LGMH BAB 18 - Tidak Ingin Tahu

Duduk berdua di kursi VIP pesawat, Bella terus memalingkan wajahnya dari sang suami. Ia bahkan terus diam sejuta bahasa.

Melihat kearah jendela dan memandangi angkasa.

Sementara Azam terus memperhatikan, bingung bagaimana caranya harus memulai. Meja, menjadi pembatas diantara keduanya.

"Bell," panggil Azam, mencoba buka suara.

Bella masih bergeming, bahkan melipat kedua tangannya didepan dada dan semakin menjauhkan muka.

Kecil, Azam tersenyum, seperti melihat Arabella kecil saat sedang marah. Tapi dulu untuk membujuk Arra sangat mudah, tapi kini setelah tumbuh dewasa Bella makin susah untuk dipahami.

"Bell, aku ingin bicara, bisakah kamu melihatku?" pinta Azam sungguh-sungguh, ia sudah bicara pelan sekali, ingin Bella merasakan ketulusannya.

"Bicara tinggal bicara, kenapa banyak sekali aturan," jawab Bella, ketus. Masih tak sudi menatap Azam.

"Aku akan pindah duduk di sisimu kalau kamu tidak melihat kearah ku sekarang." Ancam Azam, membuat Bella meradang.

Azam selalu saja seperti itu, berbuat semaunya, dan berlaku kasar jika keinginannya tidak dipenuhi.

Azam yang kini, benar-benar sudah tidak Bella kenal.

"Aku tidak ingin mendengar ucapanmu, bisakah kita hanya diam?" jawab Bella, ia akhirnya menatap Azam, dengan tatapan dingin. Untuk apa pula mendengarkan ucapan yang akan menyakiti hatinya, Bella sudah tidak sanggup lagi.

Setiap ucapan yang keluar dari mulut Azam, selalu berhasil membuat hatinya merasa sakit. Dan karena itu, Bella tidak ingin lagi mendengar apapun.

"Maafkan aku Bell_"

"Aku tidak ingin mendengar apapun!" potong Bella dengan suaranya yang meninggi, bahkan tatapan dingin itu sudah berubah jadi tatapan tajam.

Membuat Azam bergeming, dengan sejuta pikiran didalam kepalanya.

Arra dulu sangat pemaaf. melihat Bella kini sulit untuk memaafkannya membuat Azam sadar satu hal, jika ia sudah sangat menyakiti Bella, sang istri.

Maafkan aku Bell, aku hanya ingin mengatakan jika kita sebaiknya memperbaiki hubungan ini. ucap Azam yang hanya ia utarakan di dalam hati.

2 jam perjalanan menuju Indonesia sudah mereka tempuh.

Selama itu pula, akhirnya hening kembali mengambil alih diantara keduanya.

Fhia langsung pulang ke apartemennya, sementara Bella ikut mobil sang suami. Pulang ke mansion mereka. Mansion yang sudah Bella anggap sebagai neraka.

"Aku tidak ingin pulang ke mansion itu, bisakah mengantarku ke rumah mama Sarah?" tawar Bella dengan suaranya yang dingin.

"Maaf, aku tidak bisa. Kita akan tetap pulang ke mansion."

Diam-diam, Bella menangis. Bella bahkan tidak tahu kenapa air mata itu keluar. Buru-buru ia menghapusnya dan kembali menatap jalanan dari balik jendela mobil.

20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai.

Bella terpaksa turun, bahkan berjalan lebih dulu dan meninggalkan Azam. Langkah Bella perlahan melambat saat ia menyadari tak ada satupun pelayan di mansion ini. Ia melongok ke kiri dan ke kanan, nyatanya tak ada siapapun.

Biasanya para pelayan akan berlalu lalang, bahkan selalu menyambut kedatangan tuannya.

"Di mansion hanya akan ada kita berdua," ucap Azam yang kini berdiri disebelah Bella. Sebelum pergi Singapura tadi, ia sudah meminta pada Ben untuk memindahkan para pelayan ke rumahnya yang lain. Mengosongkan mansion ini agar sang istri merasa nyaman. Azam tahu, gelar pelayan pasti membuat istrinya selalu teringat akan Raya.

Mendengar ucapan Azam, Bella tersenyum miring.

Apa artinya mengusir semua pelayan, jika hatimu saja dipenuhi oleh pelayan itu. Batin Bella, semakin merasa geram.

Tak menanggapi apapun lagi, Bella kembali melangkah meninggalkan Azam di sana.

Dia tidak naik ke lantai 2 dimana kamarnya dan sang suami berada. Melainkan belok ke kiri dan menuju kamar lain yang berada di lantai 1.

Menyadari niat istrinya itu, dengan langkah lebarnya Azam langsung menghadang. Bahkan iapun kembali menahan lengan Bella.

"Jangan menguji kesabaran ku, kita tidur dikamar yang sama," ucap Azam, ia lantas menarik Bella agar mengikuti langkahnya.

Bella berontak, tak sudi jika harus tidur seranjang dengan pria brengsek ini.

Teriakannya tak dipedulikan, Bella akhirnya menangis. Membuat langkah Azam terhenti saat mereka sampai ditengah-tengah tangga.

Merasa cengkraman Azam melemah, Bella langsung berlari turun. Berlari dengan deraian air matanya.

Azam bergeming, entah kenapa kini ia jadi sekasar ini. Kini, Azam benar-benar merasa jadi pria yang brengsek.

Tapi Bella selalu seperti itu, selalu membantah dan menguji kesabarannya.

Hari pertama mereka, kembali diakhiri dengan pertengkaran.

Hari kedua, mereka hanya berpapasan saat makan malam.

Dan Hari ketiga, Azam melihat Fhia mengunjungi Bella di dalam kamarnya. Membawa sebuah kardus berukuran sedang.

Penasaran, Azam pun melintasi pintu kamar istrinya itu. Sayup-sayup ia mendengar tawa Bella yang renyah.

Kini, Bella selalu tertawa ketika bersama dengan orang lain. Namun saat sudah berhadapan dengannya, tawa itu hilang dan diganti tatapan dingin.

Azam, akhirnya memilih duduk di kursi tengah. Menunggu Bella dan Fhia keluar dari dalam kamar itu.

Tidak sampai lama ia menungggu, akhirnya terdengar oleh Azam langkah Bella dan Fhia yang mendekat, sesekali mereka saling bertukar tawa dan bergerak seolah tak menganggapnya ada.

Bella, mengantar kepulangan Fhia hingga sampai di teras rumah. Sebulan ini, Bella memutuskan untuk istirahat dulu dari dunia modeling.

Tak ingin membuat kedua orang tua dan mertuanya cemas. Juga rehat sejenak dari banyaknya kesibukan.

"Besok aku akan kembali."

"Dan aku akan menunggu," balas Bella cepat.

Kedua wanita yang berusia sama ini lalu membuka pintu mobil tengah Fhia. Mengambil beberapa barang belanjaan yang tadi Fhia bawa.

Beberapa roti, daging bahkan juga sayur.

"Ingat, hati-hati saat memasak, gunakan sarung tangan, bahkan bila perlu face shield."

Mendengar ucapan Fhia itu, Bella terkekeh.

"Memangnya aku anak kecil," sahut Bella tidak terima.

"Aku hanya mencemaskan mu."

"Iya iya, sana pulang. Terima kasih ini," balas Bella, seraya mengangkat kedua kantung belanjaan ditangannya.

Fhia hanya mengangguk lalu segera masuk ke kursi kemudi.

Dan Bella melambaikan tangannya, melihat mobil Fhia yang semakin menjauh.

Lalu kembali masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang mengembang. Bertemu dengan Fhia, membuat suasana hatinya semakin ceria.

Tapi nyatanya senyum itu tak bertahan lama. Saat ia melihat Azam yang ternyata sudah menunggunya. Perlahan, senyum itu hilang.

Membuat dada Azam, merasa tak nyaman. Seolah kehadirannya benar-benar tak diinginkan oleh Bella.

Azam melihat, dua kantung paper bag yang Bella bawa. Azam tahu, itu untuk keperluan dapur. Tapi Azam tak pernah tahu, jika Bella bisa memasak.

"Jangan abaikan aku," ucap Azam.

"Abaikan aku," balas Bella pula dengan cepat.

Bella bahkan langsung berlalu menuju dapur dan kembali meninggalkan Azam begitu saja.

3 hari tinggal di mansion ini, Bella selalu melihat Azam di manapun. Seolah suaminya itu kini jadi orang pengangguran, sama seperti dia.

Tapi Bella tak ingin peduli, tidak ingin tahu, terserah Azam mau melakukan apapun. Ia hanya akan tinggal di mansion ini selama sebulan, setelah itu ia akan kembali lagi ke Singapura.

Lalu bulan depannya lagi, ia akan mengajukan gugatan cerai.

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

Bgi2lah perasaan Bella dulu merasa tidak dianggap olehmu

2024-09-15

0

Leng Loy

Leng Loy

Seperti tidak dianggap ya Zam,ya begitulah yang dirasakan Bella

2024-06-11

0

Sunarti

Sunarti

sakit hati mu kan Azam di abaikan istri mu

2024-05-28

0

lihat semua
Episodes
1 LGMH BAB 1 - Azam Dan Bella
2 LGMH BAB 2 - Menemukan Jawaban
3 LGMH BAB 3 - Kebenaran Dan Pertengkaran
4 LGMH BAB 4 - Pria Brengsekk
5 LGMH BAB 5 - Kecurigaan Azura
6 LGMH BAB 6 - Membuatnya Menjadi Nyata
7 LGMH BAB 7 - Sebuah Permainan
8 LGMH BAB 8 - Makan Malam
9 LGMH BAB 9 - Tidak Sendiri
10 LGMH BAB 10 - Pan Pacific, Singapura
11 LGMH BAB 11 - Turuti Saja
12 LGMH BAB 12 - Bisakah Seperti Dulu?
13 LGMH BAB 13 - Jatuh Dan Tak Sadarkan Diri
14 LGMH BAB 14 - Singapura, Jakarta, Bandung
15 LGMH BAB 15 - Si Pembuat Ulah
16 LGMH BAB 16 - Bukan Alasan
17 LGMH BAB 17 - Keputusan Azam
18 LGMH BAB 18 - Tidak Ingin Tahu
19 LGMH BAB 19 - Seribu Bunga Mawar Putih
20 LGMH BAB 20 - Membanting Pria Brengsek
21 LGMH BAB 21 - Selamat Malam
22 LGMH BAB 22 - Tidak Akan Melepaskanmu
23 LGMH BAB 23 - Jangan Bohong
24 LGMH BAB 24 - Kesalahan Yang Tidak Pernah Habis
25 LGMH BAB 25 - Kejujuran
26 LGMH BAB 26 - Sakit Tapi Tidak Berdarah
27 LGMH BAB 27 - Berlagak Seperti Orang Bodoh
28 LGMH BAB 28 - Rindu Kebersamaan Ini
29 LGMH BAB 29 - Mencintaimu Lebih Dalam
30 LGMH BAB 30 - Pesan Azam
31 LGMH BAB 31 - Permainan Mesuum
32 LGMH BAB 32 - Pergi Ke Jepang
33 LGMH BAB 33 - Mandi
34 LGMH BAB 34 - Mendeteksi Perasaan Melalui Ciuman
35 LGMH BAB 35 - Inilah Dunia Bella
36 LGMH BAB 36 - Abang Sayang
37 LGMH BAB 37 - Kembali Terluka
38 LGMH BAB 38 - Meninggalnya Nenek Zahra
39 LGMH BAB 39 - Pesan Terakhir
40 LGMH BAB 40 - Kejujuran Bella
41 LGMH BAb 41 - Beri Aku Sedikit Waktu
42 LGMH BAB 42 - Gerimis Malam Ini
43 LGMH BAB 43 - Skandal
44 LGMH BAB 44 - Cintanya Bukan Untukku
45 LGMH BAB 45 - Pelukan Hangat
46 LGMH BAB 46 - Menata Hidupnya Kembali
47 LGMH BAB 47 - Letting Go My Husband
48 LGMH BAB 48 - Bunga Lagi
49 LGMH BAB 49 - Menjadi Teman
50 RETURN
51 LGMH BAB 50 - Mungkin Aku Salah Lihat
52 Bringing Back, My Wife
53 jangan dibaca
54 Gairah Sang Casanova
55 Wajib Baca
56 After Divorce
57 Bride Of Choice Karya Lunoxs
58 Crazy Love karya baru Lunoxs
59 Pengasuh Tuan Muda Genius karya baru Lunoxs
Episodes

Updated 59 Episodes

1
LGMH BAB 1 - Azam Dan Bella
2
LGMH BAB 2 - Menemukan Jawaban
3
LGMH BAB 3 - Kebenaran Dan Pertengkaran
4
LGMH BAB 4 - Pria Brengsekk
5
LGMH BAB 5 - Kecurigaan Azura
6
LGMH BAB 6 - Membuatnya Menjadi Nyata
7
LGMH BAB 7 - Sebuah Permainan
8
LGMH BAB 8 - Makan Malam
9
LGMH BAB 9 - Tidak Sendiri
10
LGMH BAB 10 - Pan Pacific, Singapura
11
LGMH BAB 11 - Turuti Saja
12
LGMH BAB 12 - Bisakah Seperti Dulu?
13
LGMH BAB 13 - Jatuh Dan Tak Sadarkan Diri
14
LGMH BAB 14 - Singapura, Jakarta, Bandung
15
LGMH BAB 15 - Si Pembuat Ulah
16
LGMH BAB 16 - Bukan Alasan
17
LGMH BAB 17 - Keputusan Azam
18
LGMH BAB 18 - Tidak Ingin Tahu
19
LGMH BAB 19 - Seribu Bunga Mawar Putih
20
LGMH BAB 20 - Membanting Pria Brengsek
21
LGMH BAB 21 - Selamat Malam
22
LGMH BAB 22 - Tidak Akan Melepaskanmu
23
LGMH BAB 23 - Jangan Bohong
24
LGMH BAB 24 - Kesalahan Yang Tidak Pernah Habis
25
LGMH BAB 25 - Kejujuran
26
LGMH BAB 26 - Sakit Tapi Tidak Berdarah
27
LGMH BAB 27 - Berlagak Seperti Orang Bodoh
28
LGMH BAB 28 - Rindu Kebersamaan Ini
29
LGMH BAB 29 - Mencintaimu Lebih Dalam
30
LGMH BAB 30 - Pesan Azam
31
LGMH BAB 31 - Permainan Mesuum
32
LGMH BAB 32 - Pergi Ke Jepang
33
LGMH BAB 33 - Mandi
34
LGMH BAB 34 - Mendeteksi Perasaan Melalui Ciuman
35
LGMH BAB 35 - Inilah Dunia Bella
36
LGMH BAB 36 - Abang Sayang
37
LGMH BAB 37 - Kembali Terluka
38
LGMH BAB 38 - Meninggalnya Nenek Zahra
39
LGMH BAB 39 - Pesan Terakhir
40
LGMH BAB 40 - Kejujuran Bella
41
LGMH BAb 41 - Beri Aku Sedikit Waktu
42
LGMH BAB 42 - Gerimis Malam Ini
43
LGMH BAB 43 - Skandal
44
LGMH BAB 44 - Cintanya Bukan Untukku
45
LGMH BAB 45 - Pelukan Hangat
46
LGMH BAB 46 - Menata Hidupnya Kembali
47
LGMH BAB 47 - Letting Go My Husband
48
LGMH BAB 48 - Bunga Lagi
49
LGMH BAB 49 - Menjadi Teman
50
RETURN
51
LGMH BAB 50 - Mungkin Aku Salah Lihat
52
Bringing Back, My Wife
53
jangan dibaca
54
Gairah Sang Casanova
55
Wajib Baca
56
After Divorce
57
Bride Of Choice Karya Lunoxs
58
Crazy Love karya baru Lunoxs
59
Pengasuh Tuan Muda Genius karya baru Lunoxs

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!