Duduk berdua di kursi VIP pesawat, Bella terus memalingkan wajahnya dari sang suami. Ia bahkan terus diam sejuta bahasa.
Melihat kearah jendela dan memandangi angkasa.
Sementara Azam terus memperhatikan, bingung bagaimana caranya harus memulai. Meja, menjadi pembatas diantara keduanya.
"Bell," panggil Azam, mencoba buka suara.
Bella masih bergeming, bahkan melipat kedua tangannya didepan dada dan semakin menjauhkan muka.
Kecil, Azam tersenyum, seperti melihat Arabella kecil saat sedang marah. Tapi dulu untuk membujuk Arra sangat mudah, tapi kini setelah tumbuh dewasa Bella makin susah untuk dipahami.
"Bell, aku ingin bicara, bisakah kamu melihatku?" pinta Azam sungguh-sungguh, ia sudah bicara pelan sekali, ingin Bella merasakan ketulusannya.
"Bicara tinggal bicara, kenapa banyak sekali aturan," jawab Bella, ketus. Masih tak sudi menatap Azam.
"Aku akan pindah duduk di sisimu kalau kamu tidak melihat kearah ku sekarang." Ancam Azam, membuat Bella meradang.
Azam selalu saja seperti itu, berbuat semaunya, dan berlaku kasar jika keinginannya tidak dipenuhi.
Azam yang kini, benar-benar sudah tidak Bella kenal.
"Aku tidak ingin mendengar ucapanmu, bisakah kita hanya diam?" jawab Bella, ia akhirnya menatap Azam, dengan tatapan dingin. Untuk apa pula mendengarkan ucapan yang akan menyakiti hatinya, Bella sudah tidak sanggup lagi.
Setiap ucapan yang keluar dari mulut Azam, selalu berhasil membuat hatinya merasa sakit. Dan karena itu, Bella tidak ingin lagi mendengar apapun.
"Maafkan aku Bell_"
"Aku tidak ingin mendengar apapun!" potong Bella dengan suaranya yang meninggi, bahkan tatapan dingin itu sudah berubah jadi tatapan tajam.
Membuat Azam bergeming, dengan sejuta pikiran didalam kepalanya.
Arra dulu sangat pemaaf. melihat Bella kini sulit untuk memaafkannya membuat Azam sadar satu hal, jika ia sudah sangat menyakiti Bella, sang istri.
Maafkan aku Bell, aku hanya ingin mengatakan jika kita sebaiknya memperbaiki hubungan ini. ucap Azam yang hanya ia utarakan di dalam hati.
2 jam perjalanan menuju Indonesia sudah mereka tempuh.
Selama itu pula, akhirnya hening kembali mengambil alih diantara keduanya.
Fhia langsung pulang ke apartemennya, sementara Bella ikut mobil sang suami. Pulang ke mansion mereka. Mansion yang sudah Bella anggap sebagai neraka.
"Aku tidak ingin pulang ke mansion itu, bisakah mengantarku ke rumah mama Sarah?" tawar Bella dengan suaranya yang dingin.
"Maaf, aku tidak bisa. Kita akan tetap pulang ke mansion."
Diam-diam, Bella menangis. Bella bahkan tidak tahu kenapa air mata itu keluar. Buru-buru ia menghapusnya dan kembali menatap jalanan dari balik jendela mobil.
20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai.
Bella terpaksa turun, bahkan berjalan lebih dulu dan meninggalkan Azam. Langkah Bella perlahan melambat saat ia menyadari tak ada satupun pelayan di mansion ini. Ia melongok ke kiri dan ke kanan, nyatanya tak ada siapapun.
Biasanya para pelayan akan berlalu lalang, bahkan selalu menyambut kedatangan tuannya.
"Di mansion hanya akan ada kita berdua," ucap Azam yang kini berdiri disebelah Bella. Sebelum pergi Singapura tadi, ia sudah meminta pada Ben untuk memindahkan para pelayan ke rumahnya yang lain. Mengosongkan mansion ini agar sang istri merasa nyaman. Azam tahu, gelar pelayan pasti membuat istrinya selalu teringat akan Raya.
Mendengar ucapan Azam, Bella tersenyum miring.
Apa artinya mengusir semua pelayan, jika hatimu saja dipenuhi oleh pelayan itu. Batin Bella, semakin merasa geram.
Tak menanggapi apapun lagi, Bella kembali melangkah meninggalkan Azam di sana.
Dia tidak naik ke lantai 2 dimana kamarnya dan sang suami berada. Melainkan belok ke kiri dan menuju kamar lain yang berada di lantai 1.
Menyadari niat istrinya itu, dengan langkah lebarnya Azam langsung menghadang. Bahkan iapun kembali menahan lengan Bella.
"Jangan menguji kesabaran ku, kita tidur dikamar yang sama," ucap Azam, ia lantas menarik Bella agar mengikuti langkahnya.
Bella berontak, tak sudi jika harus tidur seranjang dengan pria brengsek ini.
Teriakannya tak dipedulikan, Bella akhirnya menangis. Membuat langkah Azam terhenti saat mereka sampai ditengah-tengah tangga.
Merasa cengkraman Azam melemah, Bella langsung berlari turun. Berlari dengan deraian air matanya.
Azam bergeming, entah kenapa kini ia jadi sekasar ini. Kini, Azam benar-benar merasa jadi pria yang brengsek.
Tapi Bella selalu seperti itu, selalu membantah dan menguji kesabarannya.
Hari pertama mereka, kembali diakhiri dengan pertengkaran.
Hari kedua, mereka hanya berpapasan saat makan malam.
Dan Hari ketiga, Azam melihat Fhia mengunjungi Bella di dalam kamarnya. Membawa sebuah kardus berukuran sedang.
Penasaran, Azam pun melintasi pintu kamar istrinya itu. Sayup-sayup ia mendengar tawa Bella yang renyah.
Kini, Bella selalu tertawa ketika bersama dengan orang lain. Namun saat sudah berhadapan dengannya, tawa itu hilang dan diganti tatapan dingin.
Azam, akhirnya memilih duduk di kursi tengah. Menunggu Bella dan Fhia keluar dari dalam kamar itu.
Tidak sampai lama ia menungggu, akhirnya terdengar oleh Azam langkah Bella dan Fhia yang mendekat, sesekali mereka saling bertukar tawa dan bergerak seolah tak menganggapnya ada.
Bella, mengantar kepulangan Fhia hingga sampai di teras rumah. Sebulan ini, Bella memutuskan untuk istirahat dulu dari dunia modeling.
Tak ingin membuat kedua orang tua dan mertuanya cemas. Juga rehat sejenak dari banyaknya kesibukan.
"Besok aku akan kembali."
"Dan aku akan menunggu," balas Bella cepat.
Kedua wanita yang berusia sama ini lalu membuka pintu mobil tengah Fhia. Mengambil beberapa barang belanjaan yang tadi Fhia bawa.
Beberapa roti, daging bahkan juga sayur.
"Ingat, hati-hati saat memasak, gunakan sarung tangan, bahkan bila perlu face shield."
Mendengar ucapan Fhia itu, Bella terkekeh.
"Memangnya aku anak kecil," sahut Bella tidak terima.
"Aku hanya mencemaskan mu."
"Iya iya, sana pulang. Terima kasih ini," balas Bella, seraya mengangkat kedua kantung belanjaan ditangannya.
Fhia hanya mengangguk lalu segera masuk ke kursi kemudi.
Dan Bella melambaikan tangannya, melihat mobil Fhia yang semakin menjauh.
Lalu kembali masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang mengembang. Bertemu dengan Fhia, membuat suasana hatinya semakin ceria.
Tapi nyatanya senyum itu tak bertahan lama. Saat ia melihat Azam yang ternyata sudah menunggunya. Perlahan, senyum itu hilang.
Membuat dada Azam, merasa tak nyaman. Seolah kehadirannya benar-benar tak diinginkan oleh Bella.
Azam melihat, dua kantung paper bag yang Bella bawa. Azam tahu, itu untuk keperluan dapur. Tapi Azam tak pernah tahu, jika Bella bisa memasak.
"Jangan abaikan aku," ucap Azam.
"Abaikan aku," balas Bella pula dengan cepat.
Bella bahkan langsung berlalu menuju dapur dan kembali meninggalkan Azam begitu saja.
3 hari tinggal di mansion ini, Bella selalu melihat Azam di manapun. Seolah suaminya itu kini jadi orang pengangguran, sama seperti dia.
Tapi Bella tak ingin peduli, tidak ingin tahu, terserah Azam mau melakukan apapun. Ia hanya akan tinggal di mansion ini selama sebulan, setelah itu ia akan kembali lagi ke Singapura.
Lalu bulan depannya lagi, ia akan mengajukan gugatan cerai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
andi hastutty
Bgi2lah perasaan Bella dulu merasa tidak dianggap olehmu
2024-09-15
0
Leng Loy
Seperti tidak dianggap ya Zam,ya begitulah yang dirasakan Bella
2024-06-11
0
Sunarti
sakit hati mu kan Azam di abaikan istri mu
2024-05-28
0