LGMH BAB 17 - Keputusan Azam

BRAK!

Azura, menutup pintu mobil sang kakak dengan kuat. Ia tak sanggup lagi berada di sana dan memilih untuk keluar. Pulang dengan taksi rasanya jauh lebih bagus daripada pulang bersama orang brengsek itu.

“Zura tunggu!” panggil Azam berteriak, ia berlari dan mengejar sang adik. Azam bahkan menahan tangan Zura agar menghentikan langkahnya.

Suara mobil berlalu lalang memenuhi pendengaran keduanya, bahkan tak jarang orang membunyikan klakson, saat merasa mobil Azam yang terparkir sembarangan mengganggu mereka.

“Lepas! Aku jijik liat mas Azam!” jujur Zura, membuat Azam terngiang akan ucapan Bella.

Tiap kali ia sentuh, Bella akan selalu menepis dan berkata jijik. Membuat ia benar-benar merasa tak nyaman, seolah dia adalah orang paling hina di muka bumi ini.

“Jangan seperti ini, ayo pulang bareng abang,” bujuk Azam pula, ia sangat menyayangi Zura, tidak akan mungkin meninggalkan sang adik di jalanan malam seperti ini.

“Bukankah Abang ingin menemui wanita itu, sana pergi! Tapi ingat, setelah abang menemui dia, jangan harap aku sudi melihat abang!” ancam Zura, lagi-lagi ia menarik tangannya kuat, agar terlepas dari cengkraman sang kakak.

Tapi Zura kalah tenaga, Azam, lebih kuat dibanding dirinya.

“Zura, maafkan abang, ayo kita pulang.”

Setelah mengatakan itu, Azam menarik sang adik tak peduli meski Azura meronta-ronta tak ingin ikut.

Bahkan Zura terus berteriak, meminta dilepas dan tak sudi bersama kakaknya lagi.

Teriakan Azura terhenti saat Azam berhasil mendudukkannya di kursi penumpang. Lalu dengan cepat Azam pun masuk ke kursi kemudi dan memelajukan mobilnya kembali.

Sementara Azura terus menangis, bahkan sampai menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.

“Abang jahat, bagaimana jika Bella itu aku Bang, apa Abang tega melihatku diperlakukan seperti itu oleh suamiku Bang?” tanya Zura dengan suaranya yang sumbang, hidungnya sudah tersumbat dan tak berfungsi dengan baik.

“Maafkan Abang Zura, abang salah.” Jawab Azam, ia bahkan mengelus pundak sang adik agar berhenti menangis. Seraya terus menyetir dengan pikirannya yang kalut.

Malam itu, setelah mengantar Zura pulang ke rumah kedua orang tuanya. Azam, pun langsung pulang ke mansionnya sendiri.

Mansion besar yang harusnya menjadi tempat tinggal ia dan Bella, yang kini hanya dihuni oleh dirinya sendiri.

Masuk dengan pikiran kosong ke mansion itu dan menuju kamarnya. Duduk disisi ranjang dan memikirkan banyak hal.

Tentang Raya, tentang pertemuannya, tentang kisah mereka dan tentang semua ini.

Tentang jodoh, memang tidak ada yang tahu. Tapi kini yang sudah menjadi istrinya adalah Bella. Maka sudah menjadi kewajiban Azam untuk mencintai dan melindungi istrinya itu.

Azam menunduk seraya mengusap wajahnya frustasi.

Teringat ucapan Zura yang mengatakan jika Bella sudah akan berubah, namun malah melihatnya berpelukan dengan Raya.

Lalu teringat, saat malam pertamanya dengan Bella dan ia malah mencari alasan untuk menunda. Semua perlakuan buruknya pada Bella bermunculan satu per satu membuatnya benar-benar merasa hina.

Mulai merasa, jika Bella memang pantas merasa jijik padanya.

Kalutnya pikiran Azam putus saat ia  mendengar pintu kamarnya yang diketuk. Seorang pelayan masuk dan mengatakan jika Tuan Adam menelpon. Melalui sambungan telepon rumah.

Azam lantas keluar dan mengangkat panggilan ayahnya itu.

“Zam, besok jemputlah Bella untuk pulang ke Jakarta, ayah sudah memintanya untuk beristirahat di rumah saja. Ayah tidak mau dia jatuh sakit lagi,” jelas Adam, pada sang anak.

“Nanti juga ambilah cuti, ayah rasa kalian butuh waktu untuk menikmati pernikahan kalian, biar Zura yang urus tentang perusahaan.” Adam, kembali berucap, sementara Azam hanya diam dan terus mendengarkan.

Namun semua ucapan ayahnya itu, seolah adalah jawaban dari kegundahan hatinya. Memperjelas bahwa kini ia harus bersama Bella.

“Baik Yah,” jawab Azam singkat, lalu panggilan telepon itu terputus.

“Maafkan aku Ray,” gumam Azam pelan. Hingga dilihatnya, Ben yang datang menghampiri.

“Nona Raya sudah sampai di rumahnya tuan, supir beliau sudah memberikan laporan pada saya.” Ucap Ben.

Dan Azam hanya menjawabnya dengan anggukan, seraya meminta Ben untuk pergi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari berlalu, pagi itu Azam langung terbang ke Singapura. Ben, sudah membelikannya ponsel yang baru. Mengganti ponselnya yang dibuang oleh sang adik.

Semalam, Azam sudah banyak memikirkan banyak hal. Tentang cintanya pada Raya dan tentang rumah tangganya dengan Bella.

Satu keputusan yang sudah Azam ambil, ia memutuskan untuk memperbaiki rumah tangganya dan mengakhiri hubungannya dengan Raya.

Duduk di kursi tunggu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Azam mengirimkan pesan singkat pada Raya yang kini berada di Bandung sana.

Dalam pesan itu Azam mengatakan, jika ia meminta maaf, lagi-lagi tak bisa memperjuangkan hubungan mereka. Ikatan antara ia dan Bella sudah semakin sulit untuk diputus, dan karena itulah Azam akan memilih bertahan.

Raya, langsung menitikan air mata kala membaca pesan itu. Air matanya terus mengalir dan tak bisa terhenti. Dadanya terasa sakit seolah dihimpit oleh bebatuan.

Saking sakitnya, bahkan Raya sampai berulang kali memukuli dadanya sendiri. Berharap sesak itu bisa keluar.

Lagi dan lagi, Azam menyakiti dirinya. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya Raya tidak terima. Seolah ia hanya dijadikan sebagai cadangan oleh Azam.

Tapi yang bisa Raya lakukan saat itu hanya satu, diam dan menikmati rasa sakitnya sendiri. Ia tak punya kuasa ataupun alasan yang kuat untuk mencegah Azam pergi.

Dan tepat Jam 9 pagi, Azam akhirnya sudah berada di depan pintu unit apartemen Bella, ia tidak sendiri, Ben selalu mendampingi.

Kali ini, Azam tidak meminta bantuan cleaning service untuk masuk. Azam langsung menggunakan acces card yang ia peroleh dari pihak manajemen Pan Pacific Apartemen. Menunjukkan buku nikahnya dengan Bella dan mengatakan jika istrinya kabur dari rumah, pihak manajemen langsung memberikan acces card itu.

Seperti apartemennya sendiri, Azam langsung masuk begitu saja. Membuat Bella dan Fhia yang hendak keluar diterpa keterkejutan, keduanya saling tukar pandang namun dengan tatapan yang berbeda.

Bella, menatap Azam dengan tatapan bengis. Sementara Azam, menatap Bella dengan tatapan yang lebih hangat, namun Bella tak melihat kehangatan itu.

Dimatanya, Azam sudah tak ada baik-baiknya.

“Untuk apa datang kesini?” Fhia yang buka suara, mengambil alih keadaan disana.

Azam tak menjawab itu, ia masih setia menatap kedua netra sang istri yang kini menatapnya dengan penuh benci.

“Kami datang untuk menjemput Nyonya Bella.” Ben yang menjawab.

“Kami bisa pulang sendiri, minggir!” ucap Bella, ia langsung menarik Fhia untuk mengikuti langkahnya dan melewati Azam begitu saja.

Tapi bukan Azam namanya jika dia hanya diam, dengan cepat Azam menahan lengan istrinya itu. Membuat Bella merasa jengah dan bosan dengan keadaan seperti ini.

“Lepas, kamu tahu kan apa alasannya aku tidak sudi kamu sentuh?” tanya Bella, sengit.

“Aku akan melepasnya, asal kamu menurut.”

Bella menutup matanya sejenak, lalu membukanya seraya menghembuskan napasnya kesal.

Dan saat Bella berusaha melepaskan tangannya, Azam langsung melepas dengan perlahan. Lalu menggandeng tangan istrinya itu dan segera keluar dari dalam apartemen.

Bella, sudah sangat lelah untuk berdebat. Ia tahu Azam kesini atas permintaan ayah Adam. Akhirnya Bella hanya bisa menurut, ~~~~merasakan tangan besar Azam yang menggenggam erat jemarinya.

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

Azam rasanya saya pengen tabok deh

2024-09-15

0

guntur 1609

guntur 1609

memnag betul. kau org yg paling hina...

2024-07-27

0

Leng Loy

Leng Loy

Kok gregetan banget sama Azam pengen nampol

2024-06-11

0

lihat semua
Episodes
1 LGMH BAB 1 - Azam Dan Bella
2 LGMH BAB 2 - Menemukan Jawaban
3 LGMH BAB 3 - Kebenaran Dan Pertengkaran
4 LGMH BAB 4 - Pria Brengsekk
5 LGMH BAB 5 - Kecurigaan Azura
6 LGMH BAB 6 - Membuatnya Menjadi Nyata
7 LGMH BAB 7 - Sebuah Permainan
8 LGMH BAB 8 - Makan Malam
9 LGMH BAB 9 - Tidak Sendiri
10 LGMH BAB 10 - Pan Pacific, Singapura
11 LGMH BAB 11 - Turuti Saja
12 LGMH BAB 12 - Bisakah Seperti Dulu?
13 LGMH BAB 13 - Jatuh Dan Tak Sadarkan Diri
14 LGMH BAB 14 - Singapura, Jakarta, Bandung
15 LGMH BAB 15 - Si Pembuat Ulah
16 LGMH BAB 16 - Bukan Alasan
17 LGMH BAB 17 - Keputusan Azam
18 LGMH BAB 18 - Tidak Ingin Tahu
19 LGMH BAB 19 - Seribu Bunga Mawar Putih
20 LGMH BAB 20 - Membanting Pria Brengsek
21 LGMH BAB 21 - Selamat Malam
22 LGMH BAB 22 - Tidak Akan Melepaskanmu
23 LGMH BAB 23 - Jangan Bohong
24 LGMH BAB 24 - Kesalahan Yang Tidak Pernah Habis
25 LGMH BAB 25 - Kejujuran
26 LGMH BAB 26 - Sakit Tapi Tidak Berdarah
27 LGMH BAB 27 - Berlagak Seperti Orang Bodoh
28 LGMH BAB 28 - Rindu Kebersamaan Ini
29 LGMH BAB 29 - Mencintaimu Lebih Dalam
30 LGMH BAB 30 - Pesan Azam
31 LGMH BAB 31 - Permainan Mesuum
32 LGMH BAB 32 - Pergi Ke Jepang
33 LGMH BAB 33 - Mandi
34 LGMH BAB 34 - Mendeteksi Perasaan Melalui Ciuman
35 LGMH BAB 35 - Inilah Dunia Bella
36 LGMH BAB 36 - Abang Sayang
37 LGMH BAB 37 - Kembali Terluka
38 LGMH BAB 38 - Meninggalnya Nenek Zahra
39 LGMH BAB 39 - Pesan Terakhir
40 LGMH BAB 40 - Kejujuran Bella
41 LGMH BAb 41 - Beri Aku Sedikit Waktu
42 LGMH BAB 42 - Gerimis Malam Ini
43 LGMH BAB 43 - Skandal
44 LGMH BAB 44 - Cintanya Bukan Untukku
45 LGMH BAB 45 - Pelukan Hangat
46 LGMH BAB 46 - Menata Hidupnya Kembali
47 LGMH BAB 47 - Letting Go My Husband
48 LGMH BAB 48 - Bunga Lagi
49 LGMH BAB 49 - Menjadi Teman
50 RETURN
51 LGMH BAB 50 - Mungkin Aku Salah Lihat
52 Bringing Back, My Wife
53 jangan dibaca
54 Gairah Sang Casanova
55 Wajib Baca
56 After Divorce
57 Bride Of Choice Karya Lunoxs
58 Crazy Love karya baru Lunoxs
59 Pengasuh Tuan Muda Genius karya baru Lunoxs
Episodes

Updated 59 Episodes

1
LGMH BAB 1 - Azam Dan Bella
2
LGMH BAB 2 - Menemukan Jawaban
3
LGMH BAB 3 - Kebenaran Dan Pertengkaran
4
LGMH BAB 4 - Pria Brengsekk
5
LGMH BAB 5 - Kecurigaan Azura
6
LGMH BAB 6 - Membuatnya Menjadi Nyata
7
LGMH BAB 7 - Sebuah Permainan
8
LGMH BAB 8 - Makan Malam
9
LGMH BAB 9 - Tidak Sendiri
10
LGMH BAB 10 - Pan Pacific, Singapura
11
LGMH BAB 11 - Turuti Saja
12
LGMH BAB 12 - Bisakah Seperti Dulu?
13
LGMH BAB 13 - Jatuh Dan Tak Sadarkan Diri
14
LGMH BAB 14 - Singapura, Jakarta, Bandung
15
LGMH BAB 15 - Si Pembuat Ulah
16
LGMH BAB 16 - Bukan Alasan
17
LGMH BAB 17 - Keputusan Azam
18
LGMH BAB 18 - Tidak Ingin Tahu
19
LGMH BAB 19 - Seribu Bunga Mawar Putih
20
LGMH BAB 20 - Membanting Pria Brengsek
21
LGMH BAB 21 - Selamat Malam
22
LGMH BAB 22 - Tidak Akan Melepaskanmu
23
LGMH BAB 23 - Jangan Bohong
24
LGMH BAB 24 - Kesalahan Yang Tidak Pernah Habis
25
LGMH BAB 25 - Kejujuran
26
LGMH BAB 26 - Sakit Tapi Tidak Berdarah
27
LGMH BAB 27 - Berlagak Seperti Orang Bodoh
28
LGMH BAB 28 - Rindu Kebersamaan Ini
29
LGMH BAB 29 - Mencintaimu Lebih Dalam
30
LGMH BAB 30 - Pesan Azam
31
LGMH BAB 31 - Permainan Mesuum
32
LGMH BAB 32 - Pergi Ke Jepang
33
LGMH BAB 33 - Mandi
34
LGMH BAB 34 - Mendeteksi Perasaan Melalui Ciuman
35
LGMH BAB 35 - Inilah Dunia Bella
36
LGMH BAB 36 - Abang Sayang
37
LGMH BAB 37 - Kembali Terluka
38
LGMH BAB 38 - Meninggalnya Nenek Zahra
39
LGMH BAB 39 - Pesan Terakhir
40
LGMH BAB 40 - Kejujuran Bella
41
LGMH BAb 41 - Beri Aku Sedikit Waktu
42
LGMH BAB 42 - Gerimis Malam Ini
43
LGMH BAB 43 - Skandal
44
LGMH BAB 44 - Cintanya Bukan Untukku
45
LGMH BAB 45 - Pelukan Hangat
46
LGMH BAB 46 - Menata Hidupnya Kembali
47
LGMH BAB 47 - Letting Go My Husband
48
LGMH BAB 48 - Bunga Lagi
49
LGMH BAB 49 - Menjadi Teman
50
RETURN
51
LGMH BAB 50 - Mungkin Aku Salah Lihat
52
Bringing Back, My Wife
53
jangan dibaca
54
Gairah Sang Casanova
55
Wajib Baca
56
After Divorce
57
Bride Of Choice Karya Lunoxs
58
Crazy Love karya baru Lunoxs
59
Pengasuh Tuan Muda Genius karya baru Lunoxs

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!