Sesaat, hanya ada diam yang tercipta.
Bella, menatap nanar pada kedua orang dihadapannya ini. Pelayan itu bersembunyi dibalik tubuh suaminya. Sementara Azam terus melindungi wanita itu, seolah Bella akan menyakitinya.
Mereka tidak sadar, jika disini yang paling terluka adalah Bella.
"Siapa dia?" tanya Bella langsung, dengan suaranya yang bergetar dan tatapannya yang dingin.
"Dia adalah Raya, kekasihku."
Deg!
Saat itu juga, jantung Bella rasanya berhenti. Bahkan seolah udara menjauh dari jangkauan hidungnya, hingga membuat dadanya sesak.
Sebuah jawaban yang langsung menusuk tepat diinti hatinya.
"Lalu siapa aku?" tanya Bella lagi, masih belum putus pula ia menatap tajam suaminya. Dilihatnya Azam hanya bergeming, tak menjawab apapun.
"Keluar!" pekik Bella diantara air matanya yang mengalir deras, ia ingin melihat dengan jelas wajah wanita suaminya itu.
"Pelankan suaramu Bella." Azam, malah tak terima saat Raya dibentak seperti itu.
Dalam hal ini, Raya tidak bersalah. Bagi Azam, Raya lah yang paling tersakiti. Saat menyaksikan ia menikah dengan Bella dan mendengar semua orang selalu mengeluh-eluhkan tantang kekasihnya dengan wanita lain.
Raya, sudah cukup menderita. Azam tak mau, Bella menambah luka kekasihnya itu.
Merasa geram dengan diamnya Raya, Bella hendak menarik wanita itu namun dengan cepat langkahnya terhenti saat Azam menahan salah satu lengannya.
"Lepaskan!" bentak Bella, seraya menepis tangan Azam hingga terlepas.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" hardik Bella, dengan kemarahan yang sudah membuncah.
Berani-beraninya Azam melakukan hal menjijikkan di mansion pemberian kedua orang tua mereka.
"Jaga bicaramu Bel."
"Apa! jangan pernah menggurui aku. Yang seharusnya bisa menjaga sikap itu adalah dirimu Zam. Menjijikkan," balas Bella sengit.
Cinta yang semula hendak tumbuh dihatinya, kini berubah jadi benci yang begitu mendalam. Cinta itu, kini sudah menjadi luka.
"Katakan, apa ini semua Zam? APA!"
Azam, menghembuskan napasnya pelan. Ia tak bisa lagi menutupi ini semua dari Bella. Akhirnya, Azzam menceritakan semua yang sudah terjadi. Jika ia dan Raya sudah lama menjalin kasih, bahkan sebelum mereka menikah.
Azam tak membantah, ia bahkan meminta maaf pada Bella jika harus begini akhirnya.
Di satu sisi ia tak bisa melepaskan Raya, disisi lain ia tak ingin menyakiti semua keluarga Malik.
"Tapi kamu menyakiti aku Zam? apa karena aku bukan bagian dari keluarga Malik, karena itulah itu kamu tega?" tanya Bella lirih, setelah Azam selesai bercerita.
Air mata Bella kembali mengalir dengan begitu derasnya, tak bisa ia tahan.
Ada desiran menyakitkan menyelip dihati Azam kala melihat sahabat kecilnya menangis seperti itu. Tapi kini utamanya bukanlah Bella, melainkan Raya. Gadis, yang masih terus bersembunyi dibalik tubuhnya. Menahan takut.
"Aku tidak salah Zam, bahkan sebelum ketika menikah ayah Agra dan ayah Adam kembali menanyakan kesiapan kita, dan mulutmu sendiri yang menjawab kamu siap." Bella, terus mengutarakan yang ada dibenaknya. Tak peduli meski ucapannya terdengar begitu kasar.
Sementara Azam hanya diam, tak punya pembelaan apapun.
"Suruh dia keluar," pinta Bella, ia sangat ingin melihat wajah wanita ini. Wajah yang sudah berhasil membuat Azam jadi pria bodoh.
Ah tidak, akulah yang bodoh. Akulah yang mereka bodoh-bodohi, batin Bella, sungguh putus asa.
Belum sempat Raya keluar dari persembunyiannya, Bella lebih dulu berbalik dan meninggalkan keduanya.
Tapi langkahnya terhenti, saat Azam kembali mencekal.
"Lepaskan!" pekik Bela, lagi-lagi iapun menepis tangan Azam itu. Sungguh tak sudi Azam menyentuh tubuhnya. Apalagi setelah melihat secara langsung Azam yang memeluk wanita lain.
"Jangan pernah sentuh aku, aku ingin muntah," ucap Bella sarkas, ia menoleh kebelakang hanya untuk mengatakan itu.
Lalu memilih segera pergi dari tempat hina ini.
Meninggalkan Azam yang tergugu, atas sikap Bella itu.
Lamunan Azam buyar saat ia merasa Raya menyentuh lengannya dengan sangat lembut.
"Bagaimana ini Mas? nyonya Bella sudah tahu semuanya, bagaimana jika dia mengatakan kepada tuan Adam dan nyonya Haura?" tanya Raya bertubi, dengan raut wajahnya yang nampak begitu cemas.
Azam, lalu menyentuh kedua bahu Raya, memintanya untuk tenang.
"Semuanya akan baik-baim saja Ray, percayalah. Mungkin sekarang memang waktu yang tepat untuk semua orang tahu," jelas Azam, ingin sang kekasih tenang.
Dan benar saja, ucapan itu berhasil membuat Raya kembali tersenyum kecil.
"Kembalilah bekerja, aku akan menyusul Bella," titah Azam.
Raya menganggukkan kepalanya, menurut. Pergi dari sana tanpa banyak pertanyaan lagi.
Dan dengan hatinya yang entah merasa apa, Azam segera menyusul Bella.
Ia melaju lebih cepat untuk menyusul sang istri. Dan benar seperti dugaannya, jika Bella pasti akan kesini.
Bar, milik Arnold.
Bella turun dari mobil dan segera masuk ke dalam Bar itu. Bar yang belum buka, namun Bella bisa masuk sesuka hati.
Ia berteriak teriak memanggil nama sang sahabat, hingga akhirnya Arnold keluar, turun dari lantai 2.
Bella berlari cepat, ditengah-tengah tangga itu, Bella memeluk erat tubuh Arnold. Menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaannya sekaligus.
Ia menangis hingga nyaris meraung, bahkan punggung Arnold tak lepas dari pukulan-pukulan kecilnya.
"Hei, ada apa?" tanya Arnold penuh perhatian, ia bahkan sampai berulang kali mengelus kepala Bella.
Ingin Bella tenang. Seumur hidupnya, baru dua kali inilah ia melihat Bella menangis separah ini.
Pertama, saat Bella mengetahui jika ia bukanlah anak kandung kedua orang tuanya.
Dan yang kedua kali ini, namun entah menangis karena apa.
"Tenanglah, ada aku," ucap Arnold lagi.
Tapi tetap saja tak bisa membuat tangis Bella terhenti.
Cukup lama keduanya berpelukan, sampai tak sadar jika diujung sana Azam terus memperhatikan.
Langkahnya terhenti, dan entah kenapa ia malah terdiam. Bukannya maju, kedua kakinya malah bergerak mundur.
Azam kembali ke dalam mobilnya dan membiarkan Bella tetap bersama Arnold. Setidaknya, Azam tahu, Bella akan aman.
"Apa yang terjadi?" tanya Arnold sekali lagi. Kini ia dan Bella sudah duduk di meja bartender. Meja panjang yang hanya diisi oleh mereka berdua.
Tak sanggup menahan semuanya sendiri, akhirnya Bella pun menceritakan semuanya yang terjadi. Dengan air mata yang kembali mengalir tanpa permisi.
Arnold, sungguh geram. Ia bahkan mengepalkan tangannya kuat, ingin segera melayangkan sebuah tinjuan keras di wajah Azam.
"Ar, aku mohon jangan beri tahu yang lain, jangan beri tahu Julian, Haruka ataupun Ryu, aku tidak mau Azzura tahu," pinta Bella setelah ia selesai bercerita. Bella bahkan dengan susah payah menghapus air matanya sendiri.
"Lalu apa rencanamu? bercerai saja," balas Arnold, dengan suaranya yang lantang.
Lebih baik berpisah daripada harus memiliki rumah tangga yang hancur seperti ini.
"Bercerailah, aku akan mendukungmu, meski yang lainnya akan menjauhimu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
nobita
mungkin dengan bercerai jalan yg terbaik
2024-09-22
0
andi hastutty
Bodohnya azam dewasa ih
2024-09-14
0
guntur 1609
namanya laki2 sampah. sangat bodoh sekali kau bela kalau kau terima azam.
2024-07-27
0