastutty
Zura sadarkan Ka2k mu dlu azam yg paling pintar sekarang di ceritanya dia paling bodoh
2024-09-15
0
Leng Loy
Akhirnya Zura sudah tidak bisa berpura" lagi
2024-06-11
0
Lee Yun seo
.
2024-04-15
0