BRAK!
Azura, menutup pintu mobil sang kakak dengan kuat. Ia tak sanggup lagi berada di sana dan memilih untuk keluar. Pulang dengan taksi rasanya jauh lebih bagus daripada pulang bersama orang brengsek itu.
“Zura tunggu!” panggil Azam berteriak, ia berlari dan mengejar sang adik. Azam bahkan menahan tangan Zura agar menghentikan langkahnya.
Suara mobil berlalu lalang memenuhi pendengaran keduanya, bahkan tak jarang orang membunyikan klakson, saat merasa mobil Azam yang terparkir sembarangan mengganggu mereka.
“Lepas! Aku jijik liat mas Azam!” jujur Zura, membuat Azam terngiang akan ucapan Bella.
Tiap kali ia sentuh, Bella akan selalu menepis dan berkata jijik. Membuat ia benar-benar merasa tak nyaman, seolah dia adalah orang paling hina di muka bumi ini.
“Jangan seperti ini, ayo pulang bareng abang,” bujuk Azam pula, ia sangat menyayangi Zura, tidak akan mungkin meninggalkan sang adik di jalanan malam seperti ini.
“Bukankah Abang ingin menemui wanita itu, sana pergi! Tapi ingat, setelah abang menemui dia, jangan harap aku sudi melihat abang!” ancam Zura, lagi-lagi ia menarik tangannya kuat, agar terlepas dari cengkraman sang kakak.
Tapi Zura kalah tenaga, Azam, lebih kuat dibanding dirinya.
“Zura, maafkan abang, ayo kita pulang.”
Setelah mengatakan itu, Azam menarik sang adik tak peduli meski Azura meronta-ronta tak ingin ikut.
Bahkan Zura terus berteriak, meminta dilepas dan tak sudi bersama kakaknya lagi.
Teriakan Azura terhenti saat Azam berhasil mendudukkannya di kursi penumpang. Lalu dengan cepat Azam pun masuk ke kursi kemudi dan memelajukan mobilnya kembali.
Sementara Azura terus menangis, bahkan sampai menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.
“Abang jahat, bagaimana jika Bella itu aku Bang, apa Abang tega melihatku diperlakukan seperti itu oleh suamiku Bang?” tanya Zura dengan suaranya yang sumbang, hidungnya sudah tersumbat dan tak berfungsi dengan baik.
“Maafkan Abang Zura, abang salah.” Jawab Azam, ia bahkan mengelus pundak sang adik agar berhenti menangis. Seraya terus menyetir dengan pikirannya yang kalut.
Malam itu, setelah mengantar Zura pulang ke rumah kedua orang tuanya. Azam, pun langsung pulang ke mansionnya sendiri.
Mansion besar yang harusnya menjadi tempat tinggal ia dan Bella, yang kini hanya dihuni oleh dirinya sendiri.
Masuk dengan pikiran kosong ke mansion itu dan menuju kamarnya. Duduk disisi ranjang dan memikirkan banyak hal.
Tentang Raya, tentang pertemuannya, tentang kisah mereka dan tentang semua ini.
Tentang jodoh, memang tidak ada yang tahu. Tapi kini yang sudah menjadi istrinya adalah Bella. Maka sudah menjadi kewajiban Azam untuk mencintai dan melindungi istrinya itu.
Azam menunduk seraya mengusap wajahnya frustasi.
Teringat ucapan Zura yang mengatakan jika Bella sudah akan berubah, namun malah melihatnya berpelukan dengan Raya.
Lalu teringat, saat malam pertamanya dengan Bella dan ia malah mencari alasan untuk menunda. Semua perlakuan buruknya pada Bella bermunculan satu per satu membuatnya benar-benar merasa hina.
Mulai merasa, jika Bella memang pantas merasa jijik padanya.
Kalutnya pikiran Azam putus saat ia mendengar pintu kamarnya yang diketuk. Seorang pelayan masuk dan mengatakan jika Tuan Adam menelpon. Melalui sambungan telepon rumah.
Azam lantas keluar dan mengangkat panggilan ayahnya itu.
“Zam, besok jemputlah Bella untuk pulang ke Jakarta, ayah sudah memintanya untuk beristirahat di rumah saja. Ayah tidak mau dia jatuh sakit lagi,” jelas Adam, pada sang anak.
“Nanti juga ambilah cuti, ayah rasa kalian butuh waktu untuk menikmati pernikahan kalian, biar Zura yang urus tentang perusahaan.” Adam, kembali berucap, sementara Azam hanya diam dan terus mendengarkan.
Namun semua ucapan ayahnya itu, seolah adalah jawaban dari kegundahan hatinya. Memperjelas bahwa kini ia harus bersama Bella.
“Baik Yah,” jawab Azam singkat, lalu panggilan telepon itu terputus.
“Maafkan aku Ray,” gumam Azam pelan. Hingga dilihatnya, Ben yang datang menghampiri.
“Nona Raya sudah sampai di rumahnya tuan, supir beliau sudah memberikan laporan pada saya.” Ucap Ben.
Dan Azam hanya menjawabnya dengan anggukan, seraya meminta Ben untuk pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu, pagi itu Azam langung terbang ke Singapura. Ben, sudah membelikannya ponsel yang baru. Mengganti ponselnya yang dibuang oleh sang adik.
Semalam, Azam sudah banyak memikirkan banyak hal. Tentang cintanya pada Raya dan tentang rumah tangganya dengan Bella.
Satu keputusan yang sudah Azam ambil, ia memutuskan untuk memperbaiki rumah tangganya dan mengakhiri hubungannya dengan Raya.
Duduk di kursi tunggu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Azam mengirimkan pesan singkat pada Raya yang kini berada di Bandung sana.
Dalam pesan itu Azam mengatakan, jika ia meminta maaf, lagi-lagi tak bisa memperjuangkan hubungan mereka. Ikatan antara ia dan Bella sudah semakin sulit untuk diputus, dan karena itulah Azam akan memilih bertahan.
Raya, langsung menitikan air mata kala membaca pesan itu. Air matanya terus mengalir dan tak bisa terhenti. Dadanya terasa sakit seolah dihimpit oleh bebatuan.
Saking sakitnya, bahkan Raya sampai berulang kali memukuli dadanya sendiri. Berharap sesak itu bisa keluar.
Lagi dan lagi, Azam menyakiti dirinya. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya Raya tidak terima. Seolah ia hanya dijadikan sebagai cadangan oleh Azam.
Tapi yang bisa Raya lakukan saat itu hanya satu, diam dan menikmati rasa sakitnya sendiri. Ia tak punya kuasa ataupun alasan yang kuat untuk mencegah Azam pergi.
Dan tepat Jam 9 pagi, Azam akhirnya sudah berada di depan pintu unit apartemen Bella, ia tidak sendiri, Ben selalu mendampingi.
Kali ini, Azam tidak meminta bantuan cleaning service untuk masuk. Azam langsung menggunakan acces card yang ia peroleh dari pihak manajemen Pan Pacific Apartemen. Menunjukkan buku nikahnya dengan Bella dan mengatakan jika istrinya kabur dari rumah, pihak manajemen langsung memberikan acces card itu.
Seperti apartemennya sendiri, Azam langsung masuk begitu saja. Membuat Bella dan Fhia yang hendak keluar diterpa keterkejutan, keduanya saling tukar pandang namun dengan tatapan yang berbeda.
Bella, menatap Azam dengan tatapan bengis. Sementara Azam, menatap Bella dengan tatapan yang lebih hangat, namun Bella tak melihat kehangatan itu.
Dimatanya, Azam sudah tak ada baik-baiknya.
“Untuk apa datang kesini?” Fhia yang buka suara, mengambil alih keadaan disana.
Azam tak menjawab itu, ia masih setia menatap kedua netra sang istri yang kini menatapnya dengan penuh benci.
“Kami datang untuk menjemput Nyonya Bella.” Ben yang menjawab.
“Kami bisa pulang sendiri, minggir!” ucap Bella, ia langsung menarik Fhia untuk mengikuti langkahnya dan melewati Azam begitu saja.
Tapi bukan Azam namanya jika dia hanya diam, dengan cepat Azam menahan lengan istrinya itu. Membuat Bella merasa jengah dan bosan dengan keadaan seperti ini.
“Lepas, kamu tahu kan apa alasannya aku tidak sudi kamu sentuh?” tanya Bella, sengit.
“Aku akan melepasnya, asal kamu menurut.”
Bella menutup matanya sejenak, lalu membukanya seraya menghembuskan napasnya kesal.
Dan saat Bella berusaha melepaskan tangannya, Azam langsung melepas dengan perlahan. Lalu menggandeng tangan istrinya itu dan segera keluar dari dalam apartemen.
Bella, sudah sangat lelah untuk berdebat. Ia tahu Azam kesini atas permintaan ayah Adam. Akhirnya Bella hanya bisa menurut, ~~~~merasakan tangan besar Azam yang menggenggam erat jemarinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
andi hastutty
Azam rasanya saya pengen tabok deh
2024-09-15
0
guntur 1609
memnag betul. kau org yg paling hina...
2024-07-27
0
Leng Loy
Kok gregetan banget sama Azam pengen nampol
2024-06-11
0