Malam ini, Bella meneguk banyak alkohol hingga ia mabuk dan tak sadarkan diri. Arnold hanya duduk disampingnya, memperhatikan sang sahabat. Ia tak kuasa untuk mencegah Bella.
Julian yang merasa cemas saat Arnold tak menjawab semua panggilannya pun mendatangi Bar ini dan melihat Bella yang sudah ambruk.
Ia tertidur di atas meja Bar.
“Bar mu tutup dan semua panggilanku tidak kamu jawab, karena itulah aku kesini. Apa yang terjadi?” tanya Julian langsung, menatap serius pada Arnold. Julian tahu, ada sesuatu yang tidak beres.
Tidak biasanya, Bella mabuk sampai seperti ini.
Ditanya seperti itu, Arnold tak langsung menjawab. Pikirannya beradu antara menceritakan semuanya pada Julian atau tidak.
Saat Bella sadar tadi, Bella berulang kali mengatakan kepada Arnold untuk menutup rapat-rapat masalah rumah tangganya ini dari sahabat mereka yang lain.
Bella tak ingin Azzura sampai tahu, lalu masalah akan menjadi besar dan menghancurkan keharmonisan keluarga Malik.
Bella terus mengatakan jika ia sangat menyayangi semua orang di keluarga Malik. Bella yang bukan siapa-siapa di keluarga itu selalu diperlakukan sama. Bahkan ia pun memiliki saham di Malik Kingdom dalam jumlah yang cukup banyak.
Tidak, aku tidak boleh memberi tahu Julian. Aku harus menghargai keinginan Bella. Batin Arnold, setelah cukup lama ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Ar!” panggil Julian, dengan suaranya yang meninggi.
Membuat Arnold terkisap dan langsung menatap netra dingin Julian.
“Ti-tidak ada apa-apa Julian,” jawab Arnold bohong, ia bahkan langsung memutus tatapannya pada Julian dan langsung pura-pura sibuk ingin memindahkan Bella.
Arnold akan membawa Bella ke kamar kosong di Bar ini. Kamar yang memang tersedia untuk Bella, Zura dan Haruka ketika mereka menginap disini.
Tapi baru mengangkat tubuh Bella dan belum mulai melangkah, Julian lebih dulu menahan tubuh Arnold.
Meskipun Arnold menjawab tak ada apa-apa, namun Julian sangat yakin jika ada sesuatu yang terjadi.
“Kenapa membohongiku? Apa aku tidak berhak tau?” tanya Julian lagi hingga membuat Arnold terpojok.
“Maafkan aku Julian, besok saat Bella sadar tanyakanlah sendiri padanya,” jawab Arnold akhirnya, membuat Julian melepaskan cengkramannya pada lengan sahabatnya itu. Membiarkan Arnold pergi dengan menggendong Bella.
Masuk ke dalam salah satu kamar di lantai 2.
Julian tak langsung pergi, ia duduk disana dan menunggu Arnold turun.
Malam itu, Arnold dan Julian tak terlelap sedikitpun. Mereka terus terjaga dengan meminum beberapa minuman rendah alkohol.
Menunggu, Bella terbangun.
“Aku hubungi Zura sebentar,” ucap Julian, namun Arnold dengan cepat menahan tangan Julian yang hendak mengambil ponselnya didalam saku celana.
“Jangan minta dia datang kesini, aku mohon.” Pinta Arnold sungguh-sungguh.
Sejenak, Julian hanya bergeming makin membuat pikirannya menerawang jauh kemana-mana. Makin berpikir jika masalah yang dihadapi Bella sangat berat bahkan ada hubungannya dengan Zura dan Azam.
Pelan, Julian pun menganggukkan kepalanya.
“tidak, aku hanya akan mengatakan bahwa besok aku tidak bisa menjemput dia,” jelas Julian, dan berhasil membuat Arnold bernapas lega.
Jam 10 malam kala itu, Julian menghubungi Zura. Mengatakan persis seperti yang ia katakan kepada Arnold.
Zura hanya menjawab iya, berpikir jika Julian pasti sedang sangat sibuk.
“Kenapa Zura tidak boleh datang?”
“Jangan bertanya padaku, tanyakan langsung besok pada Bella,” jawab Arnold pula, lalu meneguk minumannya dengan kasar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu ditempat lain.
Azam, duduk di kursi kerjanya di mansion.
Pertengkarannya dengan Bella sore tadi terus saja mengganggu pikirannya. Apalagi hingga tengah malam begini Bella tak juga pulang-pulang.
Drt drt drt
Ponsel Azam diatas meja bergetar, dengan gerakan pelan ia pun mengambil ponsel itu. Sebuah pesan dari asisten pribadinya, Ben.
Tuan, Nyonya Bella malam ini menginap di Bar milik tuan Arnold, Nyonya Bella mabuk dan tidak sadarkan diri.
Tulis Ben, dalam pesan itu.
Azam, menarik dan menghembuskan napasnya pelan.
Inilah salah satu alasan, kenapa ia tak bisa mencintai Bella. Kehidupan yang dijalani Bella membuat ia enggan untuk memiliki ketertarikan pada gadis itu, meskipun Bella memiliki paras yang sangat cantik.
Sejak kecil, Bella sudah sangat ingin menjadi seorang model. Bahkan diusianya yang masih remaja ia sudah melakoni profesinya itu, berjalan diatas catwalk dengan baju yang sangat pendek dan tipis, bahkan lekukan tubuhnya pun menjadi perhatian semua orang.
Azam tak bisa melarang, kerena itu adalah hidup yang menjadi pilihan Bella. Azam, lebih memilih untuk menghindar, menjaga jarak.
Hingga suatu hari.
Raya kecil datang ke rumahnya bersama sang ibu yang saat itu menjadi salah satu pelayan di rumah kedua orang tuanya.
Sesekali Raya akan datang kesana, membantu ibunya mengerjakan tugas rumah.
Kesederhanaan Raya, membuat Azam bisa tersenyum kecil. Perasaan yang tak ia rencanakan untuk ada tumbuh dengan sendirinya.
Azam, mengusap wajahnya dengan kasar. Baik Raya ataupun Bella memang tak ada yang salah.
Ialah yang paling salah dalam hubungan ini.
Sama seperti Julian dan Arnold. Malam itu Azam pun tidak terlelap, ia terus terjaga dan menunggu kepulangan Bella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi.
Bela bangun dan merasakan kepalanya yang begitu pening.
“Ar?’ gumam Bella pelan diantara pandangannya yang masih kabur. Seingatnya hanya ada Arnold disini, dan ia butuh bantuan sahabatnya itu untuk bangun.
“Aku disini.” Julian yang menjawab, seraya membantu Bella untuk bangun.
“Kenapa kamu disini? dimana Arnold?” tanya Bella bertubi, tiba-tiba gugup menghampiri. Bella sungguh takut jika Arnold sudah mengatakan semuanya pada Julian.
Bella cemas, Julian akan memberi tahu Azzura. Padahal sungguh, Bella tak ingin keluarga Malik sampai hancur hanya gara-gara masalah rumah tangganya.
Bella ingin, masalah ini ia selesaikan berdua saja dengan Azam.
Melihat Julian yang bergeming dan menatapnya tajam, membuat Bella makin merasa ketakutan.
“Aku mohon Julian, aku mohon jangan beri tahu Zura ...” Dan dengan sendirinya, Bella malah menceritakan semuanya kepada Julian.
Sebelum Julian bertanya satu pertanyaan pun.
Sama seperti Arnold, mendengar cerita Bella, Julian pun mengepalkan tangannya kuat. Meskipun Azam dan pelayan itu sudah memiliki hubungan sebelum mereka menikah, tapi tetap saja Azam salah dan perempuan itu juga salah.
Saat itu juga Julian hendak berlalu dan menghajar sahabat kecilnya itu, Azam Malik.
Namun belum sempat bangkit, Bella langsung menahan lengan Julian kuat-kuat, ia bahkan sampai memeluk lengan itu erat dengan derai air mata yang kembali jatuh.
“Aku akan bercerai dengan dia Julian, aku akan berpisah dengannya. Aku juga tidak sudi menghabiskan sisa hidupku dengan rumah tangga seperti ini. Jadi aku mohon Julian, aku mohon jangan beri tahu semua orang, jangan beri tahu Zura, atau bahkan berpura-puralah tidak tahu didepan pria brengsek itu,” mohon Bella dengan sungguh-sungguh.
Ia akan pergi dan melepaskan suaminya, tapi ia tak ingin keluarga besarnya sampai hancur.
Azam cukup menyakiti Bella, Bella tak ingin kedua orang tua dan mertuanya merasakan sakit juga.
Ah tidak, bukan itu yang sebenarnya Bella takutkan. Bella justru takut, mengetahui kenyataan jika akhirnya nanti keluarga Malik akan tetap membela Azam.
Karena bagaimanapun, darah lebih kental daripada air.
Bella kembali menangis. Dan Julian hanya bisa memeluk sahabatnya ini erat.
Arnold yang baru masuk ke dalam kamar itu pun memutuskan untuk keluar lagi, tak sanggup melihat Bella yang terus menangis.
“Brengsek kamu Zam!” umpat Arnold dengan hati yang sungguh membenci.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
nobita
inilah gambaran sahabat sejati
2024-09-22
0
andi hastutty
Bella serba salah
2024-09-14
0
Leng Loy
Bella juga jadi bingung
2024-06-10
0