Makan malam.
Semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing. Mengelilingi meja panjang yang cukup untuk digunakan oleh semua keluarga Malik.
Para remaja bahkan duduk berdampingan, asik dengan obrolannya sendiri. Agata adalah adik Azam dan Azura yang berusia 18 tahun. Berusia sama dengan Alghazali anak tante Aida dan om Yuda. Juga Alesha, anak tante Sarah dan om Agra atau adiknya Bella.
Sebagai pemilik acara, sebelum makan malam itu di mulai, Adam terlebih dulu banyak mengucapkan terima kasih. Karena dalam kesempatan kali ini semua orang bersedia untuk berkumpul.
Meninggalkan sejenak kesibukkannya masing-masing.
Adam juga mengatakan, jika ia senang sekali melihat Azam dan Bella yang datang bersama. Adam tahu, jika kedua anaknya itu sangat sibuk.
“Ayah tahu, kalian pasti sama-sama sibuk. Ayah hanya ingin rumah tangga kalian tidak terganggu dengan kesibukan itu, saling berkomunikasi adalah kuncinya,” jelas Adam, memberi nasehat pada Azam dan Bella.
Sepasang pengantin baru ini hanya diam, seraya menganggukkan kepalanya, patuh.
Adam juga mendoakan sang ibu, agar Zahra selalu diberi kesehatan. Adam pun memeluk ibunya erat, kini, Zahra sudah selalu menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan.
Melihat anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul seperti ini, Zahra sungguh merasa bahagia.
Sedangkan di tempat duduk lain, Azura terus memperhatikan Bella dan Azam. Ia bahkan menatap lekat pada kedua orang itu.
Zura bisa merasakannya, jika hubungan Bella dan Azam memang tidak baik-baik saja. Tapi dimata semua orang, tak ada yang bisa melihat itu.
Pelan, ada satu air mata yang mengalir di wajah Zura, namun dengan cepat ia menunduk dan menghapusnya. Tak ingin sampai ada orang yang menyadari itu.
Zura sangat kecewa, atas tindakan sang kakak.
Apa abang lupa jika dia punya dua adik perempuan, bagaimana jika aku dan Agata diperlakukan seperti Bella oleh suami kami kelak. Batin Zura, miris.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Haura, yang duduk disebelah Azura. Dengan cepat Zura menggeleng, seraya kembali tersenyum cerah.
“Tidak ada apa-apa Bu, aku hanya sangat bersyukur, ibu dan ayah selalu saling mencintai seperti ini.”
Haura, langsung memeluk anaknya erat.
“Nanti, kamu juga akan menemukan seseorang yang akan mencintaimu dengan tulus sayang.”
Semoga saja. Batin Zura.
Ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Selesai mengucapkan terima kasih, Adam langsung mempersilahkan semua untuk makan.
Suasana makan malam kala itu terasa begitu hangat, karena semuanya jadi memiliki waktu untuk saling bertukar kabar.
“Makan yang banyak, ku lihat tubuhmu semakin kurus,” ucap Azam pada sang istri, ia bahkan menambahkan lauk di piring Bella.
Bukannya senang, Bella malah menggerutu di dalam hati.
Ini berat badan idealku brengsek, enak saja bilang aku kurus. Aku bukan kurus, tapi memang kamu yang tidak pernah memperhatikan aku. Ah iya, aku lupa. Perhatiannya itu hanya sandiwara. Menjijikkan, sangat menjijikkan.
“Terima kasih sayang,” balas Bella, seraya menoleh dan menatap suaminya itu dengan tatapan menghina, bahkan Azam bisa melihat dengan jelas, Bella yang berdecih pelan untuknya.
“Pelan-pelan,” balas Azam, ia lalu mengambil sapu tangan bersih di atas meja dan menghapus lipstik Bella yang sedikit berantakan.
Sungguh, Bella sangat muak dengan perlakuan Azam itu. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah menerimanya.
Ibu Sarah, kini duduk persis disebelahnya membuat Bella tak bisa berkutik.
“Mas Azam romantis banget, aku mau dong nanti kalau menikah punya suami kayak mas Azam,” celeutuk Alesha, adik Bella.
Seketika Bella dan Zura yang mendengar itu langsung tersedak makanannya sendiri.
Keduanya lalu batuk dengan sensasi sakit di tenggorokan.
Haura langsung memberi minum pada Zura.
Sedangkan Bella, langsung menerima dua gelas air putih yang diulurkan olehnya. Gelas dari sang ibu dan sang suami.
Dengan cepat, Bella mengambil gelas dari ibunya. Membuat Azam, merasa ada yang berdesir disudut hatinya. Akhirnya ia hanya bisa menarik kembali tangannya dan meletakkan gelas itu lagi.
“Pelan-pelan sayang,” ucap Sarah, seraya mengelus tengkuk sang anak dengan sayang.
“Dimana cincin pernikahanmu?” tanya Sarah kemudian. Ia melihat jari manis Bella yang kosong saat anaknya itu menutup mulutnya menggunakan tangan kanan.
Dan dengan fasih, Bella menjawab.
“Sengaja ku lepas Ma, kemarin aku ada pemotretan brand perhiasan. Jadi semua yang melekat di tubuhku harus brand itu,” jelas Bella lancar. Membuat Azam tercengang.
Azam tahu, Bella sudah membuang cincin itu.
Ben, yang melaporkan padanya. Saat pertama kali mereka bertengkar, Bella membuang cincin itu di jalanan, ketika menuju Bar Arnold.
“Baiklah, walaupun tidak dipakai, simpan baik-baik cincin itu.”
“Iya, Ma.” Bala Bella, patuh.
Azam benar-benar tak menyangka, Bella akan sebiasa itu ketika menanggapi tentang cincin pernikahan mereka. Azam lalu melirik tangan kanannya, melihat cincinnya masih melingkar di jari manis.
Selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang keluarga. Ada beberapa sepupu Adam yang memutuskan pulang lebih dulu, karena mereka memiliki anak kecil.
Kini, hanya tinggal keluarga inti yang tinggal. Adam dan Aida, bahkan Agra dan Sarah pun sudah pulang.
“Bisakah malam ini kalian semua menginap disini?” tanya Zahra pada anak dan cucunya.
“Tentu saja!” sahut Zura antusias, “Tentu aja kita semua harus menginap di mansion nenek. Kapan lagi kita akan berkumpul seperti ini,” timpal Zura pula, dan dibenarkan oleh semua orang.
Kecuali, Azam dan Bella.
“Tapi aku tidur sama Mbak ya?” pinta Agata seraya bergelayut manja di lengan sang kakak.
Zura mencebik, namun akhirnya ia mengangguk juga.
Sudah sepakat untuk menginap, mereka kembali melanjutkan perbincangan banyak hal. Sampai akhirnya, semua orang fokus pada pengantin baru ini, Azam dan Bella.
Bella terus menjawab dengan santai semua pertanyaan. Ia bahkan menjawab asal namun penuh dengan percaya diri.
Mengatakan jika hubungannya dengan Azam semakin dekat, bahkan meski jarang bertemu mereka sering melakukan panggilan video call.
Setiap hari mereka selalu bertukar kabar dan lain sebagainya.
Saat menjawab itu, sesekali Bella tertawa renyah, tawa yang membuat semua orang pun ikut merasa bahagia.
Tapi Azam yang melihatnya hanya bergeming. Ia malah merasa dikucilkan dengan semua jawaban Bella itu.
Membuatnya merasa tak nyaman.
Tepat jam setengah 10 malam, semua orang hendak beristirahat. Azam dan Bella pun mulai bergegas menuju kamar mereka.
Tanpa banyak bicara, Bella melangkahkan kakinya menuju kamarnya di mansion ini. Sementara Azam menuju kamarnya sendiri.
Langkah Azam terhenti, saat ia tak melihat Bella di sampingnya, lalu berbalik dan melihat Bella yang menjauh.
Entah kenapa, Azam sungguh geram melihat itu. Dengan langkah lebarnya ia segera menyusul Bella.
Menarik tangan sang istri dan menahannya kuat.
“Tidur di kamarku,” ucap Azam dengan suaranya yang dingin.
“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, menjijikkan, lepas!”
Bella, sekuat tenaga menarik tangannya. Namun tak membuahkan hasil apa-apa. Ia, kalah tenaga. Bahkan langkah kakinya pun tertarik mengikuti tarikan Azam,
Mendengar Bella yang selalu mengatakan dirinya kotor, membuat kepala Azam mendidih.
Meskipun ia memiliki kekasih, tapi tidak sekalipun ia menyentuh Raya. Bahkan pelukan yang dulu dilihat Bella, itu adalah pelukan pertama mereka.
Karena Azam, begitu menghormati wanita itu.
Brak!
Azam, menutup pintu kamarnya kuat. Ketika ia dan sang istri sudah masuk. Ia menoleh, dan melihat Bella yang menangis.
Seketika, cengkraman tangannya melemah. Sadar, jika ia telah menyakiti Bella.
“Maaf.”
Plak!
Bella, melayangkan sebuah tamparan di wajah Azam.
Tapi Azam hanya bergeming, menerima tamparan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Vindy swecut
beda banget sih zam am ayah adam...kemana azam yg dulu...
2025-02-19
0
May Keisya
tetep aja jijik..
2024-11-15
1
May Keisya
rasanya pengen aku sianida tuh azam
2024-11-15
0